Terpaksa Menikahi Gunung Es

Terpaksa Menikahi Gunung Es
Apa kalian bersama?


__ADS_3

Ceklek ....


Pintu mansion itu pun terbuka, Azka menangkap dua orang yang tak asing lagi baginya.


"Kalian ... Mengapa tak menghubungi dulu jika ingin kesini," ujar Azka seraya mempersiahkan kedua orang itu untuk masuk dan berlajan lebih dulu untuk memandu tamunya duduk.


"Bos bagaimana keadaan Nona Amel?" tanya Assisten Rama, Iya. mereka berdua adalah Assisten Rama dan Diana.


"Dia sedang tidur!" balas Azka tegas, Pria itu memanggil seorang pelayan untuk menyiapkan minuman juga camilan.


"Tidak usah repot Bos, kami hanya ingin melihat Nona Amel," ujar Assisten Rama, Seketika kening Azka berkerut seraya berkata, "Ini untukku! Memangnya untuk siapa?!" cetusnya.


Assisten Rama hanya tersenyum paksa seolah malu dengan perkataanya. Sedangkan Diana gadis itu hanya terdiam dan sesekali menyapu pandangannya pada salah satu ruang yang berada di atas yang ia yakini adalah kamar milik sahabatnya.


Seorang wanita setengah paruh baya pun berjalan seraya membawa nampan dengan berisikan segelas jus orange dan juga minuman. Wanita itu meletakkan camilan dengan sangat hati-hati sebelum dirinya melenggang dari ruangan itu.


Azka mulai menyesap jus itu lalu kembali menaruhnya di atas meja tersebut. Seketika tenggorakan Assisten Rama kering hingga dirinya kembali menelan salivanya saat bosnya itu kembali menyesap jus menyegarkan tersebut.


"Jika kau ingin minum mintalah! Kau ini seperti orang baru saja!" Perkataan itu Azka lontarkan saat dirinya menyadari bahwa sedari tadi sahabatnya itu terus memandangnya saat menyesap jus itu.


Assisten Rama hanya menyegir kuda, pria itu kini memanggil seorang pelayan lagi dan meminta dua gelas jus orange untuk dirinya dan juga Diana. Pelayan itu pun mengiyakan sebelum dirinya kembali melenggang dari ruangan itu.


Azka memandang Assisten Rama dan Diana secara bergantian, dirinya di buat bingung karena kedatangan mereka berdua yang bersama.


Sesaat kemudian seorang pelayan kembali membawa sebuah nampan berisikan dua gelas jus orange. Pelayan itu bergegas menaruh minuman tersebut di atas meja sebelum dirinya melenggang dari ruangan itu.


"Apa kalian bersama?" tanya Azka, Diana dan Assisten Rama tak langsung menjawabnya karena gagal mencerna pertanyaan sahabatnya itu.


"Maksudku apa kalian menjalin hubungan?" pertanyaan itu Azka lontarkan, seketika Diana membelalakan kedua matanya dengan sempurna sedangkan Assisten Rama hanya menaikan salah satu sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman simpul.


"Tidak!" Jawaban itu di lontarkan oleh Diana secara tegas dan cepat. Ada rasa sedikit kecewa di diri Assisten Rama saat setelah dirinya mendengar jawaban Diana.

__ADS_1


Hening ....


"Apa aku boleh melihat Amel?" perkataan Diana memecah keheningan saat itu. Azka hanya memberi satu anggukan sebagai jawabannya.


Dengan cepat Diana pun beranjak dari duduknya, wanita itu mulai melenggang dari ruangan tersebut. Sedangkan Assisten Rama hanya menatap gerak tubuh Diana yang berjalan memunggunginya hingga tubuh wanita itu tak lagi terjangkau oleh kedua manik coklatnya. Tanpa sadar Azka sedari tadi terus memperhatikan Assisten Rama yang tengah menatap Diana.


"Apa kau menyukainya?" tanya Azka seraya sesekali menyesap minumannya. Assisten Rama tak langsung menjawabnya butuh waktu untuk pria itu menjawabnya.


"Ku rasa begitu!" Jawaban itu Assisten Rama lontarkan seraya mengangkat salah satu sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Sedangkan Azka hanya diam seraya menaikan salah satu alisnya lalu kembali menyesap minumannya.


Sementara itu di Kamar,


Saat itu seorang wanita cantik telah bangun dari tidurnya, wanita itu beranjak dari posisi berbaringnya untuk mengambil sebuah majalah yang berada di atas nakas. Wanita itu kembali mendaratkan tubuhnya di atas tempat tidur lalu duduk berselonjor seraya membaca majalah yang tadi ia ambil.


Manik indah itu teralihkan tatkala sebuah pintu yang tadinya tertutup dengan rapat kini perlahan terbuka, dilihatnya seorang wanita cantik yang tak asing lagi baginya.


"Diana ... kemarilah!" ujar Amel bersemangat diselingi dengan senyuman. Iya, wanita yang sesaat tadi terbangun dari tidurnya adalah Amel dan wanita cantik yang tengah berdiri di ambang pintu itu merupakan Diana.


Diana pun berhambur menuju sahabatnya tak lupa wanita itu menutup sedikit pintu kamar tersebut lalu dipeluknya tubuh Amel dengan erat meluapkan kerinduannya pada sahabatnya itu hingga wanita itu merasa sedikit sesak. Memang benar wanita itu merindukan sahabatnya karena saat malam dimana dirinya telah menjenguk Amel, tiba-tiba Diana mendapat kabar bahwa kakaknya mengalami kecelakaan. Hingga mengharuskan dirinya menyusul kakaknya itu keluar kota dan untungnya kecelakaan itu hanyalah kecelakaan kecil.


"Maaf aku tak menjengukmu lagi setelah malam itu karena aku mendapat kabar bahwa kakakku mengalami kecelakaan," jelas Diana. Amel pun terkesiap mendengar pernyataan dari sahabatnya itu.


"Benarkah? Terus bagaimana keadaanya sekarang? Dan ada dimana dia?" tanya Amel dengan bertubi-tubi.


"Dia baik-baik saja sekarang dan untungnya itu hanyalah kecelakaan kecil," jelas Diana, Amel hanya terdiam mendengar ucapan sahabatnya itu.


"Ah iya Mel, pagi tadi sebenarnya aku ingin ikut mengantarmu pulang. Namun aku terlambat, karena aku baru saja pulang malam harinya dari luar kota sehingga aku ke siangan dan temanku pun lama menjemputku," jelas Diana seraya melipat kedua tangannya di atas perut, sesaat dirinya merasa kesal karena Assisten Rama terlambat menjemputnya.


Tanpa mereka sadari seorang pria tampan bertubuh tegap tengah berdiri di ambang pintu itu seraya terus mendengarkan percakapan diantara dua sahabat itu.


....

__ADS_1


Azka terlihat menuruni setiap anak tangga dengan hati-hati, pria itu terlihat membawa beberapa berkas dari ruang kerjanya. Hingga ia kini mendaratkan tubuhnya di sebuah sofa yang berada di ruang tamu itu lalu menyerahkannya pada Assisten Rama


Flashback On


Di Ruang tamu,


Kedua pria tampan terlihat tengah membicarakan persoalan kantor dengan seriusnya. Iya, kedua pria itu adalah Azka dan Assistennya Rama. Azka kini melenggang dari ruangan itu dan hanya meninggalkan Assistennya sendiri disana. Pria itu mulai menaiki setiap anak tangga dengan hati-hati. Azka terus melangkahkan kakinya menuju ruangan itu sampai langkahnya terhenti tatkala pria itu mendengar percakapan di antara dua orang wanita di kamar itu. Karena penasaran pria itu pun terus mendengarkan percakapan diantara dua orang sahabat tersebut.


Flashback Off


"Apa kau mengatahui bahwa Diana memiliki kakak? Apa dia pria atau wanita?" pertanyaan itu Azka lontarkan pada Assisten Rama karena dirinya sedikit terganggu dengan hal itu. Iya, karena Amel terlihat begitu menghawatirkan kakak dari sahabatnya itu.


Assisten Rama hanya mengerutkan dahinya, Pria itu sama sekali tak mengetahui bahwa Diana memiliki seorang kakak.


"Tidak, aku tak mengetahui itu," balas Assisten Rama, Azka hanya terdiam setelah mendengar jawaban dari sahabatnya itu.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Aku Up lagiii, oke jangan lupa beri dukungan untuk story ini dengan cara Like, Vote And Coment sebanyak-banyakny Ya!!


Jangan jadi pembaca gelap ya Readers. Wkk😁


__ADS_2