
Sejak Bai Fengying dapat mengingat, dia telah berada di sekte Langit sebagai Master sekte sebagai gurunya meski tidak memiliki nadi spiritual.
Semua tetua telah menegur gurunya karena mengambil manusia fana sebagai murid dan semua junior telah bergunjing.
Bai Fengying tahu jika keberadaan telah menodai reputasi baik guru, sehingga sejak muda dia selalu berusaha untuk masuk akal. Enggan menambah masalah untuk sang guru.
Namun, ketika usianya lima belas tahun. Sesuatu yang luar biasa terjadi.
Malam itu dia merasa seperti semua tulangnya di patahkan dan di rangkai kembali, seperti semua tendon di cabut dan kemudian di sambungkan. Dalam tidurnya dia bermimpi tentang seorang pria dengan penampilan luar biasa, tapi tidak dapat dia ingat bagaimana penampilan itu.
Dia seperti berada di ruangan megah, menasehati seorang pria dengan dada penuh kobaran api karena betapa keras kepalanya pria itu.
"Sampai kapan akan seperti ini? Karma pembunuhan yang kamu tanggung semakin berat, dan jika terus berlangsung, energi abadimu akan terkikis oleh energi iblis. Pada akhirnya kamu akan berubah menjadi iblis yang lengkap!" Sepanjang hidup, Bai Fengying tidak pernah melewati situasi saat ini, tetapi dia dapat merasakan kemarahan yang menyesakkan.
"Kamu dapat menanyakan itu pada hukum surgawi." Sosok yang tidak dia ingat penampilannya itu menjawab dengan acuh, membuat kemarahan di dalam hati kian menggelak.
Bahkan ketika dia telah membuka mata, kemarahan itu tidak juga sirna.
Gurunya mengatakan dia tidak sadar selama tiga hari. Para ahli medis mengatakan jika rasa sakitnya di sebabkan oleh fisik yang sedang di rekontruksi.
Untuk sesaat Bai Fengying tertegun. Apa artinya fisik di rekontruksi? Apakah fisiknya di bangun ulang?
Akankah di masa depan dia dapat... berkultivasi?
Bai Fengying melihat guru yang telah merawatnya selama belasan tahun. Diantara kekhawatiran, dia mendapati kebahagiaan dari sorot mata pria itu.
"Apakah itu artinya aku akan dapat berkultivasi?" Bai Fengying bertanya dengan ragu.
__ADS_1
"Tentu saja! Dengan bakat kamu ini, membentuk inti emas sebelum usia lima puluh tahun bukanlah tidak mungkin!" Master sekte Langit yang selalu tenang berubah menjadi antusias.
"Itu bagus!" Fengying tidak akan mempermalukan guru lagi!
Bai Fengying memejamkan mata erat kemudian menggelengkan kepala dua kali, tidak tahu mengapa tiba-tiba teringat peristiwa tiga puluh delapan tahun yang lalu.
Dia menengadah, melihat pada papan nama yang di pasang di atas pintu gerbang.
Istana Bintang.
Dari luar gerbang yang daun pintunya telah rusak, Bai Fengying dapat melihat sebagian besar bangunan utama telah roboh menjadi puing-puing sementara beberapa yang lain menunjukkan kerusakan yang bervariasi.
Tidak seperti bangunan yang telah lama di tinggalkan. Meski istana ini rusak menjadi puing, tapi sangat bersih dengan rumput terpotong rapi tanpa daun berserakan.
"Tempat tinggal para Dewa sungguh luar biasa!"
Pecahan porselen tersebar di lantai. Bai Fengying mengambil sebuah cangkir giok di ujung sepatunya, perasaannya terpelintir dan kesedihan merayap di dalam hati.
Dia meletakkan cangkir tersebut di atas meja yang masih utuh kemudian beranjak pergi, enggan mengeksplorasi perasaan tidak nyaman tersebut.
Keluar dari bangunan depan, dia menuju ke halaman samping. Rak-rak menjulang memenuhi aula luar dengan masing-masing menampung gulungan giok.
Bai Fengying mengambil gulungan acak dan membukanya. Gulungan itu kosong, tidak satu pun kata terdapat di dalamnya. Tidak ada satu gores gambar pula.
Di katakan jika istana bintang adalah tempat tinggal sang Dewa Bintang yang mengatur takdir manusia. Di ceritakan, di dalam istana terdapat rak-rak tinggi berisi catatan yang berisi jalan kehidupan seluruh makhluk hidup di dunia. Mungkin semua itu benar, tapi setelah kejatuhan surga kesembilan dan para dewa menghilang. Buku takdir mungkin tidak lagi berguna.
Bai Fengying telah membuka lebih dari sepuluh gulungan, tapi semua hanya gulungan kosong.
__ADS_1
Jika semua cerita itu benar, maka gulungan kosong di tangannya seharusnya adalah buku takdir di dalam legenda.
Dia terkekeh sinis, dia yakin lebih dari setengah pembudidaya yang memasuki reruntuhan berharap untuk menemukan buku takdirnya, mencoba mengintip rahasia langit. Tapi sekarang apa yang mereka idamkam hanya berupa perkamen kosong, tidak berguna.
Bai Fengying meletakkan gulungan kosong yang dia ambil kembali ke tempatnya kemudian berlalu pergi. Melewati dinding samping yang telah roboh, dia melewati halaman luas dengan sebuah pohon wisteria yang berbunga penuh, tampak seperti payung ungu raksasa.
Di bawah pohon terdapat satu meja batu dengan dua set kursi batu yang terlihat baru, seolah tidak tersentuh waktu.
Berjalan mendekat, Bai Fengying mendapati satu set papan catur yang belum menyelesaikan permainannya.
'Ketika bangunan hancur, mengapa papan catur ini nampak tidak tersentuh?' pikirnya, berpikir jika situasi ini nampak aneh.
"Ugh!" Bai Fengying mengerang dan punggungnya melengkung, rasa sakit yang menusuk menyerang kepala. Dia mencengkeram helai hitamnya erat-erat sebelum melepaskannya perlahan. Menegakkan punggung, mata cemerlang penuh semangat masa muda menghilang, berganti dengan tatapan gelap yang kosong.
Jari-jari yang memegang pedang sepanjang tahun mengambil satu bidak putih di samping, kemudian meletakkannya di atas papan catur. Dia terdiam setelah melakukan dua tindakan tersebut, seolah menunggu sesuatu.
Masih dengan tatapan kosong, dia menengadah. Melihat seberkas cahaya diantara cabang-cabang kokoh, melayang turun dengan kecepatan konstan.
Ketika Bai Fengying tampak seperti telah kehilangan jiwanya, Chen Qinyang segera mendapati kemalangan. Tidak hanya jatuh di atas tumpukan reruntuhan, dia juga terperosok lubang setelah mengambil dua langkah dengan susah payah.
Sangat bagus ketika sesuatu yang menunggunya adalah sungai bawah tanah yang tenang, bukannya bebatuan atau hamparan tanah keras.
Meski tidak mengancam nyawa, beberapa luka dangkal dan goresan kulit tetap terasa menyakitkan ketika terkena air. Chen Qinyang sungguh ingin mengumpat, tapi hanya dapat menelannya kembali dia saat ini sedang berjuang keluar dari air.
Mengumpat tidak hanya membuatnya tersedak air sungai, tetapi juga membutuhkan tenaga. Dan menyelematkan nyawa lebih berharga dari pada mengumpat!
Tenaganya terlalu berharga jika hanya di gunakan untuk mengumpat.
__ADS_1