Terlahir Untuk Menghilang

Terlahir Untuk Menghilang
Bab 52


__ADS_3

Liu Xing Sheng terbaring di aula luas. Sudut bibir mengalirkan darah, seluruh kulit memerah terasa seperti melepuh. Tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak terasa sakit, dari tulang yang di patahkan kemudian di susun kembali hingga meridian yang di paksa melebar untuk menampung energi naga.


Dia menatap langit-langit tinggi dengan pandangan kosong, tidak lagi mengingat berapa lama dia terbaring dalam posisi ini. Saat itu, ketika patung naga menjadi hidup dan energi tirani membanjirinya, dia pikir dia pasti mati. Namun, hal yang dia pikirkan sama sekali tidak terjadi, sebaliknya fisiknya kini di perkuat dan bakat bawaannya meningkat. Seolah seperti terlahir kembali.


Empat naga itu tidak meninggalkan informasi apapun, hanya beberapa kalimat yang tidak dia mengerti asal dan ujungnya. Karena bagaimanapun dia berpikir, dia tidak dapat mengingat naga-naga ini.


Liu Xing Sheng memejamkan mata, rasa sakit itu mulai mereda digantikan kenyamanan. Seluruh tubuhnya terasa segar, hingga seolah semua rasa sakit yang dia alami beberapa jam kebelakang hanya mimpi buruk, jika saja ketidaknyamanan itu tidak sesekali dia rasakan.


Dia menghela nafas, apapun yang dia alami kini merupakan keberuntungan. Tidak ada ada alasan untuk menyesali. Anggap semua merupakan keuntungan yang dia dapat dari perjalanan ini.


Kelelahan berangsur membanjiri. Berbaring di ruangan dan hening, tapi terasa aman membuat kantuk melanda. Belum lagi tubuhnya yang terasa lelah. Ketika kantuk semakin dalam dan kesadaran memudar, sebuah pemikiran melintas di benaknya, 'apakah Xiao Qing akan mendapatkan keberuntungan sepertinya?'


Yuan Qing berjalan diantara pepohonan seperti dalam ingatan, tapi masih belum menemukan tempat pedang iblis tersegel sementara waktu janji temu dengan Hualing semakin dekat.


Yuan Qing melihat sekeliling dengan waspada, mengantisipasi datangnya binatang buas yang terusik atau mungkin pembudidaya dengan niat bengkok.

__ADS_1


Langkahnya membawanya masuk ke kedalaman hutan, energi iblis yang pekat mulai terasa. Sudut bibir Yuan Qing melengkung, tampaknya benda yang dia cari akan segera dia dapatkan.


Yuan Qing mempercepat langkah, mengikuti energi iblis di udara. Langkahnya terhenti di tepi tebing, melihat ke bawah adalah jurang gelap seolah tak berujung. Energi iblis menguar padat darinya, seperti tanah ini merupakan tanah para iblis, alih-alih sisa-sisa surga kesembilan.


Lengkungan di bibir Yuan Qing semakin lebar, tanpa keraguan dia melompat. Energi iblis yang tirani pecah, melindungi dirinya dari energi jurang iblis dalam pusaran cepat.


Ujung jubah hitam berpinggang sempit miliknya berkibar, surai sewarna tinta yang di tahan dengan mahkota giok hitam dengan permata scarlet menari di udara.


Pedang pemberian Hualing yang telah menemaninya selama bertahun-tahun terhunus kemudian memotong udara, menyebarkan energi gelap. Menghentikan kejatuhan yang seolah tidak ada habisnya.


Tidak berbeda dengan jurang tempatnya melompat, ruangan inipun penuh dengan energi iblis. Dan jika di perhatikan lebih lanjut, semua energi iblis ini bersumber dari pedang yang terlihat lusuh itu.


Yuan Qing mendekat tanpa tergesa, pedang hitam legam berdengung. Seperti menolak kedatangan orang lain di tempat itu. Energi iblis pekat menguar dari pedang iblis, mencambuk liar. Yuan Qing membalas dengan cara yang sama, dua energi iblis mencambuk.


"Masih sangat keras kepala," Yuan Qing mencibir. Langkahnya menyempit, dia hanya perlu mengulurkan tangan dan pedang itu berada dalam genggaman.

__ADS_1


Energi ilblis dari pedang hitam menguar semakin kuat, mencoba memukul mundur Yuan Qing.


Pedang ramping menebas udara, membawa energi iblis yang lebih pekat. Kabut hitam di dalam ruangan memudar, pedang hitam legam berhenti mendengung. Ruangan jatuh dalam kesunyian, Yuan Qing mengulurkan tangan. Gagang pedang legam terasa dingin, teriakan melengking bergema di dalam kepalanya.


Ini adalah teriakan jiwa-jiwa yang mati di bawah pedang iblis.


Begitu penuh dendam, begitu mencekam.


Suara dentang bergema di ruang kosong, pedang ramping milik Hualing terjatuh dari genggaman. Yuan Qing menutup mata erat, satu langkah mundur dia ambil tanpa di sadari.


Pekikan melengking itu masih berlanjut bersamaan raungan kemarahan. Seolah jiwa-jiwa itu mendapatkan objek pembalasan dendam, mencoba mencabik kesadaran Yuan Qing dan mengoyak jiwanya.


Yuan Qing mencibir rendah, jiwa-jiwa ini telah terperangkap di dalam pedang iblis selama puluhan ribu tahun hingga melupakan diri mereka sendiri dan hanya mengingat dendam. Sama sekali melupakan tempat mereka terpenjara merupakan alat yang telah memanen jiwa mereka. Dan pedang iblis, dengan senang hati menampung keluhan itu. Menggunakan jiwa-jiwa marah untuk mengendalikan tuan baru, membuat tuan baru memanen jiwa-jiwa marah yang lebih banyak untuknya.


Hualing membuka mata, dia telah kembali ke paviliun di tengah danau. Pedang rusak sang Dewa ada di tangannya, perlahan tergerus dan berubah menjadi debu.

__ADS_1


"Yang Mulia, ah Qing." Satu tetes air mata mengalir di pipi lembut, Jatuh menetes di tumpukan debu pedang. Cahaya terang bersinar bekas tetesan, debu pedang berputar di udara dalam cahaya redup. Sebuah liontin giok putih tercipta dari kumpulan debu yang menari, jatuh di atas telapak tangan Hualing yang di tengadahkan.


__ADS_2