Terpaksa Menikahi Gunung Es

Terpaksa Menikahi Gunung Es
Siksaan


__ADS_3

"A-anu Tuan ..." ujar Pak fiko terbata-bata, belum sempat pria itu melanjutkan kata-katanya, Azka malah menyela perkataan itu.


"Cepatlah katakan!" cela Azka masih dengan ekspresi datarnya


"No-na, dia sepertinya mengalami kecelakaan," jelas pak Fiko.


Deg!


Deg!


Seketika hati Azka terhenyak, wajah datarnya kini berubah menjadi amarah jangan lupakan lengan yang lainnya kini tengah mengepal dengan kuatnya.


"Katakan dimana dia sekarang!" ujar Azka seraya menahan emosinya agar tak mengejutkan para klien yang berada satu ruangan dengannya itu.


"Ma-maaf Tuan, ada seorang wanita yang membawanya." balas Pak Fiko dengan cepat.


Shitt! umpat Azka dalam hatinya.


"Baiklah sekarang kau dimana?!" tanya Azka seraya menahan lagi emosi yang siap meledak kapan pun.


"Di ujung jalan kamboja Tuan." balas pak Fiko, dengan cepat Azka pun mematikan ponselnya. pria itu berjalan dengan cepat seraya berbicara, "Meeting selesai!"


"Assisten Rama kau ikut denganku!" perintah Azka, Assisten Rama pun dengan cepat beranjak dari duduknya dan berjalan mengekori bosnya tersebut.


Saat di loby kantor mereka berjalan berdampingan layaknya seorang pangeran, ekspresi datar itu sudah sering di lihat oleh para karyawan kantor lainnya, namun karena itulah yang membuat Azka dan Assisten Rama mempunyai kharismatik yang lebih di mata para karyawan wanita di kantor itu.


Di perjalanan Azka semakin mempercepat laju mobil yang di kendarainya, hingga membuat bingung Assisten Rama.


"Bos apa yang terjadi?" tanya Assisten Rama.


"Amel kecelakaan kini dia di bawa oleh seseorang!" jelas Azka seraya mengusap wajahnya dengan kasar, Assisten Rama hanya menganggukan kepalanya tanda ia mengerti.


Azka Pria itu kini tengah kalang kabut, entahlah di pikirannya kini harus segera menemukan Amel secepatnya.


Sementara itu di suatu daerah terpencil terlihat sebuah bangunan kosong yang tak lain adalah pabrik. Sekilas bangunan itu terlihat menyeramkan, bagaimana tidak?walau bangunan itu masih berdiri dengan kokoh tapi banyak sekali dinding yang mengelupas dan akar-akar yang membelit di setiap tiang pabrik itu. Di dalamnya terlihat seorang wanita cantik yang tengah mengatupkan kedua bola matanya, tubuh mungil itu terikat dengan sebuah tali putih yang amat erat. Wanita itu di dudukan tepat di bawah sinar matahari yang kala itu masuk melalui lubang-lubang bangunan tersebut.


Tak lama kemudian sepasang mata yang tadinya mengatup pun mulai mengerjap, Wanita itu kini memutar kedua bola matanya berusa mencari tahu dimana kini dirinya?. Namun kini tubuh mungil itu terasa sangat lemas dan sakit. Ia teringat bahwa beberapa saat yang lalu ia terserempet mobil dan menemukan luka di sikutnya. Ia kini merasa sangat kepanasan hingga pelipisnya di penuhi dengan peluh keringat dan jangan lupakan tenggorokkannya yang terasa sangatlah kering. Ya wanita itu adalah Amel.


"To-tolong .. Ha-haus ..." lirih Amel, tak lama kemudian terdengar suara dentuman heils yang beradu dengan lantai hingga terdengar sangat nyaring. Sosok wanita itu muncul dari arah kegelapan, Amel pun di buat terkejut dengan sosok wanita cantik nan sexy itu, ya ia mengenal wanita cantik itu.

__ADS_1


"Tolong Lis, tolong aku," lirih Amel seraya memohon pada wanita itu. Ya wanita cantik nan sexy itu adalah Lisa Laureenza.


Posisi mereka kini saling berhadapan, Lisa kini membungkukkan sedikit tubuhnya lalu mengapit pipi Chuby Amel dengan keras hingga si empunya merasa kesakitan.


"Camelia .. Camelia ..." Ujar Lisa seraya melepas apitan itu dengan keras dengan di selingi senyuman menyeringai.


"Lis-Lisa lepaskan aku!kumohon." ujar Amel, namun Lisa tak menggubrisnya sama sekali.


Plak!


Tiba-tiba sebuah tamparan melesat tepat di pipi kiri Amel, wanita itu sedikit meringis karena memang tamparan itu sangatlah kencang hingga membuat pipi putih nan mulus itu kini memerah.


"Itu untuk kau wanita murahan!" teriak Lisa di selingi tawa.


Plak!


Lagi-lagi satu tamparan melesat tepat di pipi kanan Amel, hingga kedua sisi pipi mulusnya kini memerah.


"Dan tadi untuk kau yang merebut Azka dariku!" ujar Lisa dengan berteriak.


"Hentikan Lisa apa yang kau mau!" balas Amel tak kalah nyaringnya dengan Lisa.


"Tidak akan!dia suamiku!" balas Amel, seketika emosi Lisa kembali memuncak wanita itu kini meremas kuat dress pendek yan ia kenakan.


Plak!


Lagi-lagi tamparan itu melesat tepat, kali ini tamparan itu sangatlah terasa panas di pipi Amel. Tubuh wanita itu semakin melemas akibat siksaan yang Lisa perbuat, belum lagi beberapa saat yang lalu ia mengalami kecelakaan. Ia terus menahan rasa pedih itu, namun rasanya ia tak kuasa hingga kini kedua bola mata itu pun terpejam. Lisa yang melihatnya pun hanya tersenyum menyeringai.


"Jaga wanita ini jangan sampai dia kabur!" perintah Lisa pada kedua pria beringas yang kala itu mendekatinya.


"Serahkan pada kami Nona!" balas kedua pria itu seraya menarik sisi bibirnya ke atas hingga membentuk senyuman menyeringai. Setelah mendengar balasan dari anak buahnya, Lisa kini berjalan meninggalkan bangunan pabrik kosong itu, tujuannya kini adalah pulang agar Azka tak mencurigainya.


....


Di sisi lain terlihat tiga orang pria yang tengah berdiri tepat di ujung jalan kamboja. Ya pria itu adalah Azka, Assisten Rama dan Pak Fiko.


Saat sampai disana Azka sempat ingin memarahi dan memukul supirnya itu namun Assisten Rama dengan segera mencegahnya mengingat tempat itu kini sangatlah ramai.


"Jelaskan apa yang terjadi!" perintah Azka seraya menahan emosi yang memenuhi kepalanya. Lalu Pak Fiko pun menjelaskannya secara pelan.

__ADS_1


Shitt! siapa wanita itu apa Tiwi atau Lisa, siallan! umpat Azka seraya mengepal kuat kedua lengannya itu.


Azka kini merohoh saku celananya untuk mengambil ponselnya, pria itu berusaha menghubungi Amel, namun sayang sejak kecelakaan itu ponsel Amel kini terjatuh entah dimana.


"Apa pak Fiko tahu wanita itu?" tanya Assisten Rama, Pak fiko hanya menggelengkan kepalanya tanda ia tak mengetahui.


Azka semakin kalut, pria itu kini berjalan cepat menuju mobilnya untuk mencari Amel dengan cepat Assisten Rama pun mengikuti Bosnya itu karena ia takut akan terjadi sesuatu pada atasan sekaligus sahabatnya tersebut. Pria itu kini menyalakan mesin mobilnya lalu melaju dengan kecepatan tinggi.


Sementara itu Amel kini masih mengatupkan kedua bola matanya, namun tiba-tiba dua orang pria datang lalu berdiri tepat di depan wanita cantik itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Aku Up lagi nih, padahal ini udah 1000 kata lebih lho, jangan lupa bagi Vote sebanyak-banyaknya Ya.. wkk jangan lupa Like sama Komentnya juga


jangan jadi pembaca gelap ya😊


luvluv buat klean semua😚


#AuthorBanyakMaunya**

__ADS_1


__ADS_2