
Di kedalaman lembah iblis, berdiri bangunan megah yang di dominasi warna hitam dan merah. Energi iblis yang membentuk kabut hitam mengelilingi bagian luar, melekatkan gambaran gelap yang jahat.
Suara kepakan sayap gagak terdengar sayup-sayup, sementara sepasang mata merahnya tersembunyi di lubang pohon mati.
Berbeda dengan keheningan mencekam di luar bangunan, aula luas di dalam bangunan diliputi udara sedingin es yang menusuk tulang. Empat pria berpakaian gelap berdiri berjajar dengan pandangan lurus pada ubin abu-abu. Sesekali dari mereka melihat pria yang berdiri di platform dengan hati-hati, mencoba menebak suasana hati dari tampilan dingin namun indah itu.
Jika dia tidak mengetahui siapa sebenarnya pria ini, dia pasti akan berpikir bahwa pria ini adalah seorang tuan muda bangsawan di dunia sekuler, atau mungkin abadi tertentu yang tak tersentuh debu fana.
Setiap melihat penampilan orang itu, mereka tidak dapat menahan untuk menghela napas kagum. Dan setiap mengingat bagaimana pria itu mendaki platform yang di sediakan untuk pemimpin, dingin seketika merayapi punggung.
Darah pemimpin iblis sebelumnya dan ribuan pembudidaya yang menentangnya tertumpah oleh tangan yang tampak tidak berbahaya itu.
"Yang Mulia, para pembudidaya telah mengepung lembah iblis selama beberapa hari, tapi tidak juga menunjukkan gerak gerik untuk menyerang. Takutnya ada skema tersembunyi dibalik ini."
"Menurut kalian, apa yang harus dilakukan?" Yuan Qing yang berdiri di atas platform bertanya tanpa minat.
"Menyerang selagi musuh tidak siap adalah yang terbaik." Pembudidaya iblis yang pertama buka suara menjawab dengan lugas.
__ADS_1
"Bukankah kamu mengatakan adanya skema tersembunyi? Bagiamana jika orang-orang itu memang menunggu kami bergerak kemudian memberikan pukulan fatal?" Yang lain menyanggah.
"Itu benar! Lebih baik menunggu mereka bergerak dan membalik keadaan!" Suara persetujuan lain menggema di ruang luas itu.
"Kita adalah pembudidaya iblis, untuk apa semua kejujuran itu! Seharusnya serang ketika musuh tidak siap!"
Mendengar argumen bersahut, Yuan Qing melihat para tetua sekte iblis dengan bosan. Mengambil satu langkah mundur, kemudian menjatuhkan di atas kursi pemimpin. Tanpa tergesa dia mengeluarkan token komunikasi, mengelusnya beberapa kali sementara raut bosannya berubah menjadi kekhawatiran.
Sejak ekspedisi pengepungan lembah iblis digalakkan, dia tidak lagi dapat menghubungi Hualing. Meski dia mengetahui dengan jelas kemampuan kekasihnya itu, tapi identitas Hualing tetap menumbuhkan kekhawatiran.
Dia sungguh ingin menerjang para pembudidaya itu saat ini, mengambil kekasihnya diantara kerumunan dan menempatkannya dalam pandangan.
Namun, sebelum dia sempat merealisasikan keinginan impulsifnya, hangat merayap dari benda di genggaman tangan. Yuan Qing membuka mata seketika, token komunikasi yang telah terdiam selama beberapa hari kini bersinar dengan merah temaram. Warnanya begitu mencolok di istana iblis yang gelap, begitu mencolok hingga sanggup menarik perhatian empat tetua iblis yang masih berdebat.
"Ling'er," Yuan Qing menyapa dengan sukacita, yang membuat para tetua saling memandang dengan bingung. Kedua sudut bibir tertarik keluar membentuk busur, sementara mata yang selalu memandang tajam itu telah melembut beberapa tingkat. Meninggalkan kesan iblis kejam pada ingatan para tetua di tengah aula.
"Ling'er,"
__ADS_1
Empat tetua bergidik ngeri. Mereka adalah yang tertinggi diantara para pembudidaya iblis, bawahan langsung yang Mulia Raja Iblis. Akan aneh jika mereka tidak dapat mendengar nama yang terucap lembut dari bibir Yang Mulia, terlebih lagi ketika pimpinan lembah iblis tersebut sama sekali tidak menahan suaranya.
"Ling'er,"
Ketiga kali mendengar nama tersebut di sebutkan, mereka masih bergidik. Tentu bukan karena nama yang disebutkan, melainkan cara Sang Raja menyebut nama itu.
Ada keluhan, ketidakpuasan dan sedikit menyalahkan. Seperti rengekan budak cinta yang diabaikan sang kekasih.
"Yuan Qing,"
Empat tetua kali ini di suguhkan betapa cepatnya Sang Raja Iblis untuk membalik ekspresi. Raut yang tadinya lembut seketika mengeras.
Nama yang di sebutkan Sang Raja seharusnya adalah nama seorang wanita, tapi suara di seberang jelas adalah seorang pria.
Keempatnya saling melihat dengan kilatan gosip di mata. Masing-masing tahu apa yang dipikirkan pihak lain tanpa membuka mulut.
Mungkinkah Raja mereka memiliki kisah asmara tak terbalas dan pihak lain telah memilih kekasih lain, sehingga gadis itu membiarkan prianya untuk menjawab panggilan Sang Raja?
__ADS_1