
Duduk bersandar pada sofa, Setya terlihat begitu serius dengan pandangan lurus menatap laptop di atas pangkuannya. Matanya mengenakan kacamata minus, bibirnya sesekali bergerak persis seseorang yang sedang fokus dalam pekerjaannya.
Anya berkali-kali melirik ke wajah pria dengan pembawaan yang kalem, serta sabar.
Enggak berapa lama terdengar suara pintu di ketuk dari luar. Selang dua detik Khansa dan Aksa memasuki kamarnya.
"Assaalamu'alaikum?"
"Waalaikumsalam" jawab Setya dan Anya kompak. Namun suara Anya kalah keras oleh Setya.
"Sudah sarapan mas?" tanya Aksa begitu masuk melewati ambang pintu.
"Belum"
"Ini tadi Sasa masak. Mas bisa sarapan dulu"
"Kantor siapa yang handle Sa?"
"Fajar sama duo cucunguk"
"Duo cucunguk? Siapa?" tanya Aksa mengernyit. Tangannya bergerak menutup laptop dan meletakannya di samping tempat duduk, detik berikutnya membuka kotak makan yang di bawakan oleh Aksa.
"Siapa lagi kalau bukan temennya Sasa yang absurtnya kebangetan. Bikin ngenes"
"Jangan gitu, mereka wanita hebat, apalagi Nara, bisa rangkap jabatan sekaligus. Anita juga nggak kalah hebat"
"Bercanda mas, Mas harus nyobain keabsurtannya, di jamin nggak bisa berkutik, kayak lele ketilem minyak"
Di saat para pria sibuk dengan topik pembicaraan mereka, sementara Anya tengah memberitahukan hal serius pada Khansa.
"Maaf ya Anya, kamu jadi ikut terlibat dalam masalah keluarga kami"
"Nggak apa-apa mbak, saya berasa seperti sedang main film"
Mendengar jawaban Anya, seketika dahi Khansa mengerut tajam.
"Ini bahayanya beneran loh Anya, jangan di samain dengan film"
"Saya serius mbak, tadi malam saya mergoki mereka lagi ngomong rahasia besar"
"Rahasia?"
Anya mengerjap lengkap dengan anggukan kepala.
"Rahasia apa?"
"Di jamin mbak sama keluarga pasti sangat terkejut, saya saja semalam kaget dan gemetar terus nggak sengaja tangan saya ngena patung, patungnya jatuh, Pas saya lari, si pak Rendinya langsung ngejar sambil menembak saya, kena lengan, terus tembakan ke dua ngena punggung. Saya udah frustasi banget mbak, saya pasti mau mati, tapi pas keluar gerbang, tahu-tahu mobil pak Setya sudah berada di depan saya, dan pak Setya langsung bukain pintu mobil, ya udah saya langsung masuk aja. Untungnya lagi saya bisa mempertahankan ponsel saya dimana rahasia besar itu sudah saya rekam di sana. Benar-benar mirip film"
"Ya ya, terus kamu di selamatin sama si pemeran utama yaitu mas Setya, begitukah?"
"Ya, faktanya memang begitu kan, alhamdulillah saya selamat. Saya pikir nggak akan lihat mbak Khansa lagi"
"Hahaha" Terdengar suara Aksa dan Setya yang entah sedang menertawakan apa. Membuat Khansa dan Anya kompak menengok ke arah mereka.
"Kalian ngetawain apa? pelan dikit bisa nggak?" pekik Khansa terus menatap dua pria yang masih menyisakan senyum di bibirnya.
"Puas-puasin ketawa deh" timpal Anya tanpa ekspresi. "Bentar lagi lihat video mencengangkan"
"Video apa si Nya?"
"Video sedih banget deh mba buat pak Aksa dan pak Setya"
__ADS_1
"Ah Anya, aku jadi penasaran"
"Ya udah kita lihat aja, tapi tunggu mereka selesai bercanda" Anya mengatakannya sembari melirik pada dua pria kakak adik yang duduk di sofa. "Makasih ya mbak, di bawain kerudung"
"Nggak perlu makasih Nya, justru aku yang makasih"
"Makasih banyak-banyak ya mbak?"
"Wah ketularan virusnya Ita pasti"
"Iya dia tuh kalau ngomong lucu, pakai double-double saya kadang suka bingung, tapi lucu dengernya.
"Kemarin jalan-jalan kemana aja?"
"Ke mall, makan, jadi baby sisternya Ita. Tadinya mau istirahat tiduran di kosan, eh Itanya ngajak jalan-jalan"
"Dan malamnya malah dapat dua peluru. Ketakutanmu sampai sekarang gimana?"
"Kadang kalau ingat pengin teriak, tapi buru-buru saya tepis, mikirnya udah selamat saya masih hidup sekarang"
"Tapi harus tetap hati-hati Nya, Om Rendi dan mbak Gina sedang mencarimu, tapi kamu nggak perlu khawatir, kamu tetap tenang, kami akan terus melindungimu.
"Makasih sekali lagi mbak Sasa"
"Sudah tanggung jawab kami Nya"
Usai mengatakan itu, Khansa kembali menengok ke belakang.
"Mas Setya sudah selesai makan?" tanyanya.
"Sudah Sa, kenapa?"
"Anya mau ngomong"
"Kamu bisa cerita Nya" pungkas Khansa.
"Kalian lihat ponsel saya saja, saya bingung mau mulai dari mana"
Setya langsung meraih ponsel Anya yang sedang di isi daya di atas nakas tepat di samping dia berdiri.
"Pak Setya buka saja, nggak apa-apa, kuncinya satu sampai delapan"
"Hah?" respon Setya seperti terkejut.
"Kenapa mas?" tanya Aksa menyelidik
"Nggak apa-apa"
Selagi menunggu pengaktifan hingga memakan waktu hampir satu menit, Setya terus menatap layar ponsel Anya sembari membatin.
Paswordnya mudah sekali, tapi aku nggak bisa membukanya tadi subuh. Otakku, kenapa nggak kepikiran kesitu, coba kalau bisa, aku pasti sudah lihat seperti apa pacarnya.
"Berapa tadi Nya?" tanya Setya.
"Satu, dua, tiga, sampai delapan"
Klik kode pengaman pun terbuka.
"Pak Setya cari saja rekaman video di gallery"
Sedikit lambat, Sebab Setya malah membuka galleri dan melihat-lihat isi yang hanya ada foto Anya dan Khansa, serta Anya dan sang putri. Jelas sekali foto itu baru di ambil hari kemarin saat liburan.
__ADS_1
Tak ada foto pria di ponselnya kecuali pria paruh baya yang mungkin adalah ayahnya.
Setya mulai membuka video yang di maksud oleh Anya. Tampak di sana Rendi dan Gina duduk bersebelahan. Tangan kanan Rendi melingkar di pundak Gina, sementara kedua tangan Gina melipat di dada. Ada seseorang duduk berseberangan dengan mereka, namun tak di ketahui seperti apa wajahnya, karena rekaman itu di ambil dari arah balik punggungnya.
Satu detik, beralih ke dua detik, tiba-tiba tubuh Setya melemah, hal itu membuat Aksa dan Khansa saling pandang. Apalagi saat melihat wajah Setya yang mendadak masam, seperti menahan sedih, marah, dan kecewa.
"Kenapa mas?" tanya Aksa penasaran.
Alih-alih pertanyaannya mendapat jawaban, Aksa justru mendapati mata Setya meluncurkan buliran bening.
Kesedihan dan kekecewaanya benar-benar berada di level teratas. Sang mama yang sudah di khianati oleh Rendi, dan parahnya pria itu menghianatinya dengan Gina istrinya sendiri, dan pria itulah yang sudah menyebabkan papanya mengalami kecelakaan hingga meninggal.
"Mas?" Panggil Khansa menatap Setya sekilas, lalu beraih menatap Anya yang terlihat seperti tengah menelan salivanya. Khansa berharap Anya bisa memberikan penjelasan tentang ekspresi Setya saat ini.
"Ada apa dengan rekaman itu mas?" Aksa kembali bertanya.
Masih belum mengeluarkan suara, Setya menyerahkan ponsel Anya ke tangan Aksa. setelahnya pria itu mendaratkan kedua tangan di tepian ranjang tempat Anya berbaring. Pandangannya tertunduk, badannya pun sedikit merunduk.
Kasihan pak Setya, di khianati oleh papa tirinya sekaligus sama istri, di tambah lagi papahnya meninggal karena mereka. Pria itu cukup kuat bahkan tak memiliki tempat untuk membagi bebannya.
Sementara Aksa dan Khansa tak kalah terkejut melihat rekaman yang sedang mereka putar, Khansa terus menenangkan sang suami yang matanya sudah mengalirkan butiran bening.
"Ini sudah tidak bisa di tolerir" lirih Aksa, lalu melempar pelan ponsel Anya dan melangkah menuju pintu.
"Mas mau kemana?" cegah Khansa mengekor di belakang Aksa yang sudah berhasil keluar dari kamar Anya.
"Mau membunuh mereka" sahut Aksa, matanya berkilat merah, wajahnya memanas, dan tangannya mengepal kuat.
"Kendalikan dirimu mas. Kita bisa lakukan dengan cara yang elegan"
"Kelakuan mereka sudah di luar nalar Sa, aku nggak bisa membiarkan mereka bersandiwara lebih lama"
"Please mas, tanangkan diri, jangan nekad, okey" bujuk Khansa masih terus memeluk suaminya dari belakang. Khansa bahkan tak memperdulikan tatapan orang-orang di area rumah sakit.
Sebagian dari para suster yang mengenal Aksa saling melempar bisikan dengan raut penasaran, sebab rumah sakit ini adalah tempat dinas Aksa.
Di dalam kamar, karena Setya sudah tak bisa lagi menopang tubuhnya, reflek pria itu mendudukan diri di tepian ranjang. Dengan tangan di atas pangkuannya yang saling meremat.
Diam tak bergeming di posisi barunya, pandanganya kosong menerawang jauh ke luar jendela. Ia masih shock, seolah masih belum percaya dengan kebohongan dan pengkhianatan Rendi serta Gina yang sudah di lakukan selama bertahun-tahun.
Anya berusaha duduk berniat memberikan kekuatan pada seseorang yang bisa di bilang bos barunya.
"Sabar pak" ucap Anya setelah berhasil duduk.
Hening, Setya masih bungkam karena tak tahu harus mengatakan apa.
"Bapak bisa membagi beban bapak pada saya, anggap saja saya teman bapak, atau saudara bapak"
Usai mendengar kalimat Anya, pandangan Setya ia alihkan pada wajah Anya.
Mereka saling tatap dalam diam, selang sekitar lima detik. Setya menghambur ke dalam pelukan Anya. Spontan tubuh Anya berjengit mendapat sikap Setya yang di luar dugaan.
Anya tak bisa mengatakan apapun. Yang bisa dia lakukan hanya membalas pelukan Setya seraya mengusap punggungnya pelan. Meskipun tak ada tangis, tapi dari caranya memeluk, Anya paham pria itu sedang berbagi beban yang tengah di rasakannya.
Tangan Anya terus mengusap punggung Setya, sementara hatinya, berusaha mencoba menenangkan dirinya sendiri karena tiba-tiba jantungnya berdetak seperti mau keluar dari tempatnya.
Bersambung
Aku** kasih pict nya calon keluarga baru..
Anya, Setya, Ita
__ADS_1
Hampir 1500 kata... jangan bilang masih kurang 😂😂😂