
"Dengan tanduk naga ini, Lonceng pemecah takdir akan dapat di sempurnakan!" bibirnya masih selurus biasa, tapi Hualing dapat mendengar semangat dari suaranya. Terdengar sangat bahagia.
"Yang Mulia, bawahan ini memiliki keraguan." Dewa yang berdiri di hadapan Xue Yuan Qing bertanya dengan ragu.
"Kamu dapat mengatakannya." Xue Yuan Qing menjawab tanpa melihat si penanya, tangannya masih membolak-balik patahan tanduk berwarna biru di tangan.
"Yang Mulia, akankah hukum surgawi mentolerir?" Pertanyaan itu tidak lengkap, tapi Xue Yuan Qing mengerti benar maksud pertanyaan tersebut.
Sebuah senyum meremehkan melengkung di bibir sang Dewa perang, "jika artefak ini mampu menanggung petir kesengsaraan, maka hukum surgawi tidak memiliki pilihan lain selain mentolerirnya." Xue Yuan Qing menjawab dengan ringan. Dia begitu yakin bahwa artefak yang bahkan belum memasuki tungku ini akan mengguncang surga kesembilan.
"Aku akan mulai menempa, jangan biarkan seseorang menimbulkan gangguan!" Dewa perang yang memiliki paras identik Yuan Qing itu beranjak pergi, meninggalkan bawahan yang telah mengikutinya dalam ratusan pertempuran. Meninggalkan Hualing yang terpaku di tempat, menyaksikan punggung lebar yang di tutupi pakaian ungu.
Hualing menggigit bibir, tampaknya pedang sang dewa telah membawanya ke peristiwa lampau. Periode sebelum Lonceng pemecah takdir tercipta!
Retakan terbentuk di udara, gambaran dekorasi mewah dan punggung pria yang ditutupi pakaian ungu itu terpecah.
Peristiwa berubah, itu adalah sang Dewa yang mengarahkan energinya ke dalam kuali raksasa. Api abadi berwarna merah membuat tungku bersinar dalam kegelapan, wajah pria itu pucat dengan peluh yang menetes sementara kedua matanya bersinar dalam tekad.
Sudut bibir melengkung di satu sisi, artefak paling luar biasa akan segera lahir.
Di dalam ruang penempaan, Xue Yuan Qing dapat mendengar gemuruh Guntur. Bersahut, berlomba memecah keheningan. Dia kembali memusatkan perhatiannya pada tungku besar dengan pola Naga berwarna emas, energi abadi yang tirani menguar.
Suara guntur terus bersahut, tungku besar bergetar sebelum tutupnya terlempar ke udara. Sebuah lonceng giok melayang dari dalam tungku, berpendar dengan cahaya menyilaukan, begitu luar biasa dengan energi Abadi yang pekat mengelilingi.
Guntur bergemuruh dengan interval yang berdekatan, sudut bibir sang dewa perang melengkung di satu sisi.
Saat tersulit dalam penciptaan artefak ini akhirnya tiba.
Guntur kembali menggelegar, kali ini dengan suara yang memekakkan. Mengejutkan setiap individu di surga kesembilan.
GLARRRR!
__ADS_1
Retakan tercipta di atap kokoh, merambat ke sisi lain dengan kecepatan yang terlihat oleh mata telanjang sebelum pecah menjadi puing-puing.
Guntur ungu menyambar langsung lonceng giok yang masih melayang di udara. Selubung tipis terbentuk di sekitar lonceng, begitu tipis hingga hampir transparan.
Sudut bibir Xue Yuan Qing melengkung dari sisi ke sisi, tampaknya artefak yang dia ciptakan lebih luar biasa dari yang dia perkirakan.
Artefak ini bahkan mampu melindungi dirinya sendiri, menciptakan selubung abadi dan mencegah guntur kesusahan mengacaukannya.
Kilatan ungu menyebar bagai retakan kemudian menghilang secepat dia datang.
GLARRRR!
Satu lagi gelegar guntur menyambar, selubung tipis masih melingkupi tanpa goresan. Melindungi tubuh lonceng dari kerusakan.
GLARRRR!
Satu kali, dua kali, empat kali, sepuluh kali sambaran guntur menyerang. Selubung tersebut masih tak tersentuh.
Tiga puluh lima sambaran, retakan kecil menjalar seperti akar pohon tua.
Empat puluh delapan sambaran, retakan memenuhi selubung dari sisi ke sisi.
Empat puluh sembilan sambaran, selubung yang retak hancur. Luruh menjadi cahaya keemasan. Sisa-sisa sambaran mengetuk tubuh lonceng.
Kepuasan di wajah yang Dewa semakin kentara, 'sebuah selubung tipis dapat menahan empat puluh kali sambaran petir kesengsaraan, luar biasa!'
Masih ada lima puluh sambaran lagi dan Xue Yuan Qing masih berdiri di tempatnya, tampak tidak berniat ikut campur meski selubung yang melindungi lonceng telah terpecah.
Hualing berdiri bersisian dengan sang Dewa. Dia menyentuh dadanya yang berdetak lebih kencang.
Hualing melihat pada lonceng yang masih melayang di udara, sebuah dugaan di perkuat di dalam otaknya. Saat petir menyentuh tubuh lonceng, Hualing dapat merasakan kesemutan di jantungnya.
__ADS_1
GLARRRR!
Petir kesengsaraan kembali menyambar tubuh lonceng, kali ini tanpa selubung tipis yang melindungi.
Sensasi kesemutan di dalam jantungnya semakin teras, menyebar di seluruh meridian.
GLARRRR!
Sambaran demi sambaran petir ungu terus berlanjut di ikuti suara debaman. Hualing mencengkeram kain di dada dan jatuh berlutut. Jantungnya terasa berat, seolah batu ribuan kilo menimpa.
GLARRRR!
Sambaran ke tujuh puluh sembilan, beban yang menimpa jantungnya semakin berat. Hualing bernapas dengan sulit.
GLARRR!
Sambaran ke delapan puluh, Hualing meludahkan seteguk darah. Seluruh tubuhnya terasa menyakitkan, sisa petir kesengsaraan mengalir di sepanjang meridian, menginvasi jantung.
Gemuruh Guntur masih terdengar memekakkan, Hualing terbaring di lantai dengan wajah pucat dan darah di sudut bibir. Dia menutup mata ketika petir kesengsaraan kembali turun, menerima nasib untuk di hancurkan. Bukan karena dia telah berputus asa, tetapi lebih karena dia tidak dapat menggerakkan tubuhnya saat rasa sakit menjalari.
Namun, sensasi kejut yang dia tunggu tidak juga datang. Hualing membuka mata, dalam pandangan kabur dia menyaksikan sebuah lonceng kecil berwarna ungu menerima petir kesengsaraan mengantikan lonceng giok.
Lonceng itu melayang dari dalam tungku. Tubuh lonceng berwarna ungu dan berbentuk seperti bunga lonceng.
Lonceng bunga biru!
"Senior Shaosheng!" Hualing memanggil lirih.
Petir kesengsaraan masih terus berlanjut. Sementara Lonceng pemecah takdir masih melayang dan berputar di udara, Lonceng bunga biru telah menerima empat sambaran sebelum cahaya yang melingkupinya meredup.
Masih ada lima belas petir kesengsaraan yang menanti, tapi menggerakkan ujung jari pun dia tidak mampu.
__ADS_1