
"Assalamualaikum" Sapa Setya yang baru saja pulang dari kantor.
"Waalaikumsalam"
Anya tengah menemani Vita mewarnai di ruang TV. Ia menyuruh Vita untuk mencium punggung tangan papahnya, lalu giliran Anya meraih tangan suaminya sekaligus mengambil alih tas kantor di tangan kiri Setya.
"Teh Enok, tolong temani kakak sebentar ya"
"Iya bu"
Enok yang sedang mencuci piring bekas makan malam, langsung berhenti lalu bergegas menuju ruang tv.
"Mama temani papa makan malam dulu ya kak"
"Iya" sahutnya tanpa melihat Anya.
Melihat respon anak gadisnya, kening Setya seketika mengerut.
"Ayo mas"
"Ada apa dengannya?"
Alih-alih menjawab, Anya justru melingkarkan tangan di lengan kiri Setya dan mengajaknya ke kamar.
"Kakak kenapa?" tanyanya lagi ketika kaki sudah menapak anak tangga.
"Tadi sepulang dari nengokin mamahnya, dia keluar dengan wajah muram seperti itu"
"Kenapa memangnya?"
"Aku nggak tahu apa yang sudah Gina katakan padanya, karena tadi dia menyuruhku keluar dan meninggalkan mereka tiup lilin berdua"
"Ada yang salah pasti di sini" Duga Setya seraya membuka pintu kamar.
"Kakak bilang aku jahat"
Setya mengangkat satu alisnya begitu mendengar ucapan sang istri.
Setelah meletakan tas kerja di atas meja, Anya bergegas membantu Setya melepas kancing kemeja yang ia kenakan.
"Aku sudah memisahkan mas dan mbak Gina kata kakak" lanjut Anya usai melepas kancing ke tiga.
"Nanti mas bicara sama kakak"
"Bicaranya pelan-pelan saja, jangan sampai moodnya tambah buruk"
"Iya" sahut Setya lalu mencuri kecup di bibir Anya, sedikit memberikan gigitan kecil membuatnya merintih.
"Aku siapkan air hangat, setelah mandi makan"
Sebelum menyiapkan baju ganti untuk Setya, Anya terus menatap punggung suaminya yang sudah tak memakai baju apapun, hanya menyisakan celana pendek di atas lutut. Hingga puggung itu hilang di balik pintu, Anya langsung melangkah ke arah lemari pakaian.
"Mas Aku turun ya, piyamanya ada di atas kasur" kata Anya sedikit berteriak.
"Ok sayang"
Tak ada obrolan apapun ketika Anya menemani Setya menyantap makan malam yang sedikit terlambat. Fokus Anya hanya pada Vita yang masih bersikap dingin padanya. Bagi Anya, kondisi seperti ini benar-benar sangat menyiksa batinnya.
"Ini baru namanya rumah tangga" gumam Setya. Pandangannya terus fokus pada makanan di atas piring.
"Mas ngomong apa?" selidik Anya mengintimidasi. "Memangnya sama yang dulu bukan rumah tangga?" tambah Anya, dengan tatapan sesekali menengok ke ruang tengah.
"Kamu tahu, Gina sama sekali tidak pernah memasak untukku, tak pernah menyiapkan baju ganti, dan yang paling membuatku ingin marah tetapi tidak bisa, ketika aku meminta hakku dia memberikannya dengan raut terpaksa"
"Masa si?"
"Hmm, hambar sayang, ngga ada enaknya sama sekali"
Bersamaan dengan ucapan Setya, tiba-tiba teh enok memasuki area ruang makan.
"Bu, si kakak minta tidur, saya yang bantu menggosok gigi atau ibu?"
"Biar aku saja teh"
"Baik bu, dia sudah ke kamar"
Anya mengangguk merespon ucapannya, detik kemudian pamit pada suaminya. "Aku tinggal dulu ya mas"
"Bilang sama kakak, suruh jangan tidur dulu, papahnya mau bicara"
"Iya"
Anya langsung melangkah meninggalkan Setya dan bergegas naik. Ia akan membantu Vita menggosok gigi sebelum tidur.
"Mamah minta maaf kalau ada salah ya kak"
Vita mengangguk pelan.
"Tadi papah bilang mau temani kakak bobo, kakak tunggu papah ya, sebentar lagi selesai makan"
"Iya" sahutnya seraya rebah di atas kasur.
"Mamah keluar kak"
Menarik napas dalam-dalam, Anya mengeluarkannya dengan berat ketika ucapannya tak mendapat respon dari sang putri.
Tepat ketika membuka pintu, dia berpapasan dengan suaminya yang hendak masuk ke kamar Vita.
"Masih diam-diam?"
"Hmmm"
"Ok, trust me to handle it" Ucap Setya tangan kanannya mengusap salah satu sisi pipi Anya. "Tunggu di kamar ya!"
"Iya"
__ADS_1
Memasuki kamar dengan dekorasi khas anak perempuan, Setya berjalan ke arah tempat tidur lalu duduk di tepian ranjang dengan satu kaki terlipat di atas kasur, sementara kaki lainnya di biarkan menggantung.
"Ngapain saja seharian sama mamah?" tanya Setya tangannya terulur mengusap kepalanya.
"Ke sekolah, terus pulangnya jenguk mama Gina"
"Seneng nggak ketemu mamah Gina"
"Seneng"
"Terus kenapa papa lihat muka Kakak muram?"
"Kata mama Gina mama Anya jahat, Ita harus jauh-jauh dari mamah Anya"
Setya mengerutkan kening.
Ya Tuhan, kenapa Gina tega meracuni anak sendiri dengan mengatakan hal yang tak masuk akal seperti ini, tahu apa Ita di usianya yang baru lima tahun?
"Mama Anya udah buat mamah Gina di tangkap polisi" tambah Vita.
"Oh iya?" sahut Setya santai. "Apa bunda di TPA nyuruh kakak buat nggak main sama teman?"
Vita menggeleng. "Justru bunda nyuruh Ita buat main sama teman-teman, nggak boleh pilih-pilih teman"
Jawaban yang bagus menurut Setya, itu artinya sang putri selalu ingat ucapan gurunya di sekolah.
"Berati kalau kakak nyuruh teman kakak untuk nggak bermain sama Jovanka, yang jahat siapa?"
"Ita lah"
Jawaban yang sangat bagus kembali Vita ucapkan.
"Selama ini yang antar kakak sekolah siapa? yang bantu mandi kakak siapa, yang masak buat papa, oma sama kakak siapa? terus yang temani kakak sama papa banyak-banyak siapa?"
"Mama Anya ya pah?"
"Berati mamah Anya jahat apa sayang banyak ke kita?"
"Sayang banyak iya pah?" Anak itu menjawabnya masih dengan badan terlentang.
"Mamah Gina suka marah-marah ke kakak?" tanya Setya kemudian.
"Iya"
"Kenapa mamah Gina marah ke kakak?"
"Ita nakal, nggak mau makan, sama susah kalau di suruh mandi"
"Apa mamah Anya pernah marahin kakak kalau nggak mau mandi, apa mamah bentak kakak kalau kakak nggak mau makan?"
Sebelum menjawab, Vita tampak terdiam seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. Setya menunggu tanpa memaksa untuk segera menjawab pertanyaaannya.
"Nggak pernah ya pah"
"Ingat pah"
"Berarti mamah Anya jahat apa enggak?"
"Enggak" sahutnya mantap.
Setya tersenyum mendengar sahutannya, lalu mengusap lembut kepalanya.
"Tahu nggak, kalau mamah Gina sekarang sedang di hukum sama pak polisi gara-gara nakal sama kakak, jarang temani kakak, suka pergi berhari-hari dan nggak temani kakak bobo"
"Berati mama lagi di hukum ya pah?"
"Iya biar jadi mamah yang baik. Kakak kalau nakal juga di hukum sama papah kan?"
Vita merespon dengan anggukan kepala.
"Papah pernah hukum kakak enggak?"
"Pernah"
"Hukumannya apa?" tanya Setya tenang.
"Nggak boleh lihat kartun selama tiga hari"
"Nah mamah Gina juga sedang di hukum"
"Berapa hari mama di hukum?" tanya Vita ingin tahu.
"Lama-lama, karena nakalnya banyak-banyak" jawab Setya. "Mamah sedih tahu nggak, kakak udah diam-diam sama mamah"
Hening tak ada sahutan lagi dari Vita hingga hampir satu menit.
"Mau minta maaf sama mamah?"
"Mau"
"Mau di temani sama papah?"
"Nggak usah, Ita mau minta maaf sendiri ke mamah"
"Ok, kalau gitu sekarang kakak ke kamar mamah, minta maaf baik-baik ke mamah, nanti kalau mamah tanya papah kemana, kakak bilang papa lagi di ruang kerja"
"Iya pah"
"Anak pintar"
****
"Mah" panggil Vita begitu pintu terbuka.
Anya yang tengah membersihkan wajah dengan menggunakan kapas, langsung berbalik mencari netra milik Vita.
__ADS_1
"Iya kak?"
Vita berjalan ke arah meja rias, lalu berdiri di hadapan Anya.
Karena posisi Anya duduk di kursi rias, membuat tinggi level mereka nyaris sama.
"Ada apa kak?"
"Ita minta maaf udah diamin mamah"
Mendengar permintaan maaf Vita, Anya langsung mengangkat tubuh Vita lalu membawanya ke pangkuan.
"Jangan lagi diemin mamah nak!"
"Ita janji, nggak diemin mamah lagi" sahut Vita.
Dengan cepat Anya mengecup kening sang putri lalu tersenyum.
"Mama sayang kakak banyak-banyak, mama sedih kalau kakak muram kayak tadi"
"Maaf" sesal Vita sekali lagi.
"Berarti kakak udah nggak marah lagi sama mamah?"
"Enggak"
"Kalau udah nggak marah berarti mau bobo sama mamah?"
"Mau"
"Ok ayo kita bobo" Ucap Anya lalu berdiri sambil membopong tubuh Vita.
"Papa kemana?"
"Papa di ruang kerja"
Mereka berdua tidur dengan posisi miring saling berhadapan. Tangan Vita selalu mengulun rambut panjang Anya jika menjelang tidur.
Anya sedikit memberikan nyanyian pengantar tidur di ikuti oleh suara Vita yang juga turut bernyanyi, Hingga lewat bermenit-menit, suara Vita kian samar, itu artinya tak lama lagi alam mimpi akan menyambutnya.
Menit berikutnya, terdengar suara pintu terbuka. Anya sedikit mengangkat kepala untuk melihatnya.
"Sudah tidur?" tanya Setya, Ia berjalan menuju meja kerja di kamarnya untuk meletakkan laptopnya.
"Sudah"
"Aku berhak mendapatkan ucapan terimakasih karena sudah mendamaikan kalian, iya kan?"
"Iya, makasih banyak-banyak"
"Cuma makasih doang?" balas Setya seraya mendudukan diri di balik punggung Anya.
"Lalu?"
"Kita realisasikan adik buat Ita"
"Tapi kan ada Ita"
"Aku akan pindah dia ke kamarnya"
"Jangan" cegah Anya cepat. "Besok pasti kecewa saat bangun tahu-tahu di kamarnya sendiri"
"Kalau gitu kita ke kamar sebelah"
"Nanti dia bangun gimana?"
"Soal itu pikir nanti" Balas Setya. Anya bergerak bangkit. Ketika ia hendak menurunkan kakinya dari atas ranjang, tiba-tiba Setya menggendongnya lalu membawanya ke kamar sebelah.
*****
Des@han dan lenguhan panjang mengakhiri aktifitas mereka dalam penyatuan tubuh. Meski bukan yang pertama mereka melakukannya, tapi kepuasan selalu mereka dapatkan. Mereka sama-sama melakukan yang terbaik demi menunjang kebutuhan batinnya. Dan benar saja mereka selalu merasakan kepuasan yang tiada tara.
"Jadi dedek ya" kata Setya sambil mengusap perut Anya, lalu mengecup keningnya.
Masih bertahan di posisi Setya berada di atas tubuhnya, mereka saling tatap dan saling berbalas senyum. Detik berikutnya, Anya mengeratkan pelukannya sehingga jarak tubuh mereka kiat terkikis.
Setya kembali mengecup kening Anya, kemudian turun ke bibir dan sedikit melum@tnya.
Ketika melihat Anya tersenyum di tengah-tengah ciumannya, Setya memperdalam lum@tannya semakin intens dan,,,
Panas.
"Sasa punya bayi"
Terkejut, Anya merespon ucapan Setya. "Kok nggak ngabari aku?"
"Mungkin belum"
"Mas tahu dari mana?
"Aksa yang menelfonku"
"Memangnya kapan lahiran?"
"Kemarin malam" jawab Setya lalu kembali mengecup bibir Anya singkat sebelum kemudian bangkit dari atas tubuh Anya, Ia memunguti pakaiannya dan pakaian istrinya yang ia lempar ke sembarang arah saat memulai aktifitas panasnya.
"Cewek apa cowok?"
"Cewek katanya" jawab Setya sambil mengenakan kaos.
Usai mengenakan pakaian lengkap, mereka kembali ke kamar dengan tangan saling bergandengan.
Tampak di sana Vita masih berada di posisi semula. Itu berarti tak ada pergerakan apapun saat di tinggal oleh orang tuanya membuatkan adik untuk ya.
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1