
Memasuki bulan ke delapan, perut Khansa yang semakin membesar, membuatnya tak selincah dan segesit sebelumnya. Ia merasa ruang geraknya terbatas dan bahkan mudah sekali lelah. Untungnya Aksa selalu bisa mengambil alih peran Khansa di tengah-tengah kesibukannya di rumah sakit.
Karena tak ingin membuat Khansa kerepotan, ia memutuskan untuk pindah kamar ke lantai bawah. Lagi pula sangat berbahaya bagi ibu hamil jika harus naik turun tangga.
"Cantik nggak?" tanya Aksa yang tengah mendekor ulang kamar utama.
"Cantik, tapi kita kan nggak tahu jenis kelaminnya, kenapa mas bikin versi cewek?"
"Anak kita pasti perempuan Sa"
"Dari mana mas tahu?"
"Insting" sahutnya singkat sembari memasang wallpaper bergambar boneka Cinnamoroll, boneka kesukaan Khansa sejak kecil.
Dan jawabannya, membuat kening Khansa seketika mengerut. "Seyakin itu, awas nanti kecewa"
"Insya Allah enggak sayang"
"Terus nanti kalau instingnya salah gimana? pasti repot kan harus mendekor ulang lagi"
"Berarti harusnya bikin dua versi sekalian ya, supaya nggak dua kali jalan"
Khansa mencebik, lalu meraih lemper isi daging yang ia buat tadi siang. "Itulah, kalau nolak USG jenis kelamin"
"Mas beri tahu ya" kata Aksa setelah melihat Khansa sekilas. "Di dunia medis, ada trik dan cara supaya melahirkan anak perempuan"
"Dan mas mempraktekannya?"
"Tentu. Apalagi jika di lihat dari bentuk perut kamu, itu udah menunjukkan bahwa dia perempuan"
"Pantesan selama ini mas cerewetnya ngalahin ibu-ibu yang suka gosip, banyak aturan juga. Tapi by the way" ujar Khansa sembari menikmati lemper di dalam mulut. "Teori darimana itu, jenis kelamin bisa di lihat dari bentuk perut"
"Teori dari instingku"
"Seyakin itukah? apa jangan-jangan mas memang dapat bocoran dari dokter martha? Mas kan tiap hari di rumah sakit, pasti sering ketemu sama dia, dan dia beri tahu mas kalau anak kita cewek"
"Enggak" sanggahnya cepat. "Emang dia pernah mau kasih tahu, tapi mas tolak"
"Kenapa?"
"Kan sudah di bilang sayang, menebak-nebak itu lebih asik" jawab Aksa sambil berlalu ke kamar mandi.
Tidak lama setelah itu terdengar suara air mengalir yang berasal dari kran
"Tapi aku penasaran"
"Sudah di bilang anaknya cewek, ngapain penasaran" balasnya setelah keluar dari kamar mandi.
"Itu kan baru insting, jadi belum tentu benar"
"Kalau instingku benar?" ucap Aksa, tangan kanannya meraih lemper yang di bungkus daun pisang. "Kamu mau apa?"
"Aku manjain mas setiap hari deh"
"Benar ya?"
__ADS_1
"Hmm" sahut Khansa. "Lalu kalau salah?"
"Sama, mas akan manjain kamu"
Dalam waktu lima menit, Aksa sudah menghabiskan tiga lemper, padahal Khansa baru saja makan satu.
"Kamu harus percaya sama suamimu, suamimu ini dokter, bahkan kesehatanmu, aku yang handle"
"Tapi mami juga bilang si kalau dia cewek"
"Nah kan, insting mami sama kaya aku"
"Tapi pas tanya ke bang Emir, dia nggak tahu tuh"
"Nggak semua punya insting yang kuat kan?"
Khansa memang jarang sekali membantah apa yang di larang Aksa, dia sadar jika suaminya memiliki insting yang kuat, tajam, dan nyaris tak pernah meleset. Apalagi jika mengenai kesehatan dan calon bayinya, pria itu akan mati-matian menguatkan pendapatnya.
"Mau di bikinin kudapan apa?" tanya Khansa, dengan sorot lekat menatap Aksa.
"Nggak usah repot-repot, ini kan juga udah makan lemper"
"Potongin buah saja gimana"
"Buah apa?"
"Mangga mau?"
"Ya udah boleh"
Setelah mendengar jawaban Aksa, Khansa segera bangkit dari duduknya. Di bantu Aksa yang menuntun tangan kanannya. Tapat ketika Khansa hendak memutar handle pintu, terdengar suara anak kecil. Jelas itu suara Ita.
"Jangan buka dulu sayang, dia pasti nyariin kita ke atas" Perintah Aksa yang langsung di setujui oleh Khansa.
Ita memang belum tahu jika khansa dan Aksa sudah dua malam tidur di kamar lantai bawah.
"Nenek, aunty Sasa kok nggak ada di kamar?" tanya Ita ketika sudah kembali turun. "Kata papa aunty sama uncle di rumah"
"Masa, tadi ada kok"
"Nggak ada, Ita udah cari di kamar tapi kosong"
"Aunty sama uncle kan udah pindah kamar"
"Pindah kamar?" tanya Ita dengan reaksi seperti terkejut.
"Iya, di kamar yang itu" Nenek menunjuk kamar Khansa dengan jari telunjuknya. Dengan cepat Ita bergegas lari.
Sementara Khansa dan Aksa diam sambil menguping ucapan Ita yang di pastikan sedang berlari menuju ke arah kamar mereka.
"Aunty, uncle"
Begitu Khansa membuka pintu, Ita seperti takjub melihat kamar yang sudah di desain layaknya kamar anak perempuan lucu.
"Waaahh kamar aunty cantik banget"
__ADS_1
"Iya dong, uncle yang bikin"
Mendengar ucapan Aksa, perhatian Ita langsung tertuju ke arah Aksa.
"Uncle yang bikin?"
Aksa mengangguk lengkap dengan bibir tersungging. Dan Khansa sudah keluar kamar dari beberapa detik lalu.
"Ita datang sama siapa?"
"Sama papa sama mama"
"Kita keluar yuk, uncle mau nyapa papa sama mama" Ucap Aksa yang langsung mengangkat Ita lalu mengayun-ayunkan tubuh Ita dalam gendongannya.
Kecintaannya terhadap anak perempuan, membuatnya menyayangi Ita layaknya anak sendiri.
******
"Besok, kalian datang ke pengadilan kan?"
"Iya kek, besok sidang terakhir, jadi harus datang"
Saat ini mereka sedang menikmati makan malam bersama. Ada keluarga Setya, kakek, nenek, Khansa dan Aksa.
Sembari menyantap masakan buatan Khansa dan Anya, mereka membicarakan soal sidang lanjutan dari kasus penembakan yang di lakukan Linda.
Sidang kali ini memang berjalan sedikit alot, sebab Linda sempat di nyatakan mengalami depresi psikotik. Dimana dia kerap sekali berhalusinasi tentang Kukuh, Ami, serta anak dan menantunya.
Dia juga sempat mendapat perawatan medis di salah satu pskiater yang khusus menangani gangguan mental seperti itu.
"Nanti kalau hakim membebaskan dia, karena sempat mengalami gangguan mental bagaimana?" tanya Anya yang tiba-tiba merasa cemas.
Sontak pertanyaan Anya langsung membuat seisi meja makan menatapnya dengan sorot terkejut.
"Dia akan akan mendapat perawatan dek, tapi tetap dengan penjagaan yang ketat" jawab Setya berusaha menangkis kecemasan istrinya.
"Anya pasti mikirnya saat di pusat rehabilitasi, wanita itu akan kabur, Iya kan Nya?"
"Hmm" responnya menyahut ucapan Khansa. Lengkap dengan anggukan kepala. "Terus balas dendam ke kita"
"Nggak Akan Nya" timpal Aksa. "Dia sudah tidak punya apa-apa, nggak akan mampu kalau balas dendam. Yang penting kita hati-hati"
"Benar itu" Sambar Kakek cepat. "Kita bisa membayar orang untuk selalu mengawasi mereka supaya mereka nggak memiliki kesempatan untuk mencelakai kita"
"Jadi jangan cemas dek" lanjut Setya.
****
Keesokan paginya, Aksa dan Setya akan ke pengadilan untuk mendengarkan pembacaan tuntutan hukuman bagi Linda.
Duduk di barisan paling depan, Aksa dan Setya begitu khidmat menyimak hakim yang akan memimpin jalannya persidangan atas kasus perkara pembunuhan terhadap Kukuh.
Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri melaksanakan sidang lanjutan perkara penyalahgunaan senjata, yang berakhir penembakan untuk saudara Kukuh Eka Firdaus.
Dengan agenda pembacaan surat tuntutan terhadap Terdakwa Alinda Prameswari di nyatakan bersalah atas pidana pembunuhan, sebagaimana di atur dalam Pasal 44 ayat 33 butir 8 dengan tuntutan pidana penjara selama lima belas tahun penjara.
__ADS_1
Musuh dalam selimut, kini sudah mendekam di penjara.
Aksa berharap saat ini dan seterusnya, tak akan ada lagi seseorang yang berani menghancurkan keluarganya. Tak ada lagi orang yang mengusik ketenangan keluarganya.