Terlahir Untuk Menghilang

Terlahir Untuk Menghilang
Bab 60


__ADS_3

Hualing berdiri di depan jendela yang berbuka, melihat Xie Shaosheng yang menjauh dengan langkah lesu. Angin malam pegunungan yang dingin berhembus, meniup helai hitamnya. Membawa rasa dingin yang membekukan tulang hingga hatinya.


Sekarang hal terburuk yang dia pikirkan menjadi kenyataan, bukan hanya bentuk aslinya tidak dia dapatkan melainkan di temukan oleh pihak lain.


Kabar buruknya, sekte Langit yang mendapatkan Lonceng pemecah takdir telah mengetahui benda seperti apa yang ada di tangan mereka.


Kabar baiknya, dia memiliki tujuan jelas kemana harus mencari tanpa harus membalikkan seluruh dunia kultivasi yang luas.


Namun, dengan kekuatannya saat ini akan sulit mengambil kembali Lonceng pemecah takdir. Jika mengambilnya dari Bai Fengying, itu bukan perkara yang sulit, tapi akan berbeda jika mengambilnya dari tangan master sekte Langit.


Saat itu, ketika tanah menjadi medan perang syura, dia berdiri di tengah pertempuran seperti udara. Sosoknya transparan, iblis dan pembudidaya menembus tubuhnya tanpa halangan. Dan di tengah keterkejutan dia melihat dua sosok yang sebisa mungkin melawan untuk mencari celah dan mundur dari peperangan. Yang muda adalah Bai Fengying yang beberapa tahun tidak dia lihat dan yang lebih tua adalah master sekte Langit yang pernah dia lihat di pertemuan antar sekte.


Dua orang yang kebingungan di paksa bertarung, mengambil ratusan gerakan sebelum dapat melangkah mundur dan keluar dari peperangan, kemudian semua memudar. Dia kembali kenyataan.


Hualing memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri. Dengan kekuatannya saat ini tidak mungkin merebut paksa, jika itu Yuan Qing masih ada kesempatan untuk berhasil meski dengan cedera. Namun, dia tidak ingin melibatkan Yuan Qing dalam hal ini. Bukan karena itu terlalu berbahaya, tetapi juga karena pria itu akan memasuki budidaya tertutup setelah kembali dari tempatnya beberapa saat lalu.


Sebenarnya masih ada satu orang lagi yang pasti mampu mengambil kembali Lonceng pemecah takdir dan orang itu adalah gurunya, Cao Ping. Satu-satunya leluhur memecah kekosongan saat ini. Namun, Hualing tidak dapat melibatkannya karena identitas yang sensitif. Cao Ping mewakili sekte Awan Melonjak, dan tindakan merebut artefak dari sekte lain tentu akan menimbulkan ketidakpuasan. Meski orang-orang itu tidak berani bergerak secara terbuka, pembicaraan miring tidak dapat di hindari. Dan Hualing tidak ingin hal seperti itu terjadi.


Tampaknya, dia masih harus memikirkan cara untuk mendapatkan Lonceng pemecah takdir dari sekte Langit seorang diri.


...****************...


Malam berlalu, langit gelap kini redup dengan awan gelap yang menggantung. Aroma air lembab terbawa angin, membawa sensasi sejuk, membelai pipi.


Hualing berjalan tenang memasuki halaman aula utama puncak Bambu Hijau. Langkahnya ringan, sama sekali tidak tergesa. Seorang pria tua duduk di depan meja penuh hidangan manis yang masing-masing penuh energi spiritual padat.

__ADS_1


"Guru," Hualing memberikan hormat yang sesuai kemudian bangkit dengan punggung lurus.


"Duduklah, bantu pria tua ini menghabiskan kue." Cao Ping melambaikan tangan, mengisyaratkan Hualing untuk mendekat dan duduk di hadapannya. "Makan ini, ini sangat lezat!" lanjutnya kemudian mendorong sepiring kue beri merah.


Hualing mengulurkan tangan, mengambil sekeping kue dan mencicipinya. Kue itu renyah di luar dan lembut di dalam, bagian tengah adalah buah beri merah segar yang di buat menjadi selai. Rasa manis dan sedikit asam melebur, menyeimbangkan tanpa dominasi.


"Memang lezat."


Cao Ping mengusap janggut putihnya kemudian menjawab kembali dengan bangga, "masakan Shaosheng memang tidak pernah mengecewakan."


Sudut bibir Hualing melengkung di kedua sisi, sedikit geli dengan sikap gurunya ini.


"Sebenarnya Ling'er datang untuk menitipkan sesuatu pada guru," kata Ling'er, tidak membuang waktu untuk menyampaikan tujuan kedatangannya. Dia mengeluarkan lonceng kecil berwarna ungu dan meletakkannya di tengah meja.


"Aku mendapatkannya dari Alam Rahasia Makam Yang Mulia Abadi Shui Xing bersama peta menuju reruntuhan. Aku pikir yang terbaik adalah guru membantu untuk menyimpannya."


Cao Ping kembali melihat lebih seksama. Jika ini hanya benda biasa, Hualing tidak akan terlihat gugup. Selain itu lonceng ini berasal dari tempat yang luar biasa, jadi tidak mungkin jika itu hanya benda biasa.


"Yang Mulia Abadi Shui Xing memberikannya kepadamu, itu seharusnya baik untukmu. Jadi kamu tidak perlu membawanya pada guru." Ujar Cao Ping, enggan untuk menerimanya. Bukan karena mencurigai, tapi karena itu di berikan kepada muridnya. Jadi meski dia begitu penasaran, dia hanya dapat menekannya.


Hualing mendorong Lonceng bunga biru lebih dekat kepada Cao Ping dan berkata, "Lonceng ini di sebut Lonceng Bunga Biru. Memang terlihat biasa, tapi termasuk artefak tingkat surga yang di ciptakan bersama Lonceng Pemecah Takdir. Jika aku yang memilikinya, itu tidak cukup baik."


Wajah tua Cao Ping menampakkan raut ngeri, tangannya yang terulur hendak menyentuh lonceng kecil itu tertahan di udara kemudian di tarik dengan cepat. Seolah apa yang ada di atas meja bukanlah artefak luar biasa melainkan ular beracun, "benda yang begitu berharga, tentu tidak boleh di berikan kembali!"


"Bagaimana jika guru bantu Ling'er untuk menyimpannya? Artefak yang begitu berharga, dengan kemampuanku saat ini takutnya akan menarik kebencian." ujar Hualing kemudian, masih mencoba membujuk Cao Ping.

__ADS_1


Cao Ping terdiam, seperti dia sungguh mempertimbangkan ucapan murid mudanya, "baiklah, guru akan simpan untukmu jadi kamu harus berlatih lebih keras agar dapat mengambilnya kembali." Ujarnya berkompromi.


"Ya, tentu saja. Guru harus selalu membawanya, jangan pernah tinggalkan meski sekejap." Hualing mengingatkan, membuat Cao Ping melihatnya dengan tanda tanya di wajahnya.


"Kamu menitipkannya kepada guru, tentu saja orang tua ini harus menyimpannya dengan aman di tempat rahasia."


"Guru dapat menyimpannya di dalam cincin ruang, cukup pastikan untuk selalu bersama guru." Hualing mengingatkan untuk yang kedua kalinya.


"Ling'er, bisakah kamu katakan yang sebenarnya mengapa memberikan hal luar biasa seperti ini kepadaku?"


"Karena Ling'er merasa segan untuk mengatakannya, maka biarkan murid ini yang berbicara." Dua orang, guru dan murid melihat Xie Shaosheng yang memasuki aula. Langkahnya mantap tanpa keraguan, "Guru."


"Shaosheng, duduk di sini. Kamu pasti lelah berjalan bolak balik ke aula utama."Cao Ping menepuk ringan bangku di sisi samping, mengisyaratkan agar Xie Shaosheng duduk di sana.


"Terimakasih guru,"


"Jadi cepat katakan, kenapa saudari kecilmu terus mendesak orang tua ini untuk memiliki sebuah artefak luar biasa?" Cao Ping bertanya dengan tidak sabar.


"Bukan sesuatu yang luar biasa, itu hanya karena lonceng kecil ini adalah bentuk asli dari murid ini." Xie Shaosheng memberikan jawaban singkat, tapi tepat pada inti kemudian melihat pada alis gurunya yang bertaut. Wajah pria itu penuh kebingungan kemudian berganti dengan raut tidak percaya.


Tidak tahan melihat raut curiga Cao Ping ywng melihat bolak balik dirinya dan Xie Shaosheng, Hualing memutuskan buka mulut. Menceritakan semua yang dia ketahui tanpa sedikitpun menyebut Lonceng pemecah takdir sebagai bentuk aslinya.


"Lonceng Bunga Biru tidak akan menampakkan kekuatannya selama tidak ada pemicu, jadi guru dapat menyimpannya dengan tenang. Pastikan untuk hati-hati agar tidak menggoresnya atau saudara ketiga bisa saja terluka." Hualing mengakhiri penjelasan panjangnya.


"Ling'er, jangan berlebihan." Xie Shaosheng menegur Hualing, merasa apa yang saudari mudanya katakan seperti sebuah ancaman untuk guru mereka.

__ADS_1


"Jangan tegur adik kelima kamu, apa yang dia katakan adalah kebenaran. Karena Lonceng Bunga Biru ini adalah bentuk aslimu, maka kerusakan atasnya juga akan berdampak kepadamu." Cao Ping memijit pelipisnya, siapa yang tahu jika murid yang dia ambil ternyata adalah bentuk kesadaran dari sebuah artefak.


__ADS_2