
Langkah-langkah berderap, suara pedang berbenturan dengan percikan bunga api. Lembah iblis yang sunyi seketika berubah semarak, sementara langit melihat benturan dua fraksi dengan muram.
Lembah luas yang dingin semakin menyesakkan saat anyir darah tumpah, menyiram rumput hitam dengan merah yang mencolok.
Diantara kubu yang berbenturan, ada seorang gadis muda yang menebas lawan tanpa rasa takut, tanpa menahan diri. Seperti setiap sel di tubuh meneriakkan kebencian pada pihak lain. Meski telinganya mendengar teriakan kesakitan dan matanya menyaksikan tubuh yang ambruk mendingin, tidak ada perubahan riak dari sepasang mata persiknya.
Wajahnya tenang dan kedua alisnya renggang. Sepasang mata yang biasa berbinar terang kini tampak kusam, membuatnya tampak seperti boneka tali yang indah alih-alih manusia hidup yang bernapas.
Meski berubah menjadi abu, Yuan Qing akan tetap mengenalinya. Apalagi jika gadis muda itu masih memiliki penampilan luar biasa kekasihnya. Meski binar terang membuat hatinya melembut menghilang, tapi dia tahu itu adalah Hualing-nya.
"Yang ada di sana adalah murid termuda Tuan puncak Cao," salah satu bawahan menjelaskan ketika dia melihat sang Raja memperhatikan seksama mesin perang di kejauhan. "Sejak pertempuran di mulai, gadis kecil ini sudah banyak merugikan fraksi kita. Jadi Saya berharap Yang Mulia mengijinkan bawahan untuk melawannya. Jika terus di biarkan, takutnya kerugian akan semakin besar." Lanjutnya, berharap Sang Raja akan menghargai loyalitasnya.
"Gadis kecil Raja ini, tentu saja Raja ini yang mengatasinya."
Begitu kata terakhir jatuh, angin dingin menyapu, menghempasnya hingga membentur pilar. Dia sungguh tidak mengerti dimana dia telah membuat tuannya marah.
Energi iblis yang baru saja menyapunya dipenuhi kemarahan yang tidak di tutupi.
Dengan raut menahan sakit, dia melihat pada pemuda setengah iblis kepercayaan Sang Raja dan pria muda itu tidak mengecewakannya.
"Kamu ingin memukuli kekasih kecil Yang Mulia di hadapan Yang Mulia. Yang Mulia sudah sangat berbelas kasih hanya memberimu satu pukulan, alih-alih mencincangmu."
Meski dia mendapatkan jawaban untuk kebingungannya, tapi jawaban itu sama sekali tidak melegakan. Semakin dia mendengarnya, itu semakin pahit. Rasa anyir berputar di tenggorokan, dan bawahan tua itu meludahkan seteguk darah.
__ADS_1
Dia tidak tahu, apakah itu karena pukulan Yang Mulia, atau kata-kata pemuda setengah iblis ini.
.
Xie Shaosheng terengah, ekor pedang panjang di genggaman meneteskan darah lawan. Peluh mengalir dari kening, membasuh percikan merah yang menodai pipi.
Sejak dahulu dia tahu jika pembudidaya iblis ada dimana-mana, tapi baru saat ini dia mengetahui jika jumlah mereka tidak kalah dari para pembudidaya benar. Dan menghadapi satu karakter tak bernama dari mereka bukanlah perkara sulit, tapi jika ada banyak maka itu berbeda.
Seperti situasinya saat ini. Lawan yang sejak tadi mengepungnya hanya pembudidaya kecil dengan kultivasi jauh di bawah miliknya. Namun karakter picik dan sembrono orang-orang ini berhasil membuatnya kualahan.
Diantara kelelahan, pedang panjang masih menebas musuh, sementara pandangannya sesekali terarah pada Hualing yang bertarung tanpa lelah.
Sejak muda, Xie Shaosheng mengetahui jika saudari termudanya ini adalah bakat emas dalam generasi. Dia tahu jika suatu hari Hualing akan mencapai hal-hal luar biasa, tapi diantara semua kemungkinan yang telah dipikirkan, tidak satupun jika hal luar biasa itu menyangkut identitas aslinya yang tidak biasa.
Akan tetapi, terlepas dari identitas asli mereka berdua, saat ini baik dia maupun Hualing adalah murid Tuan puncak Cao. Dua orang dengan daging dan darah, bukan hanya logam yang keras dan giok yang dingin.
Dia dapat merasakan kelelahan, juga dapat merasakan luka berdarah yang berdenyut nyeri. Semua ketidaknyamanan ini, Hualing juga akan merasakannya.
Namun, melihat kembali gadis muda yang terluka di beberapa tempat itu, Xie Shaosheng tidak dapat melihat ketidaknyamanannya sama sekali. Seolah Hualing tidak lagi merasakan sakit, seperti boneka tali yang mengikuti dalang meski tubuhnya patah.
Tunggu?
Boneka tali?
__ADS_1
Xie Shaosheng terbelalak ngeri saat sebuah tebakan melintas di benaknya.
"Xie Shaosheng waspada!"
Seruan panik terdengar samar di telinganya sesaat sebelum benturan dua pedang menggema di samping telinga. Kemudian seruan marah Han Siyu mengikuti dan Xie Shaosheng hanya dapat melihat saudara seniornya itu dengan wajah bodoh.
Jantungnya berdetak kencang, hampir terasa menyakitkan. Mungkin karena pedang lawan yang hampir menebasnya menjadi dua, atau kemungkinan tentang kondisi Hualing saat ini.
"Apa yang salah? Apa kamu terluka?" Han Siyu tidak tahu apa yang bermain di otak saudara ketiganya ini, tapi melihat Xie Shaosheng yang tampak terguncang, dia tanpa sadar melembutkan suaranya.
"Dimana kamu terluka?" Han Siyu mengulangi pertanyaannya, tapi Xie Shaosheng hanya mengalihkan pandangan pada saudari termudanya yang bertempur di kejauhan.
Han Siyu mengerutkan kening, kekhawatiran melintas dimatanya.
Beberapa hari lalu Hualing tiba-tiba menghilang di telan udara, kemudian muncul kembali dengan cara yang sama misteriusnya. Namun saudari termudanya itu entah bagaimana telah berubah secara keseluruhan. Meski dia masih patuh dan masuk akal, tapi tatapannya tampak kusam.
Seperti tak bernyawa.
Bahkan ketika pakaian putihnya ternoda merah dari lukanya sendiri, Han Siyu tidak melihat sedikit pun kerutan tidak nyaman di wajah Hualing.
"Apa yang terjadi dengan saudari termuda?" Pertanyaan di benaknya tersuara tanpa dia sadari.
"Mungkin, dikendalikan."
__ADS_1