Terlahir Untuk Menghilang

Terlahir Untuk Menghilang
Bab 11


__ADS_3

"Sungguh?" Hualing bertanya kembali.


Murid yang berbicara tampak tidak puas karena di tanyai. Dia membalik badan hendak mencerca, hanya untuk merasakan lututnya lemah. Rupanya orang yang dia bicarakan berdiri di belakangnya entah mulai kapan.


"Bi-bibi beladiri Xue! Tolong maafkan aku!" Murid itu segera memberi hormat dengan kaki gemetar. Sama seperti murid-murid lain, dia memiliki rasa takut yang sebanding dengan rasa kagum pada senior ini.


"Untuk apa meminta maaf? Tidak ada satupun hal salah yang kamu katakan." Jawab Hualing dengan acuh, seolah yang sejak tadi di bicarakan bukan dirinya.


Yuan Qing melihat pada Hualing yang berdiri di sampingnya. Dia merasa temperamen Hualing berubah seketika, seperti makhluk abadi yang melihat dunia tampak tidak berharga.


"Menyambut bibi beladiri Xue!" karena seruan itu, semua murid melihat ke arah Hualing dan menyapa serentak.


"Tidak perlu formalitas," jawab Hualing sembari melangkahkan kaki menaiki arena kompetisi. Membuat dua orang dengan keadaan berbanding terbalik mundur satu langkah.


Yuan Qing mengikuti setiap langkah yang di ambil Hualing, kemudian melihat Liu Xing Sheng yang dalam kondisi menyedihkan, sudut bibir Yuan Qing terangkat. Dia sungguh merasakan kebahagiaan melihat kondisi Liu Xing Sheng yang menyedihkan.


"Bibi beladiri Xue!" Liu Xing Sheng dan murid yang namanya telah Hualing lupakan memberi salam bersamaan.


"Apa yang terjadi? apakah kamu bisa menjelaskannya?" tanya Hualing pada murid yang mengalahkan Liu Xing Sheng tersebut.


"Aku- kami hanya bertukar gerakan!" jawabnya dengan gemetar.


"Aku tahu kamu adalah orang yang bangga dan ingin di lihat, tapi tidakkah perilakumu sedikit tidak masuk akal? Bagaimana kamu dapat menantang seorang murid yang baru tiga hari memasuki sekte?" Hualing bertanya tanpa memutar.


"Junior ini, tahu salah!" jawabnya dengan lirih di kata terakhir.


"Aku hanya murid dari puncak lain, kamu harus mengakui kesalahanmu pada murid yang bertugas di aula disiplin." kata Hualing kemudian berbalik, melihat kerumunan murid puncak pertama di bawah arena. "Tidak diijinkan menggertak murid lain dengan dalih bertukar gerakan!" lanjutnya tanpa tergesa kemudian melompat turun setelah mendapat jawaban positif.


"Ah Qing, ayo pergi!"


"Bibi beladiri Xue, tolong tunggu!"


Hualing menghentikan langkah kemudian berbalik, melihat Liu Xing Sheng yang menuruni arena kompetisi dengan tergesa.


"Apakah kamu memiliki keperluan?"


"Aku ini tidak tahu apapun yang di katakan bibi beladiri kepada guru, tapi aku berjanji akan menjadi pembudidaya kompeten yang tidak akan mempermalukan guru maupun sekte!" Liu Xing Sheng berkata dengan yakin tanpa keraguan.


"Itu bagus. Kami akan menunggu saat itu, apakah ada hal lain yang ingin kamu katakan?" Hualing kembali bertanya ketika melihat tatapan ragu-ragu dari Liu Xing Sheng.


"Itu, Xiao Qing. Kamu harus mendengarkan bibi beladiri, ketika aku memiliki waktu kakak laki-laki akan mengunjungimu!" Ujar Liu Xing Sheng pada Yuan Qing yang melihatnya dengan wajah gelap.


"Kamu mengenal Ah Qing?" Hualing memang sedikit penasaran dengan masa lalu Yuan Qing, tapi mendengar jawaban anak ini dia bertanya tentang keluarganya, Hualing merasa tidak enak hati.


"Ya, bisa di katakan sebagai saudara yang melewati hidup dan mati bersama." Liu Xing Sheng menjawab dengan seulas senyum.q


"Itu bukan urusanmu, dan kamu tidak perlu melakukan hal yang tidak perlu." Yuan Qing menjawab dengan acuh. Dia sungguh muak dengan pria ini! Dengan keadilan buta yang dia junjung!


Liu Xing Sheng mengerutkan kening, tidak mengetahui dari mana asal ketidaksukaan Yuan Qing berasal. Mungkinkah saudara yang telah melewati hidup dan mati bersamanya ini juga memiliki pikiran seperti saudara-saudari seniornya?


"Xiao Qing, apakah aku memiliki kesalahan tertentu?" Liu Xing Sheng bertanya dengan kebingungan dalam nada suaranya.


"Kamu akan mengetahuinya di masa depan. Saudari Hualing, bukankah kita harus bergegas?" Setelah mengatakan kalimat yang membingungkan, Yuan Qing berbalik dan menarik tangan Hualing yang melihatnya lekat.


"Ah Qing, apakah kamu memiliki perseteruan tertentu dengan anak Liu itu?" Yuan Qing melihat pada Hualing yang bertanya, memperhatikan penampilan wanita ini. Entah mengapa rasa membakar di dadanya sedikit mereda ketika mendengar suara Hualing.


"Ya!" Yuan Qing menjawab singkat.


"Apakah kamu ingin saudari membalasnya untukmu?" tanya Hualing, telah lupa jika beberapa saat lalu dia baru saja membantu Liu Xing Sheng yang di ganggu.

__ADS_1


"Itu tidak perlu, aku akan membalas semuanya sendiri." Yuan Qing menjawab dengan kilat bengis, tanpa menyadari jika Hualing telah melihat iris matanya yang berubah merah dalam sekejap.


Hualing terdiam, perkataan gurunya kembali terngiang. Mungkinkah Ah Qing memiliki hubungan tertentu dengan iblis yang telah membuatnya lenyap?


Keduanya terdiam, perjalanan setelah itu hanya di isi keheningan hingga keduanya sampai di halaman ruang belajar master sekte.


"Ah Qing, kamu tunggu dia luar. Aku akan masuk dan menyerahkan batu roh pada master sekte." ujar Hualing kemudian berlalu pergi dan kembali tidak lama kemudian.


"Ayo pergi ke puncak selanjutnya!" ujar Hualing dengan seulas senyum


...****************...


Jiang Xinxin melihat pada Hualing yang biasanya berperilaku sangat baik, tapi kebiasaan itu tampaknya tidak berlaku untuk hari ini.


"Naikkan lengan, luruskan bahu! Bukankah ini hanya gerakan sederhana? Kalian telah memasuki sekte selama satu tahun, bagaimana gerakan sederhana ini tidak dapat di lakukan dengan baik?"


Jiang Xinxin melihat Hualing yang biasanya tersenyum kini berteriak pada murid-murid yang sedang dia latih.


"Kamu yang berdiri di tengah! Tidak bisakah kamu melakukannya dengan benar?"


Murid yang di tegur oleh Hualing adalah murid perempuan, Jiang Xinxin bahkan telah melihat air mata di pelupuk mata gadis itu.


"Apakah otak kalian sudah mati? Mengapa terus mengulang kesalahan yang sama? Ulangi lagi lima ratus kali sebelum kalian dapat beristirahat!"


Jiang Xinxin menghela napas, tidak mengerti mengapa saudarinya menjadi pemarah seperti ini.


Dia melihat Hualing yang beranjak pergi dari arena latihan di bawah tatapan antisipasi para murid. Jiang Xinxin ingin menghampiri Hualing, tapi aura 'aku sedang tidak bahagia dan ingin menyambarmu dengan petir' yang di keluarkan Hualing membuatnya ragu.


"Saudari junior! Sepertinya sudah lama tidak bertemu!" Jiang Xinxin menyapa dengan kikuk. Awalnya dia hendak berbalik dan pergi, tapi padangan Hualing telah menyapunya. Jadi akan lebih baik jika dia menyapa sekalian.


"Ya! Sejak tujuh hari yang lalu saudari senior telah berlarian ke puncak pertama. Tidakkah saudari senior lelah?" Hualing bertanya dengan wajah cemberut.


Hualing : "Apakah saat ini juga tidak lelah?"


Jiang Xinxin melihat Hualing dengan keraguan, entah mengapa dia merasakan firasat buruk ketika mendengar pertanyaan Hualing.


"Tidak lelah," Jiang Xinxin sungguh ingin memukul mulutnya sendiri, karena setelah jawaban itu terlontar, Hualing menarik tangannya menuju arena pelatihan.


"Itu bagus, temani aku berlatih. Kalian semua bisa beristirahat!" Ujar Hualing kemudian mengusir murid-murid yang bahkan belum menyelesaikan setengah tugas yang dia berikan.


Seperti terhindar dari hukuman mati, para murid bergegas pergi dari arena latihan. Beberapa yang cukup berani akan berdiri di tepi arena, ingin tahu apa yang akan di lakukan dua saudari senior mereka.


Sedangkan Jiang Xinxin yang di tarik, sungguh ingin menyelinap mengikuti murid-murid kecil ini dan pergi. Berlatih dengan Hualing yang dalam suasana hati buruk tidak pernah berakhir baik, itu sudah menjadi aturan tak tertulis di puncak mereka.


GLARR!!


"Sial!" Jiang Xinxin mengumpat. Dia bahkan belum mengeluarkan pedangnya dan Hualing telah menyerangnya dengan sambaran petir.


TRINGG!


Dua logam beradu, percikan api merah tercipta di antara dentingan pedang. Jiang Xinxin mengerahkan kekuatan spiritual, menekan mundur Hualing.


Hualing melompat mundur dua langkah kemudian menjentikkan pedangnya, kilatan petir ungu tercipta. Mengelilingi pedang ramping layaknya sulur, menimbulkan suara derak menakutkan.


Jiang Xinxin meringis ngeri, tampaknya Hualing sungguh marah.


GLARRR!


Petir ungu kembali menyambar, Jiang Xinxin mengambil langkah cepat. Menghindar dari jangkauan serangan petir.

__ADS_1


GLARR! GLARRR!


Petir ungu menyambar dua kali, tidak hanya menyerang Jiang Xinxin, tetapi juga tepi arena. Awan hitam bergulung, retakan ungu terang menyebar diantara gulungan. Jiang Xinxin yang melihat itu menelan saliva, dalam hati mengumpat.


'SIALAN! Hal mati apa yang telah menyinggung bibi agung ini?'


Jiang Xinxin terus mengumpat sementara tubuhnya bergerak lentur menghindar atau bertahan dari serangan Hualing, "Saudari junior, siapa yang telah menyinggungmu? mengapa melampiaskannya pada saudari ini?" Teriaknya diantara dentuman petir.


"..." Hualing terdiam, enggan menjawab sementara serangannya tidak berhenti. Baik itu serangan petir atau serangan langsung.


GLARRRR!


"Sial! Rambutku terbakar!" Jiang Xinxin berteriak putus asa ketika melihat ujung rambut panjangnya hangus oleh serangan petir, meninggalkan ujung keriting yang tidak rata.


"Ling er; Xiao Ling; Ah Ling; saudari junior, sudah cukup oke? Kamu baru saja membakar rambutku." Jiang Xinxin berusaha membujuk, dan mengeluh di akhir kalimat. Tapi keluhan itu tidak berlangsung lama ketika Hualing kembali melancarkan serangan, meluncur maju dengan ujung pedang membidik.


Sementara itu, Yuan Qing yang menjadi penyebab ketidakpuasan Hualing kini sedang bermeditasi di hutan belakang puncak kedua, tempat puncak bambu hijau membudidayakan binatang roh.


Kabut hitam berputar mengelilingi Yuan Qing yang duduk dalam posisi lotus, berputar lembut kemudian meresapi kulit. Kabut yang tersisa bermanifestasi menjadi tanduk iblis di kedua sisi kening Yuan Qing.


Sepasang mata merah terbuka di dalam gua redup, pupil menyempit layaknya binatang buas. Suhu gua yang dingin terasa semakin dingin.


Di sudut gua Yuan Qing melihat kedua telapak tangannya, dia telah membentuk fondasinya dan berhasil membangkitkan fisik iblis yang tertidur. Pencapaian kali ini jauh lebih cepat dari kehidupan lalu, itu seharusnya berkaitan erat dengan usia tulangnya saat ini.


Dia berdiri melangkah keluar gua, kedua mata sedikit menyipit karena belum terbiasa dengan cahaya matahari yang kuat. Dia melangkah pergi dengan ragu. Pasalnya setelah dia meninggalkan gua ini, dia akan sering bertemu dengan Hualing.


Jika kemampuan Hualing sungguh benar adanya, itu bukanlah hal yang baik. Saat ini dia masih terlalu lemah. Jika Hualing menyebarkan tentang budidayanya yang menyimpang atau bahkan fisik yang istimewa ini, Yuan Qing tidak yakin dia akan dapat melindungi dirinya sendiri. Jadi pilihan yang terbaik kali ini adalah menghindar sejauh mungkin dari pandangan mata Hualing.


Namun jika dia terlalu sering menghilang, itu juga akan menimbulkan lebih banyak kecurigaan.


...****************...


Yuan Qing duduk tegak dengan waspada, begitu pula Tuan puncak Cao dan Jiang Xinxin yang di tarik Hualing setelah di pukuli. Tatapan mereka tertuju pada mangkuk dan piring berisi lauk pauk yang telah di masak oleh Hualing.


Begitu merah, bahkan aromanya pun menusuk hidung.


"Untuk apa hanya melihat? Makan!" Hualing berkata sembari menggerakkan sumpitnya, mengambil daging kelinci yang penuh cabai.


Pembuat hidangan telah bertitah, ketiganya mengambil sumpit dan dengan ragu mengambil hidangan.


Jiang Xinxin selalu menyukai hidangan pedas, tapi sejak dia membangun fondasi dia telah berpantangan makan. Hanya ketika Hualing datang, sesekali dia akan menemani saudari mudanya ini. Dan ketika melihat hidangan pedas yang tersaji, dia tidak bisa tidak terharu. Saudari mudanya ini, begitu pengertian. Setelah menyambarnya dengan petir beberapa kali, dia memasakkan hidangan kesukaannya. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama saat sepotong daging kelinci masuk kedalam mulutnya.


"Saudari muda, tidak cukupkah kamu menyiksa kakak perempuanmu?" Jiang Xinxin berujar dengan air mata dan wajah memerah.


Tingkat pedas ini jauh melebihi toleransi, jadi bagaimana Ling er dapat memakannya dengan santai?


"Ini bukan makanan manusia," Cao Ping berkata langsung kemudian dengan tergesa menuang teh untuk meredakan ras pedas.


"Kamu tidak ingin berkomentar?" Hualing kali ini bertanya pada Yuan Qing yang wajahnya tidak kalah merah dengan dua orang lain.


"Pedas." Jawabnya.


"Hanya itu?" Hualing kembali bertanya dengan mata mendelik.


"Sangat pedas." Yuan Qing merasa mulutnya tersiksa. Dia dulu selalu menyukai rasa yang ringan, jadi masakan Hualing saat ini cukup membuatnya tidak nyaman. Sangat di sayangkan jika budidayanya belum lengkap, jika saja sudah lengkap maka rasa pedas ini tidak akan lagi terasa.


"Lalu habiskan!" ucapnya pada Yuan Qing yang terus mengerutkan kening, "guru dan saudari senior juga. Aku sudah selesai." lanjutnya kemudian beranjak pergi dengan cemberut.


Mengabaikan tiga orang yang bingung dengan tingkahnya.

__ADS_1


__ADS_2