Terjerat Perjodohan

Terjerat Perjodohan
Alasan Gina membenci Sasa


__ADS_3

"Masih demam ya auntynya"


Tangan Vita menunjuk dahiku yang masih tertempel kain kompres. Dia datang dengan mas Setya karena mbak Gina sedang sibuk di butiknya. Yang ku dengar, mbak Gina pulang kemarin malam, sehari setelah kepulanganku dan mas Aksa.


"Alhamdulillah, sudah agak turun demamnya" jawabku tersenyum seraya mengusap pipi mulus Vita.


"Tangan auntynya kok panas-panas"


"Auntynya sakit sayang" mas Aksa menjawab untukku.


"Aunty jangan sakit, nanti uncle sedih-sedih"


Ah aku lupa gadis ini terlalu pintar. Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Vita.


"Kamu tuh sarapan jangan nunggu aku, kalau aku belum bangun, kamu bisa sarapan sendiri" ucap mas Aksa seperti menahan kesal, tangannya sibuk menempelkan alat di bagian dadaku. "Udah sering aku bilangin kan, nggak perlu menungguku sarapan, karena aku memang sudah terbiasa sarapan agak siang" Kini ganti memeriksa tekanan darahku menggunakan tensimeter.


"Kalau gitu berusaha bangun pagi dong, biar bisa sarapan sama-sama"


Bukannya menjawab, dia malah menatapku lekat-lekat. "Pokoknya jangan lupa makan, nanti mati" celetuknya tiba-tiba, dan itu memantik rasa kesalku.


"Kok ngomongnya gitu?" tanyaku memicing.


"Makannya kamu nurut apa kata suami"


"Kamu aja nggak nurut sama aku"


"Aku nggak bisa bangun pagi Sa"


"Pokoknya mulai besok harus bangun pukul empat, setelah sholat bisa tidur lagi sampai jam enam, mandi, sarapan terus berangkat ke rumah sakit" ujarku tanpa menatap wajahnya. "Kamu bisa mengantarku terlebih dulu ke restauran sebelum kerja"


Ku lirik Vita hanya menatapku dan mas Aksa bergantian sambil mengerjap lucu. Anak itu pasti nggak faham dengan obrolan kami, terlihat jelas gurat bingung di wajahnya.


"Aunty sembuhnya masih lama-lama ya uncle?" tanyanya polos. Matanya terus mencermati apa yang mas Aksa lakukan dengan peralatan medisnya.


"Kalau aunty nggak bandel, dan mau nurut apa kata uncle, nanti cepat sembuh"


"Aunty bandel ya?"


Tanpa ku duga mas Aksa mengangguk.


"Bandelnya kenapa?"


"Aunty nggak mau sarapan kalau pagi-pagi" jawab mas Aksa santai seolah bukan aku yang sedang mereka bicarakan.


Padahal sakitku ini bukan karena telat sarapan seperti yang mas Aksa katakan, tapi kecapean karena sering tidur larut malam, dan semua gara-gara dia, di tambah pikiran buruk tentang om Rendi ikut menyusup ke otakku.


"Ada mual nggak?" tanya mas Aksa setelah memeriksaku


Aku mennggeleng.


"Keluhan lain?"


"Pusing?" sahutku.


"Apalagi?"

__ADS_1


"Cuma itu" jawabku kikuk.


Saat aku kembali mengalihkan fokusku pada Vita, terdengar helaan napas mas Aksa.


"Aku suapi makan ya, terus minum obat"


"Biar aku makan sendiri mas" Aku bergerak duduk lalu menyenderkan punggung pada headboard.


Tangan mas Aksa terulur mengambil kain yang menempel di dahiku, lalu meraih piring terisi nasi dan beberapa lauk.


"Kamu bisa ke rumah sakit sekarang"


"Nggak apa-apa aku tinggal?" tanyanya dengan satu alis terangkat.


"Nggak apa-apa, kamu ada periksa keliling kamar kan?"


"Hmm" sahutnya dengan fokus terarah pada tensimeter yang tengah ia kemas "Nanti aku usahain pulang cepat" lanjutnya lalu memasukan alat kesehatan ke dalam tas.


"Nggak usah cepat-cepat, selesaikan dulu kerjaan kamu, di rumah kan juga ada nenek"


"Tapi kalau ada apa-apa langsung hubungi aku ya"


"Ada apa-apa gimana? nggak ada yang serius kok, jadi aku akan baik-baik saja"


Selagi aku menikmati suapan pertama, mas Aksa bangkit dari duduknya, lalu meraih Tas dan snelinya. Sementara aku dan Vita terlibat perbincangan yang sesekali membuat kami tersenyum.


"Aku berangkat dulu" pamitnya setelah melingkarkan jam di tangan kirinya, lalu sedikit mencondongkan badan mengecup pucuk kepala Vita, dia hanya mengusap lembut kepalaku tanpa mencium. Seperti biasa, mas Aksa enggan kalau mencium di depan orang lain apalagi Kukuh atau Vita. "Uncle kerja dulu ya sayang"


"Hati-hati uncle"


"Walaikumsalam" jawab kami bersamaan lengkap dengan seulas senyum. Aku dan Vita bergantian mengecup punggung tangan mas Aksa.


"Auntynya makan banyak-banyak ya, biar cepat sembuh. Kalau masih sakit bilang sama uncle, nanti di obatin"


Aku mengangguk sambil menikmati sarapan pagi ini.


Hingga di siang harinya, ketika badanku sudah lebih baik dan kini sedang duduk sambil menemani Vita menebalkan garis putus-putus pada gambar. Tiba-tiba ada seseorang yang mengucapkan salam. Aku dan Vita kompak melongok ke arah pintu utama.


"Mamah" teriak Vita ketika menyadari yang datang adalah mbak Gina.


Mbak Gina tersenyum menyambut uluran tangan Vita lalu mengecupi pipi chubynya bertubi-tubi.


"Sudah makan?" tanya mbak Gina.


"Sudah, sama aunty"


Saat mbak Gina melirikku, senyum manis di bibirnya seketika pudar. Ia kembali tersenyum saat menatap wajah sang putri.


"Kita masuk yuk" ucapanya mengabaikanku. Dan aku tidak masalah di abaikan olehnya, sebab aku merasa nggak ada urusan dengannya. Hanya saja masih heran kenapa dia bersikap seperti itu padaku.


"Mamah bawa mainan buat Ita" racau mbak Gina sambil berjalan memasuki ruang tengah.


"Gina"


"Assalamualaikum nek?"

__ADS_1


"Waalaikumsalam" jawab mbak Gina mencium punggung tangan nenek. Lalu menyerahkan paperbag ke tangannya.


"Apa ini Gin?"


"Oleh-oleh dari Paris nek"


"Kemarin Sasa juga bawa banyak oleh-oleh untuk nenek. Dia bulan madu ke Paris juga "


Mbak Gina sepertinya terkejut saat nenek memberitahunya bahwa aku dan mas Aksa bulan madu ke Paris.


"Ke Paris?" tanyanya, dia melirikku sekilas. "Aku kok nggak tahu mereka ke Paris nek?"


"Makannya kamu jangan sibuk-sibuk terus" sahut nenek lalu tersenyum. "Makasih buat oleh-olehnya Gin"


"Sama-sama nek"


Setelah mengucapkan itu, mbak Gina menghampiriku yang sudah kembali duduk di lantai menemani Vita melanjutkan aktivitas yang sempat terputus karena kedatangan mamahnya.


"Kamu ke Paris Sa" tanya mbak Gina, nadanya terdengar dingin.


"Iya" jawabku tanpa melihatnya. Aku memang sengaja nggak lihat mbak Gina. Karena jelas aku kurang suka dengan nada bertanyanya yang terkesan angkuh.


"Aku ngomong sama kamu loh Sa"


Ucapan mbak Gina, membuatku mendongak lalu memberanikan diri menatap wajahnya.


"Tapi aku mau tanya mbak" sahutku tenang, berusaha hati-hati dengan setiap ucapanku karena disini ada Vita. "Mbak Kenapa setiap kali bertemu denganku, selalu menunjukan raut wajah nggak suka?"


"Kamu merasa aku seperti itu?" tanyanya mengernyit. "Dan kamu ingin tahu kenapa?"


Aku terdiam menunggu dia kembali bersuara. Sekali lagi, bukan caraku menunjukan emosi atau kekesalanku pada siapapun.


"Kamu sudah membuat omset di butikku melorot drastis"


Aku tercengang atas jawaban mbak Gina. Dari segi mana sikapku yang katanya membuat omsetnya menurun.


"Maksud mbak Gina apa?" balasku lembut. Aku tahu masih ada Vita di sisi kami, rasanya nggak elok jika aku membalas kata-katanya ataupun tatapan tidak sukanya mbak Gina ke aku.


"Karena kamu menikah dengan Aksa"


Jawaban yang sama sekali enggak pernah aku duga.


"Gara-gara kamu nikah sama Aksa, aku kehilangan hampir separuh pelangganku"


Omongan mbak Gina benar-benar nggak bisa ku cerna dengan akal sehatku. Aku masih bungkam menunggu dia menjelaskannya lebih lanjut


"Kamu tahu, kalau pelangganku kebanyakan dari para artis?" tanya mbak Gina, dia sempat berhenti sejenak melirik ke arah Vita "Karena Sesilia merasa sakit hati dengan pernikahan kalian, dia sampai memberitahukan pada teman sesama artis untuk tidak membeli di butikku"


"Itu ulah Sesilia, kenapa jadi aku yang mbak benci?"


"Karena kamu yang nikah sama Aksa. Padahal aku berharap Aksa nikahnya sama Sesil"


Oohh jadi begitu, dia kesal denganku gara-gara omsetnya menurun. Tapi aku masih di buat penasaran dengan hubungan mbak Gina dan om Rendi, atau laki-laki yang bersama mbak Gina di Paris.


Apa mbak Gina sudah berselingkuh di belakang mas Setya? ah sepertinya itu bukan urusanku, tapi melihat betapa sabarnya mas Setya menghadapi mbak Gina, aku jadi kasihan padanya. Dan semoga saja pria yang kulihat itu bukan Om Rendi, melainkan orang yang hanya mirip dengan papah sambung mas Lasetya. Kasihan kan, kalau pria itu om Rendi, bukan hanya mas Setya yang akan sakit, tapi tante Ami juga.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2