
"Apa maksud Vita tadi pah"
"Maksud Vita yang mana?"
Kini Gina dan Setya sudah berada di rumah, setelah menjemput Vita di TPA.
"Kamu pura-pura lupa dengan ucapan tentang aunty yang katanya tertembak?"
"Ayo Ita, kita ganti baju, terus ke rumah nenek" Bukannya menjawab pertanyaan Gina, Setya justru mengangkat Vita ke dalam gendongannya, lalu berjalan menuju kamar.
"Tunggu pah"
"Apa lagi?" tanya Setya saat Gina menahan lengannya.
"Vita" panggil Gina dengan tatapan tajam. "Ita turun sekarang"
Tak di respon oleh Vita, anak itu justru membenamkan wajah ke dada papahnya.
"Mama bilang turun sekarang" perintah Gina kali ini nadanya sedikit naik.
"Setelah dia turun kamu mau apa?"
"Dia anakku, terserah aku mau apa. Kalau papah nggak mau jelaskan tentang ucapan Vita its ok, sekarang biar Vita yang menjelaskan"
"Dia masih kecil, apa yang mau dia jelaskan?"
"Vita, bilang sama mama, kapan Ita lihat Aunty Anya berdarah?"
"T-tadi malam mah" jawabnya takut-takut.
"Siapa aunty Anya?"
"Teman aunty Sasa"
"Kenapa Ita bisa lihat aunty A_"
"Gina" pekik Setya matanya berkilat penuh amarah. Membuat Vita justru semakin ketakutan.
"Dia berdarah karena jatuh, kenapa memangnya?"
"Apa benar Vita?"
Vita mengangguk kemudian berkata "Aunty Anya lari-lari terus pas masuk mobil papa langsung jatuh dan berdarah" Vita mengatakannya dengan nafas tersengal karena menangis. "Terus papa bawa aunty ke rumah sakit"
__ADS_1
"Terus kenapa bisa jatuh sampai berdarah"
"Ita nggak tahu mah"
"Sudah puas sekarang, menekan anakmu sendiri hanya untuk mengatakan itu? sampai dia ketakutan seperti ini"
"Kenapa papa bisa sama dia dan membawanya ke rumah sakit?"
"Aku hanya menolongnya" sahut Setya tegas sementara Vita sudah di ambil alih oleh baby sister dan di bawa ke kamarnya.
"Di rumah sakit mana dia sekarang? aku ingin menjenguknya"
"Untuk apa, itu bukan urusanmu"
"Ini urusanku karena dia jatuh di mobil suamiku"
"Ckkk, sejak kapan kamu peduli dengan urusan suamimu? bukankah selama ini kamu selalu sibuk dengan urusanmu sendiri di butikmu? Apa pernah kamu memasak untukku, pernah kamu menyiapkan baju kantor untukku? bahkan ketika aku berangkat ke kantor kamu pun belum bangun, istri macam apa kamu?"
"Apa maksud papa, selama ini papa nggak pernah protes, nggak pernah mempermasalahkan aku yang nggak pernah masak untukmu, nggak pernah komplain kalau aku bangun siang" pungkas Gina dengan tatapan miring. "Apa jangan-jangan ada wanita lain atau papa jatuh cinta sama Anya? seperti apa dia beraninya ganggu suami orang?"
"Jangan asal nuduh kamu"
"Lalu apa? aku merasa hampir dua bulan ini papa berubah, nggak pernah minta hak papa, padahal sebelumnya papa selalu memaksa meskipun aku sedang lelah"
"Aku belum selesai bicara" Gina setengah berlari dan kembali mencengkram lengan Setya. Sementara Ami terdiam dengan tatapan terus tertuju ke arah mereka. Menyimak pertengkaran anak dan menantu dari balik pintu kamarnya yang sedikit terbuka.
"Apa lagi?"
"Apa kamu memiliki wanita lain?"
"Tidak" jawabnya sambil menepis tangan Gina.
Setelahnya pria itu langsung berlari menaiki tangga, tanpa mempedulikan Gina yang masih terus memanggilnya.
"Mbak, Ita biar saya yang lanjutkan" ucap Setya ketika baru saja sampai di kamar anaknya.
"Baik pak"
"Ita, ayo berdiri"
Vita yang tadi duduk di atas ranjang, kini berdiri.
"Papa ingin Ita selalu ingat" kata Setya dengan kedua tangan memegang kedua sisi tubuh Vita yang kemudian di respon dengan mengangguk patuh, Sambil terus mendengarkan baik-baik ucapan sang papa.
__ADS_1
"Ita jangan katakan apapun lagi soal autny Anya ke mama, atau siapapun, ngerti?"
"Kenapa?" tanya Vita polos.
"Karena kasihan aunty Anya kalau banyak yang tahu, terus jadi banyak yang jenguk aunty ke rumah sakit, nanti auntynya nggak sembuh-sembuh karena nggak ada waktu buat istirahat. Ita tahu kan kalau orang sakit harus istirahat banyak-banyak"
"Tadi Ita kasih tahu mama berarti Ita salah?"
"Bukan begitu Ta, maksud papa lebih baik Ita diam-diam aja kalau kita sudah bawa aunty Anya ke rumah sakit"
Setya tahu jika sang anak tidak akan memotong penjelasan siapapun. Dia akan diam menyimak sembari menunggu sampai penjelasan dari mama ataupun papanya selesai. Baru setelahnya akan menyuarakan apa yang ada di pikirannya.
"Vita kalau sakit harus istirahat kan?, nggak mau di ganggu kan?"
Gadis kecil itu mengangguk.
"Jadi biar autny Anya cepat sembuh, kita jangan ganggu aunty, dan biarkan aunty Istirahat lama-lama"
"Boleh Ita jenguk aunty Anya?" tanya Vita akhirnya.
"Ok nanti papa ajak Ita jenguk aunty Anya di rumah sakit"
Anak itu menganggukan kepala untuk yang kesekian kali.
"Baiklah ayo kita ke rumah nenek, kita bobo di sana malam ini"
"Nggak bobo sama mama?"
"Ita mau bobo sama mama?"
"Nggak mau"
"Kenapa"
"Kalau nggak bobo bobo, mama suka marah banyak-banyak ke Ita"
Setya langsung mencium kening putrinya lalu mengangkat tubuh mungilnya.
Bersambung
Curhat sedikit ya, aku pernah kirimin naskah menjadi selingkuhan suamiku ke pernerbit, niatnya coba-coba. Dan no respon, akhirnya aku publis di aplikasi NT.. eh sekarang baru dapat balasan, penerbit itu menawarkan untuk menerbitkan novel judul itu ke versi cetak, dengan tulisan yang sedikit di revisi lagi, di perbaiki lagi puebinya dengan bantuan dari editor penerbit. Dan dengan berat hati ku tolak karena novel MSS sudah terikat kontrak dengan NT. Nggak nyesel enggak, cuma heran aja email udah lebih dari 7 bulan baru dapat balasan hari ini 😀😀😀
Part ini cuma 700 kata, lagi nggak konsen... 😂😂😂😂
__ADS_1
Nanti up lagi