
Saat baru saja sampai, aku dan mas Aksa di kejutkan oleh suara riang anak kecil yang tengah bermain-main dengan tante Ami serta nenek Nimas, kedua anak itu langsung berlari menghambur ke pelukan mas Aksa begitu kami berada di ambang pintu utama.
"Uncle" teriaknya riang.
"Sun tangan uncle sama aunty dulu dong" perintah mas Aksa, dan kedua bocah itu pun menuruti ucapan om nya, lalu mas Aksa langsung menggendong dua anak itu sekaligus.
"Uncle perginya lama-lama, nggak ajak-ajak Ita" protes Vita lalu bibirnya tampak mengerucut.
"Uncle kan bulan madu dek" Ku dengar abangnya yang menimpali.
"Bulan madu itu apa bang?" tanya Vita dengan tatapan penasaran.
"Bulan madu itu menikah, nanti abang kalau udah gede-gede kayak uncle juga mau menikah, terus nanti bulan madu" Cicitnya.
"Assalamu'alaikum" ucapku dan mas Aksa ketika kami sudah berada di ruang tengah.
Tante Ami dan nenek menjawab salam kami nyaris kompak. Langkah kami melenggang menghampiri nenek dan tante Ami yang tengah duduk sambil menonton televisi.
"Gimana bulan madu kalian?" pertanyaan tante Ami membuatku tersenyum.
"Lancar te, nggak ada kendala" respon mas Aksa setelah mengecup punggung tangan nenek, lalu melirikku dan aku mendengkus geli.
Kami tengah berkumpul di ruang tengah, sementara mas Aksa langsung pamit memasuki kamar dengan menggendong Vita dan tangan kanan menarik koper berisi pakaian kami. Saat kami berangkat hanya membawa satu koper, dan ketika pulang membawa dua koper. Satu koper lainnya berisi oleh-oleh yang saat ini kami taruh di ruang tengah.
Sedangkan tante Ami, kebetulan sedang di sini menemani nenek karena ku dengar mas Lasetya, papahnya, dan kakek sedang melakukan perjalanan bisnis ke Pekan Baru.
"Kamu nggak masuk kamar saja Sa, cape loh perjalanan dari Paris ke Jakarta?"
"Nggak apa-apa tante, tadi di pesawat sudah cukup istirahat" Sahutku sambil mengeluarkan mainan robot dari koper yang sengaja mas Aksa beli untuk kukuh. Kami membeli hampir satu koper besar oleh-oleh untuk keluarga.
"Ini mamahnya anak-anak nggak ikut ke sini tan?"
__ADS_1
"Enggak, Gina lagi ke Paris, katanya mau order beberapa tas keluaran terbaru. Dia berangkat sehari sebelum kalian pergi"
Mendengar ucapan tante Ami, aku jadi teringat sosok di restauran pagi itu, mereka mirip mbak Gina dan om Rendi, apa jangan-jangan yang ku lihat itu memang benar mereka. Tapi kan om Rendi juga pergi sama kakek dan mas Setya. Ah mereka benar-benar mengganggu pikiranku.
"Wah tahu mbak Gina di Paris juga, pasti kita ajak ketemuan"
"Iya Sa, tante nggak kepikiran ngasih tahu Gina kalau kalian bulan madu ke Paris, Ginanya juga waktu itu buru-buru, tante sibuk nenangin Vita yang sempat nggak mau di tinggal mamahnya, jadi kelupaan"
"Ooh" Sahutku singkat. "Ngomong-ngomong nek, kapan kakek berangkat ke Pekan Baru?" tanyaku basa-basi.
"Dua hari yang lalu"
"Dua hari apa? Siapa?" tanya mas Aksa yang tiba-tiba bergabung dengan kami, dia sudah berganti pakaian rumahan yang lebih santai dengan menggendong Vita.
Mas Aksa memang suka anak kecil, apalagi sama anak cewek. Kemarin saja sempat bilang pengin punya anak perempuan, karena papiku punya keturunan kembar, mas Aksa berharap kami pun memiliki anak kembar seperti bang Azam dan bang Emir.
"Kakek sama Lasetya" jawab nenek. "Sama om Rendi juga" tambahnya lalu mengambil alih Vita dari pangkuan mas Aksa.
"Fajar kan harus handle pekerjaan di kantor"
Menghirup napas berat, tiba-tiba saja aku curiga sama mbak Gina dan om Rendi. Sekarang aku yakin bahwa waktu itu aku nggak salah lihat, tapi yang jadi pertanyaan, kenapa mbak Gina dan papah mertuanya bisa keluar sama-sama dari dalam restauran itu.
"Sa, kamu ganti baju dulu sana" ucapan mas Aksa seketika menyadarkan lamunanku. Membalas tatapannya, aku mengulas senyum lalu mengangguk. "Aunty ke kamar ya, abang Kukuh main-mainnya ganti sama uncle dulu"
Melangkah menaiki tangga, otakku kembali memikirkan tentang mbak Gina dan om Rendi.
Kemarin saat di Paris, mas Aksa banyak bercerita tentang keluarganya termasuk Om Rendi yang ternyata adalah papah sambungnya mas Lasetya. Dulunya dia adalah sekertaris om Gani, papah kandung mas Lasetya, beliau meninggal bersamaan dengan papah mamahnya mas Aksa karena mereka ada di dalam satu mobil.
Di dalam kamar, aku memutuskan menyiapkan baju ganti lalu membersihkan make up, pikiranku entah kenapa berspekulasi bahwa om Rendi adalah orang jahat. Tepat ketika aku selesai membersihkan make up, mas Aksa muncul dari balik pintu.
Mata kami sempat bertemu pandang melalui cermin, dan ku lihat mas Aksa mengerutkan kening.
__ADS_1
"Belum ganti baju?" tanyanya sambil melangkah menuju tempat tidur, tangannya menenteng notebook, lalu ku lihat dia duduk di meja kerja yang nggak jauh dari ranjang.
Aku merespon dengan gelengan kepala, kemudian bangkit sambil mengumpulkan kapas-kapas kotor yang sebelumnya ku letakan di pinggiran meja rias, lalu akan ku buang ke temapat sampah.
Aku memasuki kamar mandi tanpa mengatakan apapun, karena pikiranku masih awut-awutan memikirkan tentang Gina dan Om Rendi. Selain itu, mas Aksa tampak menyibukkan diri di depan komputer.
*****
Hampir setengah jam berada di kamar mandi, ku lihat Vita sedang bergelayut manja di pangkuan mas Aksa, mereka berdua sama-sama memusatkan perhatian pada layar laptop yang menyala terang. Mungkin anak itu memasuki kamar kami saat aku berada di dalam toilet.
Begitu aku membuka pintu dan keluar dari kamar mandi, dengan penampilanku yang melingkarkan handuk hanya sebatas dada, aku tiba-tiba terkejut mendengar pertanyaan si gadis kecil berusia empat tahun.
"Leher aunty kenapa?"
Pertanyaan Vita, membuatku menelan ludahku sendiri. Reflek tanganku menutupi bagian dada ke atas karena ada begitu banyak tanda merah di sekitar situ. Aku melirik ke arah mas Aksa yang sedang menautkan satu alisnya. Detik kemudian pandangan kami bertemu.
"Leher aunty kenapa, kok merah-merah?" tanyanya lagi dengan polos. Kali ini tatapan Vita tertuju lekat ke arahku.
"I_itu,,,"
"Di gigit semut" jawab mas Aksa tenang ketika aku tergagap.
"Semut? Di paris ada semut ya?"
"Iya semutnya besar-besar" sahut mas Aksa membuatku sedikit gemas mendengar jawabannya.
Aku buru-buru menyambar bajuku yang tadi aku taruh di atas kasur. Tak ingin lagi terlibat perbincangan mereka yang langsung membuatku merasa kikuk, aku kembali memasuki kamar mandi berniat ganti baju di dalam sana.
Vita dan Kukuh, menurutku mereka sangat lucu, aku nggak habis pikir sama mbak Gina yang sering meninggalkan mereka.
Bersambung
__ADS_1