Terlahir Untuk Menghilang

Terlahir Untuk Menghilang
Bab 57


__ADS_3

Ada kalanya Xie Shaosheng merasa iri mendengar saudara dan saudari murid menceritakan kisah masa kecil mereka. Entah itu kenakalan mereka saat muda atau masa kecil bersama kerabat mereka. Meski tidak semua hal yang telah dia dengar adalah sesuatu yang membahagiakan, tapi dia tidak dapat menghentikan tunas kedengkian itu.


Sejauh yang dia ingat, dia adalah anak yang akan memendam semua pikirannya, dan kebiasaan itu berlangsung hingga dia dewasa. Bukan satu atau dua kali dia memikirkannya, tapi berulangkali hingga dia merasa lelah. Karena bagaimanapun dia menggali, ingatannya terhenti hingga usia sepuluh tahun, saat gurunya menyelamatkannya dari jalanan. Sedangkan ingatan ketika dia lebih muda, Xie Shaosheng tidak memilikinya sama sekali.


Hal pertama yang terlintas dipikirannya saat Hualing mengatakan keterikatan antara dia dan Lonceng bunga biru adalah 'jadi seperti itu' dan 'pantas saja'.


Lonceng kecil berwarna ungu yang tergeletak di atas meja adalah bentuk aslinya. Sepuluh ribu tahun lalu, sesaat setelah di tempa dia telah membangunkan kesadaran. Mungkin saat itu dia menganggap Lonceng pemecah takdir yang di tempa bersamanya sebagai bagian dari dirinya. Mengetahui bencana kesengsaraan surgawi telah memecahkan selubung pelindung Lonceng pemecah takdir, 'dia yang masih muda' menahan lima sambaran petir kesengsaraan ungu lima kali demi 'saudarinya' itu. Karena peristiwa itu, kesadarannya rusak. Dan dia hanya menjadi artefak tingkat langit tanpa kesadaran.


Setelah melewati waktu yang panjang, Lonceng bunga biru kembali melahirkan kesadaran, itu adalah dia.

__ADS_1


Dan mengapa dia terbangun di alam fana alih-alih alam rahasia Shui Xing, itu belum di ketahui pasti. Kemungkinan terbesar hal itu terjadi karena Yang Mulia abadi Shui Xing berkeliaran di alam fana dengan Lonceng bunga biru kala itu, dan Lonceng bunga biru entah bagaimana menempelkan kesadarannya pada pohon atau bunga di dalam hutan di kaki gunung tertentu.


Samar-samar Xie Shaosheng teringat pohon persik yang berbunga. Hujan kelopak merah muda menutupi dirinya yang terbaring di bawah pohon. Hanya setelah setengah hari mengumpulkan tenaga, dia menyeret kakinya yang lemah ke kota terdekat. Saat itulah dia bertemu gurunya, satu-satunya leluhur memecah kekosongan saat ini.


Sebelum ini, Xie Shaosheng telah memiliki tebakan samar di dalam hatinya. Saat itu, dia pikir akan sangat sulit untuk menerimanya ketika semua keterikatan terbuka, tapi kini ketika semua simpul terurai, Xie Shaosheng tidak merasakan apapun kecuali kelegaan. Pada dasarnya, hatinya tidak memiliki banyak penolakan tentang kebenaran ini. Hanya terasa luar biasa.


Xie Shaosheng memperhatikan Hualing yang duduk di hadapannya, raut saudari mudanya lebih gusar dari dia yang berubah dari manusia pada umumnya menjadi artefak tertentu. "Tidak perlu untuk begitu khawatir, saudaramu ini baik-baik saja. Lagi pula, menjadi artefak tingkat langit bukanlah sesuatu yang buruk, terlebih ketika penciptanya adalah seorang Dewa perang. Bukankah itu luar biasa?"


"Memang mengejutkan. Perbedaan keduanya bagai langit dan bumi, satu adalah makhluk hidup sedangkan yang lain adalah benda. Namun, bukankah setelah artefak melahirkan kesadaran sepertiku, aku tidak berbeda dengan manusia? Lagi pula sebagai sebuah artefak, kecuali bentul asli hancur aku tidak akan kehabisan usia meski hanya berada di pembangunan fondasi selama ratusan tahun." Xie Shaosheng kembali menyesap teh yang hampir dingin, seulas senyum melengkung di bibirnya. Tidak ada keengganan atau keterpaksaan untuk menerima identitas barunya.

__ADS_1


Melihat senyum Xie Shaosheng, Hualing tidak dapat menahan sudut bibirnya untuk membentuk lengkungan senyum. Meski dia dapat menerima identitasnya, tapi ketika mendengar ucapan Xie Shaosheng hatinya tidak bisa untuk tidak menjadi lebih tenang.


"Saudaraku benar. Ketika kebanyakan manusia berkultivasi demi usia yang panjang dan panik ketika usia mendekati akhir, kita para artefak tidak perlu untuk memperhatikannya." Ketika mengatakan itu, Hualing tidak dapat mengatakan dengan lantang jika semua itu adalah ucapan optimis, alih-alih ironi.


"Itu benar." Dan Xie Shaosheng menyahut, membenarkan. Bertindak seperti dia tidak mendengarkan ironi tersembunyi itu.


"Lonceng ini, sebaiknya..." Hualing belum menyelesaikan kalimatnya ketika rasa sakit menyerang, seperti tangan tak terlihat yang mencengkeram jantungnya erat-erat.


"Ling'er!" Secangkir teh yang hampir menyentuh bibir terlepas dari tangan. Cangkir giok bertumbukan dengan lantai kayu, noda basah membasahi lantai. Xie Shaosheng hampir melompati meja ketika Hualing tiba-tiba mengerang dengan wajah pucat, sebelum memutari meja. Menghampiri saudari juniornya yang masih meringkuk.

__ADS_1


"Ling'er! Apa yang terjadi? Jangan menakuti saudaramu!" Xie Shaosheng bertanya dengan panik, kedua tangannya meringkuk di samping kedua bahu Hualing. Seolah terlalu takut untuk menyentuh, seperti satu sentuhan kecil akan memperburuk rasa sakit Hualing.


"Ling'er..."


__ADS_2