
"Keadaan Zhou Liangyi, apakah ini pekerjaan tanganmu?" Hualing bertanya pada Yuan Qing yang berjalan santai di samping.
"Aku hanya menanam energi iblis yang begitu kecil, tapi untuk dapat berkembang sejauh ini tentu hasil usaha Zhou Liangyi sendiri." jawabnya dengan santai, "apakah Ling'er menyalahkan aku?" tanyanya kemudian.
"Melakukan ini, kamu pasti memiliki pertimbangan sendiri." Hualing menjawab dengan tidak kalah santai.
"Ling'er, bagaimana toleransimu begitu tinggi? Apakah kamu memutuskan untuk jatuh cinta padaku?" Tanya Yuan Qing dan meraih tangan Hualing. Menggenggamnya erat, tapi di penuhi kelembutan.
Wajah Hualing memerah, seperti terbakar dengan uap mengepul dari kepala. Melihat ini, Yuan Qing tidak bisa menahan diri untuk tidak terkekeh geli.
"Ah Qing, omong kosong!" Hualing berseru dengan kesal. Namun wajah merahnya sama sekali tidak menunjukkan kekesalannya, tapi seperti gadis muda yang tidak tahan godaan kasih sayang.
"Aku sungguh ingin tahu, apakah kamu juga menganggap ini sebagai omong kosong?" ucapnya dengan senyum yang menurut Hualing sangat mencurigakan, membuat yang kedua dengan cepat beranjak pergi hanya untuk kembali di tangkap.
Puncak kedua di sebut sebagai puncak bambu hijau. Akan tetapi, pohon bambu yang menjadi asal penamaan hanya terdapat di halaman belakang sang tuan puncak.
Sedangkan yang menaungi kanan dan kiri jalan setapak adalah pohon plum yang menjulang tinggi, berkerumun membentuk kanopi teduh yang menaungi.
Di bawah bayang-bayang pepohonan, Hualing di tekan dengan punggung menempel pada batang pohon plum sementara bibirnya ditawan oleh Yuan Qing.
Bibir bertaut, kedua tangan saling menggenggam dan mata tertutup rapat. Meski awalnya menolak, Hualing tidak dapat memungkiri jantungnya yang berdebar nyaman. Selama yang dia ingat, dia tidak pernah merasakan hal-hal ini. Di pikirannya hanya ada pengabdian untuk sang Dewa, hanya ada taat atau memberontak.
Bahkan setelah lima puluh tahun dia berada di alam fana. Perasaan ini tidak pernah muncul.
Karena pengaruh Lan Shi, dia telah membaca banyak kisah romantis. Baginya semua kisah itu tidak layak di sebut, hanya omong kosong. Jantung berdebar? Kepakan sayap kupu-kupu yang lembut di dalam perut? Rasa menggelitik di hati yang nyaman? Untuknya semua itu hanya ungkapan berlebihan dalam cerita romantis.
__ADS_1
"Ah Qing!" Hualing berusaha memanggil Yuan Qing di antara napasnya yang tersengal. Wajah pria itu begitu dekat hingga hidung mereka bersentuhan dan bibir membelai lembut ketika berbicara.
Dia tidak tahu sejak kapan genggaman tangan mereka terlepas, tapi ketika semua berlalu tangannya telah melingkar di leher Yuan Qing. Mencegah inkarnasinya sang Dewa itu mundur.
Untuk saat ini dia menyesal karena mencibir kata berbunga-bunga di dalam buku cerita, karena saat ini yang dia rasakan lebih dari itu. Jantungnya berdebar kencang dengan kebahagiaan yang tidak dapat di jelaskan.
"Ling'er, jangan melihatku dengan tatapan seperti itu atau aku tidak akan dapat menahannya lagi." Yuan Qing berucap sembari menutup mata Hualing dengan telapak tangannya. Yuan Qing dapat merasakan bulu mata Hualing bergetar, menggelitik telapak tangan merambat ke hatinya.
"Ling'er, aku pikir kamu bukanlah pelayan dewa perang melainkan Dewi rubah. Jika bukan, bagaimana kamu dapat menggodaku hingga seperti ini?" Yuan Qing berkata di samping telinga Hualing. Suaranya berat, nampak seperti menahan sesuatu. "Aku sungguh ingin memakan mu!" lanjutnya masih dengan suara berat.
"Aku bukan makanan," Ujar Hualing, memalingkan wajah dengan punggung tangan kanan menutupi bibir.
"Bagiku kamu adalah makanan terlezat," godaan Yuan Qing masih tidak juga berhenti. Dia menjawab dengan lidah membasahi bibir bawah, membuat wajah Hualing memerah hingga telinga.
"Be-berhenti omong kosong!" mengabaikan semua rasa malu, Hualing mendorong minggir Yuan Qing dan beranjak pergi dengan langkah tergesa.
"Lonceng bunga biru!" Hualing berseru dengan bibir mengerucut, wajahnya tidak bisa lebih merah dari ini, "bisakah aku meminjamnya?" tanyanya lirih.
"Mengapa begitu sungkan?" Yuan Qing memperpendek jarak, berdiri di hadapan Hualing dia mengeluarkan lonceng kecil tersebut, "tidak perlu meminjam, jika Ling'er suka maka kamu dapat memilikinya." lanjutnya kemudian memasukkan Lonceng bunga biru kedalam genggaman Hualing.
"Ini adalah artefak tingkat surga, bagaimana aku dapat mengambilnya?" masih ada setitik air mata di sudut mat Hualing, membuat Yuan Qing yang ada di depannya merasa lembut.
"Kenapa tidak? Itu hanya sebuah artefak, bahkan jika Ling'er menginginkan aku maka Yuan Qing ini dengan senang hati akan memberikannya." tampaknya Yuan Qing tidak akan melepaskan waktu sekecil apapun untuk menggoda Hualing.
"Berhenti omong kosong!" serunya kemudian pergi dengan tergesa. Yuan Qing terkekeh, 'Ling'er sungguh menggemaskan!' pikirnya.
__ADS_1
Rasa berbunga-bunga di hatinya seketika menghilang saat Yuan Qing merasakan pandangan yang menyapu punggungnya. Wajahnya mendingin, tatapan matanya berubah tajam. Dia melihat dengan sudut mata, energi iblis yang tipis tetapi padat dia lepaskan. Mata yang memperhatikannya itu melihat dengan begitu intens, melihatnya seperti mangsa.
Energi iblis yang dia lepaskan menyerang cepat tepat dari arah pandangan predator itu berasal. Dua energi berbenturan, ledakan kecil terdengar. Energi iblis yang pekat menyapu, mengeringkan setiap tanaman dan pohon dalam radius seratus meter.
Kening Yuan Qing berkerut dalam, 'dari mana iblis ini berasal?' tanyanya dalam hati. Mata yang mengintainya sudah pasti adalah iblis, atau pecahan kesadaran iblis.
"Energi iblis itu seharusnya berasal dari arah ini!" Yuan Qing mengalihkan pandangan pada asal suara. Tanpa membuang kata dia beranjak pergi, meninggalkan tiga murid yang hanya menemukan udara kosong dengan energi iblis yang tersisa.
"Iblis mana yang cukup berani membuat kegaduhan di sekte mulia kita?" murid pertama berkata dengan kemarahan.
"Mampu membuat tanaman mengering dalam jarak seratus meter, seharusnya bukan iblis kecil." murid kedua berkomentar, menimbulkan rasa ngeri di hati dua rekannya.
"Aku akan pergi melapor pada master sekte! Satu tetap di sini dan satu lagi melapor pada tuan puncak Cao!" ujar murid lain kemudian beranjak pergi tanpa menunggu tanggapan dua orang lain.
"Tidak perlu pergi, aku sudah di sini." Dan kehadiran tiba-tiba Cao Ping cukup untuk mengejutkan dua murid yang tersisa.
...****************...
Hari itu adalah hari yang sangat luar biasa untuk sekte Awan melonjak. Tidak hanya sekte kebanggaan mereka melahirkan sang putra takdir, tetapi juga seorang tuan puncak mendalami teknik iblis. Belum lagi kejadian beberapa jam lalu, dimana seorang murid menerobos kediaman master sekte untuk mengabarkan kejadian iblis.
Baik Zhang Junqing maupun Cao Ping yang tiba terlebih dahulu tidak bisa tidak terkejut.
"Energi pembudidaya iblis tidak akan sepekat ini." Zhang Junqing melihat sekeliling pada pohon kering dan tanaman mati.
"Seharusnya bukan pembudidaya iblis, tapi iblis yang sesungguhnya!" Cao Ping menyahut dengan pasti.
__ADS_1
"Mungkinkah raja iblis dalam ramalan?" Zhang Junqing melihat Cao Ping dengan alis bertaut.
"Tidak bisa di pastikan, tapi melanjutkan pengujian harus segera di lanjutkan." Cao Ping menjawab kemudian.