
Jika Xie Shaosheng sungguh bentuk kesadaran dari Lonceng bunga biru, tidak menutup kemungkinan dia adalah kesadaran dari benda abadi tertentu. Jika sungguh benar, maka alasan mengapa ingatan dan peristiwa dalam lukisan maupun masa lalu yang dia lihat berbeda dapat terjawab.
Bukan karena ingatannya telah di manipulasi sehingga berbeda dengan kenyataan, melainkan karena dia adalah kesadaran sebuah benda spiritual.
Tampaknya semua seperti yang di katakan Yuan Qing, dia bukanlah pelayan Dewa perang, melainkan benda abadi tertentu milik sang Dewa.
Hualing tidak dapat menahan dirinya untuk menghela napas panjang. Mengetahui bahwa dirimu bukanlah Dewa atau manusia bukanlah sesuatu yang membahagiakan.
"Ah Qing, tampaknya kamu benar. Aku bukanlah pelayan Yang Mulia." ucapnya lirih dengan senyum mencemooh.
Yuan Qing terdiam, menunggu Hualing melanjutkan ucapannya.
"Bukan pelayan Yang Mulia, tetapi benda spiritual yang telah membentuk kesadaran. Itulah mengapa baik dalam peristiwa masa lalu maupun ingatan Yang Mulia abadi Shui Xing tidak Xue Hualing di dalamnya. Karena kesadaran spiritual suatu benda tidak akan dapat di lihat sampai dia membentuk tubuh fisik. Dan sepuluh ribu tahun adalah waktu yang cukup untuk melakukan itu."
"Jangan sedih, semua hanya sekedar tebakan." Yuan Qing bangkit dari tempatnya, menghampiri Hualing kemudian merengkuh dalam dekapan. "Benar atau tidaknya kita akan tahu setelah sampai di asal jantung abadi." lanjutnya.
"Jantung abadi adalah benda dari surga kesembilan, dan satu-satunya tempatnya berasal adalah sisa reruntuhan." Dengan perlahan dia melepaskan dekapan Yuan Qing kemudian berdiri, berjalan menghampiri jendela yang terbuka. Harum bunga membelai bersama angin malam.
"Dikabarkan jantung abadi telah lama berada di sekte Langit selama ratusan tahun sebelumnya, jadi seharusnya sekte Langit tahu dimana letak reruntuhan berada." Yuan Qing mengikuti Hualing, berdiri di samping wanita itu.
"Itu adalah rahasia, sekte langit pasti tidak akan membocorkan." Tampaknya untuk menemukan kebenaran dari tebakannya masih memerlukan banyak waktu.
"Kita tidak membutuhkan sekte langit untuk menemukannya," senyum nakal terukir di bibir Yuan Qing, "apakah Ling'er melupakan hadiah ini?" lanjutnya dengan melambaikan gulungan kulit binatang di genggaman.
"Pemberian Yang Mulia abadi Shui Xing," seperti hujan lebat di tengah kemarau panjang, peta di tangan Yuan Qing kembali menegakkan harapannya akan kebenaran yang tersembunyi.
"Esok pagi hari aku akan meminta izin pada guru dan kita akan berangkat di siang hari!" Hualing berseru dengan gembira. Karena kebahagiaan yang luar biasa, tanpa dia sadari dia telah memeluk Yuan Qing dengan erat. Begitu erat seolah membelit untuk meremukkan tulang. Dan Yuan Qing yang di peluk, bukan hanya tidak keberatan, tetapi bersukacita di dalam hati.
__ADS_1
Ling'er tidak menolak pelukanku!
Ling'er bersedia bersandar nyaman saat aku peluk!
Ling'er memelukku dengan inisiatif sendiri!
Tiga kalimat terus berputar di benak Yuan Qing, menggantikan urusan penting yang esok akan di jalankan. Terlebih dengan wajah yang mengusap manja di dadanya, seolah rasionalitasnya perlahan-lahan di kikis hingga habis.
"Ling'er, berhenti menggodaku." Yuan Qing berkata dengan suara serak.
"Aku tidak menggoda, aku hanya sedang bahagia!" Hualing menjawab ceria tanpa mengetahui bahaya yang mungkin mengintainya. Dia masih membenamkan wajah pada dada Yuan Qing, mengusapnya bolak-balik seperti kucing yang ingin di usap.
Yuan Qing memperhatikan puncak kepala Hualing, iris matanya berubah merah dengan kilatan berbahaya. Tanpa peringatan dia mengangkat Hualing layaknya karung. Membawanya di salah satu bahu kemudian berjalan menuju tempat tidur dengan langkah tegas.
Dengan lembut Yuan Qing meletakkan Hualing di atas tempat tidur yang kedua, menekannya hingga rata dan menawan bibirnya dengan kecupan kupu-kupu.
"Ah Qing!" Hualing berseru. Surai hitam tersebar di tempat tidur seperti halo hitam yang menawan. Yuan Qing mengambil sejumput helai hitam itu, membawanya ke bibir dan mengecup lembut. Wajahnya memerah dan terasa panas. Jantungnya bertalu seolah menggedor rongga dada.
"Tidak tahu malu!" serunya masih dengan wajah merah. Hualing memalingkan wajah, enggan melihat pria muda yang melihatnya seperti dia adalah mangsa.
"Bagaimana tuduhan itu dapat di letakkan di atas kepalaku? Bukankah sejak awal Ling'er yang menggoda terlebih dahulu?" bibirnya berpindah, menari di atas leher jenjang Hualing yang terbuka.
"Aku tidak!" Hualing menyangkal dengan keras. Meski kedua tangan menggenggam alas tidur hingga buku jari memutih, di hatinya tidak ada keengganan. Hanya ada antisipasi yang tidak biasa.
Bukankah aku seharusnya melawan sekuat tenaga?
"Ah Qing, berhenti." bibirnya berucap untuk berhenti, tapi tangannya bergerak tanpa komando untuk merengkuh Yuan Qing.
__ADS_1
"Ling'er, bahkan tubuhmu sangat jujur. Jadi mengapa bibirmu sangat nakal?" bibir Yuan Qing yang membentuk segaris senyum kini menari di bahu telanjang Hualing. Mengecup ringan, seringan sapuan sayap kupu-kupu.
"Ini aku tidak tahu!' ujarnya penuh ketidakpuasan, seolah dia telah di tindas dengan sangat menyedihkan.
Yuan Qing menegakkan tubuhnya, melihat Hualing yang terbaring dengan wajah merah dan air mata yang menggantung di pelupuk. Wajah gadis itu memerah hingga leher dan telinga. Bahunya yang tipis terungkap di satu sisi, jejak merah samar tersebar bagai cetakan mawar.
"Mengapa Ling'er begitu keras kepala dan masih tidak mengakui?" Seperti anak kecil yang tidak puas, Yuan Qing berkata dengan nada merajuk.
"Jika Ling'er masih tidak bersedia mengaku, jangan salahkan aku karena tidak berbelas kasih." Seperti membalikkan telapak tangan, secepat itu pula ekspresi Yuan Qing berubah. Tanpa menunggu tanggapan Hualing, dia menyegel bibir gadis itu sementara tangannya melepas ikat pinggang Hualing. Pakaian yang tak beraturan kehilangan pegangan terakhir, meluncur di kedua sisi bahu.
"Ah Qing!" Hualing tahu seharusnya dia menolak, tapi tubuhnya tidak menaati otaknya. Hatinya tidak menaati rasionalitasnya. Jika dia membiarkan hatinya jujur, salah sudut kecil berharap hal-hal berbahaya ini akan berlanjut.
Jantung Hualing berdetak kencang, seluruh tubuhnya terasa panas meski udara malam ini begitu dingin. Bahkan saat pertahan terakhirnya di lucuti, dia masih tidak ingin membuka mulut.
Jika dia tidak menginginkannya, bukankah sangat mudah untuk menolak? Dia hanya harus menjawab, entah itu asli atau palsu dan hal-hal ini tidak akan terus berlanjut.
"Ling'er masih tidak ingin mengaku? Maka aku anggap kamu menyetujuinya." ucapnya dengan senyum simpul. Wajahnya menampilkan raut pengertian yang tidak terbatas, tapi tangannya bergerak dengan liar. Menyapu kulit lembut, meninggalkan jejak hangat di setiap sentuhan.
Hualing merasa tubuhnya seperti air dengan rona merah yang tersebar, tidak memiliki tenaga untuk melawan. Bibirnya bengkak, terbuka dengan napas terengah. Lenguhan dan pekikan rendah sesekali lolos dari belah bibir lembab.
"Ling'er, sangat mencintaimu. Kamu tidak menolak saat ini, jadi jangan menolak ku di lain hari, oke?" diantara pandangannya yang kabur oleh air mata, Hualing melihat tatapan memohon Yuan Qing. Suara pria itu sangat lembut, memohon padanya tanpa menahan diri.
"Ah Qing!" Hualing tidak tahu bagaimana harus menjawab, pikirannya kosong. Kedua tangan terangkat, melingkar di leher Yuan Qing. Menarik pria itu mendekat, merengkuhnya erat.
Hualing tidak tahu mengapa, tapi menjawab kebingungan Zhang Junqing seperti menjawab kebingungannya sendiri. Seolah tidak ada lagi kabut yang menutupi hatinya, mengaburkan pandangnya. Dia tidak tahu sejak kapan ini bermula, tapi Hualing tahu rasa ini akan terus berlanjut.
"Mencintai Ah Qing!" ucapnya lirih di samping telinga Yuan Qing, meniupkan napas hangat di telinga merahnya.
__ADS_1
Raut main-main terpasang si wajah Yuan Qing sedangkan bibirnya menampilkan senyum. "Ling'er sudah memberiku jawaban, tampaknya semua harus di hentikan saat ini." Ujarnya yang di jawab dengan rengkuhan yang lebih erat.
"Aku tidak boleh berhenti?" Yuan Qing bertanya dengan tidak tulus. Nadanya begitu santai seolah dia rela, tapi tangannya tidak berhenti mengelus bagian lembut Hualing. Membuat yang kedua menjadi lebih merah, bagian yang tidak pernah di sentuh oleh orang lain kini di permainkan. "Karena Ling'er yang memintanya, bagaimana mungkin aku menolak!" ujarnya, di iringi pekikan keras Hualing.