Terjerat Perjodohan

Terjerat Perjodohan
Ekstra part 5 (Keluarga BARU)


__ADS_3

Biar nggak hambar, aku sedikit kasih part yang lumayan panas. BAGIKU.


Makasih sudah ngikutin sampai part 69. Dan sudah aku mau kasih lambang End.


Episodenya memang pendek ya, nggak panjang-panjang sampai 100 episode lebih seperti author lain. Karena di setiap episodeku mencapai 1000 kata lebih bahkan sampai 1500 kata lebih.


Segitupun kadang masih ada yang bilang..


"Kak, kurang panjang"


1 part di saya, mungkin kalau di author lain bisa di jadikan 2 part 😀😀. itu sebabnya setiap novel yang ku buat nggak sampai ratusan episode.


Next selamat membaca episode part bonus Anya dan Setya... (Karena kisah mereka nggak akan aku jadikan next novel) Jadi aku selipkan disini. Sebagian dari kalian pasti bilang..


Wah, authornya sesat, masa melenceng dari kisah protagonis pria dan wanita dimana pemerannya Aksa Dan Khansa.


Emang melenceng banget si, 😂😂😂


Tapi disini muncul Antagonis kan dari keluarga suaminya Khansa. Jadi aku selipin dikit-dikit.


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


Nak Setya, Anya, Kok lama? kami sudah menunggu kalian"


Sesaat setelah mendengar ucapan sang Ibu, jantung Anya seperti berhenti berdetak selama beberapa detik.


"Pak Setya?" tanyanya dengan heran campur terkejut.


Anya tak tahu mimpi apa semalam tiba-tiba mendengar ibunya menyelipkan nama Setya di kalimat tanyanya.


Mimpi...


Bagi Anya ini seperti mimpi.


Setya yang sudah menghadap ibu, langsung mendapat senyuman manis dari ibu mertuanya. Hal itu membuat Anya semakin bingung.


"Kalian sudah siap kan? cepat keluar, Si Vita sudah ndak sabar pengin makan"


"Vita?" tanya Anya masih dengan sorot bingung.


"Nah sekarang sudah tahu kan kalau nak Setya itu suamimu, kamu bisa puas-puasin lihat wajah pria yang sejak kemarin kamu tanyakan" Pungkas bu Riyanti dengan nada lembut. "Sekarang kita makan malam dulu, selesai makan, kalian bisa lanjut saling tatap"


"Su-suami bu"


"Iya suamimu, yang baru saja mengucapkan ijab qobul untuk menghalalkanmu"


Entah sudah berapa kali Anya menelan ludahnya sendiri, sehingga dia merasa kenyang dan tak ada nafsu makan barang sedikit.


"Maaf ibu rahasiakan karena ibu pengin kasih kejutan buat kamu" ucapnya tanpa dosa. "Lagi pula, kamu sedang di pingit waktu itu, jadi ibu larang kamu lihat foto nak Setya" tambahnya berusaha menguatkan pendapatnya.


Di saat Anya masih Shock, Setya justru menampilkan gestur santai. Tetapi sebelumnya, dia juga sudah mengalami hal yang Anya rasakan saat ini.

__ADS_1


"Ayok Nak Setya Anya, secepatnya keluar, putri kalian sudah menunggu"


Usai kepergian bu Riyanti, Anya masih berdiri terpaku dengan bibir terkatup rapat, sesekali menatap wajah suaminya yang tengah tersenyum jahil lengkap dengan kedua alisnya yang naik turun.


Selang sekian detik, tanpa peringatan apapun tahu-tahu Setya sedikit merunduk dan langsung mengecup pipi Anya, detik berikutnya bibir Setya bergeser ke bibirnya.


Sesuatu yang Setya tahan sejak beberapa bulan lalu.


Anya yang awam dengan istilah kissing hanya bisa diam mendapat perlakuan semacam ini.


Yang bisa ia lakukan hanya memejamkan mata erat-erat. Sampai ketika Setya menggigit bibir bawahnya, mulut Anya secara refleks terbuka, dan Anya di kejutkan oleh lidahnya yang tiba-tiba menelusup.


Pikiran Anya kosong, tak tahu harus berbuat apa kecuali hanya diam sembari merasakan gerakan lembut dan kenyal.


Entah kapan dan bagaimana caranya, tahu-tahu mereka sudah bertukar posisi. Setya yang duduk di tepian wastafel, kedua tangannya sudah melingkar di pinggang Anya. Sementara bibirnya tak berhenti ******* bibir istrinya. Ketika Anya hendak melepaskan diri, satu tangan Setya justru menekan punggung Anya hingga tubuhnya kian merapat. Anya berdiri di antara kedua kakinya. Posisi Setya yang duduk di tepian wastafel membuat kepala Anya sedikit menunduk, dengan kedua tangan mendarat di atas pundak Setya.


Ketika napasnya kian habis, dengan paksa Anya melepas tautan bibir mereka. Dadanya naik turun, paru-parunya benar-benar terasa seperti akan meledak. Selain itu, wajah dan tubuh Anya rasanya panas sekali.


"Masih belum percaya?" tanya Setya dengan wajah mendongak menatap Anya.


Tubuh Anya refleks berjengit ketika tiba-tiba merasakan hangat telapak tangan Setya menyusup ke balik khimar dan menyentuh bagian lehernya.


"Kalau masih belum percaya juga..." Ucap Setya dengan senyum miring. "Saya nggak keberatan kalau di minta menunjukan hal yang membuatmu bisa mempercayai pernikahan kita" sambungnya sembari menggerakkan telapak tangannya dengan lembut meraba bagian batang lehernya.


Jemarinya sepeti menyalurkan getaran asing. Dan bagi Anya ini aneh ketika kulit tubuhnya yang selama ini tertutup rapat, bersentuhan langsung dengan lawan jenis. Jaringan di otak Anya benar-benar tak bisa bekerja dengan normal.


"Mari kita buktikan! Tapi setelah makan malam" tambah Setya sambil merapikan khimar Anya yang sedikit berantakan.


******


Panggilan Ita terasa aneh di telinga Anya. Ita yang sudah di ajari oleh Ami dan Khansa, untuk memanggil Anya dengan sebutan mama, gadis kecil itu menurut seperti tak ada beban saat mengucap kata mama untuk Anya.


Tak sabar, Ita bergegas lari


"Mamah" panggilnya lagi. "Ita kangennn" serunya ketika sudah berpelukan dengan posisi Anya bertumpu pada salah satu lutut. Untuk menyamakan tinggi level mereka.


"Aunty juga kangen"


Anya tak memperhatikan sekitarnya, sebab ia benar-benar merindukan Ita. Setelah puas memeluk, dia sibuk menciumi pipi Ita sampai Ita tergelak kegelian.


"Mamah cantik, senyumnya juga cantik" ujar Ita yang membuat Anya terkejut.


"Oh iya?"


Kepala Ita mengangguk mantap. "Ita senang lihat mamah lagi, Ita kangen banyak-banyak sama mama Anya"


Anya melebarkan senyum lalu mengecup pipi putrinya sekali lagi. Sementara keluarga yang menyaksikan tersenyum bahagia.


"Bisa di lanjut nanti kangen-kangenannya?"


Pertanyaan kakek membuat Anya sadar. Tak enak hati, Anya kembali berdiri lalu melanjutkan langkahnya seraya menggandeng tangan Ita.

__ADS_1


"Ita mau duduk dekat-dekat mamah"


Setya pun menggeser dua kursi untuk Anya dan putrinya, lalu menggeser kursi lain di samping Ita untuk dirinya sendiri.


"Kalian ngapain, kok lama sekali?" tanya Khansa ketika Setya dan Anya sudah duduk di kursi makan. "Bayiku dan Ita kan udah kelaparan"


"Maaf" respons Anya singkat tanpa berani menatap wajah Khansa. Ia masih bingung apa yang akan dia lakukan di meja makan. Sampai ketika kakinya yang berada di bawah meja, bersentuhan dengan kaki ibunya.


Bu riyanti menatap Anya lalu melirik piring Setya, semacam kode agar Anya menyidukkan nasi untuk suaminya.


Persekian detik, Anya teringat Khansa yang selalu melayani Aksa ketika makan.


Dengan gerak cepat, Anya segera meraih piring suaminya lalu menyiduk nasi dan beberapa lauk untuknya.


Setelahnya lanjut melakukan hal yang sama ke piring Ita.


"Ita makan sendiri, Ita kan udah besar-besar"


"Waah kalau udah besar, bobonya jangan sama mamah papah berati" sahut Khansa menimpali ucapan keponakannya.


"Enggak. Maunya bobo sama papa sama mama"


"Tapi malam ini bobo sama aunty Sasa ya, soalnya papa sama mama mau bikin dedek buat Ita"


Mendengar ucapan Khansa, Anya seketika salah tingkah, wajahnya memerah, jantungnya pun sudah bedetak tak karuan. Bahkan nasi di atas piringnya baru masuk satu sendok sejak tadi. Sebab benar-benar tak ada lapar sama sekali.


Rasanya seperti makan permen nano-nano. Manis, asam, asin, ramai rasanya.


"Beda loh mas sama yang pertama" Aksa ikut menimpali ucapan Khansa. "Satu kali main langsung gol, aku acungin jempol dua"


Setya berdehem merespon ucapan Aksa.


"Siapkan diri mendapat serangan dari lawan" Tambah Aksa tersenyum sadis. "Kadang menjambak rambut, mencubit pinggang, dan bahkan bisa sampai menendang"


Seperti itukah? batin Setya mungkin. Sebab saat malam pertama dengan Gina, ia tak merasa kesulitan. Justru Ginalah yang telaten menuntunnya karena memang wanita itu sudah berpengalaman sebelumnya.


"Siapkan paracetamol juga siapa tahu paginya pusing" Kata Khansa seraya terkikik.


"Betul" kali ini kakek ikut bersuara "Pengalaman kakek, paginya terasa pusing karena belum berhasil membuka garasi"


"Kakek" sergah Nenek cepat. "Lebih baik diam, jangan ikut-ikutan absurt seperti anak muda"


Merasa di kuliti habis-habisan, Anya hanya mengacak-acak makanannya. Hanya tiga sampai empat suap yang berhasil masuk ke dalam mulut.


Melihat hal itu, selesai makan dan keluarga Rudito juga baru saja berpamitan untuk kembali ke hotel, Setya membawa sepiring Nasi lengkap dengan sayur dan lauk ke kamar.


Sementara Vita masih bermain manja dengan kakek dan nenek barunya.


Bermain congklak membuat Vita hanyut dan seakan lupa dengan papa dan mamanya yang sudah masuk ke kamar.


Bersambung...

__ADS_1


Selamat ya sudah jadi keluarga. Kalian bertiga lagi liatin apa si?? nggak ada yang sadar camera.



__ADS_2