
"Pelayan ini menyapa Yang Mulia dewa perang Xue Yuan Qing!"
Hualing melebarkan kedua mata ketika mendengar ucapan Yang Mulia abadi Shui Xing ini. Seharusnya dia sudah menduga, mengingat lukisan di dinding dan semua perabot tempat ini mengingatkannya pada surga kesembilan.
Dia melihat pada Yuan Qing yang berdiri terdiam, kening saudara juniornya itu berkerut.
"Siapa yang kamu panggil?" Ada rasa ketidaksukaan dari kalimat pendek Yuan Qing itu.
"Itu adalah Yang Mulia!" Shui Xing merasa jiwa-jiwa rapuhnya gemetar, sang dewa perang tampak tidak bahagia.
"Berdiri, aku bukan dewa perang itu." Meski hanya sisa jiwa, Shui Xing merasakan bulu kuduknya berdiri saat kalimat itu terlontar.
Jadi bahkan jika di berikan sepuluh ribu keberanian, dia tidak akan berdiri!
"Tidakkah kamu mendengarnya?" Dia telah memberikan penghormatan begitu besar, mengapa Dewa besar ini masih tidak puas?
Bolehkah Yang Mulia abadi Shui Xing ini menangis?
"Yang Mulia abadi, sebaiknya kamu berdiri." Hualing yang berdiri di belakang Shui Xing angkat suara.
Mendengar suara gadis muda yang lembut, dengan takut-takut Shui Xing berdiri. Kepala menggantung rendah, tatapan tertuju pada sepatu hitam yang di kenakan Yuan Qing, "terimakasih Yang Mulia."
"Apakah aku begitu mirip dengan Dewa itu?" Yuan Qing selalu memiliki ingatan yang baik, meski saat itu Hualing berucap lirih, dia masih dapat menebak gerak bibir gadis itu.
Hualing mengatakan 'Dewa'.
Dengan ragu Shui Xing mengangkat wajah, melihat pada pria muda yang berdiri di hadapannya, "hampir serupa, sembilan dari sepuluh poin kemiripan." ucapnya kemudian kembali menunduk hormat.
"Tapi aku bukan Dewa itu," Yuan Qing berkata dengan gigi terkatup. Kali ini dia yakin dengan benar, saat itu Hualing memanggil Dewa kepadanya seharusnya karena kemiripan ini.
'Tuan besar ini, sejak tadi bibirmu berucap kamu bukan Dewa perang Xue. Namun, tidakkah kamu tahu jika tekanan yang kamu keluarkan setara Dewa besar itu? Tidakkah Yang Mulia tahu jika budak kecil ini hampir mati yang kedua kalinya karena tercekik tekanan?' kalimat panjang ini tentu saja hanya di suarakan Shui Xing di dalam pikirannya.
"Ah Qing," Hualing memanggil dengan lembut, sedikit iba melihat Shui Xing yang berwajah pahit ini.
"Ling er, saat pertama kita bertemu. Apakah kamu juga mengenaliku sebagai Dewa itu?" bibir Yuan Qing membentuk garis lurus, membuat yang di tanya menelan ludah gugup.
"Ah Qing," Hualing tidak tahu bagaimana harus menjawab, haruskah dia jujur atau berbohong?
"Saat itu kamu terus menggumamkan kata 'Dewa'."Pertanyaan Yuan Qing ini membuat Hualing semakin mati kutu, "apakah selama ini kamu melihatku adalah dia?" seolah tidak puas, Yuan Qing kembali melanjutkan.
Dia berjalan menuruni undakan, menghampiri Hualing.
Dan Hualing yang di tanyai, tidak terfokus untuk menjawab pertanyaan itu. Fokusnya lebih kepada sebuah pertanyaan, 'ah Qing? Jika kamu menebak aku mengenalimu sebagai Dewa perang yang telah gugur selama ribuan tahun, tidakkah kamu akan mempertanyakan identitasku?'
"Ling er, aku adalah aku. Kamu sendiri yang mengatakan itu. Jadi jangan lihat aku sebagai dia, oke?" Yuan Qing kembali berbicara bahkan sebelum Hualing sempat menjawab satu pertanyaan pun.
__ADS_1
"Mengapa begitu marah?" Hualing bertanya pada Yuan Qing yang kini berdiri di hadapannya. Mengelus sisi wajah juniornya itu, kemudian berusaha menghaluskan alis yang bertaut.
"Ling er saat itu, apakah kamu melihatku sebagai dia?" Yuan Qing masih enggan melepaskan masalah ini.
"Ya," Hualing menggigit bibirnya dan menjawab dengan enggan.
"Ling er!" dengan gigi terkatup Yuan Qing memanggil. Shui Xing yang tidak berhubungan merasa merinding di sekujur tubuh mendengar suara itu.
"Kamu dan dia adalah orang yang sama, mengapa begitu perhitungan?" Hualing sungguh tidak mengerti, Yuan Qing adalah Xue Yuan Qing. Itu artinya Yuan Qing adalah Xue Yuan Qing dan sebaliknya, jadi apa yang salah? Bukankah itu sama?
"Bagaimana bisa sama? Kami adalah dua orang yang berbeda!" Kerutan yang baru saja Hualing haluskan kini muncul kembali.
"Ah Qing, Yang Mulia telah gugur sepuluh ribu tahun yang lalu dan meninggalkan sebuah inkarnasi. Itu adalah kamu. Jadi bukankah kalian adalah orang yang sama?" Hualing masih berusaha menjelaskan.
"Nona muda? Apakah kamu salah satu abadi yang selamat dari peristiwa itu?" Shui Xing mengambil celah selagi dua pendatang ini terdiam, mengambil kesempatan untuk berbicara.
"Seharusnya ya," Hualing menjawab dengan ragu.
"Seharusnya?" Mengapa harus ada kata seharusnya?
"Aku terbangun di sebuah gua dunia fana dan sepuluh ribu tahun telah berlalu, tanpa ingatan kapan surga kesembilan runtuh dan bagaimana itu bisa terjadi." Dia berucap panjang dengan tatapan lurus pada Yuan Qing.
"Lukisan di dinding, apakah Yang Mulia abadi yang melakukannya?" Tatapan Hualing beralih pada Shui Xing yang melayang mendekat.
"Ya, saat itu aku tahu akhir hidupku begitu dekat. Tanpa energi abadi, aku tidak berbeda dengan para pembudidaya di alam fana." Shui Xing melihat lukisan di dinding dengan tatapan menerawang.
Shui Xing melihat gadis muda yang terus bertanya, dengan satu alis terangkat dia menjawab, "tentu saja. Aku adalah salah satu dewa kecil yang ada di dalam kerumunan itu. Menyaksikan bagaimana Dewa perang memukul mundur pasukan iblis, dengan seluruh energi abadi dia mengunci kaisar iblis."
Hualing :"Bisakah Yang Mulia abadi mengatakan di mana Yang Mulia abadi dulu bertugas?"
Mendengar pertanyaan Hualing, Yuan Qing merasakan mulutnya sangat asam. Seperti baru saja meminum seguci cuka.
"Dulunya aku adalah Dewa kecil yang mengikuti sang Dewa Bintang." Baik Hualing maupun Yuan Qing dapat mendengar nada kebanggaan dari jawaban itu.
"Lalu, pernahkah yang Mulia bertemu dengan Xue Hualing. Seorang gadis pelayan di samping Dewa perang?" Yuan Qing dapat mendengar kehati-hatian dari kalimat Hualing.
"Xue Hualing?" Shui Xing kembali mengucapkan nama itu beberapa kali. "Tidak pernah mendengar nama itu." ucapnya setelah cukup lama berpikir.
"Sungguh tidak pernah mendengar?" Hualing bertanya dengan sedikit mendesak. Yuan Qing merasa semakin masam.
"Sungguh tidak pernah mendengar, semua di langit kesembilan tahu jika dewa perang hanya memiliki satu pelayan dewa, dan dia tidak bernama Xue Hualing." Shui Xing kali ini menjawab dengan cepat, "dan nona muda adalah?"
"Xue Hualing,"
Dua orang dan satu sisa-sisa kesadaran terdiam setelah jawaban ini jatuh.
__ADS_1
"Jadi nona muda adalah pelayan dewa yang dimaksud?" Shui Xing adalah yang pertama memecah keheningan.
"Seharusnya, dalam ingatan ku." Hualing menjawab dengan ketidakpastian.
"Surga kesembilan, benarkah itu runtuh karena perebutan artefak tingkat surga?" itu adalah cerita yang beredar di alam fana, dan Yuan Qing merasa sulit untuk mempercayainya.
"Itu benar. Tidak lama setelah Yang Mulia Xue membuat artefak ini, suku iblis memasuki wilayah surgawi. Mencoba merebut artefak ini dengan seluruh pasukan." Shui Xing menutup mata, menjawab dengan kepahitan di wajah.
"Apakah artefak ini sungguh luar biasa?" Yuan Qing kembali bertanya.
"Bisa membolak-balik ruang dan waktu, memanipulasi hukum surgawi. Bahkan kelahirannya telah menarik sembilan puluh sembilan petir surgawi ungu." jawaban itu tidak berasal dari Shui Xing, melainkan dari bibir Hualing.
"Yang di katakan nona muda ini benar," Shui Xing mengangguk beberapa kali, menyetujui ucapan Hualing.
"Artefak yang begitu hebat, mengapa Dewa perang menciptakannya? Tidakkah dia berpikir jika benda ini akan menarik tatapan iri dan keserakahan dari berbagai arah?" Yuan Qing tidak dapat menghentikan dirinya untuk mencibir.
"Dewa kecil ini tidak dapat menebak pikiran Yang Mulia," Shui Xing berkata dengan rendah hati. Dia melihat pria muda ini dengan sudut mata. Darimanapun terlihat, penampilan pria muda ini begitu serupa dengan Yang Mulia Dewa perang. Akan sangat aneh jika dia tidak berhubungan dengan Dewa besar itu.
"Yang mulia abadi, apakah kamu yakin tidak ada pelayan wanita kecil di samping Yang Mulia?" Hualing masih sulit untuk mempercayai penjelasan Shui Xing.
"Sangat yakin," Shui Xing menjawab tanpa berpikir.
"Ling er, mengapa tidak melepaskannya? Bukankah kamu memiliki ku sekarang?" Toples cuka Yuan Qing kembali berbicara, dia masih tidak puas jika mengingat alasan Hualing memilihnya.
"Ah Qing! Bukan seperti itu, hanya saja-" Hualing menarik napas panjang kemudian menghembuskan perlahan, "Apa yang Yang Mulia abadi katakan berbeda dengan ingatan yang aku miliki." lanjutnya dengan alis terkulai.
"Sebenarnya, ada satu cara untuk mengetahui kebenaran sepuluh ribu tahun yang lalu." Shui Xing menyela keheningan.
"Yang Mulia abadi memiliki suatu cara?" Hualing bertanya dengan antusias.
"Dengan Lonceng pemecah takdir." kedua bahu Hualing jatuh saat jawaban itu keluar.
"Bukankah tidak ada seorangpun yang tahu dimana benda itu berada?" kali ini yang bersuara adalah Yuan Qing.
"Seharusnya ada di reruntuhan istana surgawi," sisa kesadaran Shui Xing melayang pergi, menghampiri meja utama dan mengambil sebuah kotak, "didalamnya terdapat peta yang aku gambar berdasarkan ingatan, mungkin sedikit kabur tapi aku harap dapat membantu kalian. Juga pada masa itu, dewa perang tidak hanya menciptakan satu artefak Lonceng pemecah takdir. Satu lagi benda yang dia ciptakan adalah Lonceng bunga biru." Shui Xing menyerahkan kotak kayu berukir itu pada Yuan Qing, menyajikannya dengan penghormatan dan kepatuhan.
Di bawah antisipasi dua pasang mata, Yuan Qing membuka kotak tersebut. Satu adalah gulungan kulit binatang, dan satu lagi adalah Lonceng kecil berwarna ungu.
"Apa kegunaan Lonceng ini?" Jari-jari Hualing menyentuh lembut lonceng mungil itu, dia merasakan keakraban yang tidak biasa dari benda ini.
"Ini aku tidak tahu," Shui Xing menjawab dengan rendah hati. Dia mundur satu langkah ketika udara dingin menerpanya dari dua pembudidaya itu, "benda yang aku jaga telah di serahkan, sisa kesadaran ini tidak akan bertahan lebih lama. Yang Mulia, pelayan ini pamit." Shui memberi postur hormat pada Yuan Qing kemudian perlahan memudar hingga menghilang dalam butiran cahaya.
"Akhirnya benda lama itu pergi," Yuan Qing berkata dengan tanpa perasaan.
"Ling er, hingga saat ini apakah kamu masih menganggap ku sebagai Dewa perang Xue?" Meski bagaimanapun, Yuan tidak dapat melepaskan masalah ini dengan mudah.
__ADS_1
"Kamu adalah dia," dengan tatapan lurus Hualing menjawab pertanyaan itu.
"Lalu bisakah Dewa itu melakukan ini?" Tangan Yuan Qing terulur, Hualing mundur satu langkah.