
Dua hari setelah kepulangan om Rendi, seperti biasa mereka tidak menunjukan sikap yang membuat keluarga kami curiga. Mereka bahkan bersikap seperti orang yang nggak saling kenal.
"Mas serius nggak mau fokus pada perusahaan kakek?" Aku bertanya tanpa mengalihkan pandangan barang sejenak.
Dia yang tengah sibuk memeriksa daftar riwayat pasien di komputernya, sama sekali tak menengok ke wajahku.
"Sudah ada Fajar, kakek, mas Setya dan om Rendy, lagi pula Fajar selalu menginformasikan semua masalah perusahaan ke aku, di tambah om Rendy yang sudah berpengalaman sejak pertama kali Dandelion berdiri. Jadi untuk apa aku fokus di bidang yang enggak aku sukai"
Mendengar jawaban mas Aksa, niatku untuk bergabung di perusahaan kakek jadi semakin bulat.
"Mas, boleh nggak kalau aku bergabung di perusahaan kakek, dan mengisi jabatanmu di sana" Ragu-ragu aku mengatakannya, dan aku langsung menelan ludah ketika mas Aksa memindai netraku. Dia langsung menatapku tajam begitu mendengar ucapanku.
"Nggak boleh" larangnya lalu kembali menatap layar di depannya "Kamu lagi hamil muda, nggak bisa kalau terlalu capek"
"Nggak apa-apa kok mas, aku pasti bisa. Lagian kan itu di perusahaan kakek, jadi aku kerjanya bisa sambil santai-santai"
"Restauranmu mau di kemanain?" tanyanya masih dengan fokus menatap lurus ke monitor. Ku lihat pandangannya menunduk saat jarinya menekan tombol Ctrl+c.
"Meira yang urus, sekalian melatih dia untuk disiplin"
"Meira bisa, kuliah sambil ngurus restauran?"
"Ada bang Emir yang dikit-dikit bantu. Ada Anya sama Wiwi juga, mereka berdua bahkan lebih mengerti kondisi tentang restauranku. Apalagi Anya, dia detail banget dalam ngurus pekerjaannya"
"Aku nggak akan ngijinin kamu kerja di perusahaan kakek Sa, meskipun kamu nangis darah sekalipun, keputusanku tetap sama, TIDAK!"
"Tapi ini juga bukan keinginanku" Aku mengatakannya sembari menunduk dan mengusap perut, saat ekor mataku melirik mas Aksa, ternyata dia sedang menatap perut yang ku usap.
"Kamu tahu, kalau nyidam di dunia medis itu nggak ada" ucapnya seolah tahu aku akan menggunakan janin ini sebagai alasan. "Itu hanya alibinya seorang ibu, supaya si suami menuruti keinginannya"
Aku menarik napas menahan diri agar tidak mengeluarkan protes, apalagi jika protesku sampai mengatakan bahwa om Rendi sudah mengambil alih sebagian dari Dandelion.
Om Rendi adalah pria yang profesional dan kecerdikannya nyaris sempurna, jika mas Aksa tahu dan menjadi emosional, takutnya nanti om Rendi justru mengubah rencananya.
Aku harus melakukannya secara diam-diam, seperti mereka yang melakukannya dengan sangat rapi.
"Mau kemana?" tanyanya ketika aku bangkit dari dudukku.
"Kebawah" ketusku tanpa melihat seperti apa ekspresi wajah mas Aksa.
Aku terus berjalan menuruni anak tangga, tujuanku adalah kakek. Jika mas Aksa tidak mengijinkanku, fine jangan panggil Khansa kalau nggak bisa masuk ke Dandelion group.
"Belum tidur Sa?"
"Belum nek, nenek kok belum tidur?"
"Nenek lagi rendem kaki pake air garam"
Aku melirik kaki nenek yang memang sedang ia rendam di dalam baskom. "Kakek dimana nek?"
"Ada di ruang tv"
"Aku ke kakek dulu nek"
Aku melangkah menuju ruang tengah dimana ada suara televisi terdengar sangat jelas.
__ADS_1
"Kakek belum tidur?" tanyaku lalu duduk.
Sebelum menjawab, kakek sempat melirik jam yang menggantung tepat di atas televisi. "Ah baru jam sembilan. Kamu sendiri kenapa belum istirahat?"
"Bentar lagi kek"
Hening, fokus kakek hanya pada televisi yang menayangkan acara debat tentang polemik dalam perusahaan.
Sementara aku, meskipun tatapanku ke acara tv, tapi telingaku sama sekali nggak mendengarkan apa yang mereka sampaikan. Otakku tidak bisa menangkap apa yang mereka bahas.
Fokusku hanya menimbang-nimbang apakah keinginanku harus ku utarakan saat ini juga, atau menunggu besok pagi. Tapi melihat bagaimana kondisi perusahaan yang menurutku bahayanya semakin naik level, mau nggak mau aku harus ngomong sekarang, supaya secepatnya aku bisa menyelamatkan perusahaan kakek.
"Kek?"
"Iya Sa" Respon kakek tanpa melihatku.
"Aku mau gabung di perusahaan kakek, boleh?"
Jantungku, persekian detik mendadak perang saat kakek memalingkan wajahnya untuk menengok ke arahku.
"Kamu mau gabung di perusahaan kakek?"
"Iya kek. Entah kenapa semenjak tahu kalau aku hamil rasanya ingin pergi ke kantor"
Tatapan kakek kian dalam, dan aku kian gugup, sementara jantungku makin berpacu kian kencang.
Satu detik, dua detik, kakek masih bertahan menatapku, hingga berganti menjadi tiga detik, tatapan kakek yang tadinya menyoroti netraku, kini beralih ke perutku, dan aku semakin ingin pingsan karena menahan gerogi yang memuncak.
"Boleh, kamu bisa menempati posisi suamimu" ucapan kakek, membuatku bernapas lega, tapi kelegaanku nggak berlangsung lama ketika tiba-tiba mas Aksa menyela obrolan kami.
Kakek terdiam begitu mendengar larangan mas Aksa, dan diamnya kakek seperti tengah menimbang-nimbang sesuatu.
"Bener apa yang di katakan Aksa Sa. Kamu harus jaga kandunganmu, karena itu satu-satunya keturunan kakek"
Betul, calon anak yang ku kandung memang keturunan kakek satu-satunya, mengingat tante Ami bukanlah anak kandung kakek dan nenek.
"Kalau capek aku bisa istirahat kok kek"
"Tidak Sa, kamu lebih baik di rumah. Lagipula ada om Rendi yang bisa menghandel semuanya"
"Tapi aku ingin ke kantor" Aku mengatakannya sembari membayangkan kisah masa kecilku yang diam-diam menangis menahan rindu terhadap papi.
Aku memang menjadi lemah dan mudah nangis ketika mengingat mami membentaku, padahal waktu itu aku hanya menanyakan kapan papi pulang dan nengokin kami yang saat itu tinggal di Singapura.
Aku pura-pura menunduk lalu mengusap pipi yang tahu-tahu sudah basah.
"Ada apa ini?" tanya nenek ketika bergabung dengan kami di ruang tengah.
Dua pria beda generasi itu langsung mendongak menatap nenek.
"Ini, si Sasa pengin ke kantor"
"Ya sudah di turutin saja, toh cuma ke kantor, memangnya kenapa?"
"Dia mau ikut menghandel perusahaan"
__ADS_1
"Benar Sa?" tanya nenek mengernyit, dan aku langsung mengangguk. "Kenapa ingin ikut ngurus perusahaan Sa?"
Aku mengangguk sambil mengusap perutku, dan nenek paham dengan bahasa tubuhku yang tersirat.
"Ijinin saja Kakek, Aksa, toh ngurus perusahaan sendiri, kalau pekerjaannya lelet, nggak ada yang marahin, kalau kerjaan nggak selesai, bisa di bawa pulang, dan pastinya, kalau pas di kantor kecapekan, atau ngantuk, Sasa bisa istirahat, nggak terlalu di kekang seperti bekerja di perusahaan orang, iya kan?"
Rasanya aku ingin sekali melonjak kegirangan setelah dapat dukungan dari nenek. Dan aku pastikan nggak ada yang berani membantahnya, karena sudah pasti nenek mengira ini adalah keinginan cicitnya yang masih ada dalam kandunganku.
"Ya sudah kakek ijinkan, tapi harus ingat, jangan terlalu lelah"
"Iya kek"
****
Malam semakin larut, aku dan mas Aksa sudah masuk kamar dari setengah jam yang lalu. Pria ini sedari tadi mendiamkanku, mungkin dia merasa kesal dengan keinginanku tapi aku nggak peduli, karena aku pasti akan menjaga kandunganku dengan baik.
Aku merapatkan tubuhku pada tubuh mas Aksa yang masih bersandar pada headboard, dia sedang fokus membaca buku tentang bedah membedah tubuh manusia. Tanganku melingkar di perutnya, dan kepala ku sandarkan di pundaknya.
"Aku akan hati-hati dan selalu jaga kandungan"
No respons, oke itu artinya dia sedang menuntutku untuk bekerja lebih keras.
"Aku cuma akan bekerja semampuku, kalau udah capek, aku akan pulang dan istirahat"
Dia masih tak bergeming, it's ok. Harus di tingkatkan lagi.
"Sayang, aku benar-benar ingin ke kantor, duduk di ruanganmu, kerjanya sambil nonton tv, atau dengerin musik"
Aku menghela napas pelan, karena pria menyebalkan ini masih tak berkutik, aku memalingkan wajah mas Aksa ke kiri dengan kasar sehingga wajah kami saling beradu.
"Aku sedang bicara denganmu"
Pria ini masih bungkam.
"Kamu nggak mau nurut sama suami"
Aku menatapnya tak mengerjap "Please!"
"Don't look at me with those puppy eyes Sa"
"Please" sahutku.
Dan detik berikutnya, mas Aksa menangkap tanganku, lalu beralih memegang sisi leherku kemudian menempelkan bibirnya. Tapi tidak
dia menciumku dengan p@gutan yang semakin dalam dan,,,, panas.
"Janji ya, kalau capek-capek harus udahan"
Aku mengangguk, sebelum kemudian kembali menempelkan bibir kami.
Ciuman yang selalu membuatku seakan kehilangan akal sehatku.
Lusa, aku mulai ke kantor dan akan merapikan semua kekacauan yang di lakukan om Rendy.
Sudah cukup sampai di sini sandiwara kalian.
__ADS_1
Bersambung