Terlahir Untuk Menghilang

Terlahir Untuk Menghilang
Bab 48


__ADS_3

Chen Qinyang terengah, dia bersandar pada dinding gua yang dingin dan menutup mata.


Tidak di sangka meski terlihat tenang, tapi sungai ini memiliki arus bawah yang kuat. Chen Qinyang harus berjuang selama setengah jam sebelum akhirnya dia dapat naik ke darat, meski dengan penampilan memalukan. Pakaiannya basah kuyup dan rambut hitam menempel di pipi.


Meski fisik seorang pembudidaya lebih kuat dari manusia fana, entah kenapa air sungai ini membuatnya menggigil.


Diantara gigi yang bergemerutuk, dia melakukan mantra sederhana untuk mengeringkan pakaian dan merapikan dirinya.


"Saudari Chen!"


Kedua mata Chen Qinyang yang terpejam seketika terbuka ketika dia mendengar suara akrab yang memanggilnya.


"Saudari Chen!"


Suara akrab itu kembali memanggil. Dengan kelelahan yang masih menggantung di wajah, Chen Qinyang mencoba berdiri.


Rasa dingin merambat dari telapak tangannya yang bertumpu dinding kasar dia abaikan.


"Saudara Liu!" Chen Qinyang menyahut antusias. 'Liu Xing Sheng pasti juga terjatuh ke gua ini!' pikirnya. Chen Qinyang sangat mengenal suara protagonis pria yang dia kejar, jadi tidak mungkin dia salah mengenali dengan dua kali panggilan itu.


'Liu Xing Sheng adalah protagonis! Akan ada harta langka di jalan manapun yang dia lalui. Dan aku sebagai protagonis wanita sudah saatnya untuk tampil!'


Chen Qinyang tidak bisa menahan kegembiraan. Setelah belasan tahun menjadi udara di sekitar protagonis, kini dia akan melambung. Menjelajahi alam rahasia bersama, menyapu harta berharga bersama dan memupuk perasaan.


Chen Qinyang merasa pipinya sangat panas dan kegembiraan luar biasa memenuhi hatinya. Sama sekali melupakan jika pun Liu Xing Sheng juga terjatuh ke gua ini, kecil kemungkinan Liu Xing Sheng dengan tepat memanggil namanya sedangkan keduanya tidak bersua.


Disisi lain alam rahasia, seorang pria muda menyusuri gua gelap nan lembab. Di tangannya terdapat mutiara malam yang memecah gelap dengan cahaya temaram.


Gema langkah memecah keheningan. Begitu ringan, begitu mendebarkan.

__ADS_1


Semakin masuk dia kedalam, bukan kelembapan yang menyapa, melainkan hangat yang merengkuh.


Di kejauhan terdapat setitik cahaya keemasan, Liu Xing Sheng merasa sesuatu yang luar biasa sedang menunggunya di kejauhan.


Dia berjalan lebih cepat, gema berirama seiring langkah yang di ambil. Jantungnya tidak bisa tidak bertalu lebih kencang, mengantisipasi kejutan yang mungkin menunggunya.


Hanya tiga langkah, Liu Xing Sheng tahu dari mana cahaya keemasan itu berasal. Itu adalah empat obor yang di pasang di kedua sisi dinding. Api yang di hasilkan tidak berwarna merah, melainkan emas yang membawa energi murni.


Tiba-tiba gua bergetar. Batu-batu kecil berjatuhan dari langit-langit gua. Pintu batu berukir awan terbuka di kedua sisi, menampakkan ruangan gelap. Satu demi satu obor di dalam ruangan menyala dengan sendirinya, menunjukkan ruangan kosong dengan pilar naga melingkar berwarna emas.


Liu Xing Sheng mencabut pedangnya dan mengambil langkah mendekat. Meski insting mengatakan tidak ada bahaya, tapi kehati-hatian tetap di perlukan.


BAMM!


Suara debaman keras yang di sertai getaran ringan terasa sesaat setelah kedua kakinya memasuki ruangan. Pintu batu yang baru terbuka kini kembali tertutup, seolah menyatu dengan dinding. Liu Xing Sheng semakin waspada, tubuhnya sedikit menegang dan genggaman pada pedangnya semakin erat.


Melihat sekeliling, hanya ada dia di ruang luas ini. Liu Xing Sheng kembali melangkah, empat pilar besar dengan patung naga melingkar menarik perhatiannya. Tampak agung dengan sisik berwarna emas, seolah melihatnya dengan sepasang mata emas yang bangga.


Patung-patung ini tidak hanya terlihat luar biasa, tetapi juga tampak hidup. Seolah mata emas itu selalu mengikuti sosoknya.


Mengabaikan patung naga emas, Liu Xing Sheng kembali melangkah. Kewaspadaan tidal turun, terlebih ketika dia merasakan tatapan intens punggungnya. Dia berbalik cepat, hanya untuk mendapati kekosongan.


Dengan alis bertaut, dia menoleh kebelakang. Jantungnya berdetak kencang, keringat dingin membasahi punggung sementara kedua kaki seolah terpaku.


Dengan sudut mata dia menyaksikan patung naga yang seharusnya melingkari pilar kini menjulurkan badan. Sisik emas tampak lebih memesona seiring gerakan yang lentur.


Hembusan angin hangat menerpa sisi wajahnya. Liu Xing Sheng mengalihkan pandangan ke depan. Patung naga yang melingkar di pilar lain kini menjulurkan kepala, menatapnya dengan mata emas.


...****************...

__ADS_1


Chen Qinyang mengikuti arah suara yang memanggilnya. Lorong yang dia masuki terasa dingin dan lembab. Dia menggosok lengan kanannya dengan telapak kiri beberapa kali untuk mengurangi dingin, sementara telapak tangan kanannya membawa mutiara malam.


"Saudari Chen!"


Suara Liu Xing Sheng yang memanggilnya semakin kencang.


Chen Qinyang mendekat, suara itu seperti teredam. Seolah orang lain berbicara dari balik dinding gua.


Berjalan lebih jauh adalah jalan buntu. Chen Qinyang mengangkat tangan, meraba dinding halus yang tidak seharusnya.


Dia menggeser telapak tangannya dari sisi ke sisi, sebuah pola di ukur di sudut. Mendekatkan mutiara malam, Chen Qinyang menemukan ukiran rumit yang tampak seperti array.


Melihat dari satu sisi ke sisi lain, menyusuri permukaan yang tidak rata. Dia menemukan array ini sedikit tidak asing. Dia memutar otak, menggali ingatan yang terkubur.


"Saudari Chen, tolong aku!"


Suara Liu Xing Sheng terdengar seperti rintihan, seolah yang berbicara sedang dalam kesulitan dan hanya dia yang mampu membantu.


'Dimana aku pernah melihat array ini?' Pikirnya lebih keras. 'Bukankah ini adalah array kuno di buku itu?' Chen Qinyang tidak bisa lebih bahagia dari ini, dia ingat dimana di telah melihatnya.


Itu di jelaskan dalam buku kono yang dia temukan di perpustakaan. Catatan mengenainya tidak lengkap dan hanya terdapat metode untuk membuka array, jadi dia segera mengabaikan buku tersebut.


Namun, siapa sangka buku yang dia lihat sekilas akan mengantarkannya menjadi penyelamat protagonis!


Dengan hati besar dan kegembiraan ekstrim, Chen Qinyang menusuk ujung jarinya dan meneteskan darah di mata formasi. Kemudian memutar ukiran dengan perlahan, menyesuaikan dengan metode yang telah dia baca.


Setelah bunyi 'klik' ringan, Chen Qinyang menghela napas lega. Dia mundur satu langkah ketika suara gemuruh terbuka.


Sedikit demi sedikit celah terbentuk, rasa dingin yang menusuk tulang terasa semakin kuat. Kabut hitam merembes dari celah, tetapi Chen Qinyang terlalu lengah untuk menyadarinya.

__ADS_1


__ADS_2