
Surga kesembilan telah runtuh selama sepuluh ribu tahun, dan selama itu tidak ada satupun kultivator yang berhasil naik dan menjadi Dewa sejati. Tidak hanya tidak satupun berhasil menjadi Dewa sejati, tapi hilangnya surga kesembilan maka energi spiritual di dunia menjadi semakin dan semakin tipis. Banyak pembudidaya senior yang memperkirakan kurang dari sepuluh ribu tahun kemudian jika surga kesembilan tidak juga terbuka, energi spiritual mungkin akan sungguh menghilang.
Liang Song melihat sekeliling, dia dan murid mudanya tidak lagi berada dimedan perang melainkan ruang rahasia yang akrab. Ingatannya kembali berputar pada pertempuran sengit itu, bagaimana pembudidaya benar di bantai oleh iblis haus darah dan pembudidaya iblis. Seorang pemuda heroik memegang pedang, tanpa takut beradu senjata dengan raja iblis. Liang Song ingat nama yang di sebutkan oleh murid mudanya, Liu Xing Sheng!
Bukankah itu nama murid Sekte Awan Melonjak yang memiliki takdir Surgawi?
Dia mengambil Lonceng giok yang kini tergeletak di atas meja, huru hara spiritual sebelumnya juga telah mereda, "Fengying, tidak di sangka kamu akan mendapatkan panen besar." Liang Song berucap tiba-tiba, kedua matanya berbinar sementara wajahnya menampakkan raut puas.
"Lonceng ini, guru mengetahuinya?" Bai Fengying melihat lonceng di tangan gurunya, sekilas tidak ada sesuatu yang istimewa tentang itu.
"Apa yang kita lihat baru saja seharusnya adalah masa depan yang digariskan, bencana yang tertulis di buku ramalan. Yuan Qing telah kembali pada garis keturunannya, Liu Xing Sheng menjadi pemuda paling menjanjikan di alam kultivasi. Satu-satunya artefak yang dapat membalik waktu dan berbentuk lonceng; penyebab perang Dewa dan Iblis sepuluh ribu tahun yang lalu, Lonceng pemecah takdir."
Ketika mendengar nama itu, raut Bai Fengying seketika menjadi ngeri. Tidak menyangka sesuatu yang dia pikir ornamen indah para Dewa ternyata adalah artefak surgawi.
"Nampaknya inilah takdir surga, sekte Langit tidak hanya memiliki buku ramalan, tetapi juga artefak yang mampu membawa seseorang ke waktu lain!" Liang Song menepuk ringan bahu murid mudanya, kemudian berkata, "Fengying ingatlah, surga telah memberikan jalan. Keselamatan alam ini ada di tangan sekte mulia kita!"
__ADS_1
"Guru benar, Fengying akan membantu sekuat tenaga!" Bai Fengying menjawab tanpa keraguan.
"Di tingkat apa budidayamu saat ini?"
"Menjawab guru, berada di pengembaraan jiwa tahap akhir!" Bai Fengying menjawab dengan penuh kebanggaan. Meski di generasi lebih muda darinya ada Liu Xing Sheng yang pertumbuhannya menantang langit, tapi di generasinya sendiri meski tidak menjadi yang pertama, dia akan menjadi yang kedua setelah Xue Hualing yang telah mencapai alam jiwa baru lahir.
"Sangat bagus!" Liang Song mengangguk beberapa kali, nampak puas dengan pencapaian murid mudanya. "Guru akan meneliti cara menggunakan Lonceng pemecah takdir dan ketika saatnya tiba guru akan memberitahumu." ujarnya kemudian memberi isyarat agar Bai Fengying mundur.
...****************...
Hualing terengah-engah, setiap tarikan napas terasa berat. Kondisinya saat cukup untuk menakuti Xie Shaosheng sampai mati, tidak hanya dia terlihat kesakitan, tetapi juga wajahnya sepucat kertas.
Perlahan Hualing melepaskan cengkeramannya, dia melihat pada Xie Shaosheng yang tidak menampakkan ekspresi baik. Kekhawatiran terpancar di di sorot mata yang lembut, "semua baik-baik saja, saudara jangan khawatir." Hualing menahan rasa tidak nyaman yang masih tersisa dan berujar lembut, berusaha menenangkan. Dia tidak tahu apakah kata-kata itu untuk Xie Shaosheng atau untuk dirinya sendiri.
Tidak di sangka, hal yang dia takutkan sungguh terjadi dengan periode waktu yang begitu dekat. Namun, dengan semua kejadian dan penyergapan terhadap Yuan Qing, menjadikan sekte Langit sebagai pemegang Lonceng pemecah takdir bukankah sesuatu yang mengejutkan. Hal-hal mengenai takdir masa depan, bukan giliran manusia untuk ikut campur meski mereka mengukuhkan diri sebagai pembudidaya abadi. Kecuali jika ada faktor eksternal yang memungkinkannya untuk mencampuri jalan surga, dan faktor eksternal itu adalah dirinya.
__ADS_1
"Apakah itu serangan balik karena kamu memberitahukan rahasia surga?" Xie Shaosheng tidak dapat memikirkan kemungkinan lain selain itu.
"Memang benar tentang rahasia surga, tapi bukan tentang saudara... ini tentang aku sendiri." Hualing tahu ucapannya tidak akan mampu menenangkan Xie Shaosheng yang selalu menyayanginya, tapi itu lebih baik dari pada membuat saudaranya diliputi rasa bersalah.
"Ling'er..." kamu dapat memberitahu saudara, Xie Shaosheng ingin mengatakan itu, tapi dia tahu meski Hualing mengatakannya, belum tentu dia dapat membantu, "aku akan mencari guru!"
"Saudaraku, tidak perlu memberitahu guru tentang ini. Namun, aku memiliki sesuatu yang ingin di tanyakan kepadamu." Kata Hualing melihat pada Xie Shaosheng yang masih berdiri di sampingnya. Raut wajahnya tampak kaku, mata yang biasa jernih kini nampak dalam.
"Ling'er bisa katakan," Xie Shaosheng mendudukkan dirinya di kursi dia sebelumnya telah duduk, melihat langsung sorot mata yang tidak pernah dia lihat di mata Hualing.
"Ini mengenai Lonceng bunga biru. Apakah saudaraku merasa nyaman membawanya atau menyerahkannya pada orang lain,"
Xie Shaosheng melihat bentuk aslinya yang sempat terlupakan. Dia terdiam beberapa saat dengan kening menyatu, seperti dengan sungguh-sungguh mempertimbangkan beberapa hal, "sebenarnya sedikit tidak nyaman jika membawanya sendiri, tidak tahu apakah Ling'er keberatan untuk membantu menyimpannya." jawabnya kemudian.
"Ling'er tidak ada masalah untuk menyimpannya, tapi akan lebih baik jika diserahkan pada guru."
__ADS_1
Xie Shaosheng melihat raut tenang saudari termudanya itu kemudian mengingat kemampuan Lonceng bunga biru. Meski tidak menentang surga, tapi untuk dapat mencegah perubahan takdir karena campur tangan Lonceng pemecah takdir, bukanlah sesuatu yang sederhana.
"Ling'er dapat mengaturnya," ucap Xie Shaosheng, menyerahkan sepenuhnya Lonceng bunga biru. Dalam hati dia meyakini bahwa Ling'er mengetahui sesuatu yang tidak nyaman untuk di bicarakan, dan itu harus berhubungan dengan rahasia surga.