Terlahir Untuk Menghilang

Terlahir Untuk Menghilang
Bab 24


__ADS_3

Meninggalkan deretan manual yang tersusun rapi, Yuan Qing menghampiri Hualing yang terpaku di ujung lain ruangan. Dia melihat bagaimana rak tinggi telah bergeser menyamping, terbuka membentuk sebuah pintu menuju ruangan lain. Cahaya terang memancar dari dalam ruangan, sangat berbeda di banding perpustakaan yang disinari dengan cahaya redup.


"Pernahkah kamu memasuki ruangan ini?" Hualing kembali bertanya tanpa melihat pada Yuan Qing yang berdiri di sampingnya.


"Tidak." Jawaban singkat itu datang dari Yuan Qing yang juga terpaku. Apa yang di penglihatan Hualing kini ada di jangkauan penglihatannya juga. Itu adalah sebuah ruangan yang di terangi oleh mutiara malam berukuran besar, di sangga oleh tiang emas yang berkilauan. Tampak kemewahan yang tidak seharusnya ada di ruang bawah tanah yang lusuh.


Yuan Qing menggenggam lengan Hualing ketika yang kedua hendak melangkah masuk, "biarkan aku, kita tidak tahu jebakan yang mungkin menanti." ucapnya kemudian mengambil langkah pertama sementara Hualing dengan patuh menempel di punggungnya.


"Tempat ini luar biasa," Yuan Qing merinding ketika napas hangat Hualing menerpa tengkuknya. Kewaspadaan akan bahaya segera menghilang berganti kewaspadaan untuk tidak melakukan sesuatu pada Hualing yang masih tidak menyadari apapun.


"Ah Qing, kamu sungguh tidak pernah masuk ke tempat ini?" Hualing yang masih tidak tahu apa yang Yuan Qing pikirkan kembali berkata.


"Saat itu aku memasuki ruangan bawah tanah ini sedikit terlambat, hanya ada sedikit waktu sebelum ruang rahasia di tutup." Dengan gigi terkatup Yuan Qing menjawab.


"Sangat di sayangkan," Hualing kembali berkata. Dari balik punggung Yuan Qing dia berjinjit, berusaha melihat hal yang ada di depan.


"Seharusnya tidak ada bahaya jadi Ling er dapat berjalan di samping." ujarnya, tidak tahan lagi dengan napas hangat lagi harum yang menerpa leher belakangnya. Terlebih ketika Hualing lebih mendekatkan diri, aroma harum itu semakin mengikis dinding pertahanan.


"Gaya ruangan ini sedikit tidak asing," Hualing berkata lirih sementara kakinya melangkah kesamping, berdiri di samping Yuan Qing. Matanya mengedar pada sekeliling.


Ruangan ini lebih tampak seperti ruang bunga tempat pemilik rumah menerima tamu. Ruangan di dominasi dengan warna putih dan emas, furniture yang terpasang pun berasal dari bahan yang berharga.

__ADS_1


Hualing menyentuh meja rendah yang di poles dengan halus. Naga dan awan di ukir menjadi bingkai dan di warnai dengan warna emas, "ukiran ini tidak asing. Ukiran ini tampak seperti-" Hualing kembali bergumam. Ingatannya melayang pada ribuan tahun lalu, saat dia adalah pelayan sang Dewa. Ketika sang Dewa mengerjakan laporan, maka dia akan dengan patuh berdiri di belakang sang Dewa perang. Sesekali tatapannya akan tertuju pada goresan tinta yang tegas di atas kertas putih dan sesekali akan memperhatikan ukiran naga dan awan yang membentuk bingkai.


Dia kembali berjalan, dinding yang penuh lukisan menarik perhatiannya. Lukisan ini tampak seolah hendak mengisahkan sesuatu. Dia meneliti dari ujung hingga ke ujung, mencoba mengerti maksud lukisan tersebut. Hingga sebuah gambar sanggup mengejutkannya, itu adalah seorang pria yang berdiri di udara. Melayang dengan baju besi dan sebuah lonceng giok kecil yang juga melayang di sampingnya.


"Yang Mulia Xue Yuan Qing," Hualing berbisik lirih. Pria dalam lukisan adalah Dewanya!


Dia mundur beberapa langkah, memperhatikan lebih jelas lukisan tersebut. Lukisan itu di bagi menjadi empat segmen.


Awan hitam dan petir ungu yang seolah menyambar sebuah bangunan di lukis di paling ujung, barisan orang-orang yang berkerumun di lukis cukup jauh dari bangunan tersebut, 'Lukisan ini tampak seperti kilasan peristiwa yang pernah aku lihat.' pikirnya.


'Apakah semua itu sungguh pernah terjadi?' Hualing tidak bisa menghentikan dirinya untuk kembali mengingat, 'akan tetapi, mengapa tidak ada aku yang berdiri di samping Yang Mulia?'


Namun, bagaimana pun Hualing berpikir, jawaban itu tidak pernah dia jumpai. Seperti kabut yang menutupi kebenaran, seolah dia telah melewatkan detail penting.


Mencoba mengenyahkan keganjilan yang semakin terasa, dia menggeser tatapannya pada lukisan yang menggambarkan medan perang dengan pedang dan tombak. Ini adalah lukisan yang pertama kali Hualing lihat.


'Ini adalah perang besar itu, tapi mengapa aku tidak memiliki kesan apapun?'


Dengan alis bertaut, tatapannya beralih pada lukisan di segmen terakhir. Bangunan megah di lukis di atas awan perlahan runtuh, meninggalkan kekosongan.


Tidak salah lagi!

__ADS_1


Lukisan ini menggambarkan bagaimana surga kesembilan runtuh. Dari dewa perang yang menciptakan Lonceng pemecah takdir hingga perang yang mengakibatkan runtuhnya surga kesembilan.


Hualing membalikkan badan, melihat pada Yuan Qing yang kini berdiri di depan kursi sang tuan rumah, melihat pria itu memperhatikan sebuah mutiara seukuran kepalan tangan pria dewasa yang di sangga oleh tiruan cakar naga.


Dengan sedikit ragu dan kewaspadaan penuh, Yuan Qing mengulurkan tangan. Ketika ujung jarinya bersentuhan, mutiara itu bersinar dengan cahaya emas yang menyilaukan.


"Sudah sangat lama, mengapa perlu ribuan tahun sebelum seseorang menemukan tempat ini?" Suara orang ketiga terdengar penuh keluhan sesaat setelah cahaya memudar.


Itu adalah seorang pria setengah baya dengan rambut putih dan pakaian berwarna teal. Merenggangkan badan tanpa sungkan seolah baru bangun dari tidur yang panjang.


Pria itu melihat pada Hualing yang berdiri di ujung, dengan postur hormat dia membungkuk. Sama sekali tidak menyadari ada orang lain yang berdiri di dekatnya, "selamat karena nona muda berhasil menemukan makam yang rendah ini, masa depanmu pasti tidak terbatas!"


Hualing dengan cepat mengembalikan penghormatan, "Gadis kecil ini seharusnya meminta maaf karena memasuki makam Yang Mulia abadi!"


"Itu sama sekali bukan masalah. Jika makam ini tidak di masuki, siapa yang akan mewarisi semua gulungan budidaya itu?" pria yang seharusnya sisa-sisa kesadaran dari Yang Mulia abadi Shui Xing berucap tanpa keengganan.


"Oh benar! Itu pasti nona muda yang membangunkan sisa kesadaran ku, sungguh luar biasa dapat berjumpa dengan rekan yang telah melewati siklus hidup dan mati!" Sisa kesadaran Yang Mulia abadi Shui Xing kembali berucap, sama sekali belum menyadari pria muda di belakangnya telah memecahkan setoples cuka.


Dengan senyum simpul Hualing menjawab pertanyaan Abadi jatuh ini, "Bukan gadis kecil ini, itu adalah seseorang yang berdiri di belakang Yang Mulia abadi!" tidakkah kamu melihat Dewa perang yang berdiri dibelakangmu! Tentu kalimat terakhir hanya dia ucapkan dalam hati.


Dengan 'oh' panjang, Yang Mulia abadi Shui Xing berbalik. Ingin melihat Dewa mana yang dapat melewati siklus hidup dan mati, tapi seseorang yang dia lihat seketika membuat lututnya gemetar.

__ADS_1


Dengan suara 'buk!' Yang Mulia abadi Shui Xing berlutut di hadapan Yuan Qing, "Pelayan ini menyapa Yang Mulia dewa perang Xue!"


__ADS_2