
Sekali lagi aku katakan, nggak akan baik-baik saja kalau membahas soal penghianatan.
Pasti sangat sakit.
Aku dan Fajar hanya diam sembari menyaksikan gurat kecewa, sedih, marah, semua tercampur menjadi satu di wajah mas Setya. Aku sangat tahu dia ingin sekali meluapkan kemarahannya, tapi karena ada aku dan Fajar, dia jadi bisa mengendalikan diri dan berpura-pura kuat.
"Mas nggak apa-apa?"
"Kamu nggak mengada-ada kan Sa?, ini palsu kan?"
"Kalau mas ragu dengan video ini, mas bisa tanyakan pada pakarnya"
"Dari mana kamu dapat ini?"
"Aku menyewa orang buat ngawasin mereka ketika di Singapura. Mas nggak percaya sama aku?" tanyaku pelan. "bahkan aku tahu kalau mereka punya rumah pribadi. Rumah besar dan mewah. Mereka adalah sepasang suami istri"
"Bagaimana mungkin Sa?"
"Kalau filingku mereka menikah siri"
"Kurang ajar kamu Gina" desis mas Setya, tangannya mengepal sangat kuat.
"Lebih baik mulai sekarang mas jauhi Gina, tapi harus tetap bersikap biasa padanya ketika di rumah, karena 70% saham Dandelion sudah berpindah atas namanya, dan kita harus segera merebutnya kembali, jika mas tidak bisa mengendalikan diri mas, kita akan kehilangan 70% itu"
Mas Setya seperti tidak percaya dengan apa yang aku katakan.
"Setelah Dandelion pulih, terserah mas mau apain Gina dan om Rendi"
"Aku nggak tahu Sa" Pandangan mas Setya kosong.
"Apa maksud mas?"
"Aku nggak tahu, apa yang akan aku lakukan jika berhadapan langsung dengan mereka nanti"
"Kendalikan diri mas sampai saham itu kembali ke tangan kita, setelah itu mas bisa membuang mereka ke tong sampah"
"Apa Aksa tahu?"
Aku menggeleng merespon pertanyaan mas Setya
"Baiklah, kita akan merevisi semua laporan keuangan, kita adakan perombakan serta peralihan jabatan" perintah mas Setya dengan ekpresi datar menahan amarah. "Siapkan waktu dan tempat untuk pertemuan besok Jar" lanjutnya menatap Fajar. Matanya merah, dari gestur tubuhnya sangat terlihat jika mas setya merasa tak tenang "Pastikan kakek dan om Rendi tidak tahu tentang ini"
"Baik pak Setya" jawab Fajar patuh.
__ADS_1
"Sa kamu beri tugas untuk pria itu ke luar kota, terserah untuk tugas apa"
"Iya mas"
"Cari Orang untuk membantu kita mengaudit semua operasional perusahaan"
"Aku sudah meminta teman-temanku mas"
"Siapa saja yang penting harus memihak pada kita. Carikan juga sekertaris untuk menggantikan Lala"
"Kenapa mas? Lala rekrutannya om Rendi juga?"
"Iya. Aku ingin dua sekertaris, jika pekerjaan mereka hasilnya sama, itu artinya Lala ada di pihak kita, tapi jika hasil kerja keduanya berbeda kita harus selidiki Lala"
Meski dalam keadaan emosi, mas Setya bisa mengambil keputusan yang sekali hentakan, bisa langsung membuat om Rendi dan Gina jera.
******
Hari-hari kami lalui dengan bekerja ekstra keras. Butuh waktu sebulan lebih untuk melakukan audit perusahaan, apalagi kesalahan ini sudah terjadi sejak lama.
Aku, Naraya, serta Anita sangat paham dengan urusan perusahaan, karena saat kuliah, kami memang mengambil jurusan di menejemen bisnis.
"Kamu yakin Na, bisa merangkap jabatan? kamu nggak pusing pegang tugas accounting dan sekertaris sekaligus?"
"Aku bisa kok Sa"
"Iya, aku justru senang, dengan kesibukanku ini, aku jadi lupa dengan masalahku"
"Yang terbaik buat kamu ya Na, semoga masalahmu cepat selesai"
"Iya Sa"
Naraya memang baik dan tulus, dari kalangan orang biasa, tapi atatude-nya luar biasa. Dia sangat semangat membantu memulihkan perusahaan mas Aksa. Bahkan memegang dua jabatan sekaligus, selain mengelola catatan keuangan, dia juga menjadi sekertaris mas Setya. Dan ku lihat mas Setya dan Naraya sangat kompak dalam bekerja.
"Sa, coba lihat ini" Naraya tiba-tiba menyerahkan laporan yang membuatku tercengang. "Si marketing ini sangat pintar Sa, dia meminta pihak rumah sakit untuk melakukan pembayaran di hari sabtu dan minggu, bahkan di setiap tanggal merah. Oleh karena itu, perusahaan tidak bisa memasukkannya ke dalam buku besar, karena di hari itu perusahaan libur, Bukan begitu Sa?"
"Yakin Na, di tanggal itu pas banget selalu hari sabtu dan minggu?"
"Yakin banget, aku sudah cek tadi. Kalau kamu mau lebih yakin, coba kamu cek salinan nota yang kamu dapat dari pihak rumah sakit. Di tanggal-tanggal itu pas sekali tanggal merah, dan libur nasiaonal.
"Sa, perusahaan suamimu benar-benar sakit" Kata Anita yang baru saja memasuki ruanganku. Dengan gugup ia mengatakannya, membuatku dan Naraya kompak memalingkan wajah ke arahnya.
"Ada apa Ta?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Saham setiap bulannya bisa turun, dan omset setiap bulanpun berkurang, bahkan kalian di tipu dengan laporan palsu dari para pegawainya, tapi ngga ada yang menyadari"
"Itu karena kakek terlalu percaya pada om Rendi, beliau bertanya tanpa mengeceknya"
"Tapi meskipun ini laporan palsu, kepalsuannya nggak bisa di tangkap kalau kita nggak jeli Sa"
"Dari mana kamu tahu?" tanya Nara.
"Tadinya aku juga nggak sadar, tapi saat ada kertas yang terselip, aku koreksi, ternyata itu copyan laporan yang asli, mungkin mereka ceroboh sudah meninggalkannya disini"
"Mau sadar gimana, hampir seluruh karyawan penting di sini dalam kendalinya" ujarku lalu mendes@h pelan.
"Aku akui yang melakukan ini benar-benar sudah merencanakannya dengan sempurna, sampai saham 70% saja pindah ke tangan dia" lanjut Anita.
"Lalu apa yang harus kita lakukan Ta?"
"Apa lagi, kita tipu dia lah?" sahut Anita cepat.
"Itu artinya kita memanipulasi surat kuasa kepemilikan saham?" Aku mengarahkan pandangan mencari netra yang mengatakan itu. "Apa kamu berencana mendapatkan tanda tangan dia dengan cara menipunya juga?" lanjut Nara seakan tebakannya tepat sasaran.
Anita menjentikan ibu jari dan jari telunjuk hingga menimbulkan suara. Bersamaan dengan suara yang keluar dari mulutnya. "Tepat sekali, jika dia menipu kakek, maka kita juga harus menipunya"
"Caranya gimana, aku yakin dia akan sangat hati-hati, dia tidak akan sembarangan untuk membubuhkan tanda tangannya"
"Itu urusan gampang bagi Anita Sa, kayak nggak tahu dia aja" Seloroh Nara bermaksud bercanda. Sementara Anita tersenyum geli sambil menoel pipi Nara.
"Awas kalau kamu juga nipu abangku"
"Justru sebaliknya Sa, aku yang sering kena tipu sama abangmu"
"Gimana bisa, penipu kena tipu?" ledek Nara lagi.
"Itu sebabnya aku berfikir untuk menipu omnya Sasa Na"
"Emang abangku nipu gimana si? perasaan abangku orang baik"
"Kamu nggak tahu Sa, kalau abangmu suka php-in aku. Bilangnya mau jemput di tunggu-tunggu sampai malam di kantor, ujung-ujungnya nggak bisa karena ada operasi, katanya mau nonton, tapi bohong" Akunya, dan itu membuatku serta Nara tergelak.
"Na, ke ruangan saya sebentar" tiba-tiba mas Setya menyela gelak tawa kami.
"Iya" jawab Nara singkat. "Aku pergi dulu ya, jangan ghibahin aku" pamitnya sambil berlalu.
"Hmm" responku dan Anita kompak.
__ADS_1
Bersambung...
Week end bisa up banyak-banyak 😀😀