
Karena insiden energi iblis yang mengeringkan sebagian puncak bambu hijau, pengujian kembali di lanjutkan. Hasilnya adalah beberapa murid tercemar oleh energi iblis, beberapa mendalami budidaya iblis. Namun, diantara temuan tersebut tidak ada satupun yang memiliki energi iblis murni layaknya yang tertinggal di area yang mengering.
Utusan sekte Langit kembali dengan hasil mengejutkan.
Tuan puncak ke-lima, Zhou Xin kehabisan usia di penjara bawah tanah sekte Awan melonjak sementara Zhou Liangyi yang telah kehilangan kemanusiaan di belenggu dengan rantai akar mawar untuk mencegahnya melarikan diri.
Tuan puncak ke-lima telah kehabisan usia dan tuan muda puncak menjadi setengah iblis. Posisi tuan puncak ke-lima kosong, Master sekte menunjuk murid kedua Zhou Xin sebagai penerus. Memimpin puncak ke-lima dalam membersihkan kekacauan tuan puncak sebelumnya.
Satu minggu setelahnya dan bulan berganti. Hualing kembali pada tugasnya melakukan pengiriman batu roh pada setiap puncak. Untuk kali ini, Yuan Qing yang menjadi ekor besarnya tidak mengikuti. Pria itu sedang mengasingkan diri di hutan binatang iblis untuk menstabilkan budidayanya.
"Ini tidak akan berhasil. Bagaimanapun aku adalah gurumu dan perilaku ini menyalahi moral!" Hualing selalu memiliki pendengaran yang sangat baik, terlebih ruang belajar master sekte selalu sunyi. Para murid hanya berjaga di pintu melengkung yang sedikit jauh. Suara tadi tidak salah lagi adalah suara Zhang Junqing
"Tapi aku tidak hanya ingin menjadi muridmu," kali ini yang menjawab adalah seorang pria. Suara itu seharusnya milik Liu Xing Sheng.
"Liu Xing Sheng, lupakan semuanya. Yang kamu rasakan bukan cinta, hanya kekaguman pada sosok yang telah menyelamatkanmu." Suara Zhang Junqing kembali terdengar.
"Junqing, aku bukan bocah lima belas tahun yang masih tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan." Liu Xing Sheng menjawab, ada kegigihan dalam nada suaranya.
"Ini tidak benar. Kamu adalah putra takdir yang akan membuka tangga abadi. Apa yang akan generasi mendatang katakan jika?" Zhang Junqing masih berusaha merendahkan suaranya, mencoba menahan dadanya yang terasa sesak.
"Aku sama sekali tidak peduli dengan generasi mendatang. Lagi pula hak apa yang di miliki generasi mendatang untuk ikut campur dalam urusan pribadi kita. Junqing, sudah lebih dari tujuh tahun. Masihkah kamu tidak percaya pada perasaanku?" Hualing dapat mendengar permohonan di kalimat terakhir.
Zhang Junqing :"Lancang! Liu Xing Sheng, tampaknya aku terlalu memanjakan kamu selama ini."
"Junqing," suara Liu Xing Sheng masih dengan permohonan.
"Lancang! Kamu harus memanggilku guru!" Kali ini Hualing dapat mendengar tabrakan benda keras, "Tidak menghormati guru, salin etiket sekte lima ratus kali. Inti emas juga belum stabil, begitu kembali segera lakukan budidaya tertutup." lanjutnya.
Hualing mendengar langkah kaki mendekat dari dalam ruangan, pintu terbuka dengan kasar. Liu Xing Sheng keluar dengan wajah hitam, tampak terkejut dengan kehadiran Hualing di bawah undakan.
"Bibi beladiri Xue," meski dalam kemarahan, Liu Xing Sheng tidak lupa dengan kesopanan. Dia memberi hormat yang tepat kemudian berlalu pergi setelah berpamitan singkat.
__ADS_1
Hualing mengikuti arah kepergian Liu Xing Sheng, melihat bagaimana sosok itu semakin mengecil seiring bertambahnya jarak kemudian dia berbalik. "Saudari senior Zhang, Hualing datang untuk mengirim batu roh." ucapnya lantang di depan pintu yang tertutup. Tanpa penundaan dia membuka pintu, dan masuk ke dalam ruangan begitu Zhang Junqing mengijinkan.
"Sungguh memalukan membuat saudari junior mendengar lelucon." Master sekte yang selalu tampil elegan dan berbudi luhur kini tampak kuyu dengan lingkaran hitam di bawah mata.
Hualing tidak tahu apakah itu karena masalah di sekte baru-baru ini atau tentang persoalan lain.
"Itu Hualing yang tidak sopan karena mendengarkan percakapan pribadi." Hualing berujar dengan mata yang menatap lurus pada sang Master sekte, membuat yang di lihat memiliki wajah merah seolah rahasianya pribadinya terbuka.
"Ehem! Batu roh yang di kirimkan," Zhang Junqing berdehem canggung kemudian mengalihkan pembicaraan mengenai tujuan Hualing.
"Ada di sini," ujar Hualing kemudian mengeluarkan sekantung batu roh dari ruang penyimpanannya. Meletakkan di atas meja kerja master sekte, mendorongnya lebih dekat ketika dia merasa jarak dia meletakkan terlalu jauh.
"Barang telah di kirim, Hualing pamit untuk pengiriman ke puncak lain." Tanpa menunggu tanggapan Zhang Junqing, Hualing segera berpamitan. Dia hendak berbalik ketika suara Zhang Junqing jatuh, mencegahnya untuk pergi.
"Tunggu saudari Hualing, itu aku-aku!" Zhang Junqing memiliki kulit yang sangat putih, jadi semburat setipis apapun pasti akan terlihat. Seperti saat ini, wajahnya hampir tidak berbeda dengan tomat matang. Merona hingga telinga.
Hualing melihat Zhang Junqing dengan bingung, ada tebakan samar di hatinya. Wajah Zhang Junqing saat ini, tidak berbeda dengan wajahnya saat dia memikirkan Yuan Qing. Di depan cermin perunggu, dia melihat wajahnya memerah hingga leher dengan jantung yang berdetak kencang.
Sikap Zhang Junqing ini, sungguh tidak biasa. Master sekte yang berwibawa dan terpisah kini tampak canggung karena sebuah pernyataan cinta.
"Aku tidak bisa menjawabnya. Tapi menurut Hualing, jika suka maka bersama dan jika tidak hanya akan menumbuhkan kebencian. Hubungan saudari tentu saudari yang menjalani, apa hubungannya dengan generasi mendatang? Selama itu tidak merugikan pihak lain, aku tidak berpikir ada masalah di sana. Dalam penglihatanku Liu Xing Sheng akan membuka tangga langit, dan jika saudari ingin membantunya maka itu bukan masalah. Saudari tidak berhutang untuk orang lain, jadi apa hubungannya dengan orang lain?" mengucapkan kalimat panjang ini, Hualing teringat oleh Yuan Qing. Dia dapat mengatakan kata berbunga-bunga ini pada saudari seniornya, tapi dia tidak berani mengakui perasaannya sendiri.
Berbicara memang tidak semudah menjalani.
"Jika tidak ada lagi yang akan di tanyakan, Hualing pamit." Tanpa menunggu tanggapan Zhang Junqing, Hualing memberi hormat kemudian beranjak pergi. Ucapan 'terimakasih dan aku mengerti' sayup-sayup terdengar saat dia menutup pintu.
Hualing menghela napas kemudian menengadah, melihat langit biru dan awan tipis jauh di atas sana. "Pada akhirnya situasi saudari senior sama dengan yang aku rasakan." bisiknya lirih. Jika perasaan Zhang Junqing terhalang hubungan guru dan murid, maka perasaan terhalang status tuan dan pelayan.
Meski Yuan Qing menolak mengakui jika dirinya adalah inkarnasi Dewa perang, tapi ingatannya tidak.
Dan mengenai ingatannya, "Tampaknya harus memastikan kebenaran ingatanku," dia kembali berbisik kemudian berjalan pergi, pergi ke puncak selanjutnya untuk pengiriman batu roh dan hanya kembali di siang hari.
__ADS_1
Melewati jalan setapak, Hualing melihat sisa-sisa pohon kering yang telah dimurnikan dari energi iblis. Dia menghela nafas, 'tampaknya aku harus kembali mengingatkan ah Qing untuk tidak menggunakan energi iblisnya di dalam sekte.' pikirnya lelah.
Diantara semua halaman murid langsung tuan puncak, ada dua halaman yang terlihat hidup dengan bunga peony dan pohon persik di dalamnya. Satu adalah milik Hualing dan satu lagi adalah milik Xie Shaosheng.
Ada kalanya Hualing berpikir jika Xie Shaosheng pastilah dulunya berasal dari keluarga bangsawan, melihat bagaimana selera dekorasi pria itu yang elegan.
Melewati halaman Xie Shaosheng, Hualing melihat bunga lonceng berwarna biru mengintip dari balik pagar rendah. Saudara senior Xie Shaosheng tampaknya mendapatkan bunga baru di halaman. Memperluas jarak pandang, dia melihat sang pemilik halaman sedang memegang kuas di bawah naungan pohon persik yang rindang.
"Saudara Shaosheng, apa yang kamu lakukan?" tanyanya begitu melewati pintu, menyeberangi halaman penuh bunga.
"Adik kecil, kamu di sini. Hanya melukis beberapa hal." jawabnya menengadah sejenak kemudian kembali fokus pada goresan tinta di atas kertas putih.
Hualing mendekat, berdiri di samping Shaosheng yang duduk di meja rendah. Melihat bagaimana tangan saudara seniornya itu menari dengan sapuan elegan dan luwes.
"Lukisan saudara Shaosheng sangat indah." Hualing memuji sembari mendudukkan dirinya sendiri di samping Xie Shaosheng, membantu saudara seniornya itu menggiling tinta.
"Adik kecil sangat pandai memuji. Sebenarnya aku melihat pemandangan ini di dalam mimpiku, meski sudah beberapa hari aku masih tidak bisa melupakannya." Shaosheng menjawab tanpa mengalihkan pandangan.
"Mimpi seperti apa hingga saudara tidak dapat melupakannya?" tanyanya dengan seulas senyum. Dia meregangkan lehernya, mencoba melihat lukisan yang mulai menunjukkan gambarannya.
Sebuah bangunan megah dengan atap yang rusak dan sesuatu yang terlihat seperti awan menggulung.
'Kenapa lukisan ini tidak asing?' tanyanya di dalam pikiran. Hualing menghentikan aktivitasnya menggiling tinta, melihat dengan seksama gerakan tangan Shaosheng.
Beberapa garis di tarik acak dari gambar awan, membentuk retakan yang bercabang menuju atap yang hancur.
'KLAK!'
Tinta di tangannya patah menjadi dua, belah bibirnya terbuka dengan raut wajah ngeri. Peristiwa dalam lukisan Xie Shaosheng tentu tidak asing.
Bangunan di dalam lukisan itu adalah bangunan istana dewa perang di surga kesembilan, dan peristiwa yang digambarkan adalah saat guntur surgawi terpicu karena lahirnya Lonceng pemecah takdir.
__ADS_1