
"Assalamualaikum"
Kompak wajah mereka memindai pandangannya pada sosok wanita berhijab yang berdiri di ambang pintu yang membatasi area makan dan ruang tengah.
"Waalaikumsalam" jawab mereka kompak kecuali Rendi dan Gina yang justru sangat terkejut.
"Cici" gumam Gina dengan sorot tak percaya.
Anya masih berdiri mematung, kemudian Setya berjalan ke arahnya lalu menggandeng tangan Anya. Dengan langkah lebar, ia membawanya ke hadapan Gina.
"Kamu kenal dengannya?"
"D-dia"
"Ya" potong Setya dengan intonasi tegas. "Dia adalah Cici, orang suruhanku yang menyamar jadi ART di istanamu"
Mata Gina memerah, dia terlihat shock tapi tak serta merta membuat Setya merasa iba. Dia bahkan sudah mati rasa untuknya.
Tersenyum miring, Setya mencengkram rahang Gina dengan sangat kasar, lalu menatapnya dengan sangat intens. Gina sempat akan menunduk, namun dengan kasar Setya membuatnya mendongak agar kembali melihatnya.
"Betapa hinanya kamu menjadi seorang wanita" Ucap Setya tajam, mengabaikan sorot terluka di wajah istrinya.
Bahkan Setya tak memiliki rasa kasihan sedikitpun pada wanita yang sebentar lagi akan menjadi mantan istri.
Wajahnya yang pucat dan matanya yang sembab justru membuat Setya semakin muak dengannya. Apalagi jika teringat tentang pengkhianatannya.
"Apa yang sudah kamu lakukan di belakang saya, umpatan apa yang sering kamu keluarkan di depan pembantumu?" Mata Setya terus tertuju pada bola mata Gina yang juga sedang menatapnya dengan sorot cemas sekaligus gelisah.
"A_aku_"
Plak... satu tamparan mendarat di pipi mulus Gina. "Kamu pikir aku tidak cukup malu kamu sudah mengataiku di depan wanita asing? kamu pikir aku pria dengan harga diri yang rendah, sehingga kamu dengan entengnya menyebutku pria bodoh, stup*id, pria plin plan dan lain sebagainya?"
"A-aku Min_"
Plak... Setya kembali melayangkan tamparan. dan itu di saksikan oleh gadis kecilnya.
"Papah"
Persekian detik wajah Setya beralih ke arah Vita. "Ita"
"Jangan pukul mama" rengeknya sambil menahan isak tangis.
Mengabaikan rengekan Vita, Setya kembali berkata. "Aku" ucapnya tegas "Lasetya Arif Firdaus, dengan sadar dan di hadapan keluargaku, menalak istriku Anggina Pinandita dengan talak tiga"
Usai mengatakan itu Setya menarik napas lega.
"Bawa mereka ke kantor polisi pak" Perintah Setya kemudian.
"Pah maafkan aku pah" teriak Gina ketika polisi menggiringnya ke arah pintu keluar. "Ita tolongin mama Ta, mama minta maaf sayang"
"Mamah"
"Khansa" pekik Gina tiba-tiba. "Ini pasti ulahmu kan? Semenjak kamu hadir ke dalam hidup keluargaku, kamu mengacaukan segalanya. Awas kamu Khansa, aku pasti akan membalasmu" Suara Gina yang menggema ke seluruh ruangan, perlahan semakin mengecil dan teredam.
Sementara Setya langsung membawa tubuh mungil putrinya ke dalam gendongannya.
"Mama mau kemana pah?"
"Mama sibuk, mama sudah biasa sibuk kan?"
"Tapi kenapa di bawa pak polisi"
__ADS_1
"Mamah udah nakal sama Ita, udah jahat sama papah, sama oma. Mama mau di tegur sama pak polisi"
Setya terus menenangkan Ita yang terus menangis, ia bahkan membawanya ke luar rumah menuju taman di belakang rumah.
Merasa Anya mendapat undangan dari Setya, ia terus mengekor di belakang Setya, karena hanya pria itu yang Anya kenal kecuali Khansa dan Aksa.
Namun Khansa tak tertangkap oleh pandangannya, sedangkan Aksa tengah memeluk kakek neneknya. Membuat Anya mengikuti kemana Setya berjalan.
Kukuh, masih berada di dalam kamar, tak tahu menahu soal kejadian yang menimpa sang mama, karena dia cukup paham dengan larangan ARTnya. Berbeda dengan Vita yang terus merengek dan akhirnya bisa keluar dari kamar.
Duduk di gazebo, Setya memangku dan memeluk Vita yang belum berhenti menangis. Ia terus mencoba menenangkan sang putri dengan mengusap lembut punggungnya.
"Ita dengerin papah ya" ucap Setya lembut "Mama mau sibuk banyak-banyak, ita di rumah sama papa, sama oma, kakek nenek, uncle Aksa, aunty Sasa, ada abang, ada aunty Anya juga"
Mendengar namanya di sebut jantung Anya langsung berdesir.
Dan perlahan tangis Ita mulai reda. Dengan sabar Setya menunggu sampai anak gadisnya berhasil menata napasnya yang tersengal.
"Aunty ambilkan minum untuk Ita ya" ucap Anya yang berdiri di depan Setya.
"Aunty Anya di sini ya papah?"
"Hmm"
Vita mengangkat kepalanya untuk menoleh ke belakang.
"Mau minum?" tanya Anya ketika pandangannya bertemu.
Vita mengangguk.
"Aunty ambil air putih dulu ya"
Vita kembali mengangguk.
"Minum dulu yuk" tawar Anya seraya duduk di sebelah Setya.
Patuh, Vita mendekatkan mulutnya ke gelas yang di pegang Anya.
"Pelan-pelan minumnya" perintah Anya dengan nada lembut.
"Sudah aunty"
"Mau sama autny?"
"Mau" sahut Vita seraya mengulurkan kedua tangannya.
"Ayo" Ajak Anya yang kemudian mengambil Vita dari panguan Setya, lalu memindahkan ke pangkuannya.
"Anak kecil nggak boleh sedih banyak-banyak"
Setya mengulum senyum mendengar Anya ikut berbicara seperti gaya khas putrinya.
"Anak kecil harus bahagia" Mendengar perkataan lembutnya, Vita langsung merebahkan kepala di dada Anya, dan Anya merespon dengan mengusap belakang kepala Vita.
"Jangan nangis lagi ya"
Hening hingga hampir lima belas menit. Tak ada yang bersuara kecuali suara Vita yang sesekali masih sesenggukan.
Tangan Anya terus mengusap punggung Vita yang membuatnya tahu-tahu tertidur.
"Pak, kok bau bunga ya?" tanya Anya dengan bulu kuduk tiba-tiba meremang, ia mengedarkan pandangan ke area taman.
__ADS_1
"Kenapa memangnya?"
"Apa ada hantunya di sini?"
"Hantu dari mana?"
"Ini loh pak, bau bunganya nyengat banget"
"Yang namanya taman emang bau bunga Anya"
"Ah masa si, kalau di kampungku tiap kali bau bunga itu artinya ada hantu di dekatnya"
"Teori dari mana itu?"
"Teori di kampungku pak"
"Masa" tanya Setya sambil mengangkat satu alisnya.
"Sepertinya Ita tertidur pak"
"Yu udah sini biar saya bawa ke kamar"
Pelan, Setya mengambil Ita dari pangkuan Anya. Setelahnya, mereka berjalan memasuki rumah kakek.
Tepat ketika sampai di ruang makan, Anya melihat Khansa sudah duduk di meja makan bersama keluarga yang lain. Mereka duduk dalam diam sembari menunggu Setya untuk makan malam.
"Anya sini duduk di depanku" perintah Khansa.
Setya sudah berlalu beberapa detik yang lalu untuk membaringkan Vita di kamarnya.
"Kek, nek, ini Anya" ucap Aksa memecah keheningan. "Dia pegawai Sasa di Restauran"
Anya menunduk ramah lengkap dengan seulas senyum ketika Aksa memperkenalkan dirinya pada kakek serta nenek dan tante Ami.
"Dengan bantuan Anya, kita bisa mendapatkan fakta tentang kecelakaan yang menimpa papa mama dan om Gani. Dan semua karena Sasa kek nek?. Sasalah yang sudah berjasa besar di keluarga kita"
"Ini sudah menjadi tugasku mas, jangan berlebihan" potong Khansa cepat.
"Kalau nggak ada kamu, kami pasti sudah terusir dari rumah ini Sa"
"Kalian keluargaku, sudah menjadi kewajibanku membantu keluargaku sendiri"
"I love you" balas Aksa matanya menyorot penuh cinta menatap Khansa.
Ucapan Aksa di balas senyuman oleh Khansa. Di saksikan oleh yang lain dengan senyum bahagia.
"Setelah ini jelaskan pada kakek apa yang selama ini terjadi"
"Maaf, lama" Setya menyela ucapan kakek. Ia langsung menarik kursi di tengah-tengah antara sang mama dan Anya.
Ami, Setya dan Anya duduk dalam satu baris menghadap ke selatan bersebrangan dengan Nenek, Aksa, dan Khansa.
"Kita makan sekarang" ajak Kakek.
Mereka menikmati makan malam sembari membahas tentang penembakan yang menimpa Anya.
Cerita dari Setya membuat Kakek, nenek dan Ami terhenyak sekaligus takjub dengan Anya.
BERSAMBUNG...
EFEK WEEK END suami dines, jadi di rumah aja, bisa gas pol, di tambah rem benar-benar blong 😀😀😀...
__ADS_1
aku bobo dulu ya 😂😂, seharian ngadep laptop mataku low battery.