Terjerat Perjodohan

Terjerat Perjodohan
Bye anak papah (END)


__ADS_3

Tangisan Ita terdengar kian kencang, Setya sudah membopong dan membawanya menuju mobil, sementara Aksa sembari terus berlari mengekor di belakang Setya, dia menelpon rumah sakit untuk menyiapkan ruang operasi saat ini juga.


Ketika mereka sudah sampai di halaman rumah, pak Annas yang baru saja datang dan keluar dari mobil, Ia menatap bingung pada kedua tuan mudanya yang terlihat begitu panik.


"Antar kami ke rumah sakit sekarang!"


Pak Annas yang semula bingung, mengangguk cepat ketika netranya menangkap kondisi Kukuh yang mengeluarkan darah segar. Bahkan darah itu sudah menempel di lengan kemeja milik Setya.


Pak Annas buru-buru masuk kembali dan menyalakan mesin mobil, sementara Aksa membukakan pintu untuk Setya.


Ini adalah kali kedua Setya merasakan kepanikan berada di level teratas.


Pria itu tak henti-hentinya mengucapkan istighfar dalam hati ketika menyadari penglihatan Kukuh perlahan mulai mengabur.


"Nak, jangan merem ya, tetap terjaga, lihat papa terus okey" Ucapan Setya terdengar sangat khawatir.


Kukuh seperti mengangguk pelan.


"S-sakit pah!" Rintih Kukuh dengan sangat pelan, air mata Kukuh pun kian berjatuhan.


"Tahan sebentar lagi ya, uncle Aksa pasti akan menyembuhkanmu" Hiburnya sesekali mengecup kening Kukuh. Meskipun bukan darah dagingnya, tapi selama ini Setya lah yang merawat Kukuh sejak pertama kali lahir, dialah yang selalu begadang setiap malam untuk menemani bayinya. Bahkan sekarang, Setya juga yang selalu rutin mengantar Kukuh ke sekolah.


Tidak hanya Setya yang tampak begitu khawatir, Aksa pun merasakan hal yang sama. Kecemasannya sangat terlihat lewat tangannya yang bergetar ketika menempelkan ponsel di telinganya.


"Kami akan segera sampai, persiapkan brankar di pintu masuk sebelah kanan" ucap Aksa melalui sambungan telpon.


"Semua sudah siap pak, dokter Rian sudah menunggu di ruang operasi, dan dr Jimmy menunggu di pintu masuk"


Sampai ketika tiba di rumah sakit, seperti yang sudah-sudah paramedis menyuruh Setya untuk menunggu di luar.


Jantungnya berdegup sangat liar saat melihat Aksa sudah berganti pakaian APD khas dokter yang akan mengambil tindakan operasi.


"Mbak Anya di rumah menemani nona Vita pak" kata pak Annas yang baru saja selesai menerima telfon. "Bu Ami dan bu Khansa juga dalam perjalanan kesini"


Setya mengangguk meresponnya, kemudian mengalihkan pandangan ke arah pintu operasi yang tertutup rapat.


Setelah menunggu sekian menit lamanya, Khansa dan Ami juga sudah berada di sini sejak satu jam yang lalu, tiba-tiba terdengar decitan dari arah pintu operasi.

__ADS_1


Setya yang tadinya memejamkan matanya erat, kini membukanya pelan dan langsung menoleh ke samping kiri.


"Pak Setya" Panggilan dari salah satu dokter membuat jantung Setya seketika berhenti sesaat.


Setya, Ami dan Khansa langsung berdiri dan menghampiri dokter Rian.


"Bagaimana dok?"


"Maafkan kami, kami tidak bisa menyelamatkan Kukuh"


Ucapan dari dokter Rian barusan, membuat Setya terpaku dengan sorot mata kosong. Ia meneguk ludah dengan susah payah.


Bersamaan itu, tangis Ami pun pecah. Selang beberapa detik, Aksa keluar dengan wajah menyorot pilu.


Tanpa sepatah kata, Setya berjalan dengan langkah lebar ke arah pak Annas.


"Kunci mobilnya pak"


"Mau kemana mas?" cegah Aksa cepat, namun segera di tepis oleh Setya. Dia justru mempercepat langkahnya menuju mobil.


"Sa, tenangkan tante Ami" Perintahnya setelah meminta kunci mobil milik Khansa. "Aku serahkan ini padamu, aku juga sudah meminta dokter Rian mengurusnya"


"Nyusul mas Setya" jawabnya kemudian berlalu


Kantor polisi adalah tujuan Setya, dia berniat menghajar Linda yang sudah membuat putranya kehilangan nyawa.


*****


Plak...


Plak...


Setelah di ijinkan bertemu dengan Linda yang sudah mendekam di balik jeruji besi, Setya langsung mendaratkan dua tamparan sekaligus di pipi Linda.


Geram dan amarah tak bisa lagi ia pertahankan.


Plak..

__ADS_1


Kembali Setya menampar pipinya hingga darah segar mengalir dari sudut bibirnya.


Ketika hendak melayangkan tamparan ke empat, salah satu polisi bergegas lari dan menahan tangannya yang mengudara.


"Cukup pak"


"Anak saya meninggal gara-gara dia pak?"


"Tapi bukan begini caranya pak" ucap salah satu polisi.


Ketika Setya berusaha melepas cengkraman polisi, Aksa yang membuntutinya dan sempat kehilangan jejak karena tertahan lampu merah, sudah bisa menebak jika Setya akan pergi ke kantor polisi, mengingat jalan yang di lalui merupakan arah menuju ke sana.


Benar saja, ketika Aksa sudah berada di depan kantor polisi, ia melihat mobil kakek terparkir di halaman kepolisian, cepat ia membelokan mobil memasuki area kantor polisi.


"Mas, jangan kekanak-kanakkan, kendalikan diri mas"


"Dia sudah membunuh Kukuh Aksa"


"Aku tahu mas, tapi mas tidak perlu menghajarnya, biarkan polisi yang menghukum dia"


"Bunuh saja aku, hiduppun sudah tak memiliki tujuan" Racau Linda sembari terisak.


Sontak Setya dan Aksa menoleh ke wajahnya.


"Anak dan menantuku di penjara, cucuku ku tembak hingga mati, benar tindakanmu, lebih baik hajar aku sampai mati" Lanjutnya masih bergumam.


"Sabar mas, kita pulang sekarang, kita harus urus pemakaman Kukuh"


Pelan-pelan Aksa terus Membujuk Setya. Hingga akhirnya Setya pun menurut lalu keluar dari kantor polisi menuju mobil yang di kendarai Aksa.


Sebelum menghidupkan mesin mobil, Aksa lebih dulu menelpon pak Annas untuk mengambil mobil di kantor polisi. Sebelumnya Aksa sudah menitipkan kuncinya pada salah satu polisi di sana.


Beberapa minggu ke depan, sidang akan di adakan, dan tuntutan segera di bacakan.


Rendi dan Gina yang sudah berada di dalam penjara lebih dulu, kini menyusul Linda yang akan mendapat hukuman atas kejahatannya.


Semua karena Khansa Laura Dhaniswara. Wanita pintar yang berhasil membongkar kejahatan di rumahnya sendiri.

__ADS_1


Meskipun Sudah tak ada lagi duri dalam keluarga mereka, tak ada lagi musuh dalam selimut, tapi hari ini keluarga Rudito merasakan kesedihan untuk ke sekian kalinya.


...🌷END🌷...


__ADS_2