Terjerat Perjodohan

Terjerat Perjodohan
Masalah beruntun


__ADS_3

Untuk kesekian kalinya pria yang saat ini terkulai lemas di atasku, membuatku bak tenggelam di lautan madu. Hingga aku kesulitan mengendalikan nafasku yang masih tersengal begitu gila.


"Apa isi pembicaraan kalian" tanyaku ketika aku sudah sedikit bisa mengendalikan detak jantungku.


Alih-alih menjawab, mas Aksa justru mengecup keningku, lalu bergerak membaringkan dirinya di sampingku.


Merasa pertanyaanku tak mendapat jawaban, aku menghembuskan napas pasrah kemudian memiringkan badan memunggunginya.


Lengan kiri mas Aksa bergerak melingkari leherku, ku rasakan dia merapatkan tubuhnya padaku dan melingkarkan tangan kanan di perutku.


"Dia ingin kita mengakui perselingkuhan kita" bisik mas Aksa yang menempatkan wajahnya di belakang kepalaku. "Dengan begitu image dia di mata public akan semakin baik, dan dialah satu-satunya orang yang terdzolimi menurut dia" lanjutnya mengecup belakang kepalaku, kemudian turun ke pundak.


"Aku nggak paham sama ucapanmu" Ujarku berusaha menahan bulu yang kian meremang karena bibir mas Aksa semakin liar di punggungku. "Maksudnya apa?"


Karena dia tak kunjung menjawab, dan malah semakin intens menjamah punggungku dengan sesapan lembut dari bibirnya, aku berusaha melepaskan diri sekaligus menghentikan aktivitasnya. Dia mengangkat satu alisnya ketika aku membalikkan badan dan berhadapan dengannya.


"Kamu belum jawab pertanyaanku" kataku sambil menarik selimut hingga dada, sementara punggungku bersandar sempurna pada headboard.


Bukannya marah karena kegiatannya ku hentikan secara paksa, dia justru menatapku dengan seulas senyum, lalu menyangga kepalanya dengan satu tangan.


"Kenapa dia memaksa kita buat mengakui perselingkuhan yang nggak kita lakukan?" Sepasang mataku tak mengerjap saat aku menanyakannya.


"Karena di_"


Tok, tok, tok....


Suara ketukan itu, memotong ucapan mas Aksa, membuat kami kompak mengalihkan pandangan ke arah pintu.


Mas Aksa buru-buru mengenakan celana pendeknya lalu beranjak dari tempat tidur.


"Ada apa mbak Ani?" tanyanya ketika dia berhasil membuka pintu.


"Sudah di tunggu makan malam sama kakek dan Nenek mas" kata Mbak Ani. ART nenek yang ku taksir usianya sekitar 35 tahun.


"Bilang sama kakek, sebentar lagi Khansa turun"


Aku yang tadinya berniat ingin melanjutkan pembicaraan, urung ku lakukan ketika melirik jam sudah menunjukan waktu hampir pukul tujuh.


"Kamu mandi dulu, aku temani kakek sama nenek makan malam" kataku sambil mengenakan pakaianku, kemudian bergegas turun menuju lantai bawah.


"Aksa mana, kok nggak ikut turun?" Pertanyaan itu dari kakek ketika aku sampai di ruang makan.


"Masih mandi kek" jawabku sambil menarik kursi lalu duduk.


"Bukannya sudah masuk kamar dari tadi, kok baru mandi?"


"Iya tadi ada temannya yang menelfon" Aku sedikit gugup menjawab pertanyaan kakek. Lalu beliau hanya mengangguk-anggukan kepala merespon ucapanku.


Selang beberapa detik, giliran nenek yang bertanya "Dia berangkat jam berapa Sa?"


"Setengah sembilan nek"


"Suruh makan dulu sebelum pergi nanti"


"Iya"

__ADS_1


Hampir selesai kami makan, mas Aksa tiba-tiba muncul lalu menarik kursi di sebelahku.


Melihat dia sudah duduk di tempatnya, aku segera meraih piring lalu menyidukkan nasi dan lauk ke atas piringnya.


"Berapa hari di Papua?" tanya kakek sambil menikmati suapan terakhirnya.


"Tiga hari kek, kenapa?"


"Sepulang dari sana, datang ke perusahaan, sesekali menyapa karyawan kamu, sekalian mengecek pekerjaan mereka"


"Iya kek"


"Dan kamu Sa" Ucapan kakek membuatku langsung menoleh padanya. "Jangan pikirkan berita perselingkuhan yang beredar di media, kakek sama sekali nggak ambil pusing dengan tuduhan Sesilia untuk kalian, jadi kakek minta kamu juga jangan berpikiran yang enggak-enggak"


Kepalaku reflek mengangguk, padahal aku masih belum mengerti dengan ucapannya, tetapi sedetik kemudian aku paham maksud kakek.


Usai mengatakan itu, kakek meneguk air di gelasnya hingga tandas. Duduk sebentar, sebelum kemudian berdiri.


"Kalian lanjutkan, kakek sudah selesai"


Aku dan mas Aksa kompak menganggukkan kepala.


****


Selesai makan, mandi dan sholat Isa, aku kembali mengecek perlengkapan mas Aksa yang akan di bawa ke Papua. Dia akan menangani masalah kesehatan masyarakat di sana. Pikiranku sibuk memikirkan komentar-komentar yang tertulis di jejaring sosial. Karena tadi, aku sempat membuka berita yang mengatakan bahwa Sesilia memiliki bukti perselingkuhanku dengan mas Aksa.


Sampai detik ini, aku nggak ngerti dengan bukti yang dia maksud. Apalagi ketika membaca salah satu komentar yang mengatakan agar Sesilia segera memberikan bukti itu.


Mentalku benar-benar terombang-ambing karena sebagian komentar dari mereka justru menjelekkanku dan mas Aksa, sampai-sampai aku ngeri sendiri saat membaca komentar pedasnya. Nggak sedikit juga dari mereka yang justru memberi dukungan untuk idolanya, bahkan banyak sekali netizen yang mendoakan kesuksesan untuk Sesilia serta segera mendapat pengganti yang lebih baik dari dokter si tukang selingkuh. Wajahku memanas seketika saat mengingat komentar-komentar itu.


"Iya" sahut mas Aksa seraya memakai jaket. "Kita bicarakan ini setelah aku pulang dari Papua" lanjutnya lalu melingkarkan jam di pergelangan tangannya.


"Kamu langsung istirahat sayang, Nggak usah ngantar ke depan, dan jangan mikir yang macam-macam, apalagi mikir komentar para netizen"


"Gimana nggak mikir, mereka menjelekan kita mas"


"Nggak apa-apa, mereka kan nggak tahu cerita yang sebenarnya. Mereka hanya mengambil kesimpulan dari satu sisi. Dan dari sisi Sesilia itu yang akan membuat pamor dia terus naik"


Aku menghembuskan napas pelan.


"Aku sudah pernah bilang, aku akan menutup mulutnya dengan perselingkuhan dia kalau dia berani menyebarkan bukti palsunya itu" lanjut mas Aksa lalu mengecup keningku. "Itu nggak akan bertahan lama, jadi jangan di pikirin. Nanti akan surut sendiri, Mengerti?"


"Tapi kalau gosip pelakor, biasanya akan bertahan lama" lirihku mencoba menyanggah ucapannya.


"Kita bicara lain waktu ya, aku sudah terlambat" Setelah mengatakan itu, mas Aksa mengecup bibirku yang ku balas dengan mencium punggung tangannya.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


***


Selepas kepergian mas Aksa, aku di sibukkan dengan buku catatan penjualan serta keuangan restauran. Baru sehari gosip beredar, tapi sudah membuat omset di beberapa cabang restauranku menurun setengahnya. Sebagian omset menurun karena berkurangnya order by phone yang selama ini banyak sekali orang-orang melakukan pembelian secara online.


Aku masih penasaran kenapa Sesilia ngotot ingin kami mengakui perselingkuhan yang nggak kami lakukan. Alasan pertama jelas untuk menarik fans, dan meningkatkan ratingnya. Tapi kenapa harus dengan cara seperti itu.

__ADS_1


Enggak berapa lama ponselku berdering. Panggilan masuk dari Meira.


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalah kak. Kakak lagi apa?"


"Rebahan, kenapa?"


"Kakak udah makan?" Itu suara mami, yang wajahnya terakhir ku lihat sekitar lima hari lalu.


"Sudah mih?"


"Kamu nggak apa-apa kan sayang, kamu nggak terganggu dengan berita kalian kan?"


"Nggak apa-apa mih, wajar kalau mereka nyangkanya aku dan mas Aksa selingkuh, itu karena pernikahan kita terjadi enggak lama setelah mas Aksa memutuskan hubungan dengan artis itu"


"Mami lega kalau kalian baik-baik saja"


"Itu kak Sasa ya?" Sela papi yang suaranya tertangkap oleh pendengaranku. "Iya" jawab mami merespon pertanyaan papi. Sementara aku hanya diam sambil mendengarkan suara mereka dari balik telpon. "Salam buat Kakak mi" Imbuh papi.


"Dapat salam dari papi kak"


"Waalaikumsalam. Salam balik ya mih"


"Salam balik dari kakak katannya pi"


"Waalaikumsalam, bilangin makasih dan selalu jaga kesehatan"


"Denger papi ngomong nggak kak?"


"Dengar mih, jaga kesehatan juga buat papi"


"Iya nanti di sampein, papinya sudah pergi ke ruang kerja"


"Udah sini mih, Meira mau ngomong sama kakak. Halo kak" Sapa Meira setelah mengambil alih ponselnya. "Kak Aksa besok pergi kan? aku bobo situ boleh, nemenin kakak?"


"Emangnya nggak nangis bobo di sini, biasanya kan ***** dulu ke mami"


"Ish kakak mah gitu, nggak ada puasnya ngeledekin adek sendiri. Aku udah gede kak, yang benar saja *****" Gerutu Meira seolah tak terima. "jangan keterlaluan kalau meledekku" protesnya yang membuatku langsung melengkungkan bibir.


"Ya udah besok datang saja ke sini, atau ke restauran kakak dulu, biar bisa sama-sama pulang ke rumah kakek Rudito"


"Ok kak"


****


Keesokan paginya, Aku langsung berangkat ke restauran begitu selesai sarapan.


Aku melajukan mobilku dengan kecepatan rendah. Saat melintas melewati sebuah hotel, netraku tiba-tiba menangkap mobil om Rendi keluar dari gerbang hotel. Yang membuat aku tertegun dan reflek menelan ludah adalah penumpang di dalam mobil itu. Mbak Gina, tengah tersenyum sambil melirik ke arah om Rendi yang fokus memegang kemudi sambil menunggu jalan kosong untuk menyebrang.


Mobilku yang berada tepat di belakang mobil seseorang sebab sedang menunggu antrean kemacetan, sangat jelas terlihat dari arahku wajah mereka berdua.


Sepagi ini, mereka keluar dari sana? Nggak mungkin mataku salah lihat. itu jelas sekali Mbak Gina dan Om Rendi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2