
Tiga tahun kemudian,
Delapan tahun yang lalu sebelum identitas Yuan Qing sebagai Raja Iblis terpapar, Master sekte awan Melonjak telah membagikan informasi mengenai kemungkinan lokasi reruntuhan surga kesembilan pada Master sekte Langit sebagai penanggung jawab wilayah.
Atas kesepakatan kedua belah pihak, informasi ini di bagaikan pada master sekte lain. Untuk sesaat memicu keributan dan antusiasme.
Beberapa pihak yang tidak sabar berulangkali mengabaikan peringatan dan di telan pintu masuk yang tidak stabil. Setelah sekian banyak pembudidaya yang tidak lagi keluar setelah memasuki pintu, secara bertahap tidak ada lagi orang impulsif yang cari mati.
Masing-masing sekte mengirimkan perwakilan, menjaga pintu bergiliran demi mencegah beberapa pihak yang tidak sabar.
Delapan tahun kemudian, seperti yang telah di perkirakan Hualing. Terdapat kondisi abnormal pada pintu yang telah di jaga, mengejutkan semua murid yang bertugas.
Para penatua setiap sekte berlarian malam itu juga, dengan bulat membawa kembali berita ke sekte. Mengabarkan jika pintu rahasia akan terbuka sepenuhnya kurang dari satu bulan.
Dengan kecepatan tercepat para sekte mengumpulkan murid-murid terbaiknya, sebisa mungkin merebut peluang dengan kuota yang terbatas.
Hualing sebagai satu dari lima murid langsung tuan puncak secara alami mendapatkan kuota ini. Memasuki perahu terbang hanya tiga hari setelah berita keluar, menjadikan sekte Awan Melonjak menjadi yang tercepat mengirim murid.
__ADS_1
Di pimpin oleh Liu Xing Sheng, satu-satunya murid master sekte dan di pandu tuan puncak ketiga, perahu terbang dengan simbol Awan Melonjak bergegas menuju perbatasan antara negara Qi Utara dan Qi Selatan.
Kota perbatasan yang sepi seketika menjadi semarak. Penginapan kecil dan kedai sederhana ramai akan pengunjung. Sosok-sosok luar biasa dan menawan tampak bergerombol dalam empat atau lima anggota. Antusiasme terpancar di sepasang mata mereka, tidak sabar menunggu terbukanya pintu menuju reruntuhan.
Ketika murid lain menebak tentang betapa luar biasanya reruntuhan surga kesembilan, Hualing duduk di dalam kamar penginapan yang sederhana. Di tangannya terdapat sebuah lonceng kecil berwarna ungu sementara tatapan tidak lepas dari benda itu.
"Aku sudah berdiri di sini selama tiga puluh menit dan Ling'er masih mengacuhkan aku."
Hualing mengangkat pandangan pada pria muda yang berdiri di depan jendela yang terbuka. Punggung bersandar pada kunsen sementara kedua tangan terlipat di depan dada. Pria muda itu memiliki wajah menawan yang lembut, berbanding terbalik dengan senyum picik di bibir dan sepasang iris merah.
Pria muda ini tentu saja Yuan Qing yang telah sepenuhnya berubah menjadi Raja iblis. Demi memasuki sisa reruntuhan tanpa menimbulkan keributan, dia telah mengenakan penyamaran yang sempurna.
"Apakah kamu ingat? Delapan tahun yang lalu saat mencari lokasi reruntuhan, kita juga bermalam di kamar ini. Siapa menyangka, delapan tahun kemudian ruangan ini masih menjadi tempat reuni kita setelah lama tidak bertemu." Sepasang tangan kokoh melingkar di pinggang Hualing sementara dagu di tumpukan pada bahu sempit gadis itu.
"Apakah kamu lupa? Kita hanya tidak bertemu selama enam atau tujuh hari selama perjalanan," Hualing berujar dengan bibir mengerucut.
"Tujuh hari adalah waktu yang lama. Apakah kamu tahu? Satu jam tidak melihat Ling'er membuat hatiku gelisah, tidak melihat tujuh hari bisa membuatku gila. Jadi, tidakkah Ling'er akan menghibur kekasihmu yang bersusah hati ini?" Gigitan lembut di telinga Hualing mengakhiri ungkapan tidak tahu malu Yuan Qing. Membuat yang pertama memekik dan kedua telapak tangan menutup mulut.
__ADS_1
Takut jika suara memalukan lolos saat gigitan kecil berubah menjadi jilatan dan hisapan.
...****************...
Sepuluh hari setelah murid sekte Awan Melonjak tiba, bumi bergemuruh; binatang berlarian; langit biru berubah menjadi jingga. Pintu menuju reruntuhan Surga Kesembilan terbuka lebih cepat dari waktu yang telah di perkirakan.
Kota perbatasan yang telah riuh lebih dari sepuluh hari menjadi sunyi kembali saat para pembudidaya memadati hutan perbatasan. Berbondong-bondong melewati mulut gua yang berubah menjadi pintu air yang akan beriak saat di sentuh.
Hualing dan Yuan Qing kembali menjadi yang terdepan saat memasuki alam rahasia. Keduanya telah secara rutin untuk memeriksa dari kejauhan, jadi anomali sekecil apapun tidak akan terlewat.
Seperti saat memasuki makam Yang Mulia abadi Shui Xing, kali ini setiap pembudidaya akan tiba di tempat yang berbeda meski melewati pintu yang sama.
Hualing menengadah, melihat langit biru dengan kombinasi magenta dan vermilion yang menawan. Energi abadi begitu kaya meski tidak sepadat yang dia ingat.
Jika saja tidak ada barisan istana rusak di kejauhan, Hualing akan berpikir jika saat ini adalah masa itu. Saat tuannya masih Dewa perang yang di puja.
Hualing menutup mata sejenak sebelum melangkah. Menyeberangi padang luas dengan bunga kecil di depan dan pohon persik sejauh mata memandang di belakang.
__ADS_1
Jika dia tidak salah, hutan persik dan bangunan setengah hancur di belakang seharusnya adalah istana Dewa Keabadian. Dan bangunan rusak di seberang padang luas ini adalah Istana Dewa bintang, setelahnya adalah istana Dewa perang.
Tanpa banyak pertimbangan, Hualing bergerak maju. Hanya untuk terkejut menyadari tubuhnya terasa jauh lebih ringan. Bergerak lincah seorang mengendarai angin.