
Chen Qinyang memasuki ruangan gelap gulita, rasa dingin yang luar biasa memeluk erat. Kesemutan menjalari hati, rasa krisis melanda. Chen Qinyang tahu sesuatu yang menunggunya di balik ruangan ini bukanlah sesuatu yang baik, tapi bagaimanapun dia berusaha melawan; bagaimanapun dia merasa takut, tubuhnya tidak mengikut kehendaknya.
Seperti sesuatu telah mengendalikan tubuhnya. Dia seperti penonton sandiwara di dalam teater. Sementara di duduk, para aktor akan berakting di panggung.
"Chen Qinyang, katakan apa yang kamu inginkan?"
Dari penglihatannya, dia melihat kabut hitam melayang di hadapannya. Begitu padat, seolah membentuk fisik manusia.
"Aku ingin menjadi protagonis wanita, menikmati kemuliaan yang seharusnya aku dapatkan." Chen Qinyang tahu seharusnya dia tidak menjawab pertanyaan itu, tetapi bibirnya berucap tanpa perintah. Menyuarakan keinginan yang selalu tersemayam di dalam hati.
"Kemuliaan? Itu adalah keinginan yang kecil!" Sosok berupa kabut itu melayang di sekitar Chen Qinyang, suaranya berat dan dalam dengan nada meremehkan yang tidak di tutupi.
Seperti seorang hamba yang patuh, Chen Qinyang tidak bersuara ketika sosok itu berbicara.
"Pinjamkan aku tubuhnya dan aku akan membuatmu menjadi orang paling mulia! Kekuatan, status dan pria yang kamu idamkan akan dengan mudah di dapat!" Kata-kata itu begitu manis, menjanjikan semua yang Chen Qinyang inginkan di dunia.
"Baik!" Chen Qinyang juga tahu seharusnya dia tidak menyetujui pihak lain, tetapi sekali lagi dia tidak dapat mengendalikan tubuhnya. Dengan tidak berdaya menyaksikan kabut hitam itu memasuki tubuhnya dan rasa sakit tumpul yang menyerang kepalanya. Seperti ingatannya di bedah dan jiwa di konsumsi perlahan.
Dia berteriak, mengerang dan mencengkeram erat rambut yang tersisir hingga pandangannya memudar.
...****************...
__ADS_1
Liu Xing Sheng tidak tahu, haruskah dia merasa takjub atau harus takut dengan situasi saat ini. Empat patung naga yang melingkar di pilar kini berubah menjadi empat ekor naga yang hidup. Menatapnya seksama dengan mata emas mereka, menilai dari ujung kaki hingga ujung rambut. Napas hangat yang di hembuskan naga itu merupakan energi spiritual yang murni, meremajakan kelelahannya.
"Huang Di, sangat bagus kamu bisa bertahan meski hanya dengan secuil kesadaran!" Salah satu naga berucap, suaranya berat dan dalam.
"..." Liu Xing Sheng mundur satu langkah ketika naga yang berbicara mendekat.
"Namun, tidak mungkin pecahan kecil ini mampu membangun kembali surga kesembilan!" Naga lain dengan satu tanduk patah menyahut.
"Mungkin kamu tidak dapat mengingatnya, tapi hidup kami di berikan olehmu. Menugaskan kami menjaga aula rahasia juga di perintahkan olehmu, kali ini kami akan mengembalikan budi ini!"
Liu Xing Sheng belum sempat bersuara ketika empat naga di sekelilingnya pecah menjadi kabut emas.
Kabut emas itu memasuki tubuhnya dengan panik, berlomba menjadi yang tercepat bergabung dengan tubuhnya.
Memaksa meridiannya melebar.
Ketika Liu Xing Sheng merasakan meridiannya di bakar api, Xue Hualing kini menapaki istana yang tidak asing.
Dia berdiri di anak tangga terbawah, menengadah.
Bangunan di hadapannya adalah istana dewa perang yang setengah roboh. Reruntuhan bernoda hitam dan merah menusuk mata, menikam perasaan Hualing.
__ADS_1
Tampaknya ras iblis demi Lonceng pemecah takdir telah menginvasi istana suci milik sang dewa, mengotorinya dengan darah dan sisa keluhan.
Dengan langkah berat Hualing melewati ambang pintu. Melewati bangunan utama kemudian berbelok di persimpangan, berjalan lurus hingga langkahnya terhenti di depan kawah besar.
Mata Hualing terasa panas. Butir air menggantung di bulu mata, mengaburkan pandangan.
Tempat ini dulunya adalah sebuah danau teratai, salah satu dari tiga tempat terindah di surga kesembilan.
Hualing mengangkat pandangan dari danau yang telah mengering, melihat paviliun yang berdiri kokoh di tengah danau. Tirai kasa putih masih berada di tempatnya, sesekali menari di permainan angin.
Hualing bergerak dengan jentikan ujung kaki, bergerak dengan satu lompatan kemudian melompat kembali dengan bertumpu pada bunga teratai yang masih bertahan meski air di danau telah mengering.
Ketika selanjutnya kakinya menapak, dia telah berada di luar paviliun di tengah danau.
Hualing melangkah tanpa tergesa, menatap nanar pada pemandangan buram di balik tirai kasa. Seolah seseorang yang dia kagumi duduk di sana, memainkan catur dan minum teh dengan punggung tegak.
Hanya setelah dia menyibak tirai transparan itu, Hualing tahu jika semua hanya bayangan dari masa lalu.
Keningnya mengernyit ketika tidak mendapati meja batu di dalam paviliun, melainkan sebilah pedang usang dengan retakan di sana sini. Compang-camping seolah benda rusak tidak berharga, alih-alih pedang kebanggaan sang dewa perang.
Dengan ujung jari dingin dan tangan gemetar, Hualing mengulurkan tangan. Cahaya terang yang menyilaukan terpancar dari sentuhan ringan itu, begitu terang hingga membutakan mata.
__ADS_1
"Selamat karena Yang mulia mendapatkan bahan terakhir yang di butuhkan!"