Terjerat Perjodohan

Terjerat Perjodohan
Obrolan ringan suami istri


__ADS_3

Usai sarapan, kami kembali naik ke atas. Aku akan mengemasi baju-bajuku untuk di bawa kerumah kakeknya. Aku sudah memutuskan untuk ikut mas Aksa kemana dia pergi. Maksud aku, di manapun suamiku tinggal, suka nggak suka aku harus ikut dengannya. Dan karena keinginan kakek nenek yang meminta mas Aksa untuk tetap tinggal dengannya, aku pun dengan senang hati ikut mas Aksa.


"Kamu nggak apa-apa kan, tinggal sama kakek nenek?"


Aku yang tadinya sedang fokus melipat baju, mendadak berhenti sejenak untuk menatap mas Aksa. "Memangnya kenapa?" tanyaku heran.


"Kalau kamu pengin kita tinggal di rumah sendiri, maksudnya cuma kita berdua, nanti aku akan cari rumah"


"Memangnya kamu tega, ninggalin kakek nenek tinggal sendirian?"


"Bukan tega nggak tega si sebenarnya, tapi aku berusaha membuatmu nyaman" balas mas Aksa sambil menelungkupkan badan. Satu tangannya tersembunyi di bawah dada, dan tangan lainnya memainkan ponsel. Sementara aku melanjutkan memilih pakaian yang akan ku masukan ke koper. "lagian tante Ami juga sering datang, sering nginep juga kalau aku ada tugas ke luar kota"


"Mbak Gina juga suka datang?"


"Iya, dia suka nitipin Kukuh sama Vita ke nenek"


"Memangnya dia kemana, nggak ada baby sitter juga?"


"Ada, tapi nenek yang nyuruh, kalau ada mereka rumah jadi tambah rame katanya"


"Baby sitternya suka ikut juga kalau ke rumah nenek?"


"Kadang ikut kadang enggak"


Aku jadi membayangkan kalau baby sitternya nggak ikut, gimana repotnya nenek mengawasi dua anak berusia enam tahun dan empat tahun.


"Mbak Gina kemana, sampai harus menitipkan anak ke nenek?" aku menanyakannya kembali sebab mas Aksa belum menjawab pertanyaanku yang itu.


"Dia suka sibuk di butiknya, kadang juga ada perkumpulan sosialita sama teman-temannya"


Aku tak menyahut lagi, aku hanya diam dan diamku ini malah semakin ingin tahu tentang kehidupan mbak Gina seperti apa. Bukan berarti ingin tahu yang gimana-gimana, tapi penasaran kenapa dia pasang muka judes padaku. Padahal kita baru saja kenal, tapi seolah dia sudah menyimpan dendam.


"Kamu masih mikir tatapan mbak Gina yang katamu sadis?. Dia orangnya emang suka gitu, kumat-kumatan, kadang baik, kadang semaunya sendiri, kadang nggak mau kalah, mas Setya juga suka kewalahan ngadepin dia"


Aku mengedikkan bahuku, mulutku mengatup karena nggak bisa kasih jawaban apapun ke mas Aksa.

__ADS_1


"Mas" panggilku


"Hmm" sahutnya tanpa melihatku, fokusnya terus tertuju pada benda pipihnya.


"Kamu suka bangun siang ya?" tanyaku karena tinggal bersama selama dua hari, dia bangun selalu pukul delapan lebih. Ku pikir nenek hanya bercanda waktu itu, tapi setelah tahu aku membenarkan ucapan nenek.


"iya"


"Jangan malas nanti miskin" celetukku.


Entah kenapa aku jadi suka bicara pedas padanya, padahal selama ini aku berusaha untuk enggak bicara yang kiranya menyakiti orang lain. Tapi dengan mas Aksa, aku seolah lupa dengan prinsipku yang satu itu.


"Aku nggak malas, cuma paling nggak bisa bangun pagi"


"Karena kamu nggak berusaha coba bangun pagi. Kasihan mas Fajar kan, harusnya mas bantu di kantor"


"Fajar aja nggak protes kok kamu komplain si"


"Kayaknya mas Fajar lebih cocok jadi cucunya kakek deh ketimbang kamu, karena kalau di pikir-pikir sepertinya mending dia yang jadi presdir di Dandelion" usulku dengan perhatian fokus ke arah jendela. "Seenggaknya dia fokus dan nggak malas"


"Sepertinya itu ide yang bagus sayang" mas Aksa memberikan jawaban yang membuatku seketika mengerutkan kening.


"Aku setuju kalau Fajar jadi cucunya kakek, nanti aku jadi bisa lebih santai, dan hanya fokus di rumah sakit, selebihnya bisa bantu kamu di gerai restauranmu"


"Ya pemikiran orang malas memang seperti itu, maunya yang santai-santai, maunya uang tinggal datang padahal nggak ngelakuin apapun"


"Lama-lama kamu gemesin Sa, jadi nggak sabar pengin makan kamu"


Aku baru ingat, dua hari menikah, kami belum melakukan hubungan itu. Dengan aku datang bulan, aku jadi sedikit lega, karena sentuhan mas Aksa bulan lalu nggak membuatku hamil. Meskipun kami sudah berzina, setidaknya aku nggak hamil yang membuat anaku kehilangan nasabnya.


"Mikir apa?" tanya mas Aksa sambil merubah posisi.


"Kamu kan dokter, pasti tahu dong, kalau habis melakukan itu, pasti sakit. Benar nggak si?"


"Melakukan apa?" ledeknya pura-pura nggak paham maksud pertanyaanku.

__ADS_1


"Tinggal jawab aja kenapa, nggak bisa apa memahami pertanyaan sesederhana itu"


"Jelas sakit" jawab Mas Aksa lalu tersenyum. "Tapi cuma sebentar, habis itu tinggal enaknya"


Enteng banget seperti nggak ada beban pas bilang tinggal enaknya.


"Kenapa memangnya?" tanyanya mengernyit.


"Waktu kamu melakukan itu, aku nggak merasakan sakit soalnya"


"Kayaknya aku memang nggak ngapa-ngapain kamu sayang. Aku ingat betul setelah melepaskan semua bajumu, otakku seolah melarangku untuk jangan menyentuhmu. Dan seingatku, aku langsung mapan aja tidur di sampingmu, karena udah nggak tahan sama pusingnya" jelas mas Aksa.


"Kamu kok bisa sampai mabuk, padahal kamu dokter lho, abangku nggak pernah tuh merokok, minum yang kayak begituan, atau_" aku sengaja menggantung ucapanku karena takut mas Aksa akan tersinggung.


"Atau apa?" tanya mas Aksa.


"Selalu bangun pagi dan berolahraga, agar badan tetap sehat"


Mas Aksa seperti memicing begitu mendengar tambahan kalimatku. Mungkin dia merasa tersindir.


"Kamu menyindirku?"


Nah kan dia merasa. Dia belum tahu kalau aku suka usil, Meira aja sampai ngadu ke papi kalau aku usilin, sindirin atau ledekin.


"Kali aja kamu sembuh dari malasnya yang banyak-banyak itu dan mau bangun pagi-pagi"


"Kamu lama-lama ngeselin ya Sa"


Aku tersenyum seraya mengerucutkan bibir menanggapi ucapan mas Aksa, dan mas Aksa langsung menarik tanganku hingga terjerembab di atas dadanya. Dengan cepat menangkup wajahku lalu menggigit bibir bawahku. Tangan kirinya berpindah ke bagian tengkuku sedangkan tangan kanan mas Aksa meremas bagian dadaku. Sementara aku, pikirannya kacau ingin sekali merasakan yang lebih dari ini.


Bersambung


Regards


Ane

__ADS_1


__ADS_2