
Sudah dua minggu ini aku masih belum bisa membuktikan ucapanku pada mas Aksa, selain kesibukanku di resto yang sudah mulai ramai kembali setelah Sesilia jumpa pers dan mengatakan yang sebenarnya, badanku juga seakan lelah karena terlalu banyak aktivitas.
Satu minggu yang lalu, Sesilia mengadakan klarifikasi terkait videoku dan mas Aksa di hotel yang beredar dan ramai di perbincangkan. Dia mengatakan bahwa pertemuan di hotel itu memang tidak di sengaja. Sesilia juga mengatakan bahwa perselingkuhan itu sama sekali tidak terjadi.
Sementara mbak Gina dan om Rendi, mereka benar-benar nggak menunjukan sikap yang membuatku curiga. Dan bahkan mbak Gina begitu cuek terhadap om Rendi sementara dengan mas Setya justru sangat perhatian. Itu yang membuatku kesulitan mencari bukti kalau mereka sepasang suami istri.
Saat ini, kami sekeluarga sedang melaksanakan makan malam bersama. Sebagian besar makanan yang sedang kami nikmati adalah hasil masakanku di bantu sama tante Ami dan mbak Ani.
Aku menikmati makanan sembari terus melirik ke arah mbak Gina lalu om Rendi. Nggak ada gelegat aneh yang aku tangkap, itu sebabnya keluarga nggak mencium hubungan gelap mereka.
Karena terlalu fokus memperhatikan dua orang yang duduk dalam satu baris di hadapanku. tubuhku berjengit ketika mas Aksa menoel pinggangku lembut.
"Astaghfirullah"
Sontak semua pasang mata langsung melirikku.
"Kenapa Sa?" tanya Nenek penuh selidik.
"En-nggak ada apa-apa nek" timpalku sambil tersenyum. "Ada apa mas?" lanjutku pada mas Aksa.
"Makan dulu baru melamun"
Ucapan mas Aksa barusan, membuatku menelan ludahku sendiri sekaligus memindai pandangan pada kakek dan juga nenek yang tengah menatapku penuh intimidasi.
"Aku nggak melamun"
"Gelasku kosong Sa" ucap mas Aksa.
Aku langsung melirik pada gelas dia yang nampak kosong. Lalu segera meraih teko kaca dan menuangkan isinya.
"Restauran sudah normal kan Sa?"
"Alhamdulillah kek sudah"
"Jadi ini kesimpulannya kalian sudah saling kenal ya, tapi kalian nggak tahu kalau kalian emang sudah mau di jodohin" kata tante Ami, yang bibirnya menyunggingkan senyum saat mengatakannya.
"Pantesan saja pas pertama kali makan malam, kalian seperti terkejut. Ternyata emang sudah ketemu sebelumnya"
Aku hanya tersenyum merespon ucapan nenek dan tante Ami, beda dengan mas Aksa yang hanya menunduk tanpa ekspresi. Dia langsung mengalihkan topik ketika tante Ami dan nenek membahas soal pertemuan-pertemuan kami. Mungkin takut jika mas Aksa atau aku keceplosan tentang gadis yang mas Aksa hargai delapan puluh juta, yang ternyata mereka keliru membawaku.
"Lusa jadi ke Singapura om?"
"Hmm jadi" sahut om Rendi dengan mulut penuh makanan. "Oh iya Aksa, tolong bilang ke Fajar untuk menyiapkan dokumen sekalian pesankan tiket"
__ADS_1
"Kamu sama Fajar kan, yang dulu menandatangani kontrak kerja mereka"?" tanya Kakek menyela obrolan mereka. "Dan sekarang kontrak itu akan di perpanjang, jadi harusnya kamu yang temui dia"
"Iya om Rendinya gimana? bisa nggak? kalau enggak nanti aku usahain ijin dari rumah sakit"
"Bisa kok Sa"
"Okey, nanti aku konfirmasi soal dokumen ke Fajar sekalian nyuruh dia pesan tiketnya"
Di sini mbak Gina sama sekali enggak peduli dengan obrolan kakek, mas aksa dan om Rendi. Dia justru sibuk melayani mas Setya dan anak-anaknya.
"Nanti Setya sama kakek urus yang di kantor"
"Iya kek" sahut mas Setya lengkap dengan anggukan kepala.
Setelah makan malam, kami akan menikmati dessert berupa puding yang mbak Gina beli sebelum kemari, tapi entah kenapa perutku berasa mual ketika melihat makanan manis itu, mungkin sudah terlalu kenyang karena tadi memang aku makan lumayan banyak.
"Mas aku langsung ke atas nggak apa-apa kan?" bisiku di telinga mas Aksa. "Nggak apa-apa kalau nggak ikut makan dessert sama beresin meja makan?"
"Nggak apa-apa sayang, kamu langsung mandi saja terus istrirahat"
Usai mas Aksa mengijinkanku, aku langsung berdiri dan berpamitan pada yang lain.
"Nggak makan dessert Sa?" tanya nenek.
"Ya sudah kamu mandi dulu, nanti nenek suruh Aksa bawain pudingnya ke kamar"
Aku mengangguk lalu melangkah menuju tangga. Saat baru tiga langkah, aku sempat mendengar pujian dari nenek yang mengatakan bahwa masakanku enak, dia juga mengatakan kalau akhir-akhir ini wajahku menyorot lelah.
Sesampainya di kamar, alih-alih langsung membersihkan diri, pikiranku justru sibuk dengan kepergian om Rendi. Dan entah insting dari mana, hati kecilku mengatakan bahwa mbak Gina akan ikut dengan om Rendi ke Singapura. Ketika otaku berputar seperti menyusuri labirin, tiba-tiba aku teringat dengan Hanan suruhan mas Aksa. Sepertinya aku harus menghubunginya dan meminta dia ke Singapura mengawasi gerak-gerik om Rendi. Detik itu juga netraku langsung menatap ponsel mas Aksa di atas nakas, dengan cepat tanganku meraih benda itu dan mencuri nomor milik Hanan.
Aku langsung menyimpan nomornya di ponselku dan segera menghubunginya.
"Halo" Sapanya dengan nada tinggi khas preman. "Siapa ini?"
"A-aku Khansa"
"B-bu Khansa istri pak Aksa?" jawabnya dengan terbata.
"Iya"
"A-da perlu apa bu?"
"Bisakah kalau kita bertemu besok pagi?" ucapku seraya menengok ke arah pintu. Takut kalau mas Aksa tiba-tiba muncul.
__ADS_1
"Bu Khansa mau bertemu dengan saya?"
"Iya" sahutku "Bisa?"
"Bisa bu bisa, dimana, jam berapa?"
"Besok pagi jam enam aku tunggu di Cafe Cristal Delima dekat taman kota"
"Baik bu"
Usai melakukan panggilan, aku bergegas menuju ke kamar mandi.
Di kamar mandipun otakku masih berkelana seolah bayangan om Rendi dan mbak Gina nggak mau lepas dari pikiranku.
Selesai mandi, netraku menemukan mas Aksa saat baru saja membuka pintu kamar mandi. Ia tampak duduk di meja kerja dan menghadap langsung ke layar monitor.
"Sudah selesai? kok lama-lama mandinya?" tanya mas Aksa tanpa menatapku.
"Sudah" jawabku sambil berjalan menuju lemari. Selain meraih baju untukku sendiri, aku juga menyiapkan baju ganti untuk mas Aksa.
"Pudingnya di meja Sa"
"Iya" sahutku seraya memakai piyama.
"Sa, kamu nggak merasa ada perubahan dalam dirimu?"
"Aku" jawabku sambil menunduk mencermati diriku sendiri. "Nggak ada. Kenapa?"
Bukannya menjawab pertanyaanku, mas Aksa malah menyodorkan benda tipis yang masih tersegel.
"Besok pagi coba di cek, siapa tahu muncul garis dua"
"Tespect? tanyaku mengernyit. "aku hamil ya?" tanyaku sambil menerima tespek itu dari tangan mas Aksa.
"Makannya besok pagi di cek, bisa caranya pakai kan?"
"Bisa" jawabku sembari menatap benda di tanganku. "Mas bisa mengira aku hamil?"
Mas Aksa mengangguk lalu memasuki kamar mandi. Sebelum menutup pintu, mas Aksa bersuara. "Ada perubahan dalam pa*yudaramu. Tapi biar lebih yakin, besok di cek saja pakai tespek" usai mengatakan itu, mas Aksa langsung menutup pintunya. Selang sekian detik terdengar suara guyuran air.
Hamil? Tapi bisa jadi, sebab pasca menikah, aku memang belum pernah datang bulan.
Bersambung
__ADS_1