Terlahir Untuk Menghilang

Terlahir Untuk Menghilang
Bab 35


__ADS_3

"Ling'er, bukankah kamu terlalu tidak berperasaan. Kamu mengabaikanku setelah menggunakan aku, habis manis sepah di buang." Dengan senyum usil di bibir Yuan Qing mengeluh. Meski Hualing yang berjalan di depan bertindak seolah tidak mendengar, beberapa orang yang mendengar ucapan itu tidak bisa untuk tidak berhenti sejenak.


Seorang gadis muda yang cantik berjalan di kerumunan pasar dan seorang pemuda tampan mengejarnya untuk meminta pertanggungjawaban, sungguh bukan pemandangan yang lazim terlebih di kota fana.


"Nona itu sangat cantik, mempermainkan beberapa pria muda dapat dimaklumi."


"Bagaimana itu bisa di maklumi, seorang wanita yang bermain pria bukankah menjijikkan?"


"Aku pikir ini bukan pria pertama yang dia permainkan!"


"Sayang sekali, padahal pria ini sangat tampan!"


Bisik-bisik terdengar dari sekeliling, Hualing hanya memutar bola mata bosan tanpa menghentikan langkah. Seolah yang semua orang bicarakan bukanlah dia. Meninggalkan Yuan Qing yang menghentikan langkah di tengah kerumunan, tatapan membunuh melayang pada setiap orang yang bersuara. Energi spiritual yang kuat menyapu para penggosip, menjatuhkan mereka dalam satu serangan.


"Apakah masih ada yang ingin berbicara?" tanyanya dengan kilat membunuh yang tidak di tutupi. Melihat penonton seperti melihat orang mati, jawaban 'tidak' yang tersuara lirih terdengar bersahutan.


Sebelum berbalik pergi, dari sudut bangunan yang tertutup bayangan, seorang pengintai tertangkap penglihatan. Sudut bibir Yuan Qing terangkat di satu sisi, menampilkan senyum culas yang meremehkan.


"Sial! Pria muda itu sangat menakutkan!" salah seorang pembudidaya yang bercampur dengan kerumunan berkomentar. Dia menjulurkan leher, melihat objek yang di bicarakan kini kembali mengekor orang yang sama.


"Tuan ini benar. Ketika dia melihatku tadi, aku merasa seperti di tatap oleh ular beracun. Sangat menakutkan!" Salah satu penonton yang berkomentar sebelumnya menanggapi.


Sementara itu, orang yang di bicarakan sama sekali tidak peduli. Dia masih mengekor di belakang Hualing seperti ekor besar yang patuh. Akan berjalan cepat jika Hualing berjalan lebih cepat, akan melambat jika Hualing melambat dan akan berhenti jika di butuhkan.


"Ling'er aku salah, jangan mengabaikanku lagi oke? Ini sudah empat hari sejak hari itu." Seolah tidak tahan lagi dengan keheningan, Yuan Qing menarik tangan Hualing. Membuat yang kedua menghentikan langkah. Tanpa malu dia berucap dengan nada merajuk dan alis terkulai.


"Kamu masih memiliki wajah untuk mengungkitnya?" bukan mendapatkan perhatian seperti yang dia harapkan, melainkan tatapan dingin yang membekukan.

__ADS_1


"Itu salahku, seluruhnya salahku karena tidak mengerti perasaan Ling'er. Karena kita sudah melakukan itu, tentu saja hubungan kita lebih intim. Hal itu sudah tidak perlu aku tanyakan." Yuan Qing menjawab dengan lugas, seolah tidak ada kata malu di dalam kamus hidupnya. Bahkan wajah gadis muda yang memerah itu cukup untuk menaikkan kebahagiaannya.


"Tidak tahu malu!" Hualing menghardik dan berusaha melepaskan genggaman erat itu. Bagaimana bisa dia masih berpegang teguh bahwa Yuan Qing adalah inkarnasi dari tuannya? Bagaimana kepribadian inkarnasi bisa begitu berbeda dengan keberadaan asli?


"Ling'er, aku salah! Aku tidak akan membahasnya lagi!" kata-katanya terdengar seolah dia mengalah, tetapi raut wajah berkata sebaliknya.


Yuan Qing melingkarkan lengannya pada bahu Hualing. Dengan suara rendah dia berbisik, "Saat itu terasa seperti mimpi, mengapa kita tidak melakukannya lagi malam ini?" bisiknya tanpa malu. Dan sebuah injakan kaki di layangkan sepenuh hati menjadi jawaban.


Yuan Qing terkekeh kemudian berjalan lebih cepat, mensejajari langkah Hualing yang tidak tergesa. "Tidak di sangka kita akan kembali ke benua utara begitu cepat." Godaan-godaan di hentikan, tidak ingin Hualing semakin malu.


"Yang Mulia abadi Shui Xing membentuk makam di benua utara, hutan barat kota Hua negara Qi Utara. Saat itu adalah akhir perang para abadi. Meski berhasil selamat juga tidak memiliki banyak kekuatan untuk berpindah begitu jauh. Selain itu dia pun menggunakan makamnya sendiri sebagai titik arah pusat. Melihat dari topografi di peta, maka letak reruntuhan seharusnya berada di hutan perbatasan antara negara Qi utara dan Qi selatan."


"Ling'er benar. Begitu kita keluar dari kota ini, kita akan memasuki hutan yang di maksud. Tapi tidakkah kamu merasa haus?" Yuan Qing baru bertanya, tetapi yang bersangkutan sudah melangkah memasuki kedai teh yang tidak terlalu ramai itu.


Hualing menggelengkan kepala tidak berdaya, tidak dapat menebak pikiran tersembunyi Yuan Qing. Dengan langkah tenang dia mengikuti Yuan Qing, memilih meja yang tidak mencolok tetapi dapat melihat keseluruhan kedai.


"Ada dua kemungkinan. Yang pertama, sebelum reruntuhan menghilang sekte Langit telah mendapatkan jantung abadi. Yang kedua, sekte Langit telah menutupi perihal reruntuhan surga kesembilan dari dunia luar." Yuan Qing menjawab dengan tidak tergesa sementara dari sudut mata dia memperhatikan kedatangan seorang pembudidaya dengan penampilan yang biasa saja.


"Namun, kemungkinan terbesar adalah yang kedua. Karena yang berdiri sekte Langit adalah beberapa ribu tahun setelah surga kesembilan runtuh" Yuan Qing melanjutkan, masih dengan sudut mata yang memperhatikan gerak-gerik pendatang tersebut.


Kening Yuan Qing mengerut sejenak sebelum kembali merenggang. Pendatang itu berjalan cepat dan menabrak pelayan teh sebelum bergegas naik ke lantai dua. Senyum gelap tersungging di bibir Yuan Qing.


"Ada apa dengan senyum itu?" Hualing bertanya dengan satu alis terangkat.


"Kamu akan segera tahu," jawabnya acuh.


"Maaf karena menunggu lama, kedua pelanggan silahkan pesanan anda." seorang pelayan kedai teh menghampiri meja mereka, meletakkan satu demi satu pesanan dengan rapi tanpa berniat untuk segera pergi.

__ADS_1


"Apakah kedua pelanggan datang ke kota kecil ini juga untuk menyelidiki reruntuhan surga kesembilan?" Pelayan kedai teh itu berkata lirih.


"Berita yang menarik, bisakah kamu memberitahu lebih lanjut?" tanya Yuan Qing sementara dia meletakkan batu roh tingkat menengah di dekat pelayan kedai.


"Tentu saja bukan masalah!" pelayan kedai menjawab dengan antusias. Tampaknya kali ini dia telah menangkap ikan besar.


"Sepuluh tahun terakhir beredar kabar angin di antara pembudidaya bahwa reruntuhan surga kesembilan berada di hutan perbatasan negara Qi utara dan Qi selatan. Meski sebagian besar menganggapnya sebagai omong kosong, masih banyak yang mencoba peruntungan untuk memeriksa. Tapi bukan mendapatkan keberuntungan, semua yang memasuki wilayah yang di maksud satu orang pun tidak lagi terlihat."


"Bukankah wilayah ini berada dalam lingkup kekuasaan sekte Langit?" seluruh daratan utara berada di bawah sekte Langit sebagai kekuatan paling dominan, jadi tidak mungkin kabar angin tersebut tidak sampai ke telinga mereka.


"Beberapa murid sekte Langit telah datang memeriksa, tapi tidak menemukan apapun di wilayah itu."


Mendengar itu, Hualing dan Yuan Qing saling melihat. Tampaknya mereka harus memastikan secara langsung.


"Setelah itu tidak ada yang terjadi?" Hualing hendak menyesap teh untuk membasahi tenggorokannya, tetapi genggaman ringan Yuan Qing di bahu segera menghilangkan niat itu. Tanpa tergesa di meletakkan cangkir yang masih terisi penuh.


"Setelah itu beberapa pembudidaya penasaran mencoba mencari tahu, dan mereka kemudian menghilang. Sekte Langit kembali mengirim murid, tetapi seperti yang telah terjadi, mereka tidak menemukan apapun." Pelayan teh berbisik dengan suara yang lebih rendah.


"Jadi saat ini jika ada seseorang yang menghilang di wilayah itu, semua hanya menganggap orang itu tidak beruntung." kalimat ini tidak berasal dari pelayan kedai melainkan Yuan Qing.


"Itu benar! Jadi bagaimanapun kedua pelanggan ingin tahu, urungkan niat itu. Jangan pergi ke sana!"


"Kami mengerti, terimakasih telah mengingatkan." Hualing berkata dengan senyum tipis. Dari cincin penyimpanan dia mengeluarkan sekeping batu roh tingkat menengah, menjejalkannya di tangan pelayan kedai.


Pelayan kedai itu berterimakasih dengan antusias, matanya yang sipit membentuk garis lengkung kemudian beranjak pergi dengan suasana hati yang baik.


"Kenapa melarang ku meminum teh?" Hualing bertanya dengan lirih, memastikan percakapan mereka tidak terdengar siapapun.

__ADS_1


"Di dalam teh terdapat racun yang berbahaya untuk iblis dan roh spiritual. Kita tidak tahu identitasmu yang sesungguhnya jadi paling baik adalah berjaga-jaga."


__ADS_2