Terjerat Perjodohan

Terjerat Perjodohan
Kemarahan Sasa


__ADS_3

Lembar demi lembar aku dan Fajar mengecek laporan keuangan. Mulai dari jurnal pengeluaran, buku besar, laporan laba rugi, neraca, hingga ke jurnal penyesuaian dan penutup. Kami menandai setiap catatan yang menampakan kejanggalan, catatan yang tak bisa ku terima dengan akal sehat.


"Bu sepertinya kita butuh orang terpercaya untuk melawan pak Rendi. Karena hampir seluruh marketing serta menejer adalah rekrutan pak Rendi"


Aku terkesiap mendengar perkataan Fajar. Benar sekali, aku juga harus memiliki tim yang bisa ku percaya.


"Kira-kira kita butuh berapa orang?" tanyaku serius.


"Cukup dua atau tiga bu"


"Baiklah, satu dari mereka, aku akan panggil bang Azam untuk membantu kita sementara waktu"


"Tapi bu, kalau boleh saya kasih saran, lebih baik orang yang sekiranya pak Rendi tidak mengenalnya. Jika pak Azam kita tarik, malah akan membuat pak Rendi curiga"


"Benar juga"


"Kamu ada rekomendasi?"


"Nggak ada si bu"


"Ok, nanti malam saya akan diskusikan pada bang Azam, saya ada sahabat juga, nanti akan saya hubungi mereka"


*****


"Gimana kerjaannya?" mas Aksa bertanya sambil memotong kuku di kakiku.


"Lancar, kenapa?" tanyaku balik.


"Seneng nggak, nyangkruk sama Fajar?"


"Nyangkruk apaan?"


"Itu bahasa orang jawa, kata Rian artinya ngerumpi sambil ngopi"


"Oh" Sahutku singkat. Aku yang tengah duduk di atas kasur sambil memotong kuku, mas Aksa tiba-tiba meraih jepitan kuku itu saat aku selesai memotong kuku tangan.


"Berduaan terus sama Fajar ya, awas nanti istri Fajar salah paham"


"Yang salah paham istrinya Fajar apa kamu?"


Pria di depanku justru tersenyum meringis. "Biasa aja kalau cewek sama cowok berduaan, yang aneh itu kalau cowok sama cowok" celetukku.


"Pisang makan pisang jadinya dong" canda mas Aksa frontal.


Tak ingin lagi menanggapi candaannya, tanganku meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Aku akan menghubungi sahabatku Naraya.


Aku hampir lupa kalau aku punya dua sahabat ketika kami kuliah di Sidney.


Naraya dan Anita.


Kalau Anita si lebih sering ketemu, karena dia bekerja di perusahaan papi dan akan segera menikah dengan bang Emir.


Tapi Naraya, bahkan dia tak datang di acara pernikahanku.


"Assalamualaikum" sapanya lembut


"Waalaikumsalam, Na gimana kabarmu"


"Baik Sa, kamu gimana?"


Entah kenapa aku mendengar suara beratnya. Naraya, dia gadis yang sangat manis dan memiliki wajah kalem. Kehidupannya yang jauh dari kata mewah, dan bukan anak dari orang kaya seperti aku dan Anita, tapi tak membuat kami menjauhinya. Karena dia gadis yang baik.


"Aku juga baik. Kamu lagi nggak ada masalah kan Na?"


"Ngga ada Sa. Tata gimana, terakhir dia menghubungiku, dia bilang mau menikah dengan bang Emir"

__ADS_1


"Dia baik juga. Besok kalau dia nikah, kamu harus datang ya"


"Semoga saja bisa ya Sa. By the way ada apa Sa, malam-malam telfon? Aku harap akan bawa kabar baik. Tentang kehamilanmu mungkin"


"Kok tahu?" tanyaku.


"Tahu apa?"


"Aku memang sedang hamil"


"Waah selamat ya Sa, kamu yang hamil, aku yang juga akan punya anak"


Ya aku ingat, dulu sewaktu kuliah, kami bertiga sempat berjanji akan mengakui anak mereka seperti anak kandung sendiri.


"Masih ingat janji kita kan Sa?"


"Pasti dong. moment yang nggak pernah bisa aku lupakan adalah kebersamaan kita"


"Makasih ya Sa, kamu dan Anita mau berteman dengan gadis sepertiku, padahal derajat kita seperti langit dan bumi"


"Sekali lagi bilang gitu, aku nggak mau lagi berteman denganmu"


"Maaf"


"Kamu lupa? kalau aku dan Anita mau jadi sehabatmu bukan karena kamu anak dari orang biasa. Kami menerimamu karena kamu orang baik dan tulus"


"Iya lya" Sahutnya singkat.


"Kenapa jadi mellow gini si, kamu nggak ada masalah kan? kalau ada, sekarang juga kamu cerita ke aku"


Demi sahabat, aku lupa niat awal menelponnya.


"Sebenarnya aku lagi butuh kerjaan Sa, Aku baru saja mengundurkan diri dari Angkasa group"


"Pas banget kalau gitu Na"


"Momentnya" jawabku. Saat ku lirik mas Aksa, dia malah mengangkat satu alisnya. Mungkin dia merasa aneh melihatku berjingkrak kegirangan. "Aku mau kamu kerja di perusahaan suamiku"


"Kamu serius Sa?"


"Sangat serius. Kamu bisa mulai kerja secepatnya"


"Loh, nggak tulis lamaran dulu, atau kirim CV"


"Nggak perlu"


"Enak ya Sa jadi orang kaya, nggak seperti aku"


"Nah kan mulai mellow lagi. Aku yakin banget nih kalau kamu ada masalah"


Dia diam hanya nafasnya yang ku dengar sangat berat.


"Pokoknya besok kamu harus cerita sama aku dan Anita. Kita nggak bisa kalau salah satu dari kita ada yang nggak bahagia"


"Ya, Aku juga ingin cerita sama kamu, siapa tahu bebanku berkurang"


"Kita bertemu besok ya!"


"Ok Sa"


"Aku tutup ya, Assalamualaikum"


****


Keesokan paginya, Aku sudah di buat heran ketika berkeliling kantor dan mengawasi karyawan. Aku di buat kian heran saat aku tanya apakah ada masalah, mereka menjawab nggak ada semua beres. Padahal yang kutahu, dari catatan keuangan yang ku periksa kemarin, banyak sekali cacat yang aku temukan. Bahkan tadi pagi setelah selesai sholat malam, ketika aku memeriksa data pemasukan ada beberapa rumah sakit yang nunggak pembayaran. Dan penunggakan itu bervariasi, mulai dari satu sampai lima tahun.

__ADS_1


Perusahaan kami yang bergerak di bidang Farmasi, selalu mengirim obat-obatan kepada rumah sakit di seluruh Indonesia.


"Pak Fajar, panggil semua bagian marketing" perintahku sesaat setelah kami menyelidiki tentang penunggakkan pembayaran dari pihak rumah sakit.


"Baik bu"


Sudah lima belas menit aku menunggu Fajar. Rasanya sudah tidak sabar untuk menanyakan kebenaran tentang penunggakkan itu. Tepat di menit ke tujuh belas, Fajar dan tiga orang yang bertugas di bagian marketing memasuki ruanganku.


"Apa benar, dari sekian rumah sakit yang saya sebutkan tadi, belum membayar pesanan mereka?"


"Benar bu" jawab salah satu dari mereka.


"Kalau benar, kenapa kalian terus mengirim produk kita, padahal mereka menunggak pembayaran"


"Karena mereka berjanji akan membayarnya"


"Yakin mereka belum bayar?"


"Y-yakin bu" jawabnya tergagap. Padahal aku dan Fajar sudah menyelidikinya. Mereka langsung membayar setiap kali barang di kirim. Yang membuatku percaya, karena pihak sana memiliki Nota yang sah dari perusahaan kami yang di tandatangani oleh kepala marketing.


"Apa ini?" aku sedikit melempar salinan nota yang di kirim oleh pihak rumah sakit.


"Itu bukti bahwa mereka sudah membayar lunas, iya kan? kenapa tidak di masukan ke dalam catatan?. Terus kemana larinya uang milyaran itu?"


Mereka bungkam, dan itu kembali memantik emosiku.


"Dua hari saya bekerja, saya bertanya tentang kondisi administrasi dan keuangan pada kalian. kalian menjawab semua beres dan beres, tidak ada masalah apapun. Lalu ini apa?"


Kali ini aku melempar laporan keuangan yang banyak sekali kecacatannya.


"Dalam setiap rapat bulanan kakek juga bertanya ke semua karyawan, apa ada masalah. semuanya menjawab oke. Tapi kenapa ada begitu banyak kesalahan di sini?" pekikku dengan intonasi tinggi.


"Sekarang saya kasih kalian kesempatan untuk menjelaskannya, jika tidak, silakan langsung keluar dari kantor saya, dan tunggu surat pemecatan dari kami"


"Apa-apaan kamu Sa" tiba-tiba om Rendi datang dan langsung menyambar kalimatku.


"Om, mereka sudah tidak becus dalam bekerja, dan saya memecatnya jika mereka tidak menjelaskan tentang ini"


Wajah om Rendi memerah, ku lihat tangannya menyugar rambutnya pelan.


"Ini biar menjadi urusan om Sa"


"Ini urusan saya juga om, karena mas Aksa sudah menyerahkan tugasnya pada saya"


"Iya, tapi biar om yang mengatasi"


"Baiklah om, saya serahkan masalah ini peda om, saya tunggu sampai tiga hari, tapi jika uang milyaran itu tidak bisa kembali, saya akan memecat mereka dan akan memperbaharui struktur organisasi di sini"


"Kamu tidak bisa menentukannya sendiri Sa, kakek masih memimpin di sini" sahut om Rendi masih berusaha mengelak.


Ku hembuskan napas pasrah. Selang beberapa menit, om Rendi menyuruh mereka keluar, hanya menyisakan aku dan Fajar yang masih berada di ruanganku.


"Panggil mas Setya, suruh dia ke ruanganku. Kita akan beri tahu tentang kelicikan papa tirinya"


"Baik bu" Fajar memilih pergi ke ruangan mas Setya untuk memanggilnya secara langsung, dari pada memanggil melalui telfon.


"Ada apa Sa?" tanya mas Setya begitu memasuki ruanganku.


"Duduk dulu mas"


"Apa kamu kesulitan Sa?"


"Setelah mas lihat ini, tolong kendalikan diri mas"


"Kamu membuatku tegang Sa, ada apa si?"

__ADS_1


Bukannya menjawab, aku menghadapkan laptopku padanya.


Bersambung


__ADS_2