Terlahir Untuk Menghilang

Terlahir Untuk Menghilang
Bab 55


__ADS_3

Xie Shaosheng terdiam, bohong jika dia mengatakan tidak tertarik. Namun, ada batu besar yang mengganjal jauh di dalam hati, menciutkan keberaniannya.


Seperti melihat keraguan Xie Shaosheng, Hualing tidak mendesak lebih jauh. Dia mengambil kembali lonceng kecil tersebut, menyimpannya dengan hati-hati di dalam kantong brokat sebelum memasukkannya kedalam cincin ruang, "Ling'er tidak akan mendesak, ingin atau tidak semua adalah keputusan saudara ketiga."


Dari samping Xie Shaosheng melihat tindakan itu, ada keengganan di dalam hatinya, seperti dia telah menemukan belahan jiwanya kemudian kembali terpisah. Bahkan, untuk sekejap dia berpikir menggunakan kekerasan untuk mengambil kembali lonceng kecil itu.


Tampaknya, apapun hubungannya dengan lonceng itu, itu bukanlah hubungan yang dangkal. Kedua tangan yang terkepal erat di samping tubuh perlahan direnggangkan, jadi bagaimana jika itu bukan hubungan yang dangkal? Dia telah memutuskan untuk melepaskannya.


"Kapanpun saudara ketiga ingin mengetahuinya, Ling'er tidak akan membunyikan." Hualing berkata sambil lalu sebelum berhenti setelah lima langkah, dia berbalik, melihat Xie Shaosheng dengan seratus dua puluh poin rasa terimakasih dan dan seratus poin kelembutan.


"Mungkin sudah sangat terlambat jika mengatakannya sekarang, tapi Ling'er sangat berterimakasih atas bantuan saudara ketiga. Tanpa saudara ketiga, mungkin tidak ada Ling'er." ujarnya kemudian berlalu pergi sebelum Xie Shaosheng mengerti untuk apa rasa terimakasih itu.

__ADS_1


Halaman Xie Shaosheng di sebut Xiang Lanhua, letaknya tepat di sisi lain kebun herbal. Seperti namanya, halaman di tumbuhi bunga anggrek berbagai warna. Aroma harum itu sedikit memenangkan Xie Shaosheng yang sedang kalut. Dia duduk di halaman, di bawah pohon rindang di antara bunga-bunga. Sosoknya yang mempesona tampak seperti lukisan hidup, menyihir semua mata.


Sebagai murid sekte besar, waktu bagi Xie Shaosheng untuk mencari pengalaman tiba beberapa dekade lalu. Meskipun dia seorang pria, tapi penampilannya sungguh menipu dengan wajah feminim dan kulit putih lembut. Seperti nona kaya yang berpakaian sebagai pria, meski cukup tinggi, tapi pakaian yang dia kenakan tidak dapat menutupi kecantikannya. Acap kali dia harus menghadapi beberapa pihak yang haus akan kecantikan, tapi tidak memiliki mata. Dari serangan diam-diam dengan obat hingga pemaksaan dengan kekerasan, semua telah dia lalui. Untuk dapat menjadi murid ketiga Cao Ping, satu-satunya leluhur memecah kekosongan, bakatnya bukanlah sekedar omong kosong. Diantara semua pengejar gelap itu, tidak ada yang tidak pernah merasakan tebasan pedangnya. Dia memukuli orang-orang itu hingga bahkan ibunya tidak akan mengenalinya lagi.


Hanya setelah berulang kali kegagalan, orang-orang itu belajar untuk tidak memprovokasinya. Tidak lagi menganggapnya seperti kelinci putih kecil yang rapuh. Namun, meski kemampuannya telah tersebar di sepenjuru, ada beberapa orang gigih yang enggan menyerah.


Dan kini, jika saja para pengejar itu melihat pemandangan saat ini, pengejaran mereka mungkin akan lebih membabi buta. Seorang pria muda dengan wajah feminim yang lebih cantik dari wanita, menopang wajah dengan satu tangan dan siku bertumpu meja batu. Matanya yang indah terkulai malas sedangkan bibirnya sedikit cemberut. Bunga berwarna-warni dan rumput hijau menjadi latar, angin sepoi-sepoi sebagai pelengkap. Sungguh tidak akan ada seorangpun yang tidak terperangkap dalam keindahan.


Sekelebat ingatan menyentaknya, dengan wajah kalut dia berdiri dan berjalan cepat kedalam rumah kayu. Sebuah lukisan di gantung di sisi samping, menampakkan bangunan megah dengan sebagian atap roboh, awan bergulung dan petir menyambar.


Ling'er mengatakan jika peristiwa dalam lukisan ini telah terjadi ribuan tahun lalu saat Dewa perang menciptakan Lonceng pemecah takdir. Namun, bagaimana hal yang dia lihat dalam mimpinya adalah peristiwa luar biasa yang tidak terjangkau ini?

__ADS_1


Xie Shaosheng mengulurkan tangan, menelusuri guratan petir ungu dengan ujung jarinya. Ada rasa menyesakkan di dalam dada, seperti rasa takut yang terpatri kuat di dalam tulang. Seolah dia telah merasakan keganasan petir kesusahan ungu yang melegenda.


Dalam buku-buku kuno di sebutkan, sementara seorang berkultivasi hendak naik dan menjadi Dewa, dia akan di hadang sembilan sambaran petir ungu dan jembatan surga akan terbentuk setelahnya. Ketika seorang Dewa hendak naik tingkat, petir kesusahan surgawi ungu akan menjadi ujian yang menanti. Semakin tinggi level Dewa, semakin banyak serangan yang akan dia terima.


Tapi kini, Xie Shaosheng yang merupakan manusia, entah mengapa dapat merasakan kengerian itu jauh di dalam jiwanya. Seperti pengalaman yang tidak terlupakan.


Sebuah lonceng kecil muncul di dalam pikirannya. Hualing mengatakan, lonceng itu telah menerima beberapa serangan petir kesusahan surgawi ungu. Mungkinkah?


Raut ngeri tampak di wajah menawan Xie Shaosheng ketika tebakan gila terlintas di pikirannya. Cukup gila untuk mengacaukan perasaannya.


Bagaimana sebuah benda menjadi manusia hidup?

__ADS_1


__ADS_2