Terjerat Perjodohan

Terjerat Perjodohan
Hukuman


__ADS_3

Menginjak usia kandungan lima bulan, Khansa merasa badannya mudah sekali lelah.


Aksa yang sudah kembali aktif di rumah sakit, menjadikan Hanan sebagai supir pribadi Khansa karena sampai sekarang, calon ibu itu masih berperan dalam mengelola Dandelion membantu Setya dan Kakek.


Seperti barusan, dia yang dapat pijitan di kaki dari sang suami, tiba-tiba tertidur dan tak tahu berapa lama, yang jelas ketika kembali terbangun, tahu-tahu Aksa sudah berada di atas tubuhnya.


"Kamu mau apa?"


"Memangnya ada maksud lain dalam posisi seperti ini kecuali itu?" tanya Aksa balik, lengkap dengan alis terangkat satu.


"Tapi aku mau membicarakan sesuatu"


Mendengar perkataan Khansa, Aksa terkesiap dengan sorot penasaran.


"Soal apa?"


"Kukuh"


"Ada apa dengannya?" tanya Aksa sambil bergerak rebah di samping Sasa.


"Tante Ami minta Kukuh keluar dari rumah kita"


"Kamu serius?"


"Iya, tante Ami bilang ke nenek, Kukuh selalu mengingatkannya pada Gina yang sudah menghianati mas Setya, itu membuat tante Ami ingin selalu memarahinya, tapi tante Ami selalu bisa menahannya, karena sadar kalau Kukuh masih anak-anak"


"Keluar dari rumah kita, anak sekecil dia mau kemana?"


"Tante Ami mau memberikannya pada anak temannya yang belum memiliki anak"


"Mas Setya tahu?"


"Belum. Tante baru membicarakannya pada nenek, ini baru rencana"


"Kalau kakek?"


"Belum juga"


"Ini kan baru rencana, nanti kalau kakek dengar, pasti akan di bahas"


"Aku cuma kasihan sama Kukuh" Ucap Khansa sembari merapatkan tubuhnya ke tubuh Aksa, dengan cepat Aksa merengkuhnya ke dalam pelukannya. "Meskipun kita tidak ada hubungan darah dengan Kukuh, tapi Vita adiknya. Dua anak itu memiliki hubungan darah karena terlahir dari rahim yang sama, iya kan?"


Lewat beberapa detik, Aksa mengangguk setuju. Membenarkan ucapan sang Istri.


"Kamu yakin nggak mau USG?" tanya Khansa ketika sempat diam beberapa saat.


Aksa menggeleng seraya menarik bibirnya ke kiri.


"Sepertinya menyenangkan jika kita menunggu sambil menebak-nebak apakah dia laki-laki atau perempuan?"


"Iya juga"

__ADS_1


"Lagian apapun jenis kelaminnya" kata Aksa sembari terus menatap Khansa. "Bagiku yang penting dia sehat, mommy juga sehat"


Bibir Khansa spontan mengembangkan senyum saat mendengar tiga kata terakhir dari mulut Aksa. "Mas kan penginnya dia cewe, kalau yang keluar justru cowok gimana? kira-kira kecewa nggak?"


Kepala Aksa menggeleng. "Aku memang pengin punya anak cewek yang banyak-banyak, tapi kalau cowok ya nggak apa-apa, kan bisa aku jadikan teman main"


"Teman main?"


"Main bola misalnya, adu balap, atau diskusi tentang kesehatan, bisa juga di ajak nongkrong bareng, iya kan?"


Khansa tergelak pelan mendengar penjelasan suaminya. "Kalau itu kejadian dia cowok, jangan sampai di ajak nipu 50 jeti ya, atau beli gadis seharga 80 jeti. Nanti mas yang kewalahan sendiri"


"Oh tentu tidak dong" Sahut Aksa santai "Aku akan ajarkan anak-anak hal yang baik-baik, akan bekerja keras juga, untuk memenuhi kebutuhannya"


Sedikit merapatkan badan, kedua tangan Khansa menangkup wajah Aksa lalu mengecup bibirnya singkat. "Itu sebabnya cintaku semakin besar"


Dengan sorot lekat tertuju pada Khansa, senyum di wajah Aksa melebar, sebelum kemudian mereka saling menempelkan bibir.


"Nanti kalau usianya sudah dua tahun, kita akan planing anak ke dua" ucap Aksa ketika ciuman mereka terurai.


Reflek Khansa mencubit lengannya lembut. "Kamu bilang tiga tahun kan, kenapa sekarang jadi dua tahun?"


"Dua tahun aja deh, nanti pas lahir kan si kakak usia tiga tahun" tawarnya seperti memohon. Dan Khansa langsung mencubit bibirnya yang mengerucut.


"Nggak sekalian setahun?"


"Ide yang bagus Sa, boleh tuh satu tahun"


"Auhh" Rintih Aksa. "Kamu masih suka KDRT ya Sa" Gelak tawanya semakin pecah, dan itu membuat Khansa kembali mencubit lengannya. Meski sering di goda oleh sang suami untuk urusan hamil lagi, tapi tetap saja dia merasa gemas.


"Jadi anak tunggal itu nggak enak Sa, Aku bisa merasakannya, maka itu aku pengin punya anak minimal tiga. Sepertimu yang memiliki tiga saudara, menyenangkan bukan? dan aku nggak mau, anakku nanti juga sendirian nggak punya saudara sepertiku"


Terlihat gurat sedih di wajahnya saat Aksa mengatakan itu, dengan senyum masih bertahan, tapi sorot matanya sempat berubah sendu meski sekilas.


"Mas tahu kan melahirkan itu nyawa taruhannya"


"Tahu, dan bukannya aku egois dan nggak peduli dengan proses melahirkan yang luar biasa itu, sampai nyawa jadi taruhannya. Tapi aku nggak pernah keberatan ngurus istri hamil tiap tahun, ngurus anak-anak setiap hari"


"Selain itu Sa" kata Aksa Wajahnya yang tadi sendu, ia mencoba menetralkan kembali ekspresinya. "Sangat menyenangkan mengurus mommy hamil sepertimu, kamu jadi nggak terlalu cerewet saat pagi hari, yang biasanya menyuruhku bangun sambil ngomel-ngomel, sekarang enggak lagi"


"Terus gimana soal mas Setya sama Anya?"


"Kok jadi bahas mereka si?"


"Penasaran saja sama hubungannya yang ku rasa kian dekat"


"Masa?"


"Iya, kemarin saja Anya sempat nemenin mas Setya dan anak-anak ke kebun binatang"


"Tapi kan Ita yang merengek minta Anya menemaninya. Aku nggak yakin Anya menyukai mas Setya. Mereka kan terpaut sangat jauh, lagi pula mas Setya seorang duda katakanlah dengan dua anak, apakah Anya mau sementara dia masih gadis?"

__ADS_1


"Entah lah" sahut Khansa lirih.


"Ah lebih baik nggak usah bahas itu, sekarang buka bajumu"


"Mau ngapain?"


"Bikin keringat" jawab Aksa sambil memposisikan diri di atas Sasa.


"Bikin keringat ya olahraga lah"


"Ini kan juga olahraga Sa" Sahutnya lalu dengan cepat mencumbui ceruk leher Sasa.


Dan Sasa, tak bisa lagi menghindarinya.


******


Hari berganti hari sebagaimana biasanya.


Hubungan Setya dan Anya pun masih datar dan tak ada kemajuan.


Sementara hari ini, adalah sidang keputusan hakim untuk menentukan berapa lama Rendi dan Gina akan menjalani hukuman.


Sidang di hadiri oleh Aksa dan Setya, Kakek dan Nenek, serta Ami dan Khansa, setelah sebelumnya sudah melewati beberapa sidang yang tergolong prosesnya sangat alot, kini hukuman mereka akan di putuskan.


Aksa menuntut dengan hukuman mati untuk pria yang telah merencanakan pembunuhan terhadap orang tua dan pamannya, sedangkan untuk Gina, ia lebih menurut pada majelis hakim.


"....Atas kasus pembunuhan yang terencana terhadap Arraka Galilleo, Shafira Wardani, dan Gani Firdaus, serta penipuan, dan penggelapan dana, dengan tersangka Rendi Purnama, telah melewati tahap-tahap persidangan, dengan mendatangkan saksi dan bukti yang kuat, hasil putusan akan di bacakan"


"Tersangka Rendi Purnama di nyatakan bersalah berdasarkan hukum kriminal 281-1, ayat 33, butir 37. Dan ayat 38 Tersangka Rendi Purnama di jatuhi hukuman seumur hidup"


Tuk..tuk.. tuk..


"Dan atas kasus penipuan, perselingkuhan serta perencanaan pembunuhan terhadap Saudara Aksara Gallileo, Khansa Laura Gallileo, dan Lasetya Arif Firdaus, Tersangka Anggina Pinandita di jatuhi hukuman dua puluh lima tahun penjara.


Tuk...tuk...tuk...


Bersambung


NB.. Untuk pasal-pasal yang ku sebut itu karangan author ya, soalnya nanti kalau di bikin sama sesuai UU yang ada di negara kita takutnya salah, lagi pula saya benar-benar tak tahu soal urusan hukum.


Dulu pas sekolah lemah banget di ilmu PPKN, jadinya nggak paham sama pasal-pasal dan butirnya. 😀😀😉


Ini hanya novel, pandangan dari pengarang.. jangan di samakan dengan kehidupan nyata.


Ah thor, kan kalau sesuai kenyataan bisa di jadikan pembelajaran.


Its ok, tapi untuk masalah pasal, aku angkat tangan 😀😀 silahkan belajar di google tentang UU di Indonesia.


**Lagi dalam perjalanan menuju JKT..


Sambil nikmati perjalanan, sambil ngetik, Jadinya upnya malam.

__ADS_1


urusan kemudi serahkan ahlinya..😁😁**


__ADS_2