Terlahir Untuk Menghilang

Terlahir Untuk Menghilang
Bab 43


__ADS_3

Hualing membuka mata. Apa yang ada di penglihatannya adalah balok kayu langit-langit tempat tidur di dalam rumahnya. Tirai sewarna giok tersibak, menampakkan layar kertas bergambar pohon persik.


Hanya ada dirinya seorang di ruangan sederhana ini.


Tangannya bergerak perlahan dan berhenti diatas luka tusukan. Begitu dalam, bahkan dengan kemampuan penyembuhannya yang luar biasa, luka itu masih terasa nyeri. Namun, hatinya terasa lebih nyeri di banding luka berdarah itu.


Dia menutup mata, pikirannya berkecamuk pada peristiwa saat itu. Hari itu Hualing merasa gelisah, seperti sesuatu yang buruk akan terjadi. Dan firasatnya menjadi kenyataan saat Yuan Qing terjebak dalam formasi penangkap Iblis. Saat energi iblis yang pekat terasa menekan dan sepasang tanduk hitam muncul, saat itu Hualing tahu jika identitas Yuan Qing telah terpapar.


Tanpa penundaan dia bergegas menuju hutan terpencil di puncak pertama, dengan sigap dia menyempurnakan formasi teleportasi dia siapkan di setiap puncak.


Ketika dia kembali, hal pertama yang dia lihat adalah Yuan Qing dalam pengepungan. Hati Hualing terasa sakit dan dingin merambat dari ujung kaki. Dalam situasi itu, dia pasti akan bergerak jika bukan karena gelengan kepala dari Yuan Qing. Melarangnya ikut campur, mencegah pembicara tentang dia yang membantu Raja Iblis.


"Formasi teleportasi, puncak pertama." Hualing berucap tanpa suara.


"Jangan bergerak, aku akan membuang mereka dan pergi." adalah jawaban yang Hualing tangkap dari gerak bibir pria itu.


Hualing tahu, pria ini menghawatirkan posisi dan namanya. Akan tetapi, jika di banding keselamatan pria itu, Hualing dapat memberikan segalanya.


Dia enggan pergi, tapi tatapan peringatan dari Yuan Qing membuatnya mengeraskan hati. Dia berbalik, memastikan formasi teleportasi yang telah dia siapkan tidak akan menemui masalah yang tidak perlu.


Setelah menunggu satu batang dupa, dia melihat pria muda itu. Wajahnya masih sombong meski darah menodai pakaian, layaknya Sang Dewa perang yang memenangkan pertempuran.


Meski hatinya khawatir, Hualing merasa bahagia.


"Formasi akan membawa kita langsung keluar kota!" Hualing berujar cepat. Menarik tangan Yuan Qing yang tidak terluka menuju formasi teleportasi. Namun, pria muda yang di tarik terpaku layaknya gunung. Tidak tergoyahkan.

__ADS_1


"Kita harus bergegas," ujarnya dengan kebingungan. Ada dingin yang menjalar di hatinya.


"Aku yang bergegas. Kamu harus tetap di sekte, Master sekte dan tuan puncak Cao pasti akan melindungimu." Ujarnya.


"Ah Qing! Kamu meninggalkanmu disini?"


"Patuh, tetap di sini. Apakah kamu tahu kemana aku akan pergi?" Yuan Qing mengeraskan hati, tempat yang dia tuju bukanlah tempat yang baik. Itu adalah tempat jiwa-jiwa jahat berkumpul.


Tempat kotor seperti itu, tidak cocok dengan Hualing yang jernih.


"Kamu tetaplah aman, oke?" Yuan Qing berujar lembut, menggenggam kedua bahu sempit Hualing.


"Kamu harus tetap aman," Hualing tahu dia tidak akan dapat merubah keputusan Yuan Qing, mengikuti diam-diam juga tidak akan berhasil. Dia tahu, Yuan Qing pasti memikirkan tentang puncak kedua dam sekte Awan Melonjak. Tidak akan baik jika seorang murid langsung Tuan puncak berkolusi dengan Raja Iblis.


Energi spiritual dalam jumlah besar terasa dari arah arena kompetisi. Keduanya tahu jika para pembudidaya itu telah mengejar.


Perasaan krisis mulai melanda. Sampai sebuah kecupan lembut membelai bibirnya, kata "maafkan aku" di bisikkan lembut di telinganya. Kemudian rasa sakit yang tajam menembus dadanya.


"Ah Qing?" Hualing bertanya lemah, rasa sakit tusukan mulai mengaburkan pandangan.


"Maafkan aku Ling'er," diantara wajah buram di pandangan, Hualing mendapati segaris air mata di pipi Yuan Qing.


Suara langkah kaki ringan menarik atensinya, Hualing membuka mata. Gurunya, sang Tuan puncak kedua duduk di kursi samping tempat tidur.


Wajah pria itu tidak menampakkan ekspresi, tapi mata yang telah melihat dunia itu melihatnya dengan dalam. Dalam hati Hualing tahu, gurunya telah mengetahui semuanya.

__ADS_1


Hualing mendudukkan dirinya, kemudian perlahan turun dari tempat tidur. Dia berlutut dengan punggung tegak dan kepala tertunduk.


"Kamu orang yang membantu Yuan Qing melarikan diri."


Tidak ada riak di dalam hati Hualing ketika mendengar pernyataan Cao Ping. Seperti danau di puncak gunung yang tidak terjangkau, begitu tenang meski dia tahu tindakannya tidak dapat di benarkan oleh dunia.


"Ya!"


"Sejak awal kamu tahu jika bocah itu adalah Raja Iblis."


"Ya!"


Cao Ping menarik napas berat kemudian menghembuskan perlahan. Dia melihat puncak kepala muridnya yang penuh helaian Hitam, "kamu tahu dia adalah Raja Iblis. Itu berarti dia bukan Dewa Xue Yuan Qing, jadi mengapa kamu masih berpegang teguh?" dia bertanya perlahan, seolah mengucap kata demi kata.


"Dia adalah inkarnasi Yang Mulia. Tugasnya sebagai Dewa perang membuatnya menanggung karma pembunuhan, energi abadinya kian menipis dan Kedewaannya terkikis."


Cao Ping memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri. Tidak tahu lagi bagaimana harus menasehati gadis muda pemuja Dewa perang ini. Dia hanya dapat menghela napas panjang, "Kamu bangunlah dulu, jangan terus berlutut." ujarnya kemudian. Sekali lagi mengalah pada murid termudanya ini.


Mendengar helaan napas itu, Hualing segera berdiri. Senyum ceria tersungging di bibir, raut bahagianya berbanding terbalik dengan wajah murung beberapa saat lalu.


Cao Ping menggelengkan kepala tidak berdaya. Muridnya ini sungguh nakal!


"Saat ini, dengan kondisimu yang telah di tikam, para pembudidaya luar tidak berpikir puncak kedua sebagai antek Raja iblis, meski ada beberapa suara yang mempertanyakannya." Jelas Cao Ping setelah muridnya tersebut menyajikan secangkir teh.


"Selain itu, hanya aku yang mengetahui kemampuan penyembuhan mu yang luar biasa. Pembudidaya luar hanya tahu kamu masih terbaring di tempat tidur, tidak sadarkan diri. Jadi untuk sementara, jangan keluar dari rumahmu." Cao Ping menyesap teh yang di sajikan, membasahi tenggorokan yang terasa kering.

__ADS_1


"Murid ini mengerti. Hualing akan tinggal di rumah dan tidak melangkah ke ambang pintu." Hualing tahu, bagi puncak kedua yang terbaik adalah tidak terlibat dengan identitas asli Yuan Qing.


...'Karena itukah kamu melukaiku? ah Qing?'...


__ADS_2