
Hualing dan Yuan Qing sampai tepat sebelum makam di buka. Keduanya berdiri di dahan tinggi, berdiri saling bersisian. Melihat dari atas ribuan pembudidaya yang penuh antisipasi, berkumpul mencoba mengumpulkan peluang yang mungkin tidak akan di dapat dari tempat lain. Diantara ribuan pembudidaya, kebanyakan adalah murid-murid dari sekte besar dan sisanya adalah pembudidaya pengembara tanpa sekte.
Di depan sana adalah sebuah tebing tinggi memanjang, mengelilingi wilayah kota Hua dengan benteng alami. Getaran kembali terasa, retakan terbentuk di dinding batu. Dari dasar naik hingga setengah ketinggian tebing, membentuk pintu raksasa di dinding batu.
Getaran kembali terasa, kali ini lebih kuat dari yang terakhir. Retakan menjalar seperti jaring laba-laba, kemudian runtuh satu demi satu menjadi lubang besar, membentuk pintu masuk nyata di dinding tebing.
"Pergi sekarang!" Yuan Qing berucap kemudian meluncur turun, segera memasuki pintu yang terbentuk ketika orang lain masih terpaku. Hualing mengikuti tidak jauh di belakang, dan keduanya menghilang seolah di telan oleh dinding tebing.
Untuk sesaat, Hualing merasa panik. Dia sungguh tidak menyangka akan jatuh dari ketinggian ketika memasuki alam rahasia ini. Hualing segera memobilisasi energi spiritual, mengurangi kecepatan jatuhnya.
Sebuah danau besar memenuhi penglihatannya, air kebiruan tampak berkilau di bawah cahaya matahari. Tampak seperti butiran kristal yang terhampar. Percikan besar tercipta saat tubuhnya jatuh, menabrak air danau yang tenang. Membentuk riak besar yang melebar hingga tepian.
Dingin merangkul tubuh, tidak membekukan melainkan memberikan rasa nyaman.
Hualing segera berenang naik. Meski dia seorang pembudidaya awal pengembaraan jiwa, bukan berarti dia tidak butuh bernafas.
Hualing tertegun ketika dia sampai di permukaan.
Sebuah dada bidang ada tepat di depan matanya. Hualing sedikit mendongak, leher jenjang dan tulang selangkah terlihat. Menaikkan pandangan adalah wajah yang setiap hari dia jumpai ada di hadapannya. Seketika Hualing merasa wajahnya memanas, untuk sesaat otaknya kosong. Tidak dapat memikirkan apapun, dan hanya setelah otaknya dapat kembali bekerja Hualing dengan cepat menutup mata dengan kedua telapak tangan. "Ah Qing, maafkan aku!" serunya seraya beranjak pergi dari kolam yang ternyata adalah sebuah pemandian.
"Ah!" Dia terlalu panik, bergerak dengan tergesa-gesa dan berakhir dengan tergelincir. Lututnya terantuk tepi batu. "Sial!" Hualing mendesis kesal.
"Ah Qing, aku sungguh minta maaf!" Hualing kembali meminta maaf dengan mata tertutup erat, tidak melihat sosok di belakangnya telah berdiri. Berjalan menuju tepi kemudian meraih jubah putih, mengenakannya dengan serampangan.
Hualing begitu malu, terlebih ketika ujung kain itu menyapu bahunya. Dia sungguh ingin menggali lubang dan mengubur dirinya sendiri.
Tidak mendapatkan respon sedikitpun, Hualing sedikit menurunkan jari-jarinya. Melihat sekeliling dengan mata menyipit hanya untuk menemukan kekosongan, tampaknya Yuan Qing telah keluar. Dia menghela napas lega, kemudian beranjak keluar dari pemandian. Hanya untuk menemukan pakaiannya kering meski dia telah masuk kedalam air.
Hualing mengerutkan kening, "apakah ini ilusi? Atau kemampuanku terbuka?" dia berucap pada dirinya sendiri. Enggan lebih jauh memikirkan hal yang tidak pasti, Hualing berjalan keluar dan mendapati ruang tidur dengan perabotan yang tidak asing.
__ADS_1
Yuan Qing yang tadi dia lihat kini berbaring di tempat tidur. Hualing berjalan mendekat, melihat sosok yang memejamkan mata.
"Yang mulia." Dia memanggil lirih. Seseorang yang baru dia jumpai bukanlah Yuan Qing, melainkan dewa perang Xue Yuan Qing. Pria itu terbaring dengan mata tertutup erat dan kening berkerut, tampak gelisah.
Hualing menangkup jari-jari kokoh yang menggenggam erat alas tidur, dia menggenggamnya lembut. Kulit di bawah telapak tangannya terasa dingin, lebih dingin dari genggaman yang dia ingat.
Kabut hitam menguar, menari mengelilingi Xue Yuan Qing kemudian terpecah ketika kedua mata phoenix sang dewa terbuka. Genggaman tangan keduanya terlepas, Xue Yuan Qing bangun dengan bertumpu pada satu tangan kemudian beranjak dari tempat tidur. Berjalan menuju meja belajar, dia mengambil sesuatu dari sana.
Itu adalah sebuah lonceng giok kecil, terhubung dengan jumbai berwarna tosca.
"Lonceng itu, mengapa aku tidak pernah melihatnya?" Hualing kembali bermonolog kemudian berjalan mendekat, hendak melihat lebih jelas benda di genggaman sang dewa.
Hualing merasa lonceng itu sangat cantik, terbuat dari giok putih yang terhubung dengan jumbai berwarna tosca. Dia tidak bisa menahan keinginan untuk mendekatkan jarinya, menyentuh benda yang terus di perhatikan oleh sang dewa.
"Ah!" Hualing memekik lembut, dengan cepat menarik kembali jarinya. Ada sensasi kejut ketika jarinya bersentuhan dengan lonceng giok itu. Dan seolah tidak memiliki rasa jera, Hualing kembali mengulurkan jari. Kali ini sensasi kejut itu tidak lagi terasa tetapi semua tiba-tiba menjadi hitam.
Peristiwa itu, Hualing ingat dengan benar jika dia seharusnya berdiri di belakang pria itu. Mengikutinya setelah melewati kesengsaraan surgawi. Tapi mengapa dalam peristiwa ini dia tidak melihat dirinya sendiri berdiri di sana?
"Selamat pada dewa perang Xue telah berhasil menciptakan artefak surgawi." kalimat itu di ucapkan bersamaan. Hualing menoleh, melihat para dewa yang berkumpul.
Dia juga dapat mengingat peristiwa ini, tapi artefak surgawi apa yang telah di ciptakan sang dewa?
"Bagaimana dewa perang akan menyebut artefak ini?" sang kaisar langit yang berdiri di barisan terdepan bertanya.
"Lonceng pemecah takdir. Di buat dari giok putih, tanduk naga dan empat inti alam. Di tempa dengan api phoenix dan di sempurnakan oleh sembilan puluh sembilan petir surgawi ungu."
Entah mengapa ketika mendengar kalimat itu, Hualing merasakan kebanggaan tersendiri.
Waktu kembali bergerak, peristiwa berganti. Hualing melihat tuannya memasuki istana dewa perang dengan luka terbuka di beberapa tempat. Begitu pakaian ungu di tanggalkan, ada lebih banyak luka di sana.
__ADS_1
Hualing pun mengingat peristiwa ini. Tuannya baru saja kembali dari perbatasan, di tugaskan untuk menghalau tentara iblis yang mencoba menginvasi. Saat itu dia yang telah menanti kedatangan sang dewa di ambang pintu begitu terkejut. Namun kini, dia tidak melihat dirinya di masa lalu yang berdiri menunggu kedatangan sang dewa.
Hualing mengerutkan kening, bagaimana peristiwa ini berbeda dalam ingatannya?
Dia berbalik dengan pikiran penuh, mengikuti Xue Yuan Qing ke ruang dalam. Dari ambang sekat pembatas, dia melihat tuannya menggenggam erat sebuah benda. Jumbai tosca menggantung, mengayun lembut saat angin bertiup dari jendela yang terbuka.
Dalam ingatannya, yang ada di genggaman dewa perang adalah tangannya dan bukan yang lain.
"Apa yang salah?"Hualing bertanya pada dirinya sendiri. "Mengapa begitu berbeda?" Hualing mundur satu langkah, melihat luka sang dewa perang perlahan pulih dengan kecepatan yang dapat di lihat dengan mata telanjang.
Dia menggelengkan kepala dengan tidak percaya. Apa yang salah dengan ingatannya? Apa yang salah dengan peristiwa ini? Mungkinkah dia tidak melihat masa lalu melainkan membuka ruang waktu yang berbeda?
Hualing mencengkeram rambutnya erat, rasa sakit yang menusuk tiba-tiba terasa di kepalanya. Dia merasa dunianya berputar, dan dingin memeluk tubuhnya. Hualing membuka mata, redup memenuhi pandangan.
Dia masih berada di dalam danau tempatnya terjatuh.
"Uhuk!" Hualing batuk, dadanya terasa sakit. Dia tersedak air.
Cahaya terlihat begitu jauh.
Hualing berusaha menggerakkan kakinya yang terasa berat, sebisa mungkin mendayung ke permukaan. Sesuatu yang terasa dingin menjerat pergelangan kakinya, menariknya semakin ke dasar.
Dia menunduk, sepasang mata merah melihatnya dari kedalaman. Kemudian mengalihkan padangan pada sesuatu di pergelangan kakinya, itu tampak seperti tentakel cumi-cumi berukuran sangat besar.
"Emph!" Hualing tersentak, benda itu menariknya semakin jauh ke dalam. Dia berusaha memobilisasi energi spiritual, hanya untuk merasakan kekosongan.
Sial! Jangan katakan jika benda ini adalah hantu air!
Dia mengumpat berulang kali. Hantu air adalah sebutan untuk binatang iblis yang tinggal di dalam air, berwujud seperti gurita raksasa dengan tentakel seperti cumi-cumi. Lendir yang dia keluarkan dapat menghalangi laju energi spiritual seorang pembudidaya.
__ADS_1