
Pov Author...
Hari-hari di jalankan Anya di rumah mewah bak istana milik Rendy dan Gina. Ia harus melayani mamahnya Gina yang menurut Anya tingkat kecerewetannya berada di Rinjani.
Hari ini, ia di bebaskan libur kerja selama sehari. Akan ia gunakan untuk menceritakan apa yang dia tangkap ketika berada di sana.
Dan pagi ini, Anya akan di jemput oleh Setya dengan mobil yang baru saja beli tanpa sepengetahuan Rendi dan Gina. Itu Setya lakukan hanya untuk membututi Gina jika memang di perlukan.
Pak Setya : "Saya di dekat pos satpam mobil warna putih no plat B 2227 LN"
Tanpa membalas, Anya langsung berpamitan pada bu Linda yang tengah menikmati sarapan buatan Anya.
"Saya permisi dulu Nyonya"
"Ingat ya, sebelum pukul delapan kamu sudah harus pulang"
"Iya Nyonya"
"Awas kalau terlambat, saya potong gaji kamu"
"Baik Nyonya"
Sebelum melangkah, Anya sempat menundukan kepala sembari mengumpat dalam hati. Ia terlalu ilfil dengan perintah nyonya Linda yang harus menyebut kata nyonya di akhir kalimatnya.
Pantas saja pembantunya yang lama mau aja di tawari mbak Anita dengan gaji 5 juta. di sini kayak di penjara.
Anya langsung berlari begitu keluar dari area gerbang rumah mereka. Ia merasa bebas seperti burung yang terlepas dari sangkarnya. Tapi itu semua tak membuatnya menyesal karena bagi Anya ini adalah tantangan terbesar dalam hidup. Bahkan bisa di bilang mempertaruhkan nyawa demi gaji yang double-double.
"Masuk Nya"
Dengan cepat Anya membuka pintu belakang.
"Depan saja, di belakang ada Ita lagi bobo"
Sempat ragu, akhirnya Anya beralih membuka pintu mobil bagian depan.
"Kamu mau kemana?" tanya Setya ketika Anya sudah duduk dan tengah memasang sabuk pengaman.
"Pulang ke kosan sebentar bisa pak"
"Tapi temani saya dulu ya, Itanya ada les balet, dia sudah terlambat"
Anya memalingkan wajah ke belakang. "Tapi dia kan tidur pak"
"Dia memang belum bangun, semalam tidurnya sangat larut. Nanti kita ngobrol-ngobrol sembari nunggu Ita selesai les. Sorenya kamu bisa pulang ke kosan, saya tunggu kamu di kosan, terus antar lagi ke rumah Gina"
"Terserah pak Setya saja"
__ADS_1
Beberapa menit berlalu, mereka sampai di tempat tujuan. Setya langsung turun dan pindah ke jok belakang untuk membangunkan sang putri.
"Kita sudah sampai sayang, bangun yuk ke toilet kita cuci muka dulu?"
Anak itu menggeliat sebelum kemudian bangun dan mengedarkan pandangan sembari mengucek matanya.
"Mau les ya pah"
"Iya kan Ita semalam yang bilang mau les dan Ita sendiri yang siapin baju baletnya"
"Ke toilet sama papah?"
"Ya, sama siapa lagi?"
"Nggak sama mamah aja?. Kata Aunty Sasa anak cewek kalau ke toilet harus sama cewek"
"Wah Aunty Sasa pintar juga ya, ngasih tahu Ita yang baik-baik. Tapi berhubung mamah lagi sibuk, Nggak apa-apa ke toilet sama papa, Ita kan masih kecil-kecil, jadi boleh sama cowok"
"Aunty Anya?" Anak itu mengerjap ketika baru menyadari bahwa yang duduk di bagian depan adalah teman tantenya, yang sebelumnya ia kira sang mama.
"Ita kira mamah"
Anya kembali menengok ke belakang. "Kan Ita udah di kasih tahu panggil kakak jangan Aunty"
"Tapi kenapa?"
"Kakak kan badannya udah gede kayak mama kayak aunty, kok masih kecil-kecil?"
"Pokoknya panggil kakak aja ya,"
"Kalau gitu ke toiletnya sama kakak aja ya" ucap Vita yang membuat Anya menaikan kedua alisnya.
"Ok ayo kita ke toilet"
"Nggak apa-apa Nya?"
"Nggak apa-apa pak" sahutnya menatap Setya sekilas. "Ayo sayang kita cuci muka terus ganti baju"
Anya turun dari mobil lalu membuka pintu bagian belakang. Ia mengulurkan tangan meraih tangan mungil Vita.
"Semua perlengkapan ada di dalam tas"
"Iya pak"
"Papah jangan pergi-pergi ya"
"Enggak sayang papah tunggu di sini"
__ADS_1
Anya menggandeng tangan Vita menuju Toilet umum di area les yang memang sudah di sediakan. Mereka berjalan sembari bercanda, dan Setya mendengar gelak tawa mereka yang riang, tak sadar bibirnya melengkung ke atas. Ia merasa selama berumah tangga tak pernah sekalipun mengantar sang anak di temani oleh Gina.
Dan hari ini, keinginan itu justru terwujud dengan wanita lain, bukan dengan ibu kandung Vita.
Setelah Anya membantu Vita cuci muka dan berganti pakaian, Anya langsung membawanya masuk untuk mengikuti les, lalu ia keluar berniat menghampiri Setya.
Saat ia keluar, netranya langsung bertemu pandang dengan Setya, hal itu membuat Setya menunduk karena tatapan Anya membuatnya malu.
Bukan karena apapun, tapi tatapan Anya seakan menyorot iba terhadap nasibnya yang sudah di bodohi oleh istri serta papa tirinya.
"Ita sudah masuk kelas?" tanya Setya setelah Anya sudah berada di dekatnya.
"Sudah, ini tas Ita"
Setya menerima tas Ita dari tangan Anya sembari bersuara. "Kamu sudah sarapan?"
"Belum"
"Kita sarapan dulu gimana"
"Tunggu Ita dulu gimana, tadi bilang belum sarapan, cuma minum susu doang. Soalnya di tasnya cuma ada itu"
"Nggak apa-apa nunggu Ita, satu jam loh?" Tanya Setya memastikan.
"Nggak apa-apa"
"Ok, kita masuk ke mobil saja. Takutnya Gina tahu-tahu ke sini"
Mereka kompak masuk ke dalam mobil. Duduk dengan perasaan canggung, dengan pikiran masing-masing. Tak ada obrolan di antara mereka hingga kurang lebih lima menit.
"Kamu gimana di sana?"
"Nggak gimana-gimana"
"Maaf ya sudah melibatkanmu"
"Iya, buat mbak Sasa saya senang melakukannya"
"Tetap hati-hati"
"Iya" Sahut Anya singkat. Ia mengeluarkan ponsel bermaksud untuk memeberitahukan rekaman pembicaraan Gina, Rendi dan mamahnya. "Itu ada tiga rekaman pak, Saya kirim ke ponsel bapak, bapak bisa dengarkan. Dan maaf saya hanya bisa merekam hal yang penting sesai perintah mbak Sasa untuk merekam sesuatu yang sekiranya bisa di jadikan tuntutan"
"Makasih sekali lagi Anya"
"Iya pak Sama-sama" jawabnya sedikit gugup.
Bersambung
__ADS_1