Terjerat Perjodohan

Terjerat Perjodohan
Menghasut ART


__ADS_3

"Ini rumah pasangan laknat itu Sa?"


"Iya Ta"


"Bagus juga ya"


"Ini kompleks rumah elit Ta, tipe rumah mewah, ngga ada rumah jelek di sini"


Saat ini aku dan Tata sedang mengawasi rumah mbak Gina dan om Rendi. Kami berencana membuat ARTnya resign dari sana dan akan mempekerjakan Anya di rumah mereka untuk menyamar sebagai ART.


Aku bawa Anya karena dia termasuk karyawanku yang cukup cerdas. Aku harap Anya akan mendapatkan informasi lebih banyak lagi tentang mereka.


Hal ini sudah aku bicarakan dengan Anya dan dia setuju.


Kami sudah hampir tiga jam berada di area rumah mereka berharap si ART akan keluar rumah.


"Ta, udah agak siang ini, sepertinya dia nggak keluar, atau bisa jadi keluarnya sorean"


"Tunggu bentar lagi nggak apa-apa Sa, udah tiga jam kita nyangkruk di sini kalau nggak dapat apapun sayang kan"


"Kamu tahu bahasa nyangkruk?"


"Abangmu yang suka ngomong gitu"


"Bang Emir?"


"Hmmn"


Aku lupa kalau nenek bang Emir kan orang jawa, kadang tante Cantika juga suka ngomong ceplas-ceplos.


Aku menghempaskan punggungku ke sandaran jok mobil, bersamaan dengan itu, terdengar pintu gerbang terbuka.


"Sa target keluar" ucap Tata, pandangannya terus fokus ke arah gerbang.


"Iya Ta, itu ARTnya"


"Ok aku turun sekarang Sa"

__ADS_1


Anita langsung turun dari mobil ketika wanita itu hendak membuang sampah.


Aku dan Anita sama-sama terhubung melalui bluetooth, sehingga aku bisa mendengar percakapan mereka.


"Mba, tunggu mbak" itu kata Anita saat si ART hendak kembali masuk.


Aku berharap saat Tata sedang bicara dengannya, baik Gina maupun om Rendi tidak tiba-tiba datang.


"Iya mbak"


Mata si ART tampak menyipit karena sinar matahari. Beda dengan Anita yang melindungi matanya dengan kacamata hitam.


"Mbak ART di sini ya?"


"Iya mbak"


"Begini mbak, saya sedang cari ART, siapa tahu mbaknya punya teman untuk di recomendasikan kerja di rumah saya, atau mbaknya sendiri mungkin?"


"Enggak ada mbak?"


"Enggak ada ya?" ulang Anita. "Atau mbak mungkin mau kerja di rumah saya, saya gaji lima juta per bulan mbak, mau?"


Anita tampak mengangguk, lalu berkata "Kalau mau, mbaknya langsung hubungi saya di nomor ini" Dia menyerahkan kartu nama milik Naraya. Sesuai rencana kami. Karena nggak mungkin kartu nama Aku atau Anita, sebab nama kami sudah di ketahui oleh mbak Gina. Untuk jaga-jaga saja siapa tahu si ART crita ke dia.


"Secepatnya ya mbak kalau minat"


Anita kembali ke mobil setelah menyerahkan kartu nama.


"Kira-kira gimana Ta, bakal berhasilkah?"


"Entah lah" sahutnya seraya mengedikan bahu, lalu bersiap menancap gas. "Kita ke rumah mami Diana ya"


*****


Keesokan paginya, karena di hari sabtu kami nggak ke kantor, kami berkumpul di rumah kakek. Kami masih berpura-pura nggak tahu bahkan masih bersikap baik dan biasa saja. Padahal sebenarnya semua bawahan om Rendi sudah berada di bawah kekuasaan kami.


Sementara urusan perusahaan, sengaja kami kerjakan secara lambat, supaya om Rendi nggak curiga terhadap rencana kami.

__ADS_1


Mas Aksa dan mas Setya yang sedang beradu catur, membuat fokus kakek terus menatap kedua cucunya. Sedangkan om Rendi duduk dengan mesra di samping tante Ami. Sebenarnya hal itu memantik emosiku mas Aksa serta mas Setya, tapi sebisa mungkin kami tahan, karena sebentar lagi kami benar-benar akan menendang mereka ke penjara.


Ketika netraku terus menatap mbak Gina yang sesekali melirik ke arah om Rendi, Aku di kagetkan dengan ponselku yang tiba-tiba berdering.


Anita Calling...


"Assalamualaikum Ta?" ucap Khansa.


"Waalaikumsalam, Sa"


"Ya, ada apa Ta?"


"Si ART nya Gina hubungin Nara katanya Sa, lusa aku jemput dia, Sekalian urus Anya untuk memasuki rumahnya"


"Dia sudah dapat ijin dari Gina Ta"


"Katanya si udah, dia bilangnya mau pulang kampung"


"Ok kamu urus ya"


Selang satu jam setelah aku menerima telfon dari Anita, mbak Gina pergi dan bilang mau ke butiknya.


Seperti biasa, mas Setya masih pura-pura ketika mbak Gina meraih tangannya untuk di cium, lalu bergantian pada om Rendi dan tante Ami.


"Pergi dulu ya pah, mah?"


"Hati-hati ya Gin"


"Iya mah"


Bisa-bisanya dia nggak pernah salah kapan saatnya panggil papah, kapan saatnya panggil Daddy, itu sebabnya keluarga mas Setya nggak curiga pada mereka. Entah kalau aku nggak masuk ke keluarga ini, mungkin sebentar lagi keluarga mas Aksa jatuh miskin.


"Mamah pergi ya sayang, abang sama ita nggak boleh nakal-nakal"


"Iya mah" jawab Kukuh patuh.


Benar-benar akting yang luar biasa. Salut sama mereka berdua.

__ADS_1


Dan sebentar lagi aku akan tahu ada siapa saja di rumah besar mereka. Anya pasti akan menjalankan sandiwara dengan baik.


Bersambung


__ADS_2