Terpaksa Menikahi Gunung Es

Terpaksa Menikahi Gunung Es
Menatap pemandangan


__ADS_3

Kemudian Lisa pun langsung pamit, ia tak mau berlama-lama dengan wanita yang tak penting. Lisa kesini pun hanya untuk mengunjungi Azka dan istrinya yang ia anggap pelakor.


*****


Sementara itu, di kediaman Amel dan Azka ..


Amel yang kebingungan akan letak balkon pun hanya mematung di dekat lemari pendingin tersebut. Tak lama seorang pelayan pun datang karna hendak membereskan sesuatu, saat Amel melihatnya Ia langsung memanggil sang pelayan dan bertanya.


" Maaf, letak balkon dimana ya?" Tanya Amel.


" Silakan ikuti saya Nona." Balas Sang pelayan dengan penuh hormat.


Saat berjalan menuju balkon kini Amel lebih melihat setiap detail dari mansion itu, tiap detail sangat di perhatikan dan sangat amat mewah. Hingga akhirnya mereka sampai di balkon yan sangat amat indah.



" Nona sudah sampai, saya pamit dulu." Ujar Sang pelayan dengan penuh rasa hormat.


" Baik, terimakasih." Balas Amel cepat di sertai dengan senyuman.


Amel pun mulai melangkahkan kedua kakinya untuk mendekati balkon tersebut. Terlihat seorang pria gagah nan tampan yang sedang berdiri menikmati hilir angin yang begitu menyejukkan, pria itu terus menatap pemandangan dengan sangat santai dan sesekali menghirup karbon tersebut.


Saat seorang wanita menghampirinya ia langsung berbalik dan berkata, "Lama sekali kau ini siput ya?" Ujar Azka sembari menekan intonasinya.


" Kau ini, Mansion ini terlalu besar jadi aku bingung dimana letak balkonnya." Balas Amel setengah berteriak.


" Sudahlah, letakkan snack dan minumannya disana." Ujar Azka sembari menunjuk ke arah sebuah meja kecil yang berada di balkon itu.


Amel seperti anak anjing yang penurut, ia segera meletakkan semua snack dan minuman di sebuah meja. Lalu ia menduduki sebuah kursi yang terbuat dari tatanan kayu jati, detailnya amat di perhatikan di sertai dengan sebuah busa agar jika di duduki akan terasa empuk dan nyaman.

__ADS_1


Azka melangkahkan kakinya untuk mendekati Amel, kini wajahnya dan wajah Amel berdekatan, ia menatap tajam wajah mungil istrinya itu.


Amel yang mendapatkan perlakuan seperti itu spontan membulatkan kedua bola matanya dan merasa gusar.


" Tu-tuan .. a-apa yang akan kau lakukan?" Tanya Amel gusar.


Azka tak bergeming ia hanya menatap wajah Amel dengan seksama.


" Tuan, apa yang akan kau lakukan." Ujar Amel setengah berteriak karena merasa sedikit kesal.


" Mengapa kau malah duduk disini?apa aku menyuruhmu untuk duduk disini?" Ujar Azka dengan tatapan tajam.


' Cih apa aku harus meminta izin untuk duduk disini!' Gerutu Amel dalam hati.


" Hey Tuan, apa duduk disini saja tak boleh?" Tanya Amel dengan membelokkan kedua matanya jengah.


" Tentu saja boleh." Balas Azka cepat sembari menyunggingkan senyumnya dan beranjak duduk di sebelah istrinya itu.


" Apa kau tak takut gemuk?" Tanya Azka sembari menyunggingkan senyumnya.


Amel yang mendengar perkataan itu langsung berada di ambang emosi yang sangat meledak-ledak, dan tanpa ia sadari wanita itu kini berdiri dan menarik kerah sang pria yang berada di depannya itu.


" Kau?bilang aku gemuk.." Ujar Amel berteriak sembari menarik kerah pria yang menjadi suaminya itu.


" Berani-beraninya kau berbuat seperti ini padaku!" Ujar Azka dengan menekan intonasinya.


Dalam sekejap Amel tersadar, ia sudah salah akan menarik kerah Gunung Es itu, dengan secepat kilat ia melepaskan genggamannya dan terduduk dengan tubuh gemetar.


' Mati aku, pasti dia sangat marah, mengapa aku sebodoh ini.' Ujar Amel dalam hati sembari menepuk dahinya.

__ADS_1


Azka menatap tajam pada wanita yang telah menarik kerahnya, dan berdiri mendekati wanita itu.


" Berdirilah!" perintah Azka.


Dengan secepat kilat Amel langsung menuruti perintah Azka untuk berdiri.


Tiba-tiba tangan kekar Azka mengangkat tubuh Amel yang kecil, Amel yang mendapati perlakuan seperti itu spontan meronta, namun apa daya meskipun ia memukul tubuh Azka pun pasti tak akan terasa olehnya.


Azka melangkahkan kakinya dengan mengangkat tubuh Amel, ia membawanya untuk menuju ke satu ruangan.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kok sedikit Thor?Mohon maaf ya menumpahkan imajinasi dalam bentuk kata-kata itu susah,, jadi harap maklum


Jangan lupa juga like And komenya Nakanak😊

__ADS_1


jangan cuman jadi pembaca silent ya!


__ADS_2