
Yuan Qing terdiam menyaksikan tiga murid, laki-laki dan perempuan. Mengerumuni Hualing, seperti lebah dan kupu-kupu mengelilingi bunga.
Selama bertahun-tahun yang lalu dia berada di sekte Awan melonjak, dia sungguh tidak tahu jika puncak kedua di penuhi oleh pembudidaya yang antusias.
"Saudari junior, guru mengatakan kamu menginginkan seseorang menjadi saudara junior? apakah itu benar?" yang bertanya adalah pembudidaya wanita yang berpakaian seperti pembudidaya pria dengan surai hitam panjang yang di ikat tinggi. Mahkota perak menahan surainya untuk tetap rapi.
"Itu benar, tapi guru tidak mengijinkannya. Hanya membiarkan Ah Qing memasuki puncak bambu hijau sebagai murid dalam." Hualing nampak begitu sabar menjawab pertanyaan itu, Yuan Qing bahkan dapat mendengar sedikit nada keluhan darinya dan sudut bibirnya berkedut karena panggilan Hualing kepadanya.
"Pria tua itu sungguh tidak berperasaan, bagaimana dia dapat menolak permintaan adik kecil yang begitu sederhana?" kali ini yang berbicara adalah murid dengan model pakaian laki-laki, tapi Yuan Qing tidak dapat menebak jenis kelamin dari wajahnya.
"Guru pasti memiliki pertimbangan. Saudari kecil tidak perlu bersedih, bukankah murid itu memasuki puncak bambu hijau sekarang?" Kali ini yang berbicara adalah seorang pria tinggi dengan temperamen elegan. Yuan Qing hanya tahu jika pria ini adalah Tuan puncak kedua di kehidupan lalu, Han Siyu . Di kehidupan ini, seharusnya dia masih menjadi murid tertua Cao Ping.
Hualing : "Saudara dan saudari senior dapat tenang, aku sungguh baik-baik."
Murid wanita yang mengenakan pakaian pembudidaya pria kembali menanggapi, "Saudari kecil memang yang paling lembut." ujarnya.
"Jadi dimana murid itu?" Yuan Qing sekarang telah yakin. Murid ini adalah seorang pria dengan fitur wajah yang menyerupai wanita.
Empat pasang mata terarah padanya, Yuan Qing merasa tiga yang lain menilainya dari ujung kaki hingga ujung rambut. Bolak-balik beberapa kali dengan mata menyipit, seolah memperingatkannya akan sesuatu.
"Namanya Yuan Qing, kelak akan membantuku melakukan pengiriman antar puncak!" Hualing berpindah tempat dalam sekejap, berdiri di belakang Yuan Qing dengan memegang pundak yang kedua. Tubuh Yuan Qing seketika menegang, seolah dia adalah balok kayu.
Sentuhan itu sangat asing. Jari-jarinya meringkuk kaku dengan energi hitam menguar. Yuan Qing sebisa mungkin menahan keinginannya untuk mencabik tangan lancang yang menyentuh bahunya.
"A Qing, mereka adalah saudara dan saudari senior. Han Siyu, saudara tertua; Jiang Xinxin, saudari kedua dan Xie Shaosheng, saudara ketiga. Ayo beri salam." Hualing berkata dengan lembut, mencerminkan senior yang menyayangi juniornya.
Tatapan tiga senior itu bahkan lebih tajam ketika Hualing memanggil Yuan Qing dengan intim. Yuan Qing tidak menyadarinya, tapi energi hitam itu menghilang begitu saja ketika suara Hualing terdengar. Jari-jarinya perlahan rileks, tergantung lemah di samping tubuh kemudian memberi hormat formal pada murid-murid Cao Ping.
"Yuan Qing menyapa saudara senior dan saudari senior." Yuan Qing tidak lupa memasang fasad anak muda yang menghormati orang yang lebih tua. Karena saat ini, dia di mata para pembudidaya tidak berbeda dengan semut yang begitu mudah di hancurkan.
__ADS_1
"Shaosheng, kamu dapat mengantar saudara muda Yuan ke halaman murid dalam. Saudari kecil perlu beristirahat," Han Siyu berujar pada murid pria yang memiliki wajah cantik layaknya wanita.
Xie Shaosheng: "Baiklah! Yuanyuan kita pergi sekarang."
"Tidak bisa! Ah Qing akan tinggal bersamaku!" Hualing berkata cepat dengan kedua tangan melingkari lengan Yuan Qing. Bibirnya mengerucut dan mata yang menatap tajam Han Siyu yang memberi perintah.
"Adik kecil, kamu adalah perempuan dan Yuan Qing adalah laki-laki. Bagaimana bisa tinggal bersama?" Xie Shaosheng yang telah di kejutkan dengan perkataan Hualing berkata dengan lembut.
Hualing: "Kenapa tidak bisa, Ah Qing masih anak-anak!"
"Yuan Qing bukan anak-anak di usia ini. Tinggal bersama tetap tidak di ijinkan!" Jiang Xinxin menjawab tanpa ingin di bantah.
"Di halamanku ada dua rumah bambu, satu telah aku tempati dan satu lagi kosong. Ah Qing dapat tinggal di sana." Jika berhadapan dengan Jiang Xinxin, Hualing tahu dia tidak dapat menggunakan air mata palsu. Jadi bernegosiasi menjadi pilihan yang terbaik.
"Tidak seharusnya laki-laki dan perempuan tinggal di halaman yang sama." kali ini ketidaksetujuan itu datang dari Han Siyu.
"Bagaimana bisa seperti itu? Saudara ketika, ini di bangunan yang berbeda. Bukankah seharusnya baik-baik saja?" Hualing berkata pada Xie Shaosheng yang paling memanjakannya selama berada di sekte. Kedua alis willownya terkulai sedih dengan air mata di pelupuk. Penampilannya sungguh membangkitkan belas kasihan.
"Shaosheng!"
"Adik ketiga!"
Mendengar putusan Xie Shaosheng, Han Siyu dan Jiang Xinxin seketika berseru tidak setuju. Saudara mereka ini memang selalu menuruti semua keinginan Hualing. Lima puluh tahun yang lalu, saudara inilah yang paling bahagia saat guru mereka membawa kembali Ling er.
"Terima saudara ketiga, kamu memang yang terbaik!" Kata Hualing dengan senyum terlampau lebar kemudian memberi hormat pada tiga seniornya sebelum menarik Yuan Qing pergi.
"Adik ketiga, kamu terlalu lembut. Bagaimana kamu bisa membiarkan dirimu di tipu oleh Ling er setiap kali?" Jiang Xinxin berkomentar dengan helaan napas berat.
Xie Shaosheng hanya terkekeh mendengar penuturan Jiang Xinxin dan menjawab, "Ling er masih terlalu muda dan suka bermain-main." Tapi jika di ingat dengan benar, tampaknya dia sungguh selalu dibodohi oleh Ling er setiap kali.
__ADS_1
Shaosheng menghela napas berat, mau bagaimana lagi. Dia selalu berhati lembut jika itu Hualing, Shaosheng selalu merasa mereka adalah saudara dalam hubungan darah meski kenyataan tidak demikian.
Tidak mengetahui perasaan tiga saudara seniornya, Hualing berdiri di halaman yang telah dia tinggali selama lima puluh tahun. Yuan Qing berdiri di sampingnya, bersisian melihat bangunan utama di tengah dan dua bangunan di samping kiri. Kedua bangunan terbuat dari kayu dan di bangun dengan bentuk sederhana.
Bagian kanan halaman terdapat kolam ikan kecil yang di keliling bunga dan tanaman herbal. Sedangkan sebuah pagar bambu di bangun mengelilingi halaman.
"Yang di tengah adalah milikku, Ah Qing menempati bangunan samping." Hualing berucap pada Yuan Qing yang masih sibuk memperhatikan tempat tinggal mas depannya. Di segera melangkah saat Hualing telah membuka pintu halaman samping.
Pada awalnya, Yuan Qing akan menemukan ruang penuh debu beraroma pengap ketika mendengar jika ruangan ini lama tidak terpakai. Tapi yang dia jumpai adalah ruangan bersih dengan sinar matahari hangat melewati jendela yang terbuka. Furniture kayu terlihat baru seolah tidak pernah di gunakan, pun juga termasuk perlengkapan teh mengkilap di atas meja.
"Lima puluh tahun yang lalu saat saudara dan saudari senior membantuku membangun halaman Mingxia ini, entah mengapa aku menginginkan satu bangunan lagi di buat di samping tempat tinggalku. Dan siapa yang menyangka jika puluhan tahun kemudian rumah ini sungguh di gunakan." Hualing berkata sembari berkeliling, memeriksa segala sesuatu yang mungkin di perlukan Yuan Qing selama tinggal di tempat ini.
"Saudari senior bergabung sejak lima puluh tahun yang lalu?" Yuan Qing bertanya dengan sedikit tidak percaya. Penampilan Hualing tampak tidak lebih dari lima belas tahun, bagaimana dia terlihat seperti lebih dari lima puluh tahun.
"Ya, saat itu usiaku sedikit lebih tua darimu. Kata guru seharusnya tidak lebih dari lima belas tahun."
Yuan Qing mendengar sesuatu yang ganjil dari kalimat Hualing. 'Apakah gadis ini bahkan tidak mengetahui usianya sendiri?'
"Baiklah, sepertinya tidak ada satu pun yang kurang. Kamu bisa memberitahu saudari jika ada barang yang kamu butuhkan, sekarang beristirahatlah!" ujar Hualing kemudian beranjak pergi meski dengan enggan.
Dia dapat keluar dari pintu hanya setelah beberapa kali meyakinkan dirinya jika mereka akan berada di jarak yang dekat setelah ini, sama seperti di langit kesembilan.
"Saudari senior harap berjalan perlahan," Yuan Qing mengantarkan kepergian Hualing dengan postur hormat yang tepat, kemudian menutup pintu saat Hualing telah memasuki tempat tinggalnya sendiri.
Pandangan Yuan Qing mengedar pada sekeliling. Rumah ini meski sederhana tapi sangat bersih dan tertata rapi. Bahkan bahan pembuatan juga bukanlah kayu acak yang mudah di dapat. Masing-masing papan adalah kayu cendana ribuan tahun. Tidak hanya langka tapi juga sangat berharga.
Perlakuan ini, jika di bandingkan ketika dia memasuki puncak kelima di kehidupan lalu sungguh bagai langit dan bumi.
Satu pukulan dia layangkan pada pipinya sendiri, mengingatkannya untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
__ADS_1
Di kehidupan ini, dia hanya harus mendapatkan kembali budidayanya dan membalas orang-orang itu.