
Han Siyu merasa pendengarannya bermasalah, kemudian melihat Xie Shaosheng di sampingnya. Dia tahu benar, junior ketiganya ini bukan tipe orang yang suka bermain-main. Terlebih tentang hal besar seperti ini.
Jadi, ucapan Xie Shaosheng seharusnya benar.
"Yuan Qing ini, sungguh emosional."
Xie Shaosheng terdiam mendengar komentar Han Siyu. Emosional sungguh kata yang tepat. Dibandingkan menang atau kalah, Yuan Qing lebih mengandalkan emosinya saat berhadapan dengan Hualing. Alih-alih
.
Untuk sampai di tingkat ini, Yuan Qing telah menelan ribuan roh jahat di dalam jurang iblis. Hari-harinya penuh dengan rasa sakit oleh daging yang tercabik dan jiwa yang di koyak. Tidak satu hari pun dia melewati hari yang menyenangkan.
Namun, meski berulangkali tekadnya menipis, Hualing yang muncul dalam ingatannya akan mempertebal dinding tekad yang di ambang hancur.
Ada kalanya di ambang kesadaran, di akan memimpikan beberapa hal secara berulang.
Dalam mimpi itu, Dia berdiri di depan cermin es. Seorang pria dengan penampilan yang dia kenal, tetapi asing terpantul di permukaan cermin.
Mata phoenix, jembatan hidung tinggi dan rahang tegas. Tatapannya sedingin es dengan aura abadi yang tidak tersamarkan.
Penampilan yang sama dengan miliknya, tapi Yuan Qing tahu itu bukan dia.
Dewa perang Xue, Xue Yuan Qing.
Itu pasti dia. Karena di dunia ini tidak ada seorangpun dengan penampilan serupa dengannya kecuali pria itu.
Yuan Qing merasa mimpi itu adalah mimpi terpanjang di dalam hidupnya. Di dalam mimpi, dia melihat dengan mata pria itu, menyentuh dengan tangan pria itu, tapi semua tidak dalam kendalinya. Dengan kata lain, dia hanya seutas jiwa yang bersembunyi di dalam kesadaran Sang Dewa.
Dia melihat bagaimana Dewa Perang Xue dalam legenda menyelesaikan laporan setiap hari, pergi ke pengadilan surgawi setiap dua hari, berpatroli di perbatasan wilayah surgawi setiap lima hari dan sesekali melalui pertarungan besar.
Tampaknya menjadi seorang Dewa juga melelahkan.
Namun, diantara semua bagian mimpi itu, ada satu bagian yang Yuan Qing tidak pernah lupakan. Itu adalah satu-satunya waktu Xue Yuan Qing menelan kerugian dalam pertarungannya.
__ADS_1
Tanpa minat Yuan Qing melihat sang Dewa memasuki ruangannya, menanggalkan baju besi dan jubahnya kemudian memerintahkan seorang pelayan Dewa air panas dengan kain bersih.
Yuan Qing masih ingat betapa buruk luka itu. Cukup buruk hingga membuat pelayan Dewa gemetar. Meski tidak melukai organ dalam, tapi akan membutuhkan banyak waktu dan usaha untuk membuatnya pulih.
Xue Yuan Qing mengusap tepi luka tanpa perubahan raut wajah, seolah yang dia bersihkan hanya luka kecil di ujung jari alih-alih sayatan memanjang dari dada hingga perut. Melihat ini, Yuan Qing merasa ketahanan Dewa ini terhadap rasa sakit tidak lebih buruk darinya.
Benar-benar tidak buruk.
Setelah membersihkan luka dengan ala kadarnya, Xue Yuan Qing melemparkan kain yang ternoda itu kembali ke bejana, mewarnai air jernih itu menjadi merah menyilaukan.
Sudut pandangnya berubah saat Sang Dewa beranjak menuju meja belajar dan meraih kotak giok dengan ukiran rumit diantara barang yang tertata rapi, kemudian membawanya ke tempat tidur berukir.
Kotak giok di buka dengan formasi tertentu, dan tampak sebuah lonceng giok beristirahat didalamnya.
Xue Yuan Qing meraih lonceng itu dengan hati-hati, kemudian duduk dalam posisi lotus dengan lonceng giok di tangan kanan.
Untuk sesaat Yuan Qing berpikir dia berhalusinasi.
Energi spiritual berputar di sekitar genggaman Xue Yuan Qing, menggosok ringan tangan Sang Dewa seperti kucing kecil yang meminta perhatian. Setelah dua putaran, energi spiritual itu mengembun membentuk sosok yang dia kenal betul.
Dia tidak mungkin salah mengira.
Jika beberapa saat lalu hanya bayangan samar, maka saat ini sosok Hualing layaknya entitas lengkap dengan kedua tangan berada di genggaman Sang Dewa perang.
Melihat tangan yang bertaut itu, seketika raut Yuan Qing menjadi tidak sedap di pandang. Mulutnya terasa asam, sedang tatapannya setajam pedang.
Jika dia tidak salah menebak, lonceng giok di genggaman Xue Yuan Qing seharusnya adalah Lonceng Pemecahan Takdir.
Bentul aali Hualing.
"Yang Mulia!"
Dari sudut pandang ini, Yuan Qing melihat dengan jelas perubahan raut Hualing. Dari bahagia menjadi sedih, dari ceria menjadi tertekan.
__ADS_1
Dan itu bukan karena dia.
Yuan Qing merasa lebih asam.
Meski berulangkali kali meyakinkan dirinya bahwa dia dan Sang Dewa adalah eksistensi yang sama, rasa asam itu enggan hilang.
Yuan Qing melihat kembali tangan yang bertaut. Tatapannya begitu tajam, seolah ingin mencabik tangan yang lebih kokoh itu. Walau dia tahu kedua tangan itu bertaut karena Lonceng Pemecah Takdir dan sebagai kesadaran yang baru terbentuk, Hualing tidak dapat memisahkan diri dari bentuk aslinya.
"Maafkan aku. Itu karena aku tidak berguna, tidak dapat melindungi Yang Mulia."
Suara penuh rasa bersalah Hualing menarik kembali perhatiannya. Dia melihat sepasang mata yang dia sukai. Ada binar berbeda ketika mata itu melihat Xue Yuan Qing. Seperti melihat seorang penatua, atau mungkin seperti melihat junjungannya. Setiap percikan adalah kekaguman pada eksistensi yang lebih superior, alih-alih binar lembut dan malu-malu yang sering di lihat.
Yaun Qing memalingkan wajah, sedikit malu karena cemburu pada dirinya di masa lalu.
Tampa sengaja pandangannya menyapu pada luka terbuka Xue Yuan Qing, seketika keningnya berkerut.
Luka itu menutup dengan kecepatan yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Jika saja tidak ada bekas noda berdarah, Yuan Qing mungkin akan berpikir luka terbuka itu tidak pernah ada.
"Yang Mulia, jangan terluka lagi." Hualing berkata dengan kelelahan yang tidak wajar.
Perasaan Yuan Qing menegang. Dia melihat bolak balik pada jejak luka merah muda Sang Dewa dan Hualing yang sosoknya kini memudar.
Akhirnya dia tahu mengapa Kaisar iblis memilih peperangan dan menghancurkan kedamaian palsu ribuan tahun demi mendapatkan artefak surgawi.
Memutar kembali waktu.
Godaan yang di bawa oleh Lonceng Pemecah Takdir terlalu besar.
Meski para Dewa disebut Abadi, mereka tidaklah tanpa kematian. Mungkin di tingkat budidaya yang tinggi mereka dapat menampilkan penampilan muda, tapi tidak dapat di pungkiri bagian dalam akan perlahan membusuk mendekati usia akhir. Belum lagi luka dalam yang menggerogoti dari pertempuran yang hampir tanpa akhir.
Memiliki Lonceng Pemecah Takdir setara dengan memiliki nyawa cadangan yang tidak pernah habis.
Dan ketika pikirannya tertarik ingatan masa lalu, Yuan Qing tidak menyadari petir surgawi ungu meliuk tepat diatasnya.
__ADS_1
Hanya setelah sengatan mati rasa menjalar di sekujur tubuhnya, dia memikirkan satu kalimat.
Berperang melawan kekasihmu sendiri adalah bencana yang sesungguhnya.