
"Ada apa nak Setya?" tanya penghulu penuh selidik
"Anya?" Balas Setya. "Namanya Anya pak? Anya Larasati Devi?"
"Loh, memangnya nak Setya tidak tahu, kalau calon istrinya bernama Anya?"
Begitu mendengar ucapan si penghulu, Setya langsung memalingkan wajah untuk ia tengokkan ke arah mamanya.
"Surprise" Bisik Ami sembari mengerlingkan salah satu matanya.
"Maaf, ini mau di lanjut, atau bagaimana, melihat nak Setya sepertinya shock? atau mau di tunda?"
"T-tidak pak, la-lanjut saja" jawab Setya tergagap sebab masih belum percaya.
"Yakin?"
"Yakin pak" sahutnya mantap.
"Baiklah, kita ulang ya. Mangga pak Ismail"
Bapaknya Anya pun mengangguk sebelum kemudian bersuara.
"Saudara Lasetya Arif Firdaus, bin Almarhum Ghani Firdaus, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya, saudari Anya Larasati Devi dengan mahar satu milyar rupiah tunai"
Ucap Pak Ismail dengan suara lantang.
Saya terima pernikahannya, dan perkawinannya dengan mahar yang telah di sebutkan tunai, saya rela dengan hal itu, dan semoga Allah selalu memberikan anugerah"
Jawab Setya tak kalah lantang.
"Sah?" tanya pak Penghulu.
Sah
Sah
Suara sah pun menguar di seluruh ruangan. Di lanjut oleh pak penghulu yang akan melantunkan sebuah doa untuk kedua mempelai.
Alhamdulillahhirrabbil Alamain.
"Aamiin" Lirih Setya.
"Silahkan bisa menjemput mempelai wanita untuk tanda tangan kelengkapan dokumen pernikahan. Dan penyematan cincin oleh kedua belah pihak"
"Mas mas" bisik Khansa.
"Apa, ini pasti kerjaan kamu kan?" tuduh Setya yakin.
"Jangan bahas itu dulu. Buruan pake kacamata minus mas, terus pake masker"
"Untuk apa? mas nggak lagi ngadep komputer?"
"Surprise buat Anya. Udah si nurut aja sama aku" Khansa menyodorkan masker dan kacamata ke tangan Setya.
Aksa yang duduk di samping Khansa menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya yang absurt.
Sementara kakek dan nenek tersenyum dan Ami serta Vita pun tak kalah bahagia.
Setya menurut apa kata Khansa. Pria itu sepertinya juga menyetujui ide gila dari adik iparnya. Setya ingin memberikan kejutan untuk Anya.
Kacamata minus beserta masker untuk menutupi hidung hingga mulut pun sudah bertengger di area wajah.
Anya yang sudah mulai terlihat, tampak menunduk dengan raut wajah yang entah seperti apa ekspresinya. Dia sudah di rias sedemikian rupa dengan mengenakan dress hijab berwarna putih khas pakaian pengantin.
Cantik... itulah kata yang Setya ucapkan dengan suara lirih.
Dalam hati, Setya tertawa jahat sekaligus bahagia. Ini adalah susuatu yang harus ia syukuri setiap hari, bahkan setiap menit.
****
"Anya"
__ADS_1
Mendengar panggilan dari wanita yang menjadi bosnya, Anya langsung mencari keberadaan Khansa.
"Mbak Sasa" gumamnya lirih. Selain Sasa, Anya juga melihat Vita, Ami, Kakek nenek dan Aksa setelah mengedarkan pandangannya.
Pak Setya nggak datang, mungkin sedang bulan madu dengan istri barunya.
Anya membatin sembari terus mengarahkan bola mata ke seluruh ruangan. Berusaha mencari sosok pria yang mengganggu pikirannya.
"Silakan nak Anya, bisa duduk di sebelah suami" perintah si penghulu.
Anya pun menurut tanpa menatap wajah pria di samping kanannya. Begitu juga dengan Setya yang sengaja tak menoleh ke arah Anya.
"Tanda tangan dulu ya, setelah itu, baru bisa menyematkan cincin"
Setya dan Anya, membubuhkan tanda tangannya beberapa kali di atas kertas secara bergantian. Sesuai dengan arahan dari petugas KUA.
"Selamat, mulai sekarang, kalian sudah sah menjadi sepasang suami istri baik secara agama maupun negara"
Setelah mengangguk mengerti dengan perkataannya, Setya dan anya saling menyematkan cincin di jari manis masing-masing.
Anya yang terus menunduk, tak menyadari ekspresi Setya yang tengah tersenyum geli. Lepas itu Anya mencium punggung tangan Setya yang di balas kecupan di keningnya, lengkap dengan lantunan doa.
Pak Setya, ternyata cuma ada di tivi, si pria menggagalkan pernikahan pacarnya. Ah aku kan bukan pacarnya pak Setya, aneh-aneh aja dari tadi.
"Selamat ya Anya" ucap Khansa seraya memeluk Anya.
"Makasih mbak"
"Selamat sayang" kata Ami lengkap dengan seulas senyum.
"Makasih tante"
Giliran nenek memeluk cucu menantunya.
"Semoga pernikahan kalian langgeng"
"Makasih nek"
Dalam hati Anya merasa heran kenapa keluarga Khansa sangat bahagia dengan pernikahannya. Namun ia segera menyimpulkan bahwa keluarga Rudito jelas bahagia mengingat Anya sudah sangat dekat dengan mereka. Apalagi dengan cucu satu-satunya yaitu Vita.
"Nak, kalian ganti baju dulu sana" kata bu Riyanti, ibunda Anya. "kami tunggu di meja makan"
"Mas koper mas sudah aku taruh di kamarnya" bisik Khansa ketika Setya berjalan mengekor di belakang Anya.
Ngomong-ngomong soal Vita, dia masih menatap bingung pada wanita yang mengenakan gaun pengantin. Ia tidak menyadari bahwa wanita itu adalah Anya sebab make up di wajah Anya memang tak bisa di kenali oleh mata anak yang belum genap berusia lima tahun.
Sesampainya di kamar, Anya yang masih enggan menatap calon suaminya, memilih sibuk melepas hijab yang di lengkapi dengan sigger di atas kepalanya.
Sesekali ia menatap suaminya dari pantulan cermin. Pria yang langsung duduk di tepian ranjang tampak tengah menunduk menatap layar ponsel di tangan kanannya.
Kenapa masker dan kacamatanya nggak di lepas, apa dia positif covid? Aneh banget tuh orang. Di kamar saja masih pakai masker. lebaayyy.
"Mau di bantu?" tanya Setya ketika pandangan mereka bertemu melalui kaca.
Pak Setya.. suaranya kok mirip dia, ahh aku pasti sedang berhalusinasi, sebab sedari tadi aku memikirkannya.
"Mau saya bantu?" tanyanya ulang.
Ah kenapa lagi-lagi suara pak Setya yang ku dengar.
Anya mengusap wajahnya frustasi. Hal itu memantik bibir Setya menyunggingkan senyum.
Meski senyum itu tersembunyi di balik masker, tapi bisa di lihat jelas dari matanya yang sedikit menyipit.
"Anya?"
"I-iya?"
"Mau saya bantu?"
"T-tidak perlu mas" Usai mengatakan itu, Anya langsung menuju ke kamar mandi lengkap dengan membawa pakaian ganti. Yaitu sebuah gamis berwarna wardah dengan khimar warna senada yang sedikit panjang.
__ADS_1
Setya menggelengkan kepala menatap bagaimana sikap Anya yang terlihat menggemaskan.
Pria itu dengan cepat mengganti pakaiannya selagi Anya berada di kamar mandi.
Kemeja warna senada dengan Anya yang memang sudah di persiapkan oleh bu Riyanti. Yang sudah menjadi ibu mertuanya.
Kemeja itu ia lipat lengannya sedikit, lalu Ia padukan dengan celana bahan berwarna hitam. Sementara masker dan kaca matanya sudah di lepas dari semenjak Anya masuk ke kamar mandi.
Berkali-kali Setya melirik jam di pergelangan tangan, Ia mencoba menerka-nerka apa yang Anya lakukan di dalam kamar mandi hingga hampir satu jam lamanya.
Sempat ragu, akhirnya Setya memberanikan diri mengetuk pintu yang memisahkan dirinya dengan sang istri.
Saat hendak mengetuk pintu, tiba-tiba saja pintu itu justru terbuka.
Sepersekian detik pandangan mereka pun bertemu.
"P-pa, pak Setya, nga-ngapain disini?" tanya Anya dengan tergagap. Berkali-kali Anya melirik ke arah pintu kamar, takut jika suaminya akan memergoki Setya berada di dalam kamarnya.
Pikirannya bercabang antara takut, dan bertanya-tanya kenapa pria yang ia cintai bisa berada di dalam kamarnya dan bahkan berdiri di hadapannya saat ini.
Setya yang tampak belum siap pun terkejut mendapati wajah Anya yang tiba-tiba muncul. Tapi keterkejutannya hanya sesaat.
"Saya" sahut Setya
"Kenapa bapak bisa ada disini"
"Apa yang tidak bisa di lakukan oleh seorang Setya"
Jawaban Setya, membuat Anya menelan ludah dengan setengah mati. Ia melangkah mundur ketika Setya mengambil langkah maju.
"Le-le, lebih b-ba, baik bapak keluar se-sekarang ju-juga"
"Kalau saya nggak mau?" sahutnya sambil terus melangkah maju.
Anya yang terus melangkah mundur, menghentikan langkahnya ketika pinggang bagian belakang menyentuh sisi wastafle.
"Sa-saya sudah me-menikah pak"
"Saya tahu" jawab Setya santai.
Tok,, tok,, tok
Terdengar suara pintu di ketuk membuat Anya kian takut.
"Pak, i-itu pasti su-suami saya" ucapnya. Netranya berusaha menerobos badan Setya agar bisa melihat ke arah pintu. "To-tolong bapak pergi dari sini"
"Ayo kita keluar, kita akan bilang bahwa kita saling mencintai"
"Ta-tapi pak, sa-saya baru saja menikah"
"Nduk" Teriak bu Rianti dari luar pintu kamar.
"Please pak"
"Kenapa?" tanya Setya mengernyit.
Belum sempat Anya menjawab, suara ibu kembali terdengar.
"Nduk"
Perlahan, ia membuka pintu yang tak terkunci ketika sang empunya kamar tak kunjung membuka.
Sepasang netra Anya menatap ibunya yang berjalan ke arah kamar mandi sembari mengulas senyum.
Ketika Setya hendak menoleh ke belakang, Anya buru-buru mencegahnya.
"Jangan nengok"
Setya pun urung menengok ke belakang.
"Nak Setya, Anya, Kok lama? kami sudah menunggu kalian"
__ADS_1
Menelan ludah, Anya tertegun mendengar ucapan sang ibu.
Besambung