Terlahir Untuk Menghilang

Terlahir Untuk Menghilang
Bab 26


__ADS_3

"Lalu bisakah Dewa itu melakukan ini?" Yuan Qing baru kali ini menyadari jika kedua mata Hualing sangat indah, berwarna coklat dengan kilau bagai permata. Dia memiliki bulu mata tebal yang melengkung, mengepak seperti sayap kupu-kupu saat dia berkedip.


Dia juga memiliki bibir lembut dan terasa manis, membuat Yuan Qing ketagihan hanya setelah sekali mencicipinya.


"Ngh!" Kedua mata Hualing melebar tidak percaya, Yuan Qing kembali menciumnya. Kali ini lebih intens dari yang terakhir. Lidah pria itu menyapu lembut bibirnya, menghisap kecil beberapa kali. Lidah licin menyusup ketika kedua belah bibirnya sedikit terbuka, keinginan untuk menghardik berubah menjadi lenguhan.


"Qing!" Napas Hualing memburu, tangannya berusaha memukul dada Yuan Qing. Meminta pria itu untuk melepaskan tawanan, tapi perlawanan itu tidak membuat Yuan Qing melepaskannya melainkan lebih memperdalam tautan bibir mereka.


Seolah hendak memakannya habis!


Hanya setelah pukulan di dadanya melemah, Yuan Qing melepaskan bibir Hualing. Melihat bagaimana wajah Hualing yang memerah dengan bibir lembab dan bengkak merona. Yuan Qing menjilat bibirnya yang tiba-tiba terasa kering, ingin mengulangi tindakan sebelumnya.


"Ling er, apakah Dewa mu akan melakukan ini?" Sudut bibir Yuan Qing terangkat di satu sisi.


Hualing sungguh ingin memanggil petir ungu, menghilangkan raut kesombongan dari wajah Yuan Qing. Namun, keinginan hanya menjadi keinginan sesaat. Hatinya terlalu lunak jika menyangkut inkarnasi dewanya itu.


"Dewa itu tentu tidak pernah melakukan ini, tapi aku akan melakukannya. Jadi Ling er, masihkah kamu melihat aku sebagai dia?" Desak Yuan Qing. Jika Hualing masih melihatnya sebagai orang lain, dia tidak keberatan melakukan hal yang lebih ekstrim!


"Yang Mulia tid-" Hualing seketika menghentikan penyangkalannya saat suara gemuruh terdengar, desisan yang semakin mengeras mengikuti.


Pedang dihunus, energi spiritual di alirkan. Aura merah muda yang menyelimuti dua orang menghilang seketika, meninggalkan kewaspadaan penuh. Suara gemuruh semakin keras, pecahan giok berhamburan.


Rak setinggi langit-langit di tembus oleh kepala hitam dengan tanduk keras. Mata berwarna emas menatap bengis pada keduanya.


"Benda ini sungguh mengganggu!" Yuan Qing merengut, momen romantis harus di hancurkan oleh seekor ular.


Dan ular yang sangat merepotkan.


"Jangan lengah!" Tidak ada lagi binar malu-malu maupun teraniaya yang tadi menggantung di wajah Hualing, hanya ada kewaspadaan tinggi.


Ular piton bumi mendesis keras, tampak menyimpan dendam atas peristiwa sebelumnya. Ekor besar bergerak cepat, begitu gesit. Yuan Qing dan Hualing bergerak mundur dengan jentikan ujung kaki, menghidar dari sapuan mematikan itu.


Piton bumi kembali mendesis, musuh lolos dari jangkauan serangannya.


Tidak menunggu piton bumi menyerang, Yuan Qing bergerak terlebih dahulu. Sapuan pedang berbenturan dengan sisik keras. Kabut hitam bertebaran dari sisa serangan, berusaha menembus daging lunak di bawah sisik keras.


Hualing bergerak cepat di belakang Yuan Qing, dengan pedang yang dialiri petir ungu Hualing menambahkan serangan. Tepat di atas bekas serangan Yuan Qing.


Dengusan terdengar kasar, piton bumi melemparkan dirinya ke dinding berlukis. Ruang bawah tanah bergetar, debu dan kerikil bertebaran.


Hualing dan Yuan Qing bertarung saling melengkapi, saling melindungi. Dua serangan cepat di lancarkan bertubi-tubi, tapi ekor piton bumi bergerak lebih cepat.

__ADS_1


Mengibas, menyapu Hualing yang tidak siap. Hualing terlempar, tubuhnya membentur bagian belakang rak tinggi. Seteguk darah di muntahkan, dia menekan dadanya yang terasa nyeri.


"Ling er!" Yuan Qing berseru, meninggalkan piton darah dan menyongsong Hualing yang kesulitan berdiri.


"Aku baik-baik saja," segaris darah mengalir di sudut bibir.


Hati Yuan Qing terasa sakit melihatnya, "tetap di sini, " Yuan Qing berujar dengan lembut kemudian berdiri. Tarikan di ujung pakaiannya menghentikan langkah yang akan dia ambil.


"Aku masih bisa bertarung," Hualing berkata dengan kening bertaut.


"Jadilah baik dan tetap di sini. Seharusnya tidak lama lagi alam rahasia ini akan di tutup, aku hanya akan mengulur waktu." Yuan Qing menjelaskan tanpa ketidaksabaran, "jadilah baik, oke?" lanjutnya kemudian mematuk bibir Hualing dan beranjak pergi dengan cepat. Entah untuk menghadapi piton bumi yang marah karena diabaikan atau enggan menerima tatapan penuh tuduhan dari Hualing.


Dengan bertumpu pada pedang, Hualing berdiri dengan susah payah. Dadanya terasa sesak, 'pukulan ekor piton bumi tidak dapat di remehkan!' pikiranya kemudian berdiri tegak ketika rasa sakit itu mereda.


Hualing mengangkat pedangnya di depan dada secara horizontal, dengan jari-jari lentik dia mengusap tubuh pedang. Percikan petir ungu semakin melebar, seperti akar pohon yang tersembunyi jauh di bawah tanah. "Aku tidak dapat memanggil petir ungu dari gulungan awan di langit, tidak berarti aku tidak dapat memanggilnya dari pedang!"


Hualing bergerak maju, melewati Yuan Qing yang di paksa mundur empat langkah. Petir ungu berdetak dari tubuh pedang ramping, menumbuk sisik keras piton bumi. Meninggalkan percikan ungu yang menjalar di antara sisik yang tertumpuk.


"Bukankah aku meminta Ling er untuk menunggu?" Dengan gigi terkatup dia bertanya pada Hualing yang melompat mundur setelah melancarkan serangan.


"Aku tidak akan berdiam diri selama aku dapat membantu!" Hualing menjawab cepat kemudian memulai serangan selanjutnya.


Dengan tubuh besar dan keras, piton bumi meliuk. Menghindari serangan kemudian membuka mulut, mencoba melahap Yuan Qing yang berada di posisi terdekat.


Tanpa ragu, Yuan Qing bergerak maju. Memutar badan, berbalik dan menyerang titik rawan di bawah dagu.


Ular piton bumi mendesis keras, ada luka potong dangkal di bawah dagu. Tidak fatal tapi cukup untuk memberi waktu Hualing dan Yuan Qing melarikan diri. Bergerak cepat dengan pedang menyerang di sepanjang sisik keras, meninggalkan percikan petir ungu yang di liputi kabut iblis.


Perlahan tapi pasti, petir ungu dan kabut ilblis menembus sisik keras. Meracuni daging lembut di balik sisik hitam itu.


Yuan Qing dan Hualing berlari bersisian diantara lorong batu. Suara gemuruh dan desisan mengejar dari belakang, tampaknya ular besar itu tidak akan melepaskan mereka dengan mudah.


Sementara itu di sisi lain alam rahasia, Zhou Liangyi berjalan dengan wajah kalut. Disisinya ada Chen Qinyang yang berjalan dengan bibir di gigit erat.


'Aku hanya membuat kesalahan kecil, mengapa umpan meriam ini begitu perhitungan. Mengabaikanku sepanjang jalan. Lenganku bahkan masih terasa sakit karena gigitan kelelawar darah, bukankah seharusnya dia menghiburku?' Keluhan itu hanya dapat Chen Qinyang telan kembali kedalam perutnya.


"Saudara Liangyi, lihat ada gua besar di sana!" serunya dengan ujung jari menunjuk pada gua di kejauhan.


Zhou Liangyi melihat arah yang di tunjuk, wajah lesunya hilang seketika, "ini adalah gua ke sepuluh yang kita temui dan yang terbesar. Semoga terdapat jamur persik di sana." ujarnya.


"Semoga saja!" Chen Qinyang menjawab singkat dengan seulas senyum yang di lembutkan.

__ADS_1


"Maafkan aku karena telah mengabaikan saudari Qinyang. Orang yang menghilangkan jamur persik adalah aku, tapi aku melampiaskan kekesalan kepadamu." Zhou Liangyi berbicara dengan alis terkulai dan nada menyalahkan.


"Akan tetapi, saudari Qinyang masih berusaha membantu mencari jamur persik beberapa hari ini." Zhou Liangyi melanjutkan.


"Tidak masalah, aku juga turus bersalah. Jika saja tidak memprovokasi kelelawar darah, kita tidak akan berlari hingga Saudara Liangyi menjatuhkan jamur obat itu." Balasnya, tidak lupa mengingatkan Zhou Liangyi jika Zhou Liangyi yang menghilangkan jamur persik, bukan dia.


Keduanya tanpa ragu memasuki gua, mengekplorasi tempat gelap itu dengan sebuah mutiara malam. Melihat kanan dan kiri dengan waspada. Takut jika sang pemilik akan muncul yang menyerang.


"Saudara Liangyi, lihat di sana! Bukankah itu jamur persik?" Dalam keremangan Chen Qinyang menunjuk sudut gua. Tumbuh berjajar dengan kepala payung berwarna putih dengan gradasi senja.


"Saudari Qinyang sungguh membawa keberuntungan!" mengikuti arah yang di tunjuk, Zhou Liangyi berseru dengan semangat. Tidak hanya satu atau dua jamur persik, tetapi ada banyak.


Dua orang, Zhou Liangyi dan Chen Qinyang mendekat dalam satu gerakan. Tanpa ragu Chen Qinyang mengulurkan tangan, hendak mencabut jamur yang tumbuh berjajar. Namun, genggaman di pergelangan tangannya menghentikan.


"Ada apa saudara Liangyi?" tanyanya dengan kening berkerut.


"Aku merasa ini bukan jamur persik. Hanya terlihat mirip tapi bukan jamur persik." bibir Zhou Liangyi mengerut. Instingnya mengatakan benda ini bukanlah sesuatu yang baik.


"Jika bukan, lalu apa? Bukankah ini terlihat seperti jamur persik yang hilang?" di mata Chen Qinyang, jamur ini dan jamur sebelumnya tidak memiliki perbedaan sama sekali. Sama-sama jamur dan sama-sama berwarna putih dengan gradasi matahari terbenam, bahkan dengan jarak begitu dekat dia dapat mencium aroma persik yang lembut.


Bukankah sudah sesuai namanya?


"Ini aku?" bagaimana bisa Zhou Liangyi berkata dia lupa, bukankah itu akan menodai citranya di mata Chen Qinyang?


"Bagaimana jika petik dulu, begitu kembali biarkan tuan puncak kelima atau guru untuk memeriksanya?" Zhou Liangyi merasa saran Chen Qinyang cukup layak. Mengabaikan kewaspadaan di hatinya, dia berjongkok memanen jamur persik.


Dia mencabut satu jamu, melihatnya dengan seksama. Jika di perhatikan, jamur ini sangat identik dengan jamur persik. Yang membedakan hanya warnanya lebih merah dengan aroma persik lembut.


"Bukankah jamur persik tidak beraroma buah persik?" Zhou Liangyi bergumam dengan sedikit kebingungan. Masih dengan mencabut jamur, otaknya berputar.


"Yang identik dengan jamur persik. Lebih merah dan beraroma persik?" keningnya berkerut dalam.


'Jangan-jangan!'


Zhou Liangyi melemparkan jamur di tangannya ketika dia mengingat tentang jamur ini. Hanya ada satu tanamam yanh identik dengan jamur persik, itu adalah jamur musim semi!


Bahan baku pembuat obat musim semi!


"Saudari Qinyang! Jangan memetik lagi!" Serunya pada Chen Qinyang yang berjongkok di sebelahnya.


"Saudara Zhou, mengapa tubuhku sangat panas? sangat haus!" rengekan lengket itulah yang menjawab seruan Zhou Liangyi

__ADS_1


__ADS_2