
setelah kurang lebih satu jam lamanya kini Edward kembali ke kamar nya. Rickhard yang merasa dirinya haus, dia turun kebawah untuk mengambil kan dia minum. kini waktunya dia kembali ke dalam kamarnya, saat dia ingin masuk Rickhard melihat pintu kamar Ariell tertutup, kemudian terlintas dipikiran Rickhard untuk mengerjai Ariell lagi.
Rickhard tersenyum masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil kunci cadangan kamar Ariell.
" lihat saja apa yang akan kulakukan pada mu, kamu berani mengatakan padaku bahwa otakku bermasalah, baiklah akan ku tunjukkan pada mu seberapa dalam nya masalah yang ada di otakku ini" kata Rickhard berkata sendiri sambil membuka pintu kamar Ariell.
namun pada saat pintu kamar Ariell terbuka, Rickhard tidak menemukan Ariell disana.
" apa??? kemana dia pergi?" kata Rickhard sambil berjalan menuju kamar mandi, namun kamar mandinya juga tidak terkunci dan Rickhard juga tidak menemukan Ariell disana.
" sebenarnya pergi ke mana dia??"
" akh..... mungkin saja dia lagi dibawah" kata Rickhard berbaring di sana sambil menunggu Ariell.
namun tidak terasa sudah lebih dari tiga puluh menit Rickhard menuggu Ariell, namun Ariell tidak kunjung datang-datang.
" sebenarnya kemana dia??" kata Rickhard namun tiba-tiba terlintas dipikiran Rickhard pesan yang dikirim Ariell lewat WhatsApp tadi, bahwa dia mengagumi Edward.
" apa???? jangan-jangan dia ingin menggoda Edward" kata Rickhard tiba-tiba bangkit dari tidurnya dan langsung menuju kamar Edward.
" sebegitu tidak sabarnya kah dirimu untuk mendapatkan adikku, hingga kamu berani menggodanya didalam rumah ini" kata Rickhard berbicara sendiri.
Rickhard mengetuk pintu kamar Edward.
" Edward.... buka pintu mu" kata Rickhard
" ada apa kak??" kata Edward setelah membuka pintu
" dimana Ariell??" kata Rickhard
" apa?? aku tidak tahu kak, bukankah kakak ipar ada dikamar nya? lalu kenapa kakak mencarinya kesini??" kata Edward
" Ariell tidak ada di kamarnya" kata Rickhard
" apa jangan-jangan dia kabur lagi kak dari rumah" kata Edward
" apa.... kabur?? kenapa dia kabur?" tanya Rickhard
" mana aku tau, mungkin saja dia sudah mulai lelah tinggal dengan kita karena kakak selalu menggodanya terus" kata Edward
" tidak mungkin" kata Rickhard
" atau.... mungkin saja kakak ipar sedang bersama Ricky" kata Edward
Rickhard langsung mengetuk pintu kamar Ricky, dan kebetulan pintu kamar Ricky tidak terkunci.
" Ricky kamu belum tidur nak?" kata Rickhard
" belum pah, lalu papah kenapa kesini?" tanya Ricky
" oh ya Ricky apa kamu melihat Mamah kamu? dimana mamah kamu?" tanya Rickhard
__ADS_1
" Mamah pergi pah" kata Ricky
" pergi kemana sayang?" tanya Rickhard
" Ricky tidak tahu pah, mamah tidak memberi tahu Ricky. mamah tiba-tiba pergi buru-buru setelah mamah menerima telepon" kata Ricky
" telepon?? dari siapa?" tanya Rickhard
" Ricky tidak tahu pah, tadi pada saat mamah baca dongeng untuk Ricky, tiba-tiba saja handphone mamah berbunyi, dan setelah itu mamah langsung menyuruh Ricky untuk tidur lebih dulu. mamah bilang dia ada urusan sebentar" kata Ricky
" malam-malam begini? Ricky sayang kamu tidur dulu yah papah akan menyusul mamah kamu " kata Rickhard pergi meninggalkan Ricky dan juga Edward
Rickhard menemui security yang berjaga di gerbang rumahnya.
"apa kamu melihat istri saya pergi?" kata Rickhard
" iya tuan, sepertinya nyonya buru-buru. nyonya pergi bersama dengan Imron tuan" kata satpam itu
" oke baiklah terimakasih banyak buat informasi nya, lanjutkan pekerjaanmu" kata Rickhard
kini Ariell sudah sampai di lokasi proyek restoran nya.
" terimakasih banyak pak Imron buat bantuanmu" kata Ariell
" sama-sama nya. apa aku perlu menunggu nyonya?" kata Imron
" tidak perlu pak, bapak bisa pulang sekarang. mungkin saya masih lama" kata Ariell
" ya pak, bapak hati-hati. sekali lagi terimakasih banyak sudah membantu saya" kata Ariell
Ariell langsung pergi menemui Merry dan Rika. Ariell melihat sepertinya kedua wanita itu menangis.
" ada apa bu, kak?" kata Ariell
" Ariell....." kata Merry dan juga Rika memeluk Ariell
" kenapa kalian menangis? apa yang terjadi?" kata Ariell
" bangunan restoran kita yang sudah berdiri dihancurkan nak, sekarang kita harus bagaimana? apa yang harus kita lakukan?" kata Merry
" tapi siapa yang tega melakukan ini buk?" kata Ariell
" bahan-bahan material yang lainnya pun dirusak sama excavator itu. kita sudah tidak punya uang lagi, sekarang apa yang harus kita lakukan" kata Rika
" kenapa bisa seperti itu, dan siapa yang tega melakukan itu" kata Ariell langsung pergi ke lokasi proyek, dia melihat Excavator disana yang ingin menghancurkan bangunan setengah jadi itu.
" Berhenti..... atau aku akan tetap disini" kata Ariell berdiri tepat di bawah bangunan itu
tiba-tiba excavator itu berhenti, karena dia takut menyelakai Ariell. melihat aktivitas excavator itu berhenti kini dua orang pria paruh baya menghampiri mereka.
"apa yang kamu lakukan, kenapa berhenti cepat lanjutkan pekerjaanmu" kata pria salah satunya yaitu Herman Budiono ayah kandung nya Ariell
__ADS_1
" Nak Ariell... kamu ngapain disitu ini bahaya" kata Martin sekretaris sekaligus asisten pribadinya Herman.
" ternyata kamu masih belum puas untuk mengganggu ku" kata Ariell dan masih berdiri di tempat.
" aku tidak menganggu mu, kamulah yang mencari masalah terlebih dahulu padaku" kata Herman
" mencari masalah?? aku tidak menggangu mu lalu apa maksudmu?" kata Ariell
" kamu sudah mencuri restoran ini selama enam tahun terakhir ini, seharusnya ini milik ku" kata Herman sementara Martin Hanya diam disana, dia sangat kasihan melihat Ariell namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.
" apa mencuri???? apa kamu sadar dengan perkataan mu? kamulah yang mencuri nya, ini milik ibuku dan sebelum ibu meninggal ibu sudah menyerahkan ini padaku jadi kamu tidak berhak atas ini" kata Ariell
" aku berhak, karena masih sekarang wulan masih sah menjadi istri ku walaupun dia sudah menjadi makanan cacing. dan kamu, sampai sekarang ini kamu masih sah menjadi anak ku" kata Herman
" aku tidak Sudi menjadi anak pencuri seperti mu, aku hanya anak yatim piatu sejak sepuluh tahun yang lalu. aku harap kamu menyadari itu" kata Ariell
" ternyata setelah lima tahun lebih lamanya aku tidak bertemu dengan mu, kamu menjadi semakin berani Kepada ku. apa kamu tidak takut jika aku membuang mu kembali?" kata Herman
" takut??? untuk apa aku takut, bahkan kau sudah sering melakukan nya" kata Ariell
" ya sudah, lakukan sesuka mu." kata Herman kepada Ariell
" saya membayar mu bukan untuk diam disitu, lanjutkan pekerjaan mu" kata Herman kepada petugas excavator itu
" tapi pak nak Ariell masih disana, bagaimana jika dia nekad" kata Martin
" biarkan saja dia mati. bukan kah dia yang menginginkan itu mungkin dia ingin cepat-cepat menyusul ibunya, dan untuk kali ini biarkan aku mendukung keputusan nya." kata Herman.mendengar itu hati Ariell kini semakin sakit, seperti ditusuk-tusuk seribu tombak.
" tapi pak... bagaimana pun juga Ariell adalah anak kandung bapak, darah daging bapak cobalah lihat dari sisi itu" kata Martin
"iya memang tapi asal kamu tahu Martin, dia adalah anak yang tidak aku harapkan karena dia terlahir dari rahim nya wulan. aku hanya menganggap Putri lah anakku satu-satunya" kata Herman
bagai ditimpa beban berton-ton rasa Ariell hingga dia tidak sanggup untuk menahan nya semakin sakit rasanya jika dia semakin kuat, walaupun berungkali dulu Herman memperlakukan nya tidak adil Ariell masih bisa bertahan menerima nya. namun kali ini dia tidak bisa menahannya lagi, air matanya tumpah dan dadanya sesak.
" tapi putri bukan darah daging bapak, bagaimana pun juga dia akan tetap menjadi anak orang lain" kata Martin yang ingin mencoba melawan Herman. sudah dua puluh tahun lebih Martin mengikuti Herman, namun baru kali ini dia berani menentang Herman.
Martin tidak tega melihat Herman memperlakukan Ariell seperti itu. bagaimana pun juga Ariell adalah anak dari wanita yang dia cintai, Martin jatuh cinta kepada wulan sejak dia masih TK hingga sekarang perasaan itu tidak berubah walaupun Wulan sudah meninggal. namun dari dulu Wulan hanya menganggap Martin hanya seorang sahabat, bagi Wulan hanya Herman lah cinta pertama dan terakhir baginya, Martin tidak pernah mengakui perasaannya pada wulan sewaktu dia hidup.
hingga saat ini Martin enggan untuk membuka hatinya yang sudah terkunci, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk memilih melajang seumur hidupnya jika tidak menikah dengan Wulan. hingga saat ini janjinya masih dia tepati. Herman tidak tahu tentang perasaan Martin, karena Martin tidak pernah menunjukkan perasaan nya sedikit pun sewaktu Wulan hidup.
" apa kamu berani melawan saya?" kata Herman
" maafkan saya pak, saya tidak berani untuk itu. tapi saya hanya ingin bapak tidak melangkah lebih jauh lagi. aku tidak mau bapak menyesal dikemudian hari setelah terlambat" kata Martin
" Martin jaga batasan mu, memang nya siapa kamu yang berani menasehati ku. kamu jangan ikut campur urusan pribadi ku. saya bayar kamu bukan untuk itu, jadi posisi kan dirimu sesuai pekerjaan mu" kata Herman
" maafkan saya pak karena saya sudah lancang" kata Martin
" saya harap kamu tidak mengulangi nya" kata Herman sambil melangkah kan kaki nya pergi meninggalkan Ariell
" baik pak" kata Martin mengikuti Herman
__ADS_1