Terjerat Perjodohan

Terjerat Perjodohan
Sah bercerai


__ADS_3

Dua hari berlalu sejak keputusan Sidang. Dan hari ini giliran Setya menghadiri keputusan sidang cerai.


Tak ada debat apapun karena saat ini Gina sedang dalam masa tahanan. Oleh karena itu, perjalanan sidang berjalan sangat cepat tanpa berbelit-belit.


Sementara Rendi, dia di tempatkan di rutan terpencil di daerah Cilacap. Rutan itu adalah tempat untuk napi dengan kejahatan kelas atas.


Meskipun Rendi dan Gina sudah tertangkap, keluarga Rudito masih belum bisa bernapas lega sebab sampai detik ini Linda masih belum di temukan.


Saat ini, pihak kepolisian masih terus mencari keberadaan Linda yang entah ada di mana. Menurut keterangan dari satpam di rumah Rendi, Linda pergi sehari setelah Rendi dan Gina tertangkap.


Mengenai kemana Linda kabur, satpam yang saat ini di pekerjakan oleh kakek Rudito, dimana rumah itu kini sudah menjadi milik keluarga Rudito tak tahu menahu soal itu.


Setya berjalan gontai ke arah taman belakang. Sore ini keluarganya sedang berkumpul sembari membakar daging dan bersenang-senang.


Di sana bisa dilihat, kakek yang sedang memberi makan ikan di kolam dengan Kukuh, nenek dan Ami tengah menusukkan daging pada tusuk sate, sementara Khansa dan Aksa yang membakar di temani Vita yang terus di lempari candaan oleh Aksa.


Mereka juga mendapat bantuan dari Susi, Enok dan mbak Ani.


Susi adalah mantan ART Gina yang dulu di pekerjakan di rumah Anita untuk sementara waktu. Namun karena urusan mereka telah selesai, kini Susi di tarik oleh Khansa untuk menjadi babby sister calon anaknya.


"Assalamualaikum"


Mereka kompak mengalihkan pandangan pada sesosok pria yang mengenakan kemeja lengan panjang berwarna cream.


"Waalaikumsalam" jawab mereka kompak.


"Papah"


"Jangan lari nak" ucap Ami mengingatkan.


"Papah" Anak dengan tubuh mungil dan sedikit gempal itu angsung menghambur ke gendongan sang papah.


"Hari ini ada nakal?"


"Enggak" jawabnya di iringi gelengan kepala.


"Ada ngrepotin Aunty Sasa?"


"Ada, tapi nggak banyak. Ngrepotinnya sedikit aja"


"Gimana sidangnya nak?" tanya Ami ketika Setya sudah memposisikan dirinya duduk di dekat sang mama.


"Lancar mah, aku dan Gina sudah resmi bercerai. Semua hak asuh jatuh ke tanganku selama Gina menjalani hukuman"


"Tapi kamu nggak apa-apa kan?"

__ADS_1


"Nggak apa-apa mah, lagian untuk apa meratapi istri seperti Gina"


"Terus gimana projekmu untuk Anya?"


Mendengar ucapan Ami, nenek tersenyum dengan fokus terus tertuju pada tusuk sate yang sedang di isi daging kambing muda.


Berbeda dengan Khansa dan Aksa yang justru terkejut sampai-sampai Aksa berhenti menggerakkan tangannya yang sedang bergerak sambil memegang kipas sate, lengkap dengan pandangan ua alihkan ke wajah Ami dan Setya bergantian.


"Jadi ada planing buat minang Anya?" tanya Aksa, kini fokusnya sudah kembali pada daging di atas bara.


"Tahu tuh mamah, ngebet banget jadiin Anya menantu" sahut Setya sambil meraih daging yang sudah matang, lalu memasukkan ke mulutnya. "Dia pasti akan pilih-pilih cari suami, bukan sepertiku duda anak dua" tambahnya seraya mengunyah daging di mulutnya.


"Ya udah, kalau kamu nggak gerak cepat dan nyerah sama Anya, mama kenalin kamu sama anak teman mama aja ya, kebetulan dia suka sama kamu"


"Nggak mau mah" balas Setya cepat. "Ngapain jodoh-jodohan segala"


"Ya nggak apa-apa dong, kayak Khansa dan Aksa, di jodohin, tahu-tahu jodohnya orang yang udah di kenal. Siapa tahu kamu kenal dengannya, dan tiba-tiba saja kamu nikahnya sama wanita yang kamu cintai itu"


"Enggak, aku mau fokus ke Vita dan Kukuh dulu, dia masih suka nanyain mamahnya, aku sampai bingung mau jawab apa"


Vita yang sedari tadi mendengar nama Anya di sebut, tiba-tiba merengek meminta Anya untuk datang kemari.


"Aunty"


"Aunty Anya suruh kesini boleh?" bisiknya tepat di telingan Khansa.


"Kenapa?"


"Biar tambah rame"


"Bilang ke papa jangan ke aunty"


"Nggak berani"


"Okey, aunty bantu sedikit ya, nanti Ita yang ngomong ke papah suruh jemput aunty Anya"


Vita mengangguk paham.


Selang dua detik Khansa meraih benda tipisnya yang tergeletak di sampingnya, lalu mencari kontak bernama Anya.


"Assalamualaikum mbak Sasa?"


"Lagi dimana Nya?"


"Di restauran, kenapa mbak?"

__ADS_1


"Kamu ke rumah kakek sekarang ya"


"Untuk apa mbak"


"Ini si Ita ngundang kamu, kamu tunggu mas Setya, dia akan jemput kamu"


"Oh gitu ya?"


"Oke ya, kami tunggu, kami sedang barbeque sekarang, Ita bilang tambah rame kalau ada aunty Anya"


"Iya deh mbak"


Setelah panggilan terputus, Khansa meletakkan kembali ponselnya di tempat semula.


"Ita" Bisik Khansa lirih. "Sekarang giliran Ita ngomong ke oma suruh oma ngomong ke papah buat jemput aunty Anya"


Tanpa menjawab, Vita langsung berdiri lalu berlari ke arah Ami.


"Oma, oma?" biisiknya sambil menangkup telinganya omanya. "Ita mau aunty Anya ke sini, oma bilang ke papah ya suruh jemput aunty Anya di restauran aunty Sasa"


Ami mengernyit mendapat bisikan dari Vita, persekian detik la langsung mencari wajah sang cucu.


"Boleh ya oma" bujuknya lalu mengerjap.


"Oke"


"Setya, ini putrimu minta Anya ke sini, kamu bisa jemput di restauran Sasa kan?"


"Hah?" respon Setya yang tengah menunduk sembari memainkan gawainya.


"Kamu jemput Anya sekarang"


"Untuk apa?" tanya Setya seolah keberatan.


"Untuk ngumpul, apalagi"


"Ayo pah, cepetan" Kali ini Vita mendesaknya.


"Buruan mas" Sambar Khansa sementara Aksa memilih fokus mengipas dagingnya. "Dia udah nunggu"


"Pah"


"Your puppy eyes is very funny" Balas Setya sembari menoel hidung putrinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2