Terlahir Untuk Menghilang

Terlahir Untuk Menghilang
Bab 28


__ADS_3

"Sudah selesai melaporkan?"


Hualing mendongak begitu suara itu jatuh. Seorang pria muda duduk menikmati teh di dalam rumahnya. Mengenakan seragam sekte berwarna biru muda dengan campuran putih dia dengan surai yang di tahan mahkota giok. Melihat penampilan Yuan Qing kini, kembali mengingatkannya pada tuannya.


Bagaimanapun di lihat, penampilan mereka begitu serupa.


"Emh," Dia menjawab dengan kepala mengangguk sekali. Melihat Yuan Qing yang begitu santai memasuki rumahnya, Hualing tidak memiliki keberanian untuk mengambil langkah.


Bagaimanapun, pernyataan Yuan Qing telah membuatnya canggung. Yuan Qing yang menciumnya tumpang tindih dengan Dewa dalam ingatan.


Sudut bibir Yuan Qing miring di satu sisi, melihat kecantikan berdiri terpaku dengan wajah yang memerah, "Mengapa tidak masuk? Apakah Ling er merasa takut masuk kerumahnya sendiri?"


"Bagaimana kamu ada di sini?" Hualing menarik napas panjang kemudian mengambil langkah pertama, memasuki rumahnya yang telah di terobos. Mendudukkan diri kemudian mengambil cangkir yang telah di tuangkan teh. Menyesapnya sekali, merasa semua ikatan sedikit mengendur.


"Aku menunggu di sini begitu sampai di sekte," Yuan Qing mengambil alih cangkir Hualing, dengan sengaja menyesapnya di tempat Hualing menempelkan bibir, "teh saudari Hualing sangat manis." ucapnya, berhasil membuat wajah pihak lain semerah kepiting rebus.


"Tapi ini tempat tinggalku!" Hualing merasa wajahnya memanas, otaknya kosong. Dia memalingkan wajah, tidak memiliki keberanian untuk menatap mata Yuan Qing.


"Tempat tinggal Ling'er juga merupakan tempat tinggalku. Lagipula jika ingin merajuk, bukankah seharusnya kamu melihat lawan bicara?" Yuan Qing menyangga wajah dengan satu tangan, melihat bunga merah bermekaran di wajah Hualing.


"Apakah Ling er begitu tergila-gila hingga terlalu malu untuk melihatku?" Yuan Qing melanjutkan dengan penuh percaya diri. Wajahnya tidak berbeda dengan bajingan yang menggoda gadis murni.


"Omong kosong!" Dengan bibir mengerucut Hualing membantah.


"Bukan omong kosong. Kamu dapat pergi ke dalam dan bercermin, lihat bagaimana merahnya wajahmu." senyum usil terbentuk di bibir Yuan Qing. Dia menunjuk pada cermin perunggu di samping tempat tidur.

__ADS_1


Hualing tahu, di tidak akan menang jika terus berdebat dan akan mempermalukan dirinya sendiri. Jadi jalan terbaik saat ini adalah mengalihkan pembicaraan, "Kamu, apakah kamu memiliki sesuatu yang ingin di tanyakan?"


Bagaimana mungkin Yuan Qing tidak menyadari siasat kecil itu, "hanya Ling'er yang paling mengerti aku. Memang benar ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan," jawabnya tidak lupa melontarkan godaan.


"Kalau begitu tanyakan!" Hualing menjawab kembali dengan riang, seolah tidak mendengar godaan tersebut.


Yuan Qing menurunkan pandangan, melihat bayangannya dalam sekangkir teh, "apakah kamu sungguh pelayan Dewa perang?" Tanya Yuan Qing.


"Ya!" Hualing telah menunggu pertanyaan ini sejak di ruang bawah tanah.


"Apakah penampilan ku begitu serupa dengan orang itu?" dengan tatapan masih lurus pada bayangan di cangkir teh, Yuan Qing kembali bertanya.


"Yang Mulia abadi Shui Xing telah menjawabnya," jawaban tersirat itu menjernihkan pertanyaan Yuan Qing.


"Hanya dari penampilan, bagaimana kamu bisa begitu yakin bahwa aku adalah dia?" Yuan Qing mengangkat pandangan, melihat pada mata jernih Hualing yang juga melihatnya.


"Intuisimu begitu akurat! Apakah itu berhubungan dengan kemampuan melihat masa depan yang di beritakan?" Ada ketidakpuasan Yuan Qing dalam pertanyaan itu.


"Seharusnya berhubungan," Jawab Hualing dengan tatapan menerawang dan kening berkerut. Tangan di atas meja tergenggam erat, menampakkan pembuluh darah ungu di bawah kulitnya yang putih.


"Mengapa begitu murung?" Yuan Qing mengulurkan tangan, menyelimuti tangan Hualing yang terkepal. Mengusapnya lembut dengan ibu jari.


"Aku hanya tidak mengerti, mengapa ingatan Yang Mulia abadi, peristiwa masa lalu yang aku lihat dan ingatanku begitu berbeda." Hualing tidak tahu mengapa, tapi kegundahannya sedikit mereda dengan usapan lembut Yuan Qing.


"Apa yang membedakan?" masih dengan kedua tangan yang bertaut, Yuan Qing bertanya.

__ADS_1


"Baik itu dalam lukisan Yang Mulia abadi, ingatannya maupun masa lalu yang aku lihat tidak pernah ada diriku di sana. Aku tidak pernah meninggalkan sisi Yang Mulia, bahkan saat Yang Mulia tertidur." jawaban itu di suarakan dengan lirih, tapi Yuan Qing dapat mendengar setiap kata dengan jelas.


Kening Yuan Qing berkerut, sebuah pemikiran melintas di otaknya. "Ling'er, tidak pernahkah kamu berpikir jika ingatanmu itu salah?"


"Apa maksud Ah Qing?" Hualing menarik genggaman tangannya dan bertanya dengan tatapan menyelidik.


"Itu bisa ingatanmu yang tergerus waktu, atau seseorang yang memanipulasinya. Menanamkan ingatan palsu seolah kamu adalah pelayan Dewa perang dengan tujuan tertentu!" jawab Yuan Qing, menyuarakan ide yang terlintas di otaknya. Namun, yang manapun itu, seharusnya Hualing bukanlah pelayan di samping Dewa perang. "Mungkin kamu salah satu Abadi jatuh itu benar, tapi seharusnya bukan seseorang di samping Dewa perang."


Perasaan kagum pada Dewa perang itu seharusnya juga hanya sekedar angan, sekedar ilusi.


"Saudari senior Xue, semua murid puncak diminta untuk pergi ke Aula agung!" Percakapan mereka terputus oleh suara yang berasal dari balik pintu, berseru dengan lantang.


"Siapa atau apa yang melatarbelakangi perbedaan ingatanmu akan di tunda untuk sementara waktu, tampaknya terdapat peristiwa mendesak hingga semua murid di kumpulkan." Yuan Qing berdiri dari posisinya, membuka daun pintu. Mengejutkan murid yang menyampaikan pesan.


"Junior Yuan?" dia berseru terkejut, tidak menyangka jika saudara junior ini akan berada di ruangan saudari senior Xue.


"Terimakasih telah menyampaikan, kamu dapat pergi kepada murid yang lain." seulas senyum mekar di bibir Hualing.


"Saudari senior Xue tersenyum kepadaku, dia tersenyum!" murid muda itu tidak bisa tidak berbangga diri dalam hati. Saudari senior yang legendaris tersenyum kepadanya!


"Ling'er, coba tebak peristiwa besar apa yang mungkin terjadi?" Yuan Qing yang berjalan di samping Hualing melihat yang kedua dengan keingintahuan palsu.


"Saat melapor aku sempat berpapasan dengan seseorang dari sekte langit, jadi semua ini seharusnya berhubungan ramalan dari sekte langit. Kamu pasti dapat dengan jelas mengingat isi ramalan itu." Hualing melihat ke depan, ada antisipasi dan kewaspadaan dalam tatapannya. "Selain itu, ada juga berita tentang sekte langit yang telah mengunjungi setiap sekte besar dan kecil di benua tengah untuk mengidentifikasi calon inang raja iblis!" lanjutnya.


"Tepat seperti yang aku pikirkan!" Yuan Qing menjentikkan jari, menyetujui ucapan Hualing. "Ling'er, aku sangat takut. Bagaimana jika aku ketahuan?" lanjutnya dengan ketakutan yang di buat-buat, dia melingkarkan kedua lengannya pada tangan Hualing.

__ADS_1


"Kali ini seharusnya bukan untuk raja iblis, tetapi juga untuk putra takdir dalam ramalan. Namun, aku sungguh ingin tahu bagaimana mereka akan mengidentifikasi hal ini!" Mengabaikan kedua lengan yang melingkar kuat di tangannya, senyum meremehkan tersungging di bibir hingga dia memasuki Aula agung, seketika dia tertegun.


__ADS_2