Terjerat Perjodohan

Terjerat Perjodohan
Sweet Night


__ADS_3

Usia 18+....


yang kurang dari itu plis jangan baca ya


Aku menelan ludah dengan setengah mati ketika mas Aksa menempatkan dirinya di atasku lalu menempelkan bibirnya di leherku.


"Tuhan benar-benar baik sama aku karena mengganti Sesila dengan seorang Khansa" Bisik mas Aksa tenang, sementara jantungku kian ribut di dalam sana. "Dan yang nggak akan pernah berhenti untuk aku syukuri adalah malam ini, malam yang aku tunggu-tunggu akhirnya datang juga" Dia mengatakannya dengan tangan kanan meremas sesuatu di bagian dada. Remasan yang menurutku sangat lembut, dan mampu membuat otakku berantakan.


Tubuhku rasanya menegang saat pria di atasku kembali menyentuh leherku dengan bibirnya, membuatku reflek mengeluarkan des*ahan, Ah ku tak ingin dia berhenti menyentuhku.


Fokusku terbagi antara menatap langit-langit kamar dan merasakan sentuhan yang mas Aksa berikan.


Apalagi ketika bibirnya menyentuh bibirku, setiap sel dalam tubuhku seperti membeku. Sapuan bibirnya seperti menyalurkan aliran listrik bersamaan dengan gelenyar-gelenyar aneh di setiap aliran darah.


Satu tangan mas Aksa berada di bawah tengkukku, sementara tangan lainnya bergerak liar di area dada hingga perut, benar-benar membuat akal sehatku melayang entah berapa ribu kaki di atas awan.


Mas Aksa melepas tautan bibir kami tepat ketika aku merasakan kehabisan napas, dan jantungku serasa akan meledak.


Selagi aku sibuk mengatur nafasku, bibirnya beralih tak kalah liar menyusuri bagian dada, menggigitnya lembut lalu menyesapnya kuat-kuat, tidak hanya di satu tempat, bahkan kurasakan gigitan dan sesapan itu terasa di sekujur dada hingga perut.


Cumbuannya yang kian intens, membuatku terhanyut dan lupa diri bahkan nggak sadar bahwa pakaianku nyaris terlepas seluruhnya. Mas Aksa terus mencumbuku, tangan dan bibirnya terus bergerak liar menjamah setiap lekuk di tubuhku.


Entah berapa lama cumbuan itu berlangsung, tahu-tahu pakaianku terlepas sempurna, kurasakan kulitnya yang begitu hangat menempel di kulitku. Kakiku bergerak gelisah saat dia menindihku, wajahku memanas menahan hentakan yang ku rasakan begitu menyiksa. Perih yang membuatku sepersekian detik berteriak dan meluncurkan buliran bening.


Seketika membuat mas Aksa menghentikan gerakannya, kami saling beradu pandang dengan tatapan penuh tanya dan heran. Kemudian tangan mas Aksa menyeka buliran bening di sudut mataku, dan kembali menciumi ceruk leherku.


"Maaf" bisiknya di sela-sela cumbuannya.


Tak ku pedulikan ucapannya, yang ku rasa hanya sakit di seluruh tubuhku.


"Cukup" kataku sambil merangkum wajah mas Aksa.


"Sakit?" tanyanya lembut.


Dan aku menganggukan kepala.


"Kita coba lakukan besok" usai mengatakan itu, mas Aksa mencium keningku lalu beralih ke bibir.


"Kita hanya istirahat sejenak" kataku yang membuatnya menautkan alis. Aku nggak tega kalau harus menundanya besok, sementara mas aksa sudah lima hari menahannya.

__ADS_1


Selang dua detik, dia merebahkan tubuhnya di sampingku.


Aku sedikit bergeser merapatkan tubuhku ke tubuh mas Aksa sebab ada noda merah yang menempel di sprei.


"Sakit banget ya Sa"


"Hmm" jawabku singkat.


"Itu artinya waktu itu aku nggak benar-benar menidurimu, kita hanya tidur bareng-bareng, iya kan?"


Aku memiringkan badan lalu memeluk tubuh mas Aksa. Tangan kanan ku daratkan di pinggangnya, sementara tangan kiri mas Aksa memegang daguku dan sedikit mengangkatnya.


"Kita nggak ngapa-ngapain waktu itu, aku lega nggak menyentuhmu sebelum sah menjadi suamimu"


Aku diam tak merespon, hanya diam sambil menatap wajahnya yang menyorot penuh cinta.


Senyumnya terbit bersamaan dengan bibirku yang lebih dulu mengulas senyum.


Detik berikutnnya aku di buat terkejut karena tiba-tiba bibir kami kembali menyatu. Mas Aksa mem*agut bibirku lembut, tak sampai setengah menit, dia melepas pag*utan bibir kami lalu menatapku dengan jarak yang sangat dekat.


Posisi kami sudah berubah, melihatnya termangu aku nggak bisa menahan diri buat nggak mengatakan sesuatu. "Kita bisa lakukan lagi sekarang" ucapku tanpa malu. fokusku tiba-tiba buyar ketika tangan mas Aksa ku rasakan menyusup di balik punggungku.


Belum sempat aku menjawab, tahu-tahu tangannya sudah sangat bebas menjamah bagian atas tubuhku. Aku kembali menggigit bibir, menahan diri dari sentuhan mas Aksa yang mulai mengacaukan isi kepalaku.


Kami diam saling menatap, tanpa mengatakan apapun, bibirnya kembali menempel di bibirku, mem*agut dengan sangat lembut sebelum ku rasakan ciumannya kian dalam setelah aku membalas ciumannya. Tangannya bergerak liar di bawah sana, enggak lama setelah itu, perih kembali ku rasakan namun sekuat tenaga aku menahannya. Hingga gerakan itu kian cepat, reflek mulutku mengeluarkan suara yang menurutku sangat aneh. Tak hanya suaraku, suara mas Aksapun terdengar sama. Ini adalah hal yang tabu bagiku, sebab ini merupakan pengalaman pertamaku.


Gerakan yang lewat bermenit-menit, hingga tiba saatnya merasakan sensasi yang membuat kami seakan terbang melayang di atas awan.


*****


Panasnya deru nafas yang menyapu batang leherku, membuatku kian erat melingkarkan lengan pada pria di atasku, hingga lenguhan panjang yang keluar dari mulut kami, dan kecupan cukup lama yang mas Aksa daratkan di mataku menandakan aktifitas kami baru saja selesai.


Mas Aksa yang ambruk menindihku tersenyum lembut, membuatku tersipu malu bahkan aku nggak percaya bisa melalui malam pertama seintim ini.


Setelah beberapa saat kami hanya diam dengan posisi yang sama, mas Aksa bergerak mengungkungku dengan bertumpu menggunakan kedua sikunya.


"Makasih" bisiknya tepat di depan wajahku.


Tak berniat menjawab, tanganku reflek melingkar di lehernya.

__ADS_1


"Masih sakit?" tanya mas Aksa ketika aku tak kunjung bersuara.


"Enggak" dustaku malu-malu.


"Sekarang" ucap mas Aksa sambil mengusap titik bening di dahiku. "Aku adalah wayang dan kamu dalangnya" lanjut mas Aksa, ia mengatakannya dengan sorot lekat menatapku. "Aku akan hidup sesuai dengan kendali seorang dalang"


"Aku nggak mau mengendalikan hidupmu" jawabku sambil berusaha menormalkan detak jantungku yang sempat menggila beberapa saat lalu. "Aku takut kekanganku akan menjadi belenggu, dan kamu akan bosan lalu berpaling dariku"


"Enggak akan"


"Enggak akan apa?" tanyaku mengernyit.


"Nggak akan berpaling darimu"


"Yakin?" Kali ini fokusku benar-benar tak teralihkan.


"Seratus persen" jawab mas Aksa tanpa Ragu.


Detik berlalu, mas Aksa bergerak memutar posisi kami, sedikit meninggikan bantal di bawah kepalanya, dan kini aku yang berada di atas mas Aksa.


Pria ini kembali menciumku, tangannya sedikit menekan tengkukku lalu mel*umat bibirku cukup lama. Usai memberikan ciuman lembut dan dalam, mas Aksa merengkuh dan memelukku dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memainkan jemari tangan kiriku. Aku menempelkan salah satu pipiku di dada bidangnya, kami terdiam merasakan getaran cinta yang saling kami persembahkan.


Entah berapa lama kami bertahan dalam posisi ini, yang jelas sudah tak ku dengar lagi suara detakan jantungnya, dan alam mimpi telah mengambil alih kesadaranku.


Aksa


Aku di buat terkejut saat tahu bahwa sel*aput dar*anya masih terkatup rapat. Rasa bahagia ikut nimbrung karena usahaku dalam mempertahankan keperjakaanku dan penantian malam yang ku tunggu-tunggu tidak berakhir sia-sia. Kami sama-sama melakukannya untuk yang pertama kali, dia denganku, dan aku dengannya.


Khansa, dengan segala daya tariknya, mampu membuat isi kepalaku kacau.


Dialah satu-satunya wanita yang membuatku melupakan segalanya. Bahkan hanya dengan membayangkan wajahnya, aku harus menahan diri untuk menyingkirkan ingatan tentang semua hal yang berhubungan dengan wanita yang saat ini berada di atas tubuhku. Harus pintar-pintar melupakan tentang betapa indahnya percintaan kami barusan.


Ku kecup lama pucuk kepalanya yang sudah hanyut terbawa ke dunia mimpi, tanganku tak berhenti mengusap punggungnya hingga aku tak tahu lagi apa yang kami lakukan setelah mataku terpejam dan kesadaranku menghilang menyusulnya ke alam mimpi.


tbc


😑😑 Masih belum bersambung sebenarnya, tapi Otakku keburu kacau nulis ini, serius seperti 220 tegangan tinggi.


Typonya nanti di revisi lagi..

__ADS_1


__ADS_2